Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bukan Siluman


__ADS_3

Sebuah mobil menepi agak jauh dari halte bus yang terlihat ramai. Mata laki-laki yang masih duduk di belakang setir kemudi itu berkeliling, memicing dan menyorot satu per satu manusia berjenis kelamin perempuan yang saling mengeratkan jaket. Kabut tebal di bawah sinar rembulan jelas membuat semua orang yang terpaksa bangun dari tidurnya menahan dingin menggigil.


"Di mana dia?" gumam Keven dengan gigi bergemeletuk gusar. Helaan nafasnya berulang kali terhembus kasar.


Keven layaknya penjahat yang siap menculik targetnya. Hanya saja Keven tidak akan melakukan hal gila itu, atau mungkin saja belum melakukannya.


"Kan ngeselin aku pagi buta udah harus stay. Mau gak mandi tapi perjalanan laut katanya 20 jam. Ini lagi gelombang besar gak kebayang kalau aku mandi di kapal jadinya kayak gimana."


Sekelebat sinar dari layar ponsel yang menyala baru saja terpantul tepat di kaca depan mobil Keven yang terparkir. Obrolan santai dari sambungan telepon itu sayup-sayup masih bisa Keven dengar.


Keluar dari mobil dengan tingkah bak pencuri, Keven mengikuti langkah pelan sosok gadis di depannya. Tidak lupa tangan kirinya sudah menenteng paper bag berisi lemon tea panas dalam tumbler stainless, 2 porsi sandwich telur salad kubis dan 2 porsi sandwich telur cheesy. Keven hanya menyiapkan sesuatu yang cukup simple sebagai makanan pengganjal perut Yuki dengan bahan seadanya.


Berjalan mengendap-ngendap, Keven masih diam-diam mencuri dengar segala obrolan. Terkadang terdengar suara perempuan namun tidak berselang lama muncul suara laki-laki yang menyahuti dari seberang panggilan itu.


[Dimas enak kali ya cuma perlu sejam perjalanan darat aja. Boleh bawa motor sendiri juga. Bisa pulang kapan pun kalau mau.]


[Kepala mu itu bisa pulang kapan aja, Ra. Udah dikasih tau kalau ketahuan pulang tanpa izin bisa dibatalin KKN kita, harus ngulang lagi semester depan. Kalau alasan gak urgent juga katanya gak bakalan bisa pergi sembarangan.]


"Seenggaknya kamu udah paham calon tempat KKN mu, Dim. Sama itu sinyal udah jelas pasti ada. Tempat aku katanya cuma bisa jangkau satu provider, itu juga katanya sering hilang sinyalnya," keluh Yuki sambil terus membawa tubuhnya mendekati kerumunan.


[Aku nanti agak siang baru pergi, tapi mungkin jam 8 udah gerak soalnya jam 10 mungkin udah harus naik speedboat. Speedboat kan jadwalnya teratur kalau pagi jam 8, 10, terus terakhir jam 3 sore. Beda sama kapal ro-ro yang kadang jam 9 malam atau pagi buta ada jadwalnya.] Suara perempuan yang diperkirakan adalah Ara menyeruak dari panggilan yang dinyalakan pengeras suaranya.


"Kalau bukan gara-gara air pasang jam segini juga gak berangkat pagi buta. Tau kan kalau pelabuhan yang dipakai ini kalau air surut kapal gak bisa menepi ke dermaga penyeberangannya?" ucap Yuki bernada malas sambil mendongakkan kepala, tidak ada bintang di langit, bahkan bulan baru saja tertutup awan tebal.


[Iya tau ... Eh aku udahan dulu ya, Ki, Ra. Udah dipanggil Nita suruh bantu ngitung dagangan yang harus diantar pagi sebelum aku pergi.]


[Lanjut, Dim. Sukses jualannya.]


"Lanjut sana, jangan nyusahin Nita!"


Balasan kedua perempuan itu pada Dimas terucap serentak, namun jelas memiliki dua konotasi yang berbeda.


"Tidur lagi sana, Ra. Masih jam 4 juga. Simpan tenaga buat perjalanan mu sendiri," pinta Yuki pada Ara yang masih tersambung dalam panggilan telepon pagi itu.

__ADS_1


[Santai aja. Biar aku temani.]


"Aku tadi cuma takut jalan gelap-gelap sendiri. Sekarang aku gak sendiri kok," ucap Yuki sambil memutar langkahnya, tersenyum miring pada laki-laki yang mematung terkejut.


"Temen ku yang di kos tadi udah nyusul. Di halte juga udah ramai. Aman kok." Memicingkan matanya, Yuki menelisik dari atas sampai ke bawah sosok yang masih terdiam sekitar 3 meter di hadapannya. Pencahayaan temaram dari lampu jalan yang agak jauh tidak membuat Yuki sulit menebak siapa gerangan yang membuntuti langkahnya sejak beberapa saat lalu.


Mematikan sambungan teleponnya dengan Ara, Yuki melepaskan pegangan tangan pada koper miliknya, memasukkan ponsel pada saku jaketnya. Mendekat satu langkah, Yuki membuang pandangannya ke sisi kanan.


"Mau apa?"


Hanya dua kata menyiratkan tanda tanya terucap dari bibir tipis nan dingin Yuki. Terdengar malas dan enggan diucapkan, namun terpaksa terlontar begitu saja. Yuki masih tidak bisa mendefinisikan gejolak yang sedang dirasakannya. Namun jelas lebih pada jengah dibandingkan penasaran.


"Ada apa?" tanya Yuki lagi, suaranya ketus dan kasar. Kali ini sorot mata Yuki berusaha menatap lekat sosok Keven yang masih bungkam, tentunya dengan wajah masam.


Berjalan mendekat, suara datar Keven mengetuk gendang telinga Yuki. "Ini ... Ambillah!"


Paper bag itu menggantung di tangan Keven, disodorkan tepat di hadapan Yuki. Sontak wajah masam itu terhias kerutan halus di dahi bahkan di antara kedua alis.


"Ambil ini. Bisa kamu makan nanti selama di perjalanan," ucap Keven sambil meraih tangan Yuki, meletakkan paper bag yang dibawanya agar segera Yuki terima.


Mendaratkan telapak tangannya di atas puncak kepala Yuki, Keven berujar lirih, "hati-hati. Jaga kesehatan kamu di sana."


Terbelalak dengan tatapan tidak percaya dan mulut menganga, Yuki hampir saja melepas pegangannya pada paper bag yang baru saja digenggam. Mengerjap pelan kelopak mata Yuki, isi otaknya seketika kosong. Sejenak rasa takut membuat bulu kuduk Yuki meremang.


'Ini bukan jelmaan kan ya? Matahari masih lama muncul lagi ... Aku harus gimana ini?' membatin takut Yuki menahan nafasnya, berharap sosok familiar namun terasa asing itu segera menghilang.


"Jangan lupa hubungi aku saat kamu udah sampai di sana." Kembali sebuah kalimat lembut penuh harap menyeruak pendengaran Yuki. Usapan singkat di kepalanya juga berganti dengan tepukan lembut di bahu. Jelas membuat Yuki semakin terheran-heran.


Plak.


"Yuki?!"


"Sakit ... Manusia rupanya," lirih Yuki sambil menatap telapak tangan dengan panas menjalar. Tenaga yang cukup kuat justru menghadirkan getar sakit di sela jari-jemari Yuki.

__ADS_1


Benar, baru saja tangan Yuki mengayun ringan, menampar tepat di pipi kiri laki-laki dewasa yang berstatus suami Yuki.


Kini telapak tangan yang memerah itu sudah mengkonfirmasi jika sosok di hadapannya benar-benar Keven, bukan siluman yang menjelma di hari yang masih menggelap. Namun hati nurani Yuki seakan ingin menolak fakta bahwa memang benar Keven yang baru saja memperlakukannya dengan manis.


"Gak perlu kamu tampar aku kalau kamu gak suka aku ke sini!" ucap Keven dengan intonasi rendah, sesekali laki-laki itu menggerakkan rahang bawahnya yang kebas. Jangan ditanya bagaimana kondisi pipinya, rasanya berdenyut dan panas. Tamparan dari tangan ringkih Yuki tidak bisa disepelekan.


"Ya gitu kalau baiknya konsisten sampai dikira siluman," sindir Yuki diselingi kekehan dari bibir yang menyunggingkan senyum miring. Tidak hanya sampai disitu saja, mata yang sempat terbelalak itu menatap sinis Keven yang mengeraskan rahang dengan gigi terkatup rapat.


Belum sempat Keven berucap, mulut yang sudah terbuka dengan kata-kata di ujung lidah itu langsung terbungkam oleh kalimat yang teruntai panjang dari bibir Yuki.


"Oh ya, kamu tau dari mana aku di sini? Ngapain juga kamu ke sini? Atau cuma mau kasih ini? Ya udah ya, makasih. Udah kan? Aku mau pergi. Udah ditungguin sama teman-teman ku, bye ... Aku pamit, Mas," cerocos Yuki bertanya tanpa jeda yang diakhiri kalimat mengisyaratkan perpisahan. Memang itulah tujuan Yuki agar pertanyaan itu tidak sempat Keven jawab atau sekedar menyela.


Gadis yang tidak mau menunggu jawaban Keven itu sudah membalikkan badan, menarik kasar kopernya, berlari kecil menuju kerumunan di halte bus dalam area kampusnya.


"Kita perlu bicara!" Hadang Keven di depan tubuh Yuki yang mau tidak mau membuat keduanya bertabrakan. Spontan saja hal itu berhasil membuat Yuki terhuyung dan nyaris melemparkan paper bag yang ditentengnya.


"KHEM ... Area kampus ... KHEM ... Jangan mesum ... KHEM ... Uhuk-uhuk ... Jaga mata, uhuk! Masih pagi, khem!" Kalimat menginterupsi dengan segala gaya deheman batuk abal-abal sukses mengalihkan perhatian Yuki.


Dapat Yuki lihat tersangkanya adalah Ismi, gadis yang memberikan Yuki tumpangan menginap satu malam. Perempuan itu baru Yuki kenal dekat 2 minggu lalu saat kegiatan pembekalan KKN dikarenakan mereka berada dalam kelompok yang sama.


Mendengus sebal, Yuki membalas mata melotot Ismi yang seolah mengkode sesuatu. Tidak hanya itu, banyak pula tatapan mata orang-orang lainnya yang seolah menghakimi Yuki.


Masih belum Yuki pahami maksudnya hingga saat dirinya benar-benar sadar bahwa tangannya sedang menangkup benda bidang nan keras yang terlapis kain. Tidak hanya itu, aroma parfum yang sangat Yuki kenali juga terendus pekat dari sosok yang melingkarkan tangan ke punggung bagian bawah sampai ke pinggang Yuki.


*


*


*


Maaf belum bisa membalas komen teman-teman satu per satu🙏 Aku kurang punya waktu untuk on agak lama saat ini😅 Minta doanya saja supaya urusan di real life lancar & punya banyak waktu untuk bertapa😄😘


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki🥰

__ADS_1


__ADS_2