Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Will You Marry Me


__ADS_3

“Kamu buang aku lagi?”


Kaki itu berhenti melangkah. Tubuh mungil yang mengejar Keven berdiri mematung. Sepasang mata bulat Yuki bertahan untuk tidak mengerjap, namun penglihatannya seketika mengabur.


Sejenak diraup udara sebanyak-banyaknya, memasok paru-paru yang seolah mengkerut tidak bernyawa. Namun bukan kelegaan dari dinginnya oksigen yang Yuki dapatkan, ia justru tidak berhasil membendung sebulir air mata yang lolos melewati pipi. Dalam sedetik Yuki membenci hatinya yang rapuh.


‘Jangan nangis, Yuki! Kuat!’ Begitu teriak Yuki dalam hati meski ia tergugu dengan nafas tercekat. Ingin Yuki menarik sebatang sosis dari kantong belanja, menyumpal mulut yang siap meraung, namun sayangnya sosis itu masih mentah.


Sementara Keven sudah menghilang dari pandangan. Berlari menaiki anak tangga dengan langkah tergesa. Melewati dua sampai tiga undakan sekaligus dengan perasaan gelisah tidak karuan. Ia bukan tidak tau jika Yuki pasti terluka oleh sikapnya.


Buru-buru Keven membuka lemari, meraih kotak merah sederhana yang dibeli dari menyisihkan sedikit uang hasil penjualan mobil. Tampak mahal, namun jelas tidak cukup mewah dibandingkan cincin pernikahan yang tersimpan di sudut lemari.


“Sayang …,” tegur Keven dengan nafas memburu pada Yuki yang hampir berbalik. Dicekal pergelangan tangan gadis yang menyembunyikan kedua sudut bibir berkedut hendak meluapkan tangis.


“Jahat! Aku udah sedih. Huaa ….” Tangis Yuki pecah. Ia menangkup wajahnya tidak percaya. Sejurus kemudian menurunkan visor helm guna menyembunyikan ekspresi kacau dengan lubang hidung kembang kempis.


“Kok gak berlutut sambil bilang will you marry me, sih?” gerutu Yuki dengan senyum salah tingkah yang perlahan mengembang lebar. Tentu ia masih kesal.


Lantas Keven berlutut sesuai perkataan Yuki. Mendongak sambil mengarahkan kotak merah berisi gelang dengan ukiran kosong sederhana berbentuk hati di antara inisial nama mereka. Sedikit tidak percaya diri, namun senyum lebar Yuki berhasil menyuntikkan keberanian terbalut cinta.


"Ayo, cepetan!" pinta Yuki tidak sabaran. Sontak menggelitik geli Keven yang terkekeh disela hembusan nafas panjang sarat kegugupan.


“Yuki, Sayang … terima kasih udah memberi aku cinta yang teramat sangat besar. Terima kasih udah menyadarkan aku tentang apa itu keajaiban yang sesungguhnya terlalu nggak masuk akal bisa aku dapatkan. Bahkan dengan semua luka yang aku torehkan, kamu masih bisa tersenyum dan mendukung aku sampai saat ini.”


Yuki membuka visor helm, menatap Keven dengan lebih jelas. Menahan isakan haru pada laki-laki yang berkabut air mata.


‘Kayaknya paling bener kaca helm ditutup deh. Pasti jelek kusut banget ini muka,’ batin Yuki agak menyesal, namun urung menurunkan visor helm yang bertengger di kepala. Ia sudah tidak sabaran menunggu rentetan kalimat yang Keven ucapkan.


“Izinkan aku menjadi egois dan rakus untuk memiliki kamu yang sangat berharga. Meskipun aku nggak bisa menjanjikan, tapi aku akan berusaha supaya kamu selalu mengecap manisnya hidup. Jadi ….” Keven menghela nafas. Mengulurkan tangan menggenggam Yuki yang jelas sama gugup.


“Apa kamu siap mencicipi semua rasa bersama aku sampai hembusan nafas terakhir kita?” lanjut Keven serius. Matanya bergetar gugup dengan binar penuh harap. Namun tidak perlu menunggu lama untuk Keven mendapatkan jawaban.


“IYA, MAU!" Yuki mengangguk cepat. "LET'S GET MARRIED!!”


Sepersekian detik kemudian gadis itu terbelalak kaget. Mulutnya bungkam dengan bibir terlipat rapat. Yuki terkejut pada gema suaranya sendiri yang menggelegar.


‘Aduh, kelepasan.’ Bola mata Yuki mengedar awas pada suasana pagi buta yang sepi. Tanpa sadar Keven sudah berdiri, merentangkan tangan untuk mendekap gadis yang celingukan salah tingkah.

__ADS_1


“Ckckck … anak siapa itu, Pa?”


“Anak kita.”


“Lemot banget.”


“Anak kita itu, Ma.”


Begitulah percakapan singkat pasangan tua yang terbangun sejak bunyi pintu terhempas diikuti derap tergesa Keven memasuki rumah. Keduanya sempat ingin menyerbu keluar dengan pikiran was-was. Namun akhirnya terpaku mengintip di balik kelambu. Beruntung siluet Keven berlutut karena perkataan Yuki lebih dulu tertangkap indera penglihatan.


...----------------...


"Tangan kamu nggak pegal?"


"Nggak." Geleng Yuki dengan sorot berbinar pada benda mengkilap yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Sedangkan sebelah tangannya digenggam oleh Keven.


"Lihat jalannya."


"Kan ada kamu.”


“Nggak tuh." Yuki menurunkan tangan yang terangkat sebatas dada lalu menoleh sambil memicing pada Keven. "Kamu kenapa sih kayak iri banget? Dari tadi nanya mulu. Kelamaan bucinin aku jadi ikutan bawel. Gak usah cemburu ya sama benda mati yang kamu kasih sendiri ke aku.”


Keven berdecak singkat. Memutar bola mata malas diakhiri anggukan kecil pasrah.


“Nah gitu dong. Jadi tambah cakep pacar berumur aku ini."


“Berumur?!” Keven mendelik.


“Iya, berumur loh. Catat ya, aku nggak bilang tua. Tapi harap sadar diri aja."


"Nakal."


"Ih, genit cubit-cubit," keluh Yuki manja seraya menepis jepitan jari Keven di hidungnya. Sejurus kemudian ia tergelak dalam rangkulan Keven.


"Yuki.” Tiba-tiba seruan dari arah samping berhasil menarik atensi Yuki.


“A-ra?” Suara Yuki terjeda. Ia yang hendak menyapa balik mendadak melontarkan kata bernada penuh tanya. Perut membulat yang menyembul di balik baju kebesaran Ara benar-benar menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Melepas rangkulan Keven, Yuki berlari kecil menghampiri Ara yang juga berjalan ke arahnya.


“Ponakan udah jadi sebesar ini? Kapan membesarnya? Gede banget kayak bola pelampung. Udah bisa nendang belum?"


Tanpa menjawab, Ara mengarahkan tangan Yuki untuk menyentuh perutnya.


"A-apa nonjol gerak … ini kakinya?"


"Siku," jawab Ara sambil meringis tipis, sepertinya baru saja bayi di dalam kandungan Ara memberikan sapaan brutal pada Yuki.


"Buset, disiku gitu nggak sakit?"


"Nggak, kadang ngilu aja."


“Apa bedanya, Buk? Sakit juga itu.” Yuki menggeleng pada jawaban Ara yang terlihat sangat bahagia. Perempuan sebaya Yuki itu sesekali menarik nafas panjang dan mengusap-usap perut besarnya.


“Kayaknya nanti lahir langsung jadi arsitek. Di dalam aja udah nyiku-nyiku. Bisa jadi nanti anakmu lahir sambil bawa cetak biru, Ra. Tinggal Si Bapak siapin modal beli bahan bangunan,” seloroh Yuki jenaka.


“Hm, kumat anehnya … amit-amit,” kekeh Ara.


"Oya, kenapa nggak di tempat Dimas? Katanya mau kumpul di sana dulu.” Tiba-tiba Yuki teringat akan janji mereka bertiga siang itu.


"Mas Rava lagi ada tamu, jadi diajak makan, tuh ...." Dagu Ara mengedik pada sosok yang berjarak 10 meja dari mereka. Terlihat menyimak obrolan lawan bicara tanpa menyentuh segelas jus jeruk, namun sepenuhnya mengawasi Ara.


"Mau aku tinggal gak boleh. Katanya mau ikut kita," imbuh Ara.


"Kamu kenapa gak ikut makan sekalian di sana?"


"Terus buat apa kita janjian makan siang bareng, Yuki?"


"Oh iya, lupa, Jeng." Yuki menyengir. Sedetik berikutnya berbalik mencari Keven. "By, sini. Ngapain diem di situ? Udah kayak bodyguard aja. Mau aku pecat?"


Lagi-lagi Keven hanya mampu menggeleng. Ia berjalan gontai menghampiri Yuki. Padahal tadinya hanya ingin memberi ruang pada Yuki yang tampak kegirangan karena teramat sangat merindukan sang sahabat.


...****************...


Thank you buat semua yang setia ngikutin kisah Yuki. Btw, Yuki udah dilamar ya meski agak maksa dia mintanya😄

__ADS_1


__ADS_2