
Di depan sebuah bangunan 2 lantai dengan pagar besi setinggi bahu Keven, keempat orang yang baru saja turun dari mobil dihadang oleh seseorang berseragam satpam. Laki-laki berumur dengan kumis tipis, pipi kendur dan kulit menggelap itu masih tampak gagah berwibawa di bawah sorotan sinar mentari pagi.
"Maaf, Mas tidak bisa ikut masuk. Hanya perempuan yang boleh masuk ke lingkup kos ini," ucap Satpam itu dengan tangan terjulur lurus mencegah Keven mengikuti Yuki yang sudah berjalan mendahuluinya.
Mengernyit heran, Keven menatap Yuki yang tampak acuh. Perempuan itu sebelumnya sudah menjelaskan jika laki-laki tidak boleh masuk. Namun Keven tetap yakin sebagai suami dirinya pasti diperbolehkan masuk hingga ke kamar kos Yuki. Memang keras kepala.
"Saya suaminya, Pak."
"Sekali lagi maaf Mas. Tetap gak bisa meski Mas ini suami, sekalipun orang tua kandung jika itu laki-laki juga tidak diperbolehkan masuk," tegas Pak Satpam itu.
"Udah, Kev, kamu nunggu di sini sama Papa," celetuk Papa Leigh yang sudah paham peraturan tempat kos pilihan Yuki. Ia menepuk bahu sang anak yang terlihat ingin kembali berargumen.
"Gak bisa gitu, Pa. Aku mau bantu Yuki juga di dalam. Lagi pula aku ini suaminya," ujar Keven ngotot. Raut wajahnya berubah semakin serius.
"Saya hanya menjalankan tugas saya, Mas, Pak. Yang saya lakukan ini atas perintah pemilik kos langsung," sela Pak Satpam, sekali lagi kembali menegaskan.
"Kamu di sini aja sama Papa kamu. Biar Mama yang bantu Yuki di dalam ... Ayo, Ki," tegas Mama Agni seraya menggandeng tangan Yuki. Melewati gerbang keamanan yang langsung di tutup kembali oleh Satpam itu.
"Aargh!" Keven memekik kesal. Mementalkan debu yang beterbangan lewat tinjuan bebas di udara. Ia hanya bisa pasrah karena dicegah oleh kedua orang tuanya. Jika sudah seperti ini, maka bisa dipastikan akan sulit menemui Yuki kedepannya. Ia semakin frustasi mengingat kokohnya benteng pertahanan yang Yuki bangun.
Menatap nanar punggung Yuki yang semakin menjauh, hanya Keven yang tau bagaimana kalutnya ia saat ini. Menerobos masuk mungkin membuat dirinya lega, namun tidak mungkin Keven lakukan.
Kini Keven semakin merasa kehilangan. Ada ruang hampa yang terasa gamang. Gadis yang dulu sangat berisik mengganggu ternyata bisa bersikap seacuh itu padanya.
Jika dulu Keven berharap Yuki menjauh bahkan menghilang, atau setidaknya bersikap seperti Alia yang elegan dan anggun, maka saat ini meski harus memohon Keven ingin Yuki kembali seperti dulu. Ia menyesal sudah menyia-nyiakan Yuki. Sungguh Keven kacau pada kondisi dan situasi yang dihadapinya saat ini.
...----------------...
Keesokan harinya, laki-laki yang sempat membuat terkejut Satpam karena teriakan frustasi itu sudah berdiri di luar gerbang. Dengan kaki dihentak kecil menyalurkan kegugupan, pupil mata gusar dan rambut klimis yang terus-menerus dirapikan.
Sejenak ia menghidu aroma tubuh yang masih lengket efek belum mandi dengan semprotan parfum mahal. Tentu tidak tercium bau kecut sedikitpun karena terlalu banyak buliran cairan parfum yang tersebar.
Berulang kali pula Keven menjulurkan lehernya bagai seekor Jerapah, menatap lurus pada pintu kayu yang belum juga terbuka. Sebentar lagi tepat jam 9 malam dan tamu dilarang berkunjung. Sungguh kesabarannya benar-benar diuji. Sayangnya Keven tidak akan melambaikan tangan tanda menyerah pada CCTV.
Namun sejatinya kini Keven sedang mengalah. Menekan ego dan emosi yang biasanya menggebu. Ia yang berdiri di luar gerbang dengan kantong besar berisi segala macam makanan dari restorannya mencoba mengikhlaskan pilihan Yuki untuk sementara waktu tinggal terpisah.
__ADS_1
Keven bagai ABG yang sedang menanti pujaan hati dalam kencan singkat karena dibatasi jam malam. Benar-benar pengalaman baru. Padahal ini bukan pertama kalinya Keven berpacaran. Bahkan Yuki bukan hanya sebatas pacar, melainkan istri yang sudah dinikahi beberapa bulan yang lalu. Mirisnya baru Keven sadari cinta yang tidak pernah disangka hadir saat Yuki memilih menjauh.
"Lama?" tanya Yuki sambil menempelkan tubuh bagian depannya memeluk pagar. Mata gadis itu terbuka sesaat dan terpejam menikmati dinginnya pagar besi.
"Kamu tidur?" tanya Keven dengan nada sesal karena sudah mengganggu istirahat Yuki. Tapi tidak menyurutkan debaran bahagia hanya karena Yuki sudah berada di depannya.
Mengangguk lemah sambil mengucek matanya dengan salah satu punggung jari telunjuk, Yuki memanyunkan bibirnya. "Humm."
"Ini aku bawain makanan buat kamu," ucap Keven sembari menyodorkan kantong berwarna putih pekat yang didesain khusus bergambar nama restorannya.
"Banyak banget," kata Yuki dengan sebelah alis dinaikkan. Seketika mata sayu itu terbelalak lebar. Mana Yuki duga jika isi kantong besar yang Keven tenteng berisi makanan. Pasalnya dari kejauhan Yuki hanya bisa melihat kantong besar berwarna putih tanpa rasa penasaran untuk mengamati apa lagi sekedar melirik.
"Aku cuma bawa makanan yang mungkin kamu suka," ucap Keven sambil menyengir canggung. Selama meminta Koki restorannya memasak, ia tidak menyadari bahwa apa yang disebutkannya akan sebanyak yang dibawanya saat ini.
"Lain kali tanya kalau gak tau apa yang orang lain suka. Jangan bawa sebanyak ini. Udah mirip persiapan ibu-ibu mau arisan aja. Mana ini udah malam lagi," omel Yuki dengan suara yang sengaja dipelankan. Tidak mungkin menggerutu nyaring karena Satpam di pos penjaga sering kali melirik ke arah mereka berdua.
"Huh ... Kalau kayak gini gak akan bisa habis. Disimpan sampai besok juga belum tentu habis dan gak basi," lanjut Yuki berucap dengan mata sibuk meneliti dan jemari asik memilah 6 kotak mika transparan yang hangat.
Hari sudah menjelang larut malam, namun Keven memasok makanan dalam jumlah banyak. Jelas tidak bisa Yuki habiskan. Jika ingin disimpan untuk dihangatkan besok pagi juga tidak bisa Yuki santap seorang diri. Belum lagi di kamarnya itu tidak ada kulkas untuk menyimpan makanan pemberian Keven dalam waktu lebih lama lagi.
“Pegang!” perintah Yuki pada Keven. Membuka lebar kantong berisi makanan itu untuk diambil satu kotak saja.
“Malam, Om … Ini ada spaghetti dari suami saya. Kebetulan tadi bawa dari tempat kerjanya,” ucap Yuki riang, menyodorkan kotak mika pilihannya yang berisi garlic pasta.
“Waah, makasih Non. Bekal jaga malam nambah ini,” balas Satpam itu sama riangnya dengan senyum yang sangat cerah di malam yang mendung itu.
“Kuat bergadang gak nih, Om? Biasa banyak makan bikin ngantuk loh,” ujar Yuki seramah mungkin.
“Udah biasa bergadang, Non.”
“Saya biasa juga bergadang, Om. Ngerjain tugas sama ngejar skripsian. Jadi kelelawar bermata panda.” Terkekeh Yuki mencoba mencairkan suasana. Membawa pembicaraan agar tidak canggung dan kaku demi bisa mengakrabkan diri meski terkesan sok asik. Yuki tentu sadar jika kedepannya ia akan lebih sering bertegur sapa dengan Satpam tempat kos nya itu.
“Lah si Non bisa aja. Masa kelelawar matanya panda,” balas Pak Satpam itu, intonasi ucapannya terdengar sama ramahnya dengan Yuki.
Obrolan manusia berbeda generasi itu mengalir begitu saja. Menimbulkan rasa kagum di hati Keven yang memilih menjadi pendengar, namun tidak mengalihkan pandangannya dari gadis di depannya yang mengenakan kaos merah muda bergambar beruang dengan celana selutut senada.
__ADS_1
'Bodohnya aku yang baru menyadari sikap kamu semanis ini,' gumam Keven dalam hati. Tidak perlu menampik bahwa ia terpesona oleh semua tingkah laku Yuki.
“Sekarang udah jam 9 … Pulang sana, Mas!” celetuk Yuki tiba-tiba. Matanya masih menatap layar ponsel yang menyala.
Yuki baru saja kembali dari kamarnya dan menyempatkan mampir ke kamar Ismi yang ditempati bersama seorang teman lainnya untuk membagi makanan dari Keven. Dari 5 kotak yang tersisa, kini hanya 3 kotak berisi ayam saus lada hitam, nasi goreng kembang kol dan tongseng jamur yang Yuki sisihkan untuk dirinya sendiri.
“Kamu ngusir?”
“Nggak ngusir. Cuma sadar diri aja lah udah peraturan di sini jam 9 gak boleh ada tamu. Ini udah jam 9 malam lewat semenit,” ketus Yuki sambil memutar bola matanya malas. “Pak Satpam itu juga udah mulai gelisah siap-siap mau ingatin tuh.”
“Besok kamu kuliah pagi?”
“Siang, jam 1,” jawab Yuki singkat. Telapak tangannya menutup mulut yang menguap lebar.
“Aku antar ya besok?” ucap Keven seakan menegaskan keinginannya.
“Ngapain kamu antar, Mas? Aku tinggal jalan kaki lewat belakang gedung yang gak dipagar itu juga udah sampai halte pertama. Tinggal jalan dikit lagi sampai di gedung fakultas,” jelas Yuki sebagai penolakan atas tawaran Keven.
Meski cukup menghabiskan tenaga dan melelahkan tungkai yang jarang digerakkan, Yuki cukup senang menikmati waktunya. Memang baru sehari dirasakan, namun Yuki optimis dirinya bisa menjalani semua itu.
“Sarapan … Iya, sarapan. Besok aku ke sini lagi antar sarapan buat kamu,” ucap Keven berbinar sarat pengharapan.
“Makanan yang kamu kasih malam ini udah bisa buat aku sarapan besok. Gak usah buang-buang deh," tolak Yuki tegas. Sedetik kemudian ia tersenyum samar, menatap tepat di bola mata Keven yang seketika bergetar gugup. "Kamu kalau mau ketemu aku gak perlu banyak alasan."
Begitulah kalimat perpisahan dari Yuki sebelum dirinya menyeringai tipis, menjauh dan menghilang dari pandangan Keven. Meninggalkan Keven yang spontan memegangi dadanya dengan debaran jantung yang memberontak.
...****************...
*
*
*
Hayo coba absen di bawah ini sebutin username IG yang udah follow aku. Biar aku gak salah tebak😄
__ADS_1
By the way, buat yang udah lihat nih ada yang nungguin kalimat Keven dari spoiler di story IG & FB?🤭
Terima kasih atas dukungannya dan sudah menanti kisah Yuki😍