Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Dua Garis Merah


__ADS_3

“Gelap?” gumam Keven seiring motor yang dibelokkan ke pelataran rumah. Sekali lagi ia mendongak, memicing dengan kerutan halus yang terpatri di dahi.


Benar, di lantai dua, tepat pada kamar yang biasanya terang benderang kini terlihat gelap gulita. Bahkan tirai yang biasa tersingkap seperempat, menampakkan Yuki yang mengintip berakhir melompat kecil dengan lambaian girang menyambutnya itu juga tertutup rapat.


‘Tidur?’ gumam Keven dalam hati.


Mulanya Keven bersikap santai, namun sekejap berubah bertanya-tanya penuh kekhawatiran di mana dan bagaimana kondisi Yuki selama ditinggal seharian ini. Jika diingat lagi, hari ini tidak ada video call yang nyaris sering ditelantarkan namun tetap setia menemani kesibukan Keven.


Buru-buru Keven mengunci stang motor. Berbalik menutup pagar. Bergegas memasuki rumah yang sebagian lampunya sudah dimatikan.


“Jangan nyalakan lampu?” eja Keven dengan kernyitan dalam. Terpampang kertas sebesar F4 tertempel di daun pintu dengan note berisi perintah yang belum Keven mengerti apa tujuannya.


Namun Keven tidak ingin terlalu ambil pusing. Ia segera membuka knop pintu. Masuk dengan perasaan was-was.


Akan tetapi, kamar gelap mencekam yang Keven bayangkan rupanya berpendar remang lampu tumblr. Membentuk jalanan berbatas kilau warm white. Tersusun banyak kertas berisi perintah dan berakhir dengan Yuki yang berdiri mengenakan kebaya pernikahannya. Perempuan itu terlihat menegang sesaat.


“Sayang … kamu?”


“Ssstt! Baca!” seru Yuki sambil melotot.


“Udah, Sayang. Jangan banyak tanya, ambil handuk, baju, mandi, jangan lama, terus apa?”


“Ya udah buruan, nih!” Yuki kembali memerintah. Namun kali ini senyumnya semakin merekah.


Tapi lagi-lagi Keven bingung. Meskipun ia tetap berjalan mendekat. Melompati kertas-kertas F4 yang merekat di lantai berkat lem timbal balik. Diraih pula handuk dan pakaian yang Yuki sodorkan.


“Sayang ….”


Kalimat Keven terpotong sorot tajam Yuki. Perempuan itu melotot sambil menunjuk kertas pertama yang berada di lantai. Berlanjut mengendikkan dagu ke arah kamar mandi.


Menghela nafasnya, Keven mengalah. “Okay. Aku diam. Tunggu aku.”


Namun bukan Keven jika langsung berlalu pergi. Ia justru meninggalkan jejak basah di bibir Yuki. Sebuah kecupan yang berhasil membuat Yuki merona. Melengkungkan kedua sudut bibir dalam senyum simpul. Sedangkan si pelaku tengah tergesa melucuti pakaiannya.


“Hish!! Tutup pintunya, By! Mataku ternoda,” pekik Yuki kesal berakhir cemberut dan mendengus kasar.

__ADS_1


“Lama, Sayang.”


“Dasar mesum!”


Brak!


Jelas bukan Keven, melainkan Yuki yang menghempas menutup pintu. Lalu bergegas menarik salah satu ujung rangkaian lampu tumblr sepanjang lima meter, mengarahkan pada kotak hitam yang sudah disiapkan.


Tepat beberapa saat setelah Yuki mendudukkan dirinya di ranjang, Keven menyembul dari balik kamar mandi. Membiarkan tetesan air dari rambut yang basah mengenai piyama tidurnya.


“Surprise,” ucap Yuki lantang. Padahal sejak awal juga Keven sudah terkejut.


‘Mati gue. Ini hari apa?’ batin Keven gusar. Pasalnya tidak satu pun dari ratusan daftar momen penting jatuh tepat pada tanggal di hari ini.


“Kenapa diem aja? Kaget?” tanya Yuki sumringah. Berdiri dan berbinar senang.


“I-iy ….”


“Atau jangan-jangan kamu gak suka, ya? Alismu itu mengkerut loh, Mas,” sela Yuki. Binar bahagia yang tercetak di wajah dalam sekejap berubah menjadi kemurungan.


“A-aku kaget banget, Sayang. Kamu siapin ini semua buat aku?”


‘Aduh sewot, bahaya,’ batin Keven.


“Sayang kalau udah cemberut gini gemesin banget. Jangan manyun gini dong. Kita lagi libur loh," ucap Keven setengah membujuk dan memelas.


"Ya ampun, yang makin cantik ini beneran ngambek? Asal kamu tau, ada kamu di setiap hariku aja udah surprise. Kamu itu hadiahnya. Aku beruntung banget. Wajar kan kalau aku lebih terpesona lihat istriku ini?" lanjut Keven sambil mempertemukan hidung keduanya. Menggesek lembut seraya mencuri ciuman di bibir yang manyun itu.


“Yakin?” Menyeringai, Yuki berdecak mengejek. “Jangan menyesal setelah kamu lihat isi kotak itu.”


“Gak mungkin.”


“Kayak iya aja. Kamu gak asik. Romantisnya gatot dari awal. Harusnya tadi aku sembunyi dulu. Tapi gara-gara ketiduran jadi lupa skenario. Kamu sih pulangnya gak kasih kabar. Ini juga kenapa peluk-peluk?! Buruan buka kadonya.”


“Iya, maaf, aku yang salah.”

__ADS_1


“Emang,” ketus Yuki membenarkan.


Kini Keven berlutut membuka penutup kotak berpita itu. Seketika keempat sisinya rubuh. Terpampang aneka camilan kesukaan Yuki. Namun hanya satu sisi yang berisi huruf ‘P’ tercetak tebal berwarna merah.


Sekali lagi Keven hanya mampu mengernyit. Ia membuka satu lagi penutup kotak yang ternyata berlapis itu. Seketika matanya terbelalak pada tempelan sarung pengaman pisang yang pernah dibeli tapi belum pernah digunakan.


"Itu punya kamu," celetuk Yuki menegaskan. Bahkan tanpa diberitahu, Keven sudah sangat paham itu miliknya. Buru-buru ia buka sebuah kotak lagi di dalamnya sambil mendengarkan celotehan Yuki.


“Aku ambil di dasar tumpukan baju kamu. Kok beli gak bilang-bilang? Bukan koleksi lama kamu kan? Ah, udah deh, lupain. Lagi pula sekarang udah telat mau pakai itu atau nggak,” sambung Yuki dengan suara yang semakin mengecil. Jelas terdengar oleh Keven. Namun semua itu teralihkan oleh kotak keempat yang dibuka.


“Papa?” lirih Keven dengan jantung berdebar. Mengeja deretan huruf yang merangkai sebuah kata ‘PAPA’. Bahkan matanya bertambah membola pada kotak terakhir berisi benda persegi panjang dengan dua garis merah.


Seketika tangan Keven bergetar. Matanya berkaca-kaca. “Sayang, please, ini apa? Kamu hamil? Aku Papa?”


Spontan Keven bangkit, menghamburkan pelukan pada Yuki yang mengangguk cepat. Tidak terhitung berapa banyak untaian kalimat sayang dan syukur Keven lontarkan.


“Sayang … dia di sini? Bukan prank?” tanya Keven masih tidak menyangka. Berulang kali menatap perut rata dan wajah Yuki silih berganti.


Sekejap Keven merunduk, menekuk lutut dan memberanikan diri memberikan usapan lembut. “Anak Pa-pa di sini?” tanya Keven lirih dengan suara bergetar haru. Namun kaku dan canggung, itulah yang dapat Yuki lihat serta rasakan dari usapan telapak tangan kokoh Keven.


“Hai … sehat-sehat ya di dalam perut Mama. Terima kasih udah hadir buat Papa dan Mama. We love you,” bisik Keven seakan berkomunikasi dengan calon anaknya.


Getaran haru itu semakin membuncah. Keven seakan melambung meski sempat merinding menyebut dirinya sendiri sebagai 'Papa'.


“Mas Keven kenapa pakai acara nangis sih?! Aku kan jadi pengen nangis juga. Gagal lagi aku tahan air mata biar gak tumpah. Kan jadi jelek banget. Padahal dari kemarin udah seneng-seneng gitu aja.”


“Kemarin?”


“Iya, kemarin. Waktu aku teriak yes itu bukan gara-gara bisa bikin balon busa, tapi tau kalau berhasil kamu hamilin. Tokcer juga ya, hehe ….”


"Jadi seharian ini kamu sengaja pengen di rumah, jarang hubungi aku, ditelepon susah ... buat ini?"


"Tadinya sih gitu. Tapi urusan print dibantu Nita. Pas banget si Dimas baru beliin printer. Lagian laptop aku kan sama Nita, By. Jajan yang ditempel itu juga nyuruh Nita yang beli. Kesimpulannya ya sebenarnya dari tadi aku malas-malasan." Yuki menyengir sembari memainkan rambut Keven. Laki-laki itu masih betah berjongkok sambil mengusap perut sang istri.


"Nita datang sendiri ke sini?"

__ADS_1


"Kalau sama Dimas kenapa? Kamu cemburu? Hayo ngaku ... cemburu ya?"


"Ng-gak," elak Keven. Nyatanya cemburu itu selalu hadir tanpa memilah situasi dan kondisi.


__ADS_2