
Tergurat garis khawatir dari wajah yang mulai keriput. Raga yang renta bergerak cepat melewati lorong-lorong panjang dengan berbagai cerita di balik banyaknya pintu yang tertutup. Pasangan senja yang tidak lain adalah Mama Agni dan Papa Leigh itu sama-sama tersengal dalam langkah memburu.
“Kayaknya ini, Ma,” ucap Papa Leigh pada Mama Agni. Keduanya sudah berdiri tepat di depan pintu kayu berwarna putih.
Mengangkat tangannya dan mendaratkan buku-buku jari kiri mengetuk pintu, Papa Leigh juga mengarahkan tangan kanannya meraih knop pintu yang terkatup rapat. Dadanya cukup berdebar hebat akibat berlari tergesa-gesa di usia yang tidak muda lagi.
Tok.
Tok.
Ceklek.
“Non … Jangan, Non ….”
Celah pintu yang terbuka baru selebar telapak kaki, belum bisa dilewati, namun suara yang teredam di balik pintu sudah menyapa terlebih dahulu pendengaran Mama Agni dan Papa Leigh. Gegas Papa Leigh mendorong cepat hingga daun pintu itu terbuka lebar. Tampak di brankar pesakit Alia sedang memukuli perut dengan tidak terkontrol. Tangan Bibi pengasuh yang kini berubah menjadi asisten rumah Alia ditepis kasar setiap menghalangi tindakan brutal yang terpampang nyata.
“Kenapa gak mati?!! Bayi sialan! Aaarrgghh …,” umpat Alia dengan jeritan histeris. Kepalanya menggeleng kuat dengan amukan hebat hingga rambut yang terurai berantakan. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran kedua orang tua Keven yang mematung syok di dalam ruangan persegi yang sejak 2 jam lalu ditempatinya
“Udah, Non … Jangan kayak gini.” Lontaran pinta mengiba menyadarkan pasangan senja yang terlalu terkejut dengan suguhan pemandangan yang ada.
Melangkah lebar Mama Agni mendekati brankar Alia. Mencengkeram kuat tangan yang berontak ingin menyakiti dirinya sendiri. “Kamu juga seorang anak yang nggak bisa memilih lahir dari orang tua seperti apa!” ketus Mama Agni tiba-tiba. Wanita tua itu meluapkan kemarahan atas tindakan Alia yang belum diketahui, tapi bisa dirangkai dalam skema mengerikan di benaknya. Cukup mengiris pilu hati nurani Mama Agni.
Spontan kalimat yang menggema di ruangan itu mengejutkan Alia yang sebelumnya terus-menerus berusaha memukuli perut yang belum membulat besar. Wajahnya yang sudah pucat semakin bertambah pias. Mata terbelalak dan bibir bergetar ingin melawan seketika membeku.
“Apa yang kamu lakukan, Alia?!” Belum habis keterkejutan Alia, suara berat Papa Leigh sudah menyerbu dari belakang punggung Mama Agni.
“Jelaskan, Bik, apa yang udah terjadi?!” ucap Papa Leigh lagi. Menodongkan tanya pada wanita paruh baya yang gemetaran karena kewalahan menghadapi tingkah Alia, serta takut pada nada rendah penuh emosi yang mengiringi perkataan Papa Leigh.
“Non- … Mmm … Non A-lia.” Terbata-bata wanita paruh baya itu memaksa lidahnya merangkai kata yang sulit dijabarkan. Ia menunduk gelisah atas tatapan tajam Alia. Meremas jemari renta yang belum lama itu digunakan untuk menjemur pakaian Alia.
“Non Alia mau gugurkan kandungannya, Pak,” cicit wanita paruh baya yang kini semakin menunduk takut pada kemarahan Papa Leigh. Sedangkan Mama Agni dan Alia jelas sudah melotot lebar secara bersamaan, namun dengan alasan yang berbeda.
“Bukan hak kamu mencabut nyawa yang dititipkan ….”
“Tapi semua itu lebih baik dari pada dia hadir dan gak ada yang menginginkan, Om!” bantah Alia menyela kalimat Papa Leigh.
“Kamu Ibunya. Kamu yang harusnya lebih menginginkan dia dibanding siapapun, Alia!” bentak Mama Agni geram. “Di luar sana banyak perempuan yang berusaha hamil, tapi keajaiban itu gak pernah datang untuk mereka. Banyak yang berjuang susah payah hingga sekian tahun kemudian baru diberikan keturunan, seperti Tante yang akhirnya mendapatkan Keven. Banyak juga perempuan yang hamil di luar nikah, gak ada yang mau bertanggung-jawab sama mereka, tapi mereka tetap mempertahankan bayi yang gak berdosa. Setidaknya di sini kamu punya kami yang masih memperhatikan, bahkan belum lama ini orang tua kamu juga udah pulang. Jadi jangan bertindak kelewatan batas sampai membuang akal sehat dan hati nurani kamu!!”
“Tante tau apa tentang orang tua aku?! Mereka hanya mau harga diri dan nama mereka nggak tercoreng. Aku janda, aku hamil dan bagi mereka aku ini aib … Lalu aku harus apa?? Bahkan orang yang selalu ada untuk aku gak ada di sisi aku. Dimana Keven dan Saka? Mereka pergi ninggalin aku. Kalau anak ini gak ada, semua ini gak akan terjadi." Tersenyum miring, Alia terkekeh miris. Sorot matanya yang berapi-api berubah nanar, namun sekejap kembali dipenuhi kebencian.
‘Bukan … Bukan hanya anak ini. Semua gak akan sampai kayak gini kalau perempuan itu gak ada! Saka dan Keven gak akan terpengaruh sampai aku akhirnya salah langkah. Harusnya kami masih bisa bersama. Semua perhatian mereka cuma untuk aku. Dia yang baru hadir merebut semuanya. Dia licik.’ Membatin marah Alia mendengus kesal. Hati wanita berbadan dua itu benar-benar tertutupi kebencian dan dendam tidak logis pada Yuki.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan sikap Alia yang terkesan semakin memburuk, Papa Leigh membalikkan badan, keluar dari kamar rawat inap yang hanya diperuntukan untuk 1 orang pasien. Ia berinisiatif mencari tau dari bagian resepsionis dan Dokter yang menangani Alia tentang apa yang telah terjadi beserta efek bagi kandungan perempuan yang sebenarnya sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.
Sedangkan di lorong yang sama dengan jarak yang terbentang jauh, seorang gadis terlihat mondar-mandir sambil memeluk celengan dari bekas botol air bervolume 2 liter. Gulungan uang yang tidak seragam itu dapat terlihat jelas dari botol yang transparan, beruntung botol itu dibungkus dalam kantong kresek berwarna hitam.
“Katanya di sini, tapi di mana?” gumam Nita, gadis yang memeluk uang yang sudah Irma tabung dalam botol bekas selama kehamilannya.
Dugh.
Tersentak akibat benturan kecil di bahu yang membuatnya terhuyung, Nita meringis dan tersenyum kikuk pada laki-laki paruh baya di depannya. “Ma-maaf, Pak,” ucap Nita sambil menundukkan kepala berulang kali, merasa bersalah karena kepanikan membuatnya tidak sengaja menabrak seseorang.
“Iya, gak apa-apa. Hati-hati, Nak,” ucap Papa Leigh sambil membalas senyuman Nita dengan ramah. Ia berlalu terlebih dahulu, meninggalkan Nita yang kembali dilanda kebingungan atas informasi perawat mengenai ruang bersalin Irma yang tidak kunjung ditemukan.
‘Semoga Kak Irma baik-baik aja,’ gumam Nita dalam hati. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada botol berisi uang yang menjadi amanat Irma sejak jauh-jauh hari jika Irma mengalami situasi mendesak, contohnya seperti yang terjadi saat ini.
“Om Saka,” lirih Nita lega. Setitik rasa syukur tercipta kala sosok Saka tertangkap indera penglihatannya. Berlari dengan langkah lebar Nita menghampiri Saka yang tampak gelisah.
“Om … Kak Irma, Kak Irma baik-baik aja kan, Om?”
“Nita?” Mendongak Saka mendapati Nita yang sudah berdiri di depannya. Laki-laki dewasa itu lantas beranjak dari duduknya, menepuk pelan bahu gadis muda yang kentara sangat panik, takut dan khawatir berlebihan hingga tampak ingin menangis saat itu juga.
“Irma lagi di operasi. Bayinya harus dilahirkan saat ini juga."
“Op-operasi?” tanya Nita dengan nafas tercekat. Mata gadis itu membola syok. Sejurus kemudian ia duduk di kursi panjang dan mengeluarkan paksa isi botol ke dalam kantong kresek.
“Aku harus hitung uang Kak Irma dulu, Om. Takutnya gak cukup untuk operasi,” jelas Nita dengan mata awas yang terpusat pada lembaran uang yang disusunnya.
“Kamu udah kasih tau keluarga Irma?”
Menggeleng pelan, Nita masih saja fokus menghitung uang milik Irma. “Kak Irma gak punya saudara, keluarga juga. Katanya dia yatim piatu.”
“Suaminya?”
“Gak punya suami juga.”
“Ma-Maksudnya?!” Melebarkan kelopak matanya, penuturan Nita atas status Irma yang tanpa suami meski sedang hamil besar sukses membuat otak Saka berpikir ke mana-mana.
Menghentikan kesibukannya, Nita menoleh pada Saka yang memberikan tatapan menuntut penuh tanya. Sejenak dihelanya nafas pendek sebelum menjawab pertanyaan Saka. “Huufft … Kak Irma itu, mmm ... Wanita malam. Kak Irma hamil, tapi yang hamili gak mau tanggung jawab karena latar belakang Kak Irma itu. Kak Irma mau berubah, makanya dia kerja keras jualan gorengan demi anaknya. Sebelumnya barang-barang berharga punya Kak Irma juga udah dijual, tapi buat bayar denda ke Mami-maminya biar bisa keluar dari dunia malam.”
“Ternyata gitu …,” lirih Saka sambil mengangguk mengerti. Pantas saja selama ini dirinya tidak pernah menemukan sosok suami yang menemani Irma, justru Nita yang selalu berada di samping Irma.
Sedetik kemudian Saka memandang kasihan pada Nita yang kembali mematung, menghentikan jari-jemarinya saat menghitung uang Irma. Terlihat jelas Nita ingin menangis, menumpahkan kesedihan dan sesak yang datang secara mendadak.
__ADS_1
Gadis itu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Sebelah telapak kaki yang menapak lantai lorong rumah sakit menghentak tidak beraturan meski tidak menimbulkan bunyi yang menggema.
Sontak Saka merunduk, mengusap puncak kepala Nita yang justru menangis tersedu. Padahal niat Saka berusaha membuat Nita sedikit lebih tenang. Spontan saja Saka langsung berjongkok di depan Nita yang sesegukan, bergumam tentang uang Irma yang tidak mungkin cukup untuk membayar biaya rumah sakit.
Digenggamnya tangan mungil Nita, berharap bisa menyalurkan kekuatan beserta ketenangan. "Biaya Irma udah aku bayar. Kamu jangan nangis. Lebih baik berdoa semoga Irma baik-baik aja. Semoga semuanya lancar."
Ada beban dari perkataan Saka yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Sebagai orang asing yang kebetulan saling mengenal lewat perantara Nita, Saka tidak pernah berpikir jika ia harus mengemban amanat yang terucap dari bibir Irma sebelum kesadaran wanita itu hilang. Sebuah pesan dengan tanggung jawab yang sangat besar seakan menanti untuk Saka pertanggungjawabkan di masa depan.
Bugh.
"Ugh!" desis Saka yang tersungkur di lantai. Punggungnya membekas panas sebuah telapak sepatu.
"BAJINGAN!!" Umpatan singkat terlontar lantang dari mulut laki-laki yang kini mencengkeram kerah baju Saka.
Bugh.
Sekali lagi rasa panas itu mendera. Bukan karena tendangan, tapi bogeman mentah yang menghantam rahang hingga membuat bibir Saka tergigit dan berdarah.
"Brengsek lo, Kev!! Udah gila??!!" maki Saka pada Keven, laki-laki yang memberikan tendangan dan bogeman sarat akan limpahan amarah yang membara.
"Lo yang gila!! Sekarang lo harus ikut gue!"
"Lepas!! Gue gak ada urusan sama lo!!" Menepis kuat tarikan Keven, Saka mendorong kasar Keven hingga tubuh tegap laki-laki itu membentur dinding dingin rumah sakit.
"Bukan gue, tapi Alia!!" sahut Keven lantang. Ia kembali menarik kasar tangan Saka. Tidak putus asa memaksa Saka untuk mengikutinya, namun tentu selalu dibalas dengan perlawanan oleh Saka yang enggan berurusan lagi dengan masa lalu yang menyakitkan.
Jelas sikap keras keduanya berakhir dengan perkelahian. Menimbulkan keributan yang harus dilerai pihak keamanan rumah sakit beserta Papa Leigh yang tidak sengaja melihat Keven adu jotos. Bahkan cukup kaget kala mendapati lawannya adalah Saka yang menghilang selama ini.
...****************...
*
*
*
Saka udah ketemu, pertanyaannya gimana nasib Keven kedepannya?🤭
Sambil sabar menanti kelanjutannya, bisa mampir nih ke novel Kakak ku. UDAH TAMAT SAMPAI KE CERITA ANAKNYA, ADA SEKUELNYA LAGI😍
__ADS_1
Terima kasih sudah menanti kisah Yuki😘