
“Aku udah bilang ke Mama, Papa, kalau kamu langsung pulang.” Ucap Keven datar seolah tidak perduli, namun sudut ekor matanya berusaha menangkap respon Yuki yang betah terdiam.
“Mau makan?” Tanya Keven yang kembali berucap, berharap sebuah kata bisa keluar dari bibir cerewet yang mengatup rapat. Bukan tanpa alasan Keven berharap Yuki bersuara, sorot mata Yuki yang kosong benar-benar membuat Keven khawatir.
Entah sadar atau tidak, Keven mencengkeram erat setir kemudi mobilnya. Menyalurkan amarah atas kekecewaan yang tidak bisa ia luapkan.
Jika selama dalam perjalanan menjemput Yuki ia ingin sekali langsung memarahi Yuki saat keduanya dipertemukan, maka saat ini semua itu lenyap berganti rasa iba. Keven sangat sadar pada alasan sebenarnya Yuki melarikan diri dengan cara menemui orang tuanya. Akan tetapi, bukannya ketenangan yang Yuki peroleh, justru hatinya yang retak semakin hancur.
Mencoba memposisikan diri seolah menjadi Yuki, kini laki-laki yang memusatkan pandangannya lurus ke depan itu merutuki setiap kalimat yang ia ucapkan untuk merendahkan Yuki. Berulang kali ia menyesal, namun bodohnya berulang kali pula Keven tanpa sadar mengulangi kesalahannya.
Keven yang selalu memuliakan, menjaga dan melindungi Mama Agni dengan sadar dan tanpa paksaan membebaskan untaian kalimat tajam yang sengaja ditujukan untuk menyakiti Yuki. Semuanya tidak lebih demi melampiaskan rasa kesal dan marah yang pastinya bukan karena kesalahan Yuki.
Menyesal? Sangat.
Salah satunya Keven sangat menyesal memilih tidak langsung menghubungi orang tua Yuki. Sikapnya yang menyepelekan kepergian Yuki juga menimbulkan rasa sakit aneh di dada yang tidak jelas asal usulnya.
Jujur saja, Keven seolah berada di persimpangan jalan tanpa tujuan dan keinginan yang jelas. Tidak dapat dipungkiri tinggal seatap membuat Keven terbiasa dengan hadirnya Yuki. Perhatian, tawa, bahkan lengkingan suara cempreng yang membuatnya kesal benar-benar memberi warna baru.
Saat ini Keven ingin menggenggam Yuki, namun dirinya terlalu takut jika suatu saat genggaman yang bertujuan melindungi itu justru berubah bagai racun yang membunuh perlahan. Logika dan hati yang goyah terlalu takut mengambil langkah yang belum ada kepastiannya.
Menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan tepat di depan sebuah warung kecil, Keven memutari mobil meninggalkan Yuki yang masih dalam lamunannya.
Memilih acak berbagai camilan manis serta minuman dingin penambah ion, Keven segera kembali ke mobilnya. Pemandangan di depan mata jelas masih sama, Yuki yang termenung dengan jiwa yang seolah semakin bersembunyi di sudut tidak terlihat.
__ADS_1
“Minum!” Menyodorkan sebotol air minum kemasan, Keven menghela nafasnya putus asa pada sikap diam Yuki. Meraih tangan Yuki yang terkulai lemah, sekali lagi Keven memaksa Yuki untuk menengguk sedikit saja air minum meski hanya membasahi ujung lidah.
“Kenapa semuanya palsu?” Tanya Yuki tiba-tiba, tatapan matanya masih terpaku pada kekosongan di depannya. Jiwanya seolah lenyap terhisap kenyataan menyakitkan yang membuat hatinya tergores pilu. Setetes air mata mengalir bebas, luruh membasahi kedua sisi pipi yang tampak lebih tirus dibandingkan terakhir kali Keven memperhatikannya.
“Sejak kapan hidup aku sehancur ini? Ha ha ha.. Sejak kapan semuanya jadi sandiwara!? Hiks.. Aku gak mau tidur terus. Ini semua mimpi. Ini mimpi kan ya?” Tanya Yuki lagi entah ditujukan untuk Keven atau dirinya sendiri. Namun tawa hampa yang menyamarkan isakan sangat terdengar jelas mengetuk gendang telinga Keven.
Gelombang suara pilu Yuki berhasil menyekat udara yang berusaha mendobrak keluar dari rongga paru-paru Keven. Direngkuh dan didekap Yuki hingga wajah mungil itu tenggelam dalam dada bidangnya. Isakan yang berubah menjadi raungan seolah terbungkam oleh dada bidang Keven. Menangis tergugu, lidah kelu dengan nafas tercekat dan bahu terguncang, Yuki memukuli punggung Keven yang dipeluknya.
“Ken-nah-pahh.. Ken-na-paah..!?” Ucap Yuki histeris dengan suara terbata-bata karena tangis yang tidak ingin sedikitpun ia hentikan. Yuki benci dengan kehidupannya. Yuki muak dengan kenyataan bahwa semua yang ia jalani hanya sebuah kepalsuan.
“Maaf.” Ucap Keven lirih, berbisik tepat di daun telinga Yuki. Usapan lembut di punggung justru membuat Yuki menangis sesegukan.
Ingatan Yuki kembali ke masa lalu saat dirinya pernah tidak sadarkan diri karena sakit. Kata maaf dari bibir Keven hanya halusinasi baginya. Yuki takut jika ia membuka mata yang terperjam kali ini Keven akan kembali bersikap dingin. Yuki jelas tidak akan mampu menanggung pedihnya jika harus terluka lagi.
Sekuat tenaga Yuki berusaha menghempas bongkahan tajam yang menghimpit dan menggores berulang kali hingga kesadarannya menghilang. Kurang makan, kurang minum, kurang tidur dan stress membuat Yuki kehilangan banyak tenaga hingga pingsan tidak terhindar. Tangan yang terkulai lemah dan membentur kasar menyentak Keven yang langsung mendongakkan wajah terpejam Yuki.
Bersyukur Keven pada Mama Agni yang suka rewel agar dirinya selalu menaruh minyak angin di mobil. Katanya untuk berjaga-jaga jika pusing dan mual mendadak melanda. Kini kebawelan Mama Agni benar-benar membuat Keven sedikit mampu meloloskan helaan nafas yang seolah enggan bertemu hembusan udara di alam yang menakjubkan.
...----------------...
“Eugh..” Lenguhan dan pergerakkan kecil Yuki mengejutkan Keven yang nyaris tertidur dalam posisi duduk bersila menggenggam jari-jemari Yuki.
“Udah bangun?” Tanya Keven sambil mengelus pelan punggung tangan Yuki. Nada suaranya memang terdengar datar dan biasa saja, namun ketahuilah bahwa seulas senyum tipis yang buru-buru disembunyikan adalah secuil bentuk kebahagiaan.
__ADS_1
“Ini?” Mengerjap perlahan dengan bingung, Yuki mengedarkan pandangannya tanpa menggerakkan kepala, hanya pupil mata yang berkeliling. Yuki masih tidak sadar pada tautan jemari yang ajaibnya menghangatkan raga yang tergolek lemah tidak berdaya di atas ranjang.
“Kita di rumah.” Ucap Keven dengan sebelah tangan terulur yang hendak merapikan rambut berantakan Yuki. Hampir lebih dari tiga jam Yuki tidak sadarkan diri.
Ceklek.
“Kamu udah bangun, Ki? Kenapa pulang ke rumah orang tua mu gak kasih tau Mama? Mana yang sakit? Pusing? Mual?” Suara Mama Agni yang secara mendadak menginterupsi langsung membuat Keven terperanjat dan reflek melepas genggamannya pada jemari Yuki. Sedangkan Mama Agni yang memberondong pertanyaan berlari dengan tergopoh-gopoh sambil menyelesaikan semua kalimat pertanyaannya itu.
“Ma.. tanya satu per satu.” Ucap Keven pada Mama Agni sambil menatap Yuki yang masih mencerna situasi seperti apa yang sedang terjadi.
“Kamu bikin Mama khawatir banget tau.” Ucap Mama Agni lagi tanpa menggubris perkataan Keven.
“Dia masih belum sadar sepenuhnya, Ma. Jangan ditanya-tanya dulu.” Kini Papa Leigh ikut menyela sambil menarik pelan bahu Mama Agni sedikit menjauh.
Memilih memberikan ruang pada pasangan muda itu, Papa Leigh dengan segala bujuk rayunya berhasil membawa Mama Agni keluar dari kamar. Ia sadar bahwa saat ini bisa menjadi sebuah kesempatan bagi menantunya mendapatkan kasih sayang sebenarnya dari Keven. Meski sering kali bersikap acuh dan ketus, Papa Leigh sangat memahami Keven yang sejatinya memiliki sisi manis yang terbalut gengsi.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Ada yang mau kasih pesan penyemangat untuk Yuki? Atau ada yang punya kata-kata mutiara untuk Keven?😄
Terima kasih ya udah mengikuti kisah Yuki sampai sejauh ini🥰