
Perempuan dengan kaos kemben bertali itu menghempaskan duduknya di samping Keven. Memeluk erat sambil menyandarkan kepala. Menghirup aroma tubuh maskulin dari sang suami yang hanya mengenakan boxer.
"Kita bisa. Leo pasti jadi kakak yang hebat. Jangan sedih. Kamu gak mau kan anak kita di dalam sini ikutan sedih?" hibur Keven lagi. Bahkan nyaris semalaman sengaja mengulang kalimat-kalimat penyemangat serupa agar rasa bersalah Yuki pada si kecil Leo berkurang. Meskipun tidak bisa diingkari Keven sendiri juga sama khawatirnya.
"Nggak sedih, By. Merasa bersalah aja sama Leo. Gimana kalau nanti anak kita itu tumbuh kurang kasih sayang? Merasa diabaikan? Gak adil dan benci adiknya, gimana?”
“Sstt! Gak boleh ngomong gitu!”
“Habis Leo itu belum lari malah dikasih adek. Emang bisa ngoceh, tapi kan belum tau apa-apa selain hahihu. Doyan banget bilang dada. Di dadah nyengir mulu ... tuh lihat, By! Dengar aku bilang dadah langsung noleh. Apa Leo udah kerasa ya ada dedeknya di perut?”
Sendu kembali bergelayut di pelupuk mata Yuki. Bibir yang berceloteh itu mencebik sedih, lalu dalam sekejap berubah menggeram sebal. “Harusnya kemarin nggak tunda pasang IUD. Dasar sarung pisang abal-abal!! Lihat aja, aku protes pabriknya!! Bukannya buat yang lebih tebal, elastis … hish!!”
‘Percuma … apa ... masa kebetulan satu kali itu langsung jadi?’ sahut Keven dalam hati.
Sejenak ia mengusap tengkuknya dengan gerakan samar sembari mengingat malam panjang saat keduanya kehabisan pengamanan. Bahkan bisa dikatakan juga lupa untuk menggunakannya. Buru-buru karena tanggung keinginan sudah di ubun-ubun kala Leo baru saja tertidur.
Berpindah duduk di atas matras menemai Leo yang berbaring telentang sembari bermain kakinya sendiri, Yuki lantas menghembuskan nafas panjang. Mencoba lebih bersyukur atas keajaiban yang kembali tumbuh di rahimnya. Meskipun teramat sangat tidak terprediksi, bahkan jauh dari target jarak ideal demi tumbuh kembang putra pertamanya itu.
“By, kamu love me nggak?” tanya Yuki tiba-tiba. Mengerjap-ngerjap manja dengan binar yang mengaktifkan radar siaga satu di ujung lidah Keven.
“Iya, love you, Sayang,” jawab Keven sambil mengangguk dan tersenyum tulus.
“Beneran?”
“Bener.”
“Ah, masa? Kok gak percaya ya. Beneran, kan?”
“Iya, bener-bener cinta mati aku sama kamu.”
“Meragukan.” Geleng Yuki dengan decakan pelan. Matanya menyipit selidik sembari mengapit dagu dengan dua jarinya.
“Ya udah kalau nggak percaya," jawab Keven pasrah. Ia raih satu pasang celana panjang dan kaos biru tua yang sudah Yuki siapkan. Namun baru sebatas mata kaki yang menelusup, telinganya berdenging oleh lontaran tanya bernada ketus.
“Jadi kamu gak love me?!”
"Iya aku love me," jawab Keven disertai hembusan nafas panjang. Masih terus mengenakan pakaiannya.
"Kok love me?! Harusnya kamu bilang love you!! Kamu bohong ya? Kamu udah gak cinta lagi sama aku? Jujur, By!" ketus Yuki lagi. Jelas ia tidak terima.
Berdiri berkacak pinggang. Melotot tajam dengan hidung kembang kempis sebal. Lalu sedetik kemudian tanpa diundang sepasang mata membulat itu sudah berkaca-kaca. Berbeda dengan Leo yang berceloteh menatap kedua orang tuanya disertai tawa kecil yang renyah di pendengaran.
‘Ampun, mati gue ... kok gini? Marah? Salah lagi?’ batin Keven bingung. Serba salah hingga seluruh kosakata yang didijejali ke otak lebih dari 30 tahun itu seakan lenyap di tenggorokan.
__ADS_1
...----------------...
"Sayang ... Yang?" panggil Keven lembut. Melingkarkan tangan di pinggang perempuan yang sedari tadi diam mengacuhkannya. Bahkan sepanjang perjalanan menuju Warung Kita hanya terisi kalimat bersambut dari celotehan Leo.
"Kuat banget anak Papa nen. Gantian dong ...," ucap Keven lagi. Mencolek-colek bibir mungil yang menghisap kuat sumber nutrisinya. Sekaligus modus menyentuh dada sang istri yang spontan mendelik sewot.
"Nanti siang temen kamu jadi datang?" tanya Keven berharap mampu mencairkan kebungkaman Yuki. Berusaha mencari aman pada sinyal buruk yang sekali lagi terpancar di bibir cemberut sang istri.
“Hm,” jawab Yuki cuek.
"Anna atau Ara? Biar aku minta orang dapur siapin camilan."
“Kak Anna. Semalam kan aku udah bilang. Anak baru satu udah pikun."
Keven mengangguk tanpa perlawanan. "Ajak makan siang sekalian ya. Nanti aku minta biar disediain meja kursi di sini. Atau mau join sama pelanggan lain di luar? Biar Leo sama aku di sini."
"Gak usah. Orang datang pengen lihat Leo kok."
"Iya. Tapi warung kita kan ramai. Kalau mau di luar banyak orang, gak bagus buat Leo di tempat terlalu ramai, Sayang. Kalau tadi ke resto ada ruang VIP di sana."
"Jadi aku salah ajak Kak Anna ketemu di sini? Mau ke sana itu jauh, By. Makanan di sini juga lebih merakyat sama lidahku. Lagian kos Kak Anna dekat rumah sakit daerah sini."
"Ya udah. Aku siapin meja di sini ya?"
"Di sini juga ada pendinginnya, Sayang."
"Tapi ada kasurnya."
"Kan bisa buat baringin Leo."
"Nggak-nggak. Takut Kak Anna mikir macam-macam."
'Itu sih kamu yang pikirannya iya-iya,' seru Keven, tentu hanya berani di dalam hati.
Tidak beberapa lama tamu yang ditunggu akhirnya datang. Keven yang diminta Yuki menyambut kedatangan Anna pun sedari tadi justru merengut dan sama sekali tidak ramah.
Bahkan kembali menemui Yuki di ruang pribadi dengan raut wajah kusut dan tertekuk. Tidak pula bicara sepatah kata pun. Laki-laki itu justru mengunci pintu dan bergegas merebahkan tubuh di samping si kecil Leo yang mengerjap tenang.
“Udah kamu temuin, By? Udah bilang kalau aku lagi ASI Leo, kan?” tanya Yuki dengan kesibukkannya menguncir rambut.
“Udah,” jawab Keven malas, menyentil tepat pada kepekaan Yuki yang memang sedang sangat sensitif.
“Kamu kenapa?” Bersedekap, Yuki tatap lekat Keven yang memunggunginya.
__ADS_1
“Kamu kenapa, By?!” tanya Yuki lagi, namun kali ini dengan suara penuh penekanan.
“Jangan dandan cantik-cantik.”
“Apaan sih gak nyambung.”
“Gitu aja gak usah make up lagi. Blazernya dikancing. Atau ganti pakai kemeja aku di gantungan itu."
"Aneh kamu," cibir Yuki sambil merotasi bola mata jengah. Namun tidak urung mengenakan blazer pendek dan mengeratkan tali pita hingga kaos kemben bertalinya tertutup rapat seperti keinginan Keven.
‘Loh … loh? Loh!?’ Kelopak mata Yuki semakin terbelalak lebar seiring langkah kakinya mendekat. Ia mengerjap cepat seolah memastikan yang dilihat bukan ilusi semata.
“Kak Anna kok bisa sama Mas Dion?” Tanpa basa-basi tanya itu terlontar. Satu kombinasi yang tidak pernah Yuki sangka tengah berdiri menyambut hadirnya bersama dengan sang buah hati dan suami pencemburu akut, khususnya pada Dion.
“Kebetulan aja bareng," jawab Anna canggung.
“Nggak sih ini. Mas Dion lagi PDKT atau ini udah jadi?” sangkal Yuki menolak penuturan Anna. Mengajukan tanya yang langsung ditujukan kepada Dion yang tersenyum penuh makna.
“Doakan aja.”
"Nggak gitu, Dek ...."
"Hebat!" seru Yuki senang. Mengabaikan penyangkalan Anna yang terucap bersamaan dengan kalimat Dion.
"Terus-terus gimana ceritanya kok bisa? Emang sih waktu di sana dulu udah sering ketemu. Tapi Kak Anna kan pindah ke sini. Atau jangan-jangan Kak Anna buka Kantin itu di Rumah Sakit ... oh paham sekarang. Cintaku bersemi di Kantin Rumah Sakit, kan? So sweet." Hanya Yuki yang tersenyum-senyum tidak jelas sesendiriAn
Duduk berseberangan dengan Anna, Yuki serahkan Leo ke pangkuan Keven. Laki-laki itu tetap waspada pada Dion yang sengaja dengan iseng menatap Yuki dan Keven bergantian. Walaupun bagi Yuki laki-laki yang pernah mendekatinya itu lebih banyak menjatuhkan sorot teduh pada perempuan dewasa yang kini menunduk malu.
"Kak Anna dengerin aku deh, aku jamin Mas Dion ini jomblo karatan. Jangan percaya kalau ada yang ngaku-ngaku mantannya. Gak tau ya kalau mantan gebetan gak jadi. Tapi percaya deh, orang ini dari keluarga baik-baik. Iparnya my bestie. Tunggu ... Ara udah tau belum? By, ponselku mana?"
"Udah. Bang Rava juga udah tau."
"Serius?!"
"Sayang," tegur Keven pada Yuki yang terlalu bersemangat. Pasalnya meja yang tanpa sadar dipukul itu mengejutkan Leo.
"Ululuuh, anak Mama kaget ya? Maaf ya, Sayangku ... anakku lucu kan, Kak? Kalau mau, buruan aja sama Mas Dion. Tapi nikah dulu. Terjamin jauh lebih baik dari pada Pak Danu. Buanglah mantan pada tempatnya, Kak. Apalagi mantan yang udah ninggalin," nasehat Yuki yang sejatinya memungut mantannya kembali. Bahkan berhasil mencetak bibit unggul duplikat keduanya.
"Mas Dion jangan lupa transfer ongkos promosi ya. Udah aku bagus-bagusin itu di depan Kak Anna."
...****************...
Terima kasih lagi udah baca sampai sejauh ini 🥰
__ADS_1