Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Pertikaian


__ADS_3

Derap langkah kaki itu tergesa-gesa. Menapak kasar menghasilkan dentuman gema yang hebatnya tidak terdengar sama sekali oleh si pemilik langkah. Fokusnya hanya tertuju pada satu pusat, Yuki yang menari-nari di benaknya.


“Pak, untuk pertemuan di cabang utama?"


"Tolong kamu handle. Saya ada urusan penting," ucap Keven cepat pada asistennya, sosok laki-laki yang belum lama ini menjabat sebagai tangan kanan Keven akibat Si Bos terlalu sering meninggalkan pekerjaan. Tentu karena hobi baru memata-matai sang mantan istri.


Namun sayangnya sudah beberapa hari rutinitas itu terhenti secara paksa. Semua karena Keven harus berada di luar Kota, menyelesaikan masalah di salah satu gudang penyimpanan bahan makanan restorannya yang dilahap si jago merah.


Jujur pikiran Keven bercabang tidak karuan. Otaknya penuh beban dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Entah itu perihal kerugian restoran atau bahkan pertanggungjawabannya pada beberapa pekerja yang terluka, termasuk di dalamnya biaya perawatan. Jelas Keven tidak bisa lepas tangan.


"Saya?" membeo tidak percaya diri sambil menunjuk dirinya sendiri, laki-laki yang sama lelahnya dengan Keven itu berhenti menyeret koper metalik yang dibawanya.


"Iya, kamu ...,” ucap keven sambil mengangguk singkat seakan menegaskan perkataannya. “Satu lagi, kamu naik taksi aja. Nanti biayanya saya ganti pribadi. Minta supir yang bawa mobil saya ke sini pulang sama kamu. Dia dari restoran cabang."


Itulah perkataan Keven sebelum akhirnya berlalu pergi. Ia meninggalkan sang supir panggilan yang juga seorang pekerja paruh waktu di restoran miliknya berinteraksi canggung dengan asisten yang Keven tinggalkan dengan segudang agenda.


Sedangkan Keven sendiri sudah bergegas melajukan mobil dengan rasa tidak sabaran. Ia sangat merindukan Yuki. Raga dan jiwanya beberapa hari belakangan bagai kehausan kala tanpa sedetik saja bisa memandangi Yuki meskipun dari kejauhan sekalipun.


Bahkan tidak terhitung lagi berapa kali Keven membunyikan klakson dengan sia-sia. Padahal hanya 30 detik saja pergantian lampu lalu lintas dari merah ke hijau, namun seolah telah memakan berjuta waktu hingga berhasil menyita seluruh pasokan oksigen di sekelilingnya. Mendadak mobil Keven terasa pengap dan panas. Keven kesulitan bernafas atas rasa gelisah dan was-was yang berkecamuk menguasai kewarasan.


Masih dengan jari telunjuk yang mengetuk pinggiran kaca jendela mobil yang dibuka, Keven membuang nafas kasar dari mulutnya. Sejenak perhatiannya terusik oleh getar ponsel yang bukan baru sekali ini menjerit.


Klik.


Tanpa menjawab atau bahkan melihat isi pesan dan siapa penelepon yang sedari tadi meneror, keven mematikan ponselnya begitu saja. Dihempas punggungnya yang tegang menanti pergantian lampu lalu lintas dengan sedikit kepuasan karena bisa kembali melaju.


Keadaan Keven saat ini benar-benar dijungkirbalikkan. Keven sadar dan hanya bisa tertawa miris. Memprioritaskan Alia membuatnya terjerumus dalam kubangan kebodohan yang terlalu manis untuk dilepaskan. Sayangnya Keven tetap terperosok dan tidak berniat beranjak pergi, sedangkan rasa manis yang baru ingin diecapnya sudah menguap ke angkasa, meninggalkan dirinya yang perlahan digerogoti kerapuhan.


"Semoga kamu masih beli makan siang di luar," gumam Keven sambil mencengkeram erat setir kemudi. Teringat waktu yang hampir saja terlewat dari jam-jam sebelumnya saat ia berhasil melihat Yuki memesan seporsi pecel, gado-gado atau hanya es kocok di penjual kaki lima. Sekilas senyum simpul menghiasi sudut bibir Keven yang tertarik ke atas.


Jika di awal pernikahan Keven sengaja menjaga jarak, terkadang pulang larut malam agar tidak berpapasan dengan Yuki yang masih terjaga. Kini di saat ikatan itu lenyap ia harus bersembunyi rapat demi mencuri pandang agar tidak ketahuan oleh Yuki yang jelas tidak nyaman pada kehadirannya.


Ciit!


Pedal rem Keven injak kuat dengan mata melotot tajam. Ia hentikan mobilnya tidak jauh dari kantor Yuki bekerja. Sekejap senyum Keven luntur. Rasa marah dan cemburu memberondong dada Keven bersamaan. Ia bagai ditembaki meriam, meledak dan hancur sendirian. Tangannya terkepal erat dengan rahang mengeras dan gigi bergemeretak. Masih dipandanginya tangan Dion yang jelas sedang memegangi rambut Yuki.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Keven keluar dari mobilnya yang terparkir asal. Bertekad kuat membawa perempuan yang dulu pernah dimiliki kembali dalam dekapan.


"Mas Dion bisa nggak sih?" gerutu Yuki seraya menepuk tengkuk yang pegal. Kepalanya sudah dimiringkan lebih dari 5 menit lamanya.


"Gunting aja deh.”


“Seenaknya aja. Bisa botak kalau digunting di situ!” gerutu Yuki menolak usulan Dion. Namun bisa Yuki lihat rambutnya yang tersangkut dan membelit pulpen semakin bertambah, padahal harusnya berkurang karena sedari tadi Dion urai.


Kini sesal pun tiada guna. Yuki hanya bisa merutuki diri sendiri karena lupa telah menjadikan pulpen selayaknya tusuk konde, bukan kadal nemplok seperti jeritan histerisnya tadi saat merasai benda padat nan dingin yang menyusup di gulungan rambutnya.


Mendengus kesal, Yuki bisa membayangkan rambutnya yang terlilit bagai jajanan telur gulung seribuan.


“Iya-iya …,” ucap Dion lembut dengan jari-jemari bergerak lihai mengurai setiap helai rambut Yuki yang tersangkut. “Kamu jangan banyak gerak. Makin nam-"


Bugh!


Belum sempat Dion menyelesaikan kalimatnya, sebuah tarikan dan bogeman mentah mendarat tepat di wajah tampannya. Berhasil membuat Dion terhuyung dan mendaratkan pantat di paving parkiran kantor Yuki. Praktis panas dan nyeri seketika merebak di beberapa bagian tubuh Dion.


"Brengsek!" umpat Keven. Dicengkeramnya kerah kemeja Dion yang masih terduduk di atas paving dengan ekspresi terkejut serta bingung.


Bugh!


"Jauhi istri gue!" tukas Keven tanpa sadar mengakui Yuki sebagai istrinya lagi.


"Istri?" balas Dion dengan tatapan remeh sambil tersenyum miring, menepis cengkeraman Keven yang mencekik lehernya. Tangannya yang terkepal erat sangat ingin membalas bogeman Keven yang menyakiti aset berharganya, apa lagi kalau bukan wajah rupawan yang bisa ia pastikan akan membiru kehitaman.


Dengan dada membusung menantang, mendekat menatap nyalang, Dion menyeringai tipis sambil berkata, “udah merasa menang? Nggak, anda kalah!” Gelengan yang dibumbui kekehan Dion menyulut kobaran amarah Keven.


Cemburu membuat Keven hilang akal. Ia terbutakan pada emosi gelap yang melahap jiwa serta kepercayaan dirinya yang menciut. Tidak terelakkan ketidakpercayaan diri itu menjalarkan amukan yang sejujurnya ingin ditujukan pada dirinya sendiri.


Satu pukulan dibalas dengan sebuah tangkisan. Cengkeraman dan umpatan saling terlontar rendah. Terlihat sengit dan terdengar sinis. Dilerai oleh beberapa orang asing yang berlalu lalang.


Keven yang marah membabi-buta di depan matanya ini hampir Yuki sangka sebuah ilusi. Mana mungkin Keven yang pernah dicintainya bisa sefrustasi itu dengan kesedihan mendalam di balik topeng amarah. Yuki memang terkejut, namun lebih tidak percaya pada perkataan Keven yang masih menyebut dirinya sebagai seorang istri.


“Kamu istri dia?!” ucap Dion melontarkan tanya pada Yuki. Matanya tetap menyorot sengit Keven yang sudah membuat rahang bawahnya berdenyut ngilu setiap digerakkan. Ia juga masih dicekal 2 orang asing agar tidak kembali bergulat.

__ADS_1


Menoleh dengan kernyitan halus, gendang telinga Yuki seakan baru saja tersentil. Sedangkan Keven masih menggeram kesal sambil mengusap kasar wajahnya.


“Ki …,” panggil Keven lembut dengan suara sedikit bergetar. Tangannya terulur ingin meraih Yuki. Tentu dirinya juga masih dicekal oleh orang-orang tidak dikenal. Sialnya tubuh sang mantan istri yang menjauh selangkah sukses meremas jantung Keven.


Pemandangan kedua pria yang kentara memperebutkan seorang wanita itu tentu menarik perhatian banyak pasang mata. Semuanya dirundung kekepoan maksimal. Ada yang terang-terangan mengamati bahkan bergaya hendak menghadang bila kembali terjadi pertikaian, namun ada pula yang diam-diam memasang mata serta telinga sok tidak peduli tetapi mengawasi. Sedangkan selebihnya jelas benar-benar tidak peduli.


“Maaf atas gangguan kecilnya. Ini salah paham biasa. Kami saling kenal,” celetuk Dion tiba-tiba sambil menangkupkan kedua belah tangan pada orang-orang asing yang masih siaga di sekeliling dirinya, Yuki dan Keven.


Dion terus mencoba membubarkan kerumunan kecil yang mencolok mata. Namun jelas tidak ada yang mempercayai perkataan Dion. Tampak jelas tampilan kacau ketiga tokoh utama yang babak belur, kecuali Yuki yang berantakan karena ulahnya sendiri.


Iya, masih karena tusuk konde abal-abal yang kini menjelma bagai telur gulung versi rambut gimbal. Belum sempat Yuki urai lagi karena perhatiannya tersedot aksi brutal kedua laki-laki dewasa yang berdiri menatap lekat ke arahnya.


...----------------...


Tak.


"Selesaikan masalah kamu secara pribadi. Jangan di lingkungan kantor apa lagi jam kerja. Jangan buat citra kantor kita rusak!" tegas wanita yang menjabat sebagai atasan Yuki.


"Iya, Bu." Angguk Yuki lemah dengan kepala menunduk putus asa.


Ruangan yang hanya disekat dengan dinding kaca transparan jelas membuat Yuki menjadi tontonan rekan kerjanya sambil menuntaskan tugas masing-masing.


'Kalau sampai dipecat, aku penggal kepala mereka berdua!' sungut Yuki marah di dalam hati.


"Saya gak tau masalah kamu apa. Tapi sekali lagi ada keributan seperti tadi, kamu harus siap dengan konsekuensinya. Berita murahan itu lebih cepat sampai ke kantor pusat." Mata galak setajam elang itu berhasil membuat Yuki bergidik ngeri. Ditambah lagi bunyi ketukan jari di meja yang mengiringi setiap perkataan yang dituturkan.


...****************...


*


*


*


Di bab sebelumnya ternyata aku lupa bilang terima kasih ya ... udah buru-buru banget buat up 😁

__ADS_1


Terima kasih yang udah menanti kisah Yuki😘


__ADS_2