Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Extra - Pembuahan Lagi


__ADS_3

“Kok udah pulang, By?”


“Hari ini emang mau pulang cepat, Sayang. Tadi pagi udah aku kasih tau kamu,” jawab Keven lembut seraya menutup pintu.


“Iya sih, tapi ini masih jam delapan. Tumben banget. Warung nggak ramai?” tanya Yuki lagi. Mengamati segala pergerakan Keven tanpa beranjak dari ranjang. Berselimut sampai sebatas bahu seolah kedinginan. Sedangkan Keven melempar pandang sekilas seraya berlalu ke kamar mandi terlebih dahulu.


“Ramai. Tapi hari ini aku sempatin ke resto. Lihat ada reservasi birthday. Lumayan, Sayang,” jawab Keven sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari penglihatan Yuki.


Melompat dari atas ranjang, Yuki hampiri box tidur Leo. “Kasih Mama waktu sedikit ya, Sayang. Tiga jam aja jangan bangun minta nen. Gantian sama Papa,” bisik Yuki lirih pada sang buah hati. Tangannya pun bergerak cekatan membenahi letak sepasang guling mungil dan selimut hangat bayinya.


Lalu tanpa komando Yuki terburu-buru berdiri di dekat ambang pintu kamar mandi. Sepersekian detik kembali berbalik saat Keven mengelap wajahnya dengan handuk kecil. Hampir saja Yuki lupa pada baju tidur untuk Keven yang sudah dipersiapkan.


“Pangeran Simba udah tidur?” tanya Keven lirih sembari mengekori Yuki ke arah meja rias. Sesekali matanya melirik bayi bagai boneka di singgasananya. Terlelap tenang dengan perut kenyang.


“Tuh, udah nyenyak. Jangan berisik.”


‘Yes!’


“Senangnya,” cibir Yuki kala menangkap ekspresi kemenangan di wajah Keven yang terpantul di cermin. “Kayaknya ada yang nggak sabar ngajak Mamanya Leo main. Padahal belum juga dua bulan main sendiri.”


“Itu lama, Sayang,” rengek Keven membalas.


Mengangguk, Yuki lantas berdiri. Tidak jadi memberikan sentuhan-sentuhan terakhir di wajah. Rencananya berubah. Siasat mengulur waktu terhempas begitu saja oleh ketidaksabarannya sendiri.


Berjinjit, Yuki pegangi kedua bahu Keven. “Pembuahan lagi yuk?” bisik Yuki menggoda.


Perlahan jemarinya turun mendorong dada bidang Keven. Melepas kuncir rambut dengan gerakan sensual. Sepersekian detik kemudian melonggarkan tali piyama kimono berbahan satin.


Sedangkan Keven membola pada penampilan Yuki yang baru disadari. Ia terpaku, namun tidak dengan jakun yang bergerak kala air liur itu ditelan paksa.


Sekejap senyum miring terpatri di bibir lembab beraroma strawberry. Yuki lekas melingkarkan tangan di leher suaminya yang begitu terpana. Bahkan sempat membeku beberapa saat oleh serangan dadakannya.

__ADS_1


“Gak mau nih?” bisik Yuki manja. Sukses menyadarkan Keven yang langsung tersenyum sumringah. Membopong Yuki yang bergelayut dalam gendongan depan layaknya koala.


“Habis kamu malam ini.” Berat suara Keven membuat Yuki menggila. Namun tidak lantas bisa tertawa lepas. Ia masih sangat ingat jika ketenangan sang buah hati adalah prioritas utama.


“Sebentar … jangan lepas sendiri. Aku belum lihat anak kita.”


Tubuh tegap yang mengukung Yuki itu perlahan berjarak. Meninggalkan kecupan disertai sesapan rakus pada bibir yang sering kali dicuri-curi ciumannya. Mempertontonkan dada bidang dan punggung polos yang semakin terpampang nyata.


Keven tidak bisa mengabaikan kehadiran sang buah hati begitu saja. Ia bahkan belum sempat memberikan kecupan selamat malam. Hatinya seolah tidak tenang dalam pergulatan yang baru dinikmati seperempat jalan.


“Hai, Jagoan,” sapa Keven lembut pada Leo yang diam tidak terusik. Sejenak ia pandangi dagu mungil yang disentuh tipis seraya membatin, ‘kamu udah lama ambil istri Papa. Jadi malam ini kamu harus ngalah sama Papa, okay Jagoan? Besok Papa beliin baju baru.’


“Udah?” tanya Yuki disertai kekehan kala menyaksikan Keven dengan brutal melempar celana yang tadi dikenakan ke sembarang arah.


Tanpa penundaan kegilaan malam itu memporak-porandakan ranjang yang bergoyang. Sangat menggelora meski harus sedikit diredam agar Leo tidak meraung. Berusaha agar si kecil tidak menyisihkan sang Papa yang tengah memuaskan dahaga sekaligus menyelam dalam belaian yang dirindukan.


"Makasih, Sayang. Besok lagi ya?" Kecupan hangat mendarat di dahi Yuki seiring permintaan lirih bernada serius dilontarkan. Keduanya saling mendekap dengan peluh yang masih membekas basah.


Beruntung duplikat Keven kecil itu justru terlelap nyenyak hampir sepanjang malam. Leo seolah menyetujui kerja sama demi baju baru yang Keven janjikan.


...----------------...



Tiga bulan kemudian di pagi yang hampir beranjak cerah, seorang bayi gembul dengan serius mengamati jari-jemarinya. Sejenak bermain air liur yang sesekali disemburkan. Berceloteh panjang pada ujung kaki yang tidak sampai ke mulutnya.


“Kapok gak bisa gigit jempol kaki lagi,” celetuk Yuki menertawai tingkah Leo.


Seketika bola mata jernih Leo berbinar. Bibirnya terbuka lebar menyambut kehadiran Yuki. “Daa ….”


“Papa mulu yang dicari. Ini Mama, Ma-ma.”

__ADS_1


“Bheeh, uuh ….”


“Banjir-banjir liurmu, Nak,” ucap Yuki sambil menyelipkan tangan di bawah kepala dan pinggul Leo. Menggendongnya sambil terus berbalas celotehan. Berinteraksi riang dengan bahasa ajaib yang hanya dimengerti oleh Yuki.


“Oma,” sapa Yuki seimut mungkin. Melambaikan tangan kecil dan padat berisi milik Leo.


“Loh, Cucu Oma udah bangun, ya? Kasih Mama aja, Ki. Biar Mama yang temenin tummy time. Kamu urusin bapaknya aja sana,” pinta Mama Agni dengan tangan yang terulur. Tidak sabar untuk kembali bermain dengan cucu pertamanya pagi itu.


“Maaf, Ma. Tolong siapin kasur alasnya ya, Ma. Biar langsung aku tengkurepin Leo di kasurnya.”


“Oh iya, tunggu-tunggu.” Gegas Mama Agni membentang matras empuk berbentuk persegi panjang. Tidak terlalu besar, namun cukup untuk Leo gunakan sementara ini.


“Titip Leo ya, Ma.”


“Iya, udah sana. Bayi besarmu udah nungguin kopi.”


Berlalu terburu-buru sebelum Leo menyadari kepergiannya, Yuki menghela nafas panjang. Terlihat Keven yang diam mengamati bubuk kopi susu instan dalam gelas bening.


"Ya ampun Suamiku tersayang, kenapa kopinya dicuekin? Gak akan kabur sih itu kopi, tapi minimal bisa masuk angin bubuknya," gerutu Yuki gemas sembari menyeduh kopi itu untuk Keven.


"Nanti rasanya beda."


"Banyak alasan. Bilang aja mager. Padahal udah dibilang aku mau lihat Leo dulu."


"Ini fakta, Sayang. Aku udah kecanduan sama kopi susumu."


"Ih, mesum banget ngomongin susu di sini," balas Yuki sambil melipat tangan di depan dada.


Mengernyit, otak Keven mendadak buntu. Ia tidak mampu menangkap makna candaan Yuki. Alhasil decakan kecil menggema samar seiring lubang hidung mengembang kesal.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih ya udah baca lagi sampai sejauh ini😘


__ADS_2