
Semburat jingga mentari yang mengintip di ufuk timur belum mampu menghangatkan dunia yang dipenuhi kabut dan embun. Bintik-bintik buliran mungil di atas dedaunan dan kelopak bunga perlahan mengalir dan menetes, sebagian menguap dan terperangkap di udara.
Suasana pagi yang lenggang dimanfaatkan Keven untuk memacu sedikit lebih laju kereta besi tunggangannya. Senyum terkembang di bibir yang sesekali menggerutu kala dihadapkan dengan lampu merah yang menyita waktu.
Keven sudah tidak sabar untuk menemui Yuki. Mengabaikan jadwal pagi yang biasanya langsung menuju restoran. Berkutat dengan rutinitas beragam namun terasa biasa saja.
“Ah, gue lupa lagi!” rutuk Keven pada dirinya sendiri. Ia sudah bersiap dan datang dengan semangat, namun lupa untuk mengabari Yuki. Memang bisa menjadi kejutan, namun masalahnya Keven tidak bisa menghampiri langsung ke kamar Yuki. Kenyataannya justru ia akan menghabiskan waktu berurusan dengan Satpam tempat itu.
“Kok gak diangkat? Gak mungkin masih tidur. Biasanya juga dia udah selesai masak,” gumam Keven resah, menggigit bibir bawahnya dengan jemari kanan meremas kuat setir kemudi. Sedetik kemudian telunjuk kirinya kembali menggulir layar ponsel. Sekali lagi Keven mencoba menghubungi Yuki untuk kelima kalinya.
Sedangkan Yuki yang masih sibuk dengan dunianya menulikan pendengaran. Terlalu asik bergelung di balik selimut tipis dan kasur lantai yang cukup empuk. Bahkan bibirnya yang merenggang alias menganga tanpa sadar berhasil meloloskan sedikit air liur di sudut bibir. Beruntung tidak mengalir deras dan membentuk pulau di bantal.
Akan tetapi ketenangan itu perlahan sirna. Raungan merdu dari ponsel pintar miliknya lama-kelamaan membuyarkan mimpi indah Yuki. Padahal Yuki baru saja berhasil menangkap tas antik dari kulit pisang, berwarna kuning mulus dan licin hingga membuat Yuki tergelincir dan berakhir bergoyang seirama lantunan lagu yang terus berdendang.
Meraba permukaan kasur sampai menyusupkan tangan ke bawah bantal, Yuki mencoba mencari sumber suara yang mengusiknya. Sejenak ia mengintip guna melihat letak ikon hijau untuk menerima sambung telepon itu.
“Hmm,” dehem Yuki seolah menggeram. Meletakkan ponsel secara asal di atas telinganya. Menempel bebas tanpa digenggam.
Kesadaran Yuki belum pulih. Ia justru memilih memeluk selimut untuk menyalurkan rasa kantuknya sambil memasang telinga yang mau tidak mau harus bekerja di bawah alam sadar.
[Yuki ini video call.]
Seruan dari seberang panggilan berhasil menjalarkan kerutan di alis dan dahi Yuki. Memaksa mata sebelah kanan terbuka samar lalu terbelalak keduanya seketika. Reflek Yuki meraih ponsel di atas telinganya. Melihat lamat-lamat wajah yang terpampang di layar ponsel mengulum senyum geli atas sikap Yuki.
"Hish!" desis Yuki seraya menelungkup kan layar ponsel miliknya. Ia memilih berlari ke kamar mandi untuk mencuci mata. Membasuh telapak tangan dan mencolek kedua sudut matanya dengan ujung jari telunjuk yang basah. Begitulah sesi cuci mata Yuki. Tidak ketinggalan ia juga mengusap sudut bibirnya yang terasa kaku efek air liur yang mengering.
"Halo?!" sapa Yuki ketus. Wajahnya mendung merengut. Bibirnya maju menantang peperangan.
[Aku jemput. Kita sarapan di luar.]
"Masih ada makanan kemarin malam. Masih ngantuk. Gak usah," tukas Yuki bertubi-tubi.
[Aku udah di depan. Kalau kamu gak keluar sekarang, aku bakal teriakin nama kamu!]
Benar, tanpa diduga mobil yang Keven tunggangi sudah sampai di depan area kos Yuki. Keven bahkan sudah menatap pintu kayu bergantian dengan wajah Yuki di layar ponselnya.
"Nyusahin banget sih ... Diem aja di situ! Awas aja kalau macam-macam!" ancam Yuki dengan kepalan tangan dan mata melotot tajam. Sejujurnya ia ingin menantang ucapan Keven, namun ragu bila berujung tindakan nekad itu terwujud. Yuki tidak ingin kembali viral, meski kini berisi percintaan manis.
__ADS_1
Tepat 30 menit 12 detik Yuki sudah melangkah keluar kamarnya tergesa-gesa. Gadis muda itu sempat putar balik karena lupa mengunci pintu. Ia tampak kerepotan dengan beberapa bawaan di tangannya.
Sedangkan Keven yang mulanya terpaku memperhatikan setiap tindakan kecil Yuki langsung membuang pandangannya asal. Ia bersikap seolah tidak menyadari kehadiran Yuki yang menghentakkan langkah kasar, menapak kesal tanah yang tidak bersalah, mendengus bak banteng mengamuk guna menyalurkan emosi negatif akibat jatah tidurnya terganggu.
Brak.
Terlonjak kaget keduanya pada pukulan kencang dari tangan Yuki ke badan mobil. Bahkan Yuki yang terlanjur marah tidak pernah menyangka bahwa tenaganya akan tersalur sebesar itu. Kontras Yuki langsung menyengir bersalah pada badan besi yang tidak bisa mengeluh sambil mendesis kesakitan.
"Ck! Gara-gara kamu ini!" sungut Yuki pada Keven, matanya mendelik kesal dengan bibir mencebik sewot.
"Apa? Memang gara-gara kamu aku marah!" lanjut Yuki berucap. Padahal baru saja Keven ingin membuka mulut menanyakan kondisi telapak tangan Yuki, bukan untuk menyanggah tuduhan perempuan yang terlanjur emosi jiwa.
Segala ucapan Yuki yang biasanya berhasil Keven sela dan bantah kini tidak mampu Keven lawan. Faktanya Yuki bertambah galak dan emosian jika menghadapi Keven.
...----------------...
Mengunjungi salah satu cabang restorannya, Keven mengeryit heran pada pemandangan di hadapannya. "Kamu ngapain?" tanya Keven penasaran.
"Sarapan. Memang mau ngapain lagi?" jawab Yuki santai. Tangannya bergerak lihai mengeluarkan sesuatu dari kantong berwarna putih yang familiar di mata Keven.
"Terus itu?" Tunjuk Keven pada 3 kotak mika yang sangat dikenalinya.
Jika saja Yuki tidak diberitahu terlebih dahulu sesaat sebelum turun dari mobil, ia jelas tidak akan berani bertingkah memalukan seperti saat ini. Namun berhubungan Keven sendiri pemilik restoran itu, Yuki sebisa mungkin bersikap masa bodoh memasang muka beton. Yakin tidak akan ada yang berani menegur, termasuk Keven tentunya. Di otak Yuki saat ini hanya sayang jika makanan itu basi dan terbuang.
Menyugar rambut dengan dahi berlipat, Keven mati gaya menghadapi Yuki. Bukan hanya kali ini saja. Jika diingat banyak sekali perilaku Yuki yang sukses membungkam Keven. Salah satunya seperti pada saat resepsi pernikahan mereka. Dengan percaya dirinya Yuki menarik turun kemben yang dikenakan hingga Keven berhasil melihat seperempat gundukan bulat kenyal yang tampak menantang.
Tersenyum getir Keven mengingat kejadian itu. Ia malu pada kalimatnya yang mengatai Yuki bukan tipenya, bahkan sampai menyebut Yuki perempuan gila. Nyatanya gadis menyebalkan yang tanpa tawar menawar makan dengan lahap di hadapannya itu kini berhasil mengisi hati Keven.
Sayangnya apa yang Keven rasakan tidak Yuki ketahui, atau bisa dikatakan tidak tersampaikan ketulusannya. Segala sikap manis Keven pada Yuki seakan tertutupi luka lama yang masih basah.
Yuki menerima segala perlakuan manis Keven tanpa banyak menolak. Hanya saja hatinya terkunci untuk membuka lembaran baru di atas kesakitan yang masih berdenyut nyeri setiap kali kilasan kisah mereka memberi tangis diam-diam yang sering dilakukan Yuki hingga kini.
Berlalu dari sesi sarapan yang terbilang tidak sesuai rencana Keven, sepasang suami istri itu hanya berdiam diri di dalam mobil, tentu menanti pergantian lampu lalu lintas dari merah ke hijau. Tidak ada rencana bermain atau sekedar berjalan-jalan pagi di taman. Yuki sudah mendesak ingin segera diantar pulang ke kos, ia ingin mempersiapkan diri untuk ke kampus lebih cepat. Beralasan jika harus mengurus surat izin peminjaman alat di laboratorium.
Namun baru saja mobil itu melaju, sebuah panggilan telepon membuat mata Keven membulat. Dapat Yuki dengar suara seorang laki-laki yang memberitahukan lokasi Saka saat ini. Semua inti pembicaraan itu Yuki dengar dengan cukup jelas, pasalnya Keven mengaktifkan pengeras suara.
Semenjak menyelesaikan panggilan teleponnya, sangat kentara Keven dirundung kegelisahan. Posisi duduknya seakan tidak nyaman. Spontan Keven menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Belum lagi helaan nafas pendek terputus seraya kepalan tangan kanannya yang memukul paha seirama dengan tumit menghentak lantai mobil.
__ADS_1
"Jadi kamu mau pergi?" celetuk Yuki tiba-tiba, melontarkan kalimat tanya yang sedari tadi tertahan di ujung lidahnya.
"Iya. Aku harus bawa Saka. Dia harus tau kalau Alia hamil."
Tersenyum kecut Yuki tau dirinya sedang cemburu. Entah sampai kapan dirinya akan tetap merasa iri akan perhatian Keven pada Alia. Akan tetapi Yuki juga menyetujui jika Saka memang harus mengetahui perihal Alia, mantan istrinya yang saat ini sedang mengandung.
"Memang Mas Saka belum tau?"
"Aku yakin belum. Gak ada yang bisa menghubungi Saka ... Aku juga yakin dengan sikap Alia yang keras gak akan mau kasih tau Saka tentang kondisinya," ucap Keven yakin. Terlihat gurat wajah frustasi yang terukir. Sontak hal itu semakin membuat Yuki mantap menarik garis seberapa pentingnya Alia di hidup Keven dibandingkan dirinya.
Melanjutkan perjalanannya, dalam jarak yang cukup dekat dengan tempat kos, baik Keven maupun Yuki dapat melihat sosok yang tidak asing sedang duduk mengobrol santai dengan Pak Satpam.
"Woi, Ki!!" teriak Dimas nyaring dengan tangan melambai pada Yuki yang baru saja keluar dari mobil Keven.
Menarik sudut bibir kiri atasnya naik, Yuki memasang ekspresi jengah sambil melebarkan kelopak mata. "Mulut mu Cuit!! Jangan berisik!!"
Mengangkat kedua bahunya acuh, Dimas menyodorkan kantong kresek hitam sambil berkata singkat, "ini ambil!"
"Apaan?" tanya Yuki sambil meraih lambat kantong yang Dimas sodorkan kepadanya.
"Ada bawang goreng, bisa buat lauk taburan dimakan sama nasi hangat. Sama itu keripik singkong. Itu yang pakai bumbu keju manis."
"Pas banget ... Tau aja aku lagi pengen ini. Bisa buat camilan sambil nemenin ngerjain tinjauan pustaka nanti malam," ucap Yuki riang dengan mata berbinar, terucap spontan mengabaikan sorot tajam Keven yang ingin sekali merampas kantong kresek hitam yang sekilas terlihat lusuh baginya.
"Halah ... Pas-pas apaan? Kode mu itu gak nahan dari kemarin bilang keripik buatan Nenek enak kayaknya. Gatal telinga ku," cerocos Dimas sok sebal.
"Kok Mas Keven ada di sini juga? Gak mungkin kan kangen gara-gara ditinggal istri?" tanya Dimas yang jelas ditujukan untuk Keven. Intonasi suaranya terdengar sangat tidak suka, lebih tepatnya sedang menyindir. Raut wajah Dimas juga benar-benar berubah, dari yang menatap Yuki cerah ceria menjadi penuh kilatan amarah. Kini, badai hadir di antara Dimas dan Keven.
Yuki yang sejujurnya adalah tipe mudah peka tentu menyadari aura kegelapan dari kedua laki-laki yang menatap sengit dalam keterdiaman. Spontan Yuki menarik mundur lengan Keven. Mendorong tubuh tegap suaminya untuk berdiri tepat di sisinya.
Perlakuan singkat yang tidak berarti apa-apa bagi Yuki itu menerbitkan seulas senyum tipis di bibir Keven. Tidak disadari siapapun selain tupai di pohon rambutan yang membawa cuilan kelapa sisa parutan yang tanpa sengaja bersirobok pandang dengan Keven.
...****************...
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mengikuti kisah Yuki🥰