
Langit-langit kamar seakan nyaris berlubang, ditatap lurus sepasang manusia yang saling menautkan jemari. Perlu dikoreksi, hanya jari kelingking yang saling tertaut.
Baik Yuki maupun Keven sama-sama merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hening tanpa suara. Terakhir kali pembicaraan mereka berupa sebuah permintaan yang terucap dari bibir Keven untuk saling menggenggam dalam tidur. Sayangnya Yuki hanya merelakan kelingkingnya dikuasai Keven.
"Beberapa waktu lalu Kak Alia datangi aku," celetuk Yuki memecah keheningan. Menarik perhatian Keven yang sedari tadi tidak bisa tidur, namun tidak tau pula harus melakukan apa lagi.
Menoleh menatap sisi samping wajah Yuki dengan garis hidung yang tampak nyata, Keven memilih diam. Ia ingin mendengarkan kalimat Yuki selanjutnya tanpa menyela.
"Benar anak yang Kak Alia kandung itu anak kamu?" tanya Yuki bernada menuduh. Tanpa ragu Yuki membalas tatapan mata Keven dengan sorot tajam penuh makna dengan raut wajah datar.
Sedangkan Keven yang ditodong pertanyaan oleh Yuki langsung melebarkan kelopak matanya. "Kenapa kamu tanya gitu?"
"Jadi benar kalau itu anak kamu?" Tersenyum miring Yuki menatap jijik Keven yang semakin mengeratkan tautan jarinya.
"Gak. Aku bahkan masih perjaka! Kenapa kamu bisa-bisanya tanya kayak gitu?"
Kini Keven beringsut duduk. Meraih telapak tangan Yuki ke dalam genggamannya. Namun tidak seperti yang Keven harapkan, Yuki menepis kasar tangannya. Menjauh dari jangkauan dengan tangan terlipat.
Jijik, itulah yang Keven tangkap dari sikap Yuki.
Berdecih serta membuang arah pandangnya Yuki menertawakan Keven yang kebingungan. Sejurus kemudian gadis itu mendorong naik tubuhnya dan menghempaskan punggung pada sandaran ranjang.
"Kak Alia sendiri yang bilang. Dan tadi kamu bilang apa, perjaka?" Merendahkan intonasi suaranya, Yuki menangkupkan tangan ke bibirnya yang tertawa lepas. "Hahaha ... Astaga ... Pengakuan kamu itu gak bisa dicek kebenarannya."
"Apa kamu benar-benar dengar Alia bilang itu sendiri?" tanya Keven memastikan.
Tidak dipungkiri Keven geram pada inti dari penuturan Yuki. Bukan pada Yuki, namun Alia yang secara tidak langsung menyebar kebohongan tentangnya.
Ngeri Keven membayangkan bila kedua orang tuanya sampai mengetahui kebohongan Alia itu. Bisa dipastikan Keven akan kembali menjadi bulan-bulanan, bahkan lebih parah dibandingkan ketika dirinya dituduh sebagai pebinor.
"Telinga sahabat aku saksinya," tegas Yuki mantap. Nyatanya memang Ara dan Dimas mendengar seluruh perkataan Alia. Bahkan sampai mematik amarah Ara yang berujung patahnya penggaris murah Dimas.
"Semua yang Alia ucapkan itu bohong. Aku tau selama ini gak bertanggungjawab dengan kamu, tapi aku gak serendah dan sebajingan itu." Menyugar rambutnya dengan putus asa Keven berharap Yuki mempercayai dirinya.
Laki-laki yang baru saja memohon kesempatan kedua pada Yuki itu kalut. Pikirannya kacau. Semua usaha yang menurutnya telah berhasil seolah sia-sia jika Yuki termakan kebohongan Alia.
Dalam diam Keven bertekad akan meluruskan segalanya. Memperingatkan Alia untuk tidak bertindak melewati batas. Hubungan mereka tidak lebih hanya sebagai sahabat, atau malah akan menjadi mantan sahabat. Karena nyatanya posisi Alia yang membekas dan tersisa pada Keven saat ini sebatas teman masa kecil.
__ADS_1
Kepergian Yuki selama lebih dari sebulan sudah mengukuhkan seberapa kehilangan dan pentingnya Yuki dalam hidup Keven. Meski keduanya tetap berkomunikasi yang hanya sebanyak hitungan jari, tapi interaksi mereka lebih cocok disebut orang asing yang iseng saling berbagi kabar.
"Aku gak tau apa lagi yang Alia sampaikan ke kamu, tapi yang pasti itu bukan anak aku. Aku mohon percayalah dengan aku, bisa kan?" ucap Keven dengan suara melemah. Terdengar putus asa dan penuh pengharapan.
"Jadi anak siapa?"
"Kenapa kamu tanya lagi? Bukannya udah jelas kalau itu anak Saka? Apa kamu masih gak percaya dengan ucapan aku?"
Mengeraskan rahangnya, Keven tidak habis pikir mengapa sesulit itu Yuki percaya terhadap dirinya. Ia tau jika kesalahannya tidak terhitung lagi, namun tidak bisakah Yuki melihat kejujuran yang sekuat tenaga diungkapkannya?
"Yakin bukan anak kamu?" cibir Yuki sinis. Masa bodoh bila Keven jengah. Ia akan membuat Keven benar-benar frustasi menghadapi sikapnya. Ini baru permulaan. Jangan kira semudah itu mendapatkan maaf darinya. Yuki bukan manusia dengan seribu pintu maaf yang bisa dimasuki begitu saja.
"Aku bahkan gak habis pikir kenapa Alia bisa segila itu." Menggelengkan kepala, geraman Keven teredam di dasar dada. Namun suara berat yang khas sudah bisa Yuki tebak jika sang pemiliknya sedang dilanda gejolak emosi membara.
"Dari dulu juga dia udah gila. Hanya kamu yang bodoh," ucap Yuki sekenanya, melirik Keven yang mendelik pada perkataannya. "Gak suka aku hina perempuan kesayangan kamu itu? Memang dasar kamu yang bodoh kalau gitu. Apa?! Masih gak terima?"
"Bukan gitu, Ki. Aku udah lama kenal Alia, dulu dia gak kayak gini ... Satu hal lagi, jangan sebut aku bodoh!"
"Ya-ya-ya, terserah. Aku mau tidur. Jangan mendekat dan jangan ganggu!" Meringkuk memunggungi Keven, Yuki menarik selimut hingga menutupi puncak kepalanya. Ia hanya menyisakan sela kecil di depan wajah agar tidak kehabisan oksigen.
"Aku bilang jangan mendekat!!" Pekik Yuki kala merasakan pergerakan di belakang tubuhnya. Dan benar saja, tangan terangkat Keven yang hendak menyentuh Yuki hanya mampu menggantung, meremas kepalannya sendiri.
Tidak ada jawaban, hanya hembusan nafasnya seorang yang seakan mengisi setiap sudut kamar.
"Apa alasan kamu nikahin aku?" Berbalik dan menghempas kasar selimut yang membuatnya kepanasan, Yuki berhasil mengejutkan Keven. Spontan laki-laki itu terperanjat, memegangi dada dengan degup jantung memburu.
"Kamu bisa pelan-pelan, Ki. Jangan bikin kaget gini."
"Halah, lama! Langsung intinya aja, apa?" Mengibaskan tangan di depan wajahnya, Yuki mendadak kembali penasaran.
"Bukannya kamu udah tau semua alasannya?" Mengernyit heran, Keven sejujurnya tidak ingin kembali mengingat keburukannya itu. Ia merasa benar-benar menjadi laki-laki bejat yang memanfaatkan ketidakberdayaan Yuki kala itu. Niat menolong yang penuh tipu muslihat membuat nama Yuki tercoreng secara instan. Bahkan sempat dicaci tetangga, teman kampus dan keluarganya sendiri sebelum akhirnya mereka dinikahkan. Namun tetap saja tidak menghilangkan citra buruk Yuki yang terlanjur tergores.
"Ya tau ... Aneh aja kenapa aku yang harus kamu nikahi. Masih ada wanita lain."
"Karena memang hanya kamu yang menurut aku wanita baik-baik. Lagi pula selain kamu gak ada perempuan lain yang dekat dengan aku."
"Rupanya bukan karena aku pilihan terbaik, tapi kamu yang gak punya pilihan. Oke lah kalau gitu. Percuma aku nanya. Bikin nyesek, nyebelin!" gerutu Yuki yang kembali memunggungi Keven. Tidak lupa Yuki menumpuk bantal dan guling layaknya benteng pertahanan. Ia rela tidak berbantal. Meninggalkan Keven yang hanya terbengong pada tingkah absurd Yuki.
__ADS_1
Terpejam rapat Yuki menjemput mimpinya. Tidak ada rasa canggung atau debaran lainnya meskipun baru saja menerima banyak pengakuan Keven.
Yuki sudah terlalu terbiasa memaksa matanya terlelap di samping Keven. Jika awalnya ia kesulitan, gugup dan gemetaran, maka kini semua terasa biasa saja.
...----------------...
'Kamu cantik. Benar-benar cantik. Tetaplah seperti ini. Jangan pergi,' gumam Keven dengan mata yang mengerjap perlahan. Memperhatikan Yuki yang tertidur nyenyak.
Mengusap wajahnya dengan kasar, senyum Keven berubah menjadi dengusan. 'Argh ... Aku benar-benar menjilat ludah ku sendiri.'
...Kamu cantik ... Tapi sayangnya bukan kamu perempuan yang aku inginkan....
Kalimat yang pernah diucapkannya menggema. Teringat jelas bagaimana hatinya menolak saat detik-detik terakhir sebelum Yuki resmi menjadi istrinya.
Kini tanpa diduga ungkapan itu tiba-tiba menyapa ingatan Keven. Mengejek dan menampar sosok angkuhnya di masa lalu.
Meraup udara sebanyak-banyaknya, Keven berlalu ke kamar mandi. Ia ingin membasuh wajahnya. Mengurangi panas kepalanya yang dipenuhi penyesalan. Cukup bersyukur dirinya hanya mengucapkan kalimat itu di dalam hati.
Ditatapnya lamat-lamat wajah yang terpantul di cermin. Ia tersenyum pada bayangannya sendiri. Terkilas aksi berlutut di hadapan Yuki. Tidak pernah ia sangka gadis yang sempat ditolaknya berulang kali berhasil membuatnya berlutut, memohon agar diberikan kesempatan kedua.
Kembali Keven menuju ranjangnya. Berjongkok mendekat pada Yuki yang masih setia berbaring miring. Yuki terlalu konsisten memunggungi Keven semalaman.
"Morning," lirih Keven melukiskan senyuman cerah menyambut pagi baru dari hubungan yang membaik, menurut Keven.
Mengumpulkan kesadarannya, Yuki merasa masih bermimpi bisa melihat senyuman menawan Keven. Dicolek dan tepuk pelan pipi Keven yang terasa nyata, kerutan halus di dahi Yuki semakin bertambah.
"Ayo bangun," ucap Keven sembari menangkap telapak tangan Yuki yang terus menepuk pipinya. Sontak Yuki langsung terbelalak, tersentak dan terduduk kasar hingga kepalanya mendadak sakit karena terbangun tiba-tiba.
...****************...
*
*
*
Udah menunggu lama ya? Maaaaaffff...
__ADS_1
Terima kasih udah mengikuti kisah Yuki😘