Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Lidah Buaya


__ADS_3

“Jadi Kak Alia di sini?” tanya Yuki santai, menyembunyikan getir yang merebak. Selalu nyeri setiap mendengar, apa lagi mengucap sepatah nama itu. Tapi Yuki bisa apa jika rasa itu semu, tidak bisa ditemukan dan diobati dari titik sumbernya.


Padahal Yuki sudah mencoba tegar. Menyakinkan dirinya sendiri jika Keven hanya calon masa lalu di masa depan yang dilintasinya seorang diri. Namun tetap saja di dasar relung hati terdalam Yuki tidak bisa berbohong jika nama Alia sama tajamnya dengan sebilah pisau daging yang menyayat tipis ulu hati.


“Jangan salah paham. Aku hanya menunggu orang tua Alia datang, setelah itu aku akan pergi.” Gelagat gusar Keven terendus nyata, namun Yuki abaikan. Antara jujur atau menutupi kebohongan, itulah yang menyelimuti pikiran Yuki atas perilaku Keven. Nyatanya Keven takut Yuki salah paham dan semakin menjauh.


Kekecewaan yang disembunyikan terlukis jelas di raut wajah Yuki, tidak mungkin Keven buta untuk memahaminya. Sayangnya sekali lagi Keven menyadari dirinya terlambat. Ia jelas pernah melihat ekspresi yang sama tergurat di garis wajah Yuki, sangat sering dulu sekali saat semua terasa baik-baik saja.


Dicengkeramnya pinggiran bangku taman. Kepala yang terbiasa ditegakkan dengan pongah itu tertunduk. Sakit. Begitu banyak kesalahan yang mencetak penyesalan. Bahkan jarak yang hanya terbentang 3 jengkal telapak tangan itu tidak bisa dijangkau nya. Yuki seolah sangat jauh untuk bisa Keven raih kembali.


“Nggak perlu kamu jelaskan. Itu urusan kamu, bukan aku,” ketus Yuki. Dipandanginya langit yang mulai meredup dengan semilir angin yang meremangkan bulu kuduk. Seluas mata memandang tidak ada awan tebal di langit biru yang menutupi cahaya matahari, hanya bias cahaya yang menyembul tipis akibat membentur kokohnya gedung rumah sakit yang menjulang tinggi. Sungguh berhasil memberikan sensasi tenang di tengah pertemuan menyesakkan.


“Kamu istriku.”


Tersenyum miris Yuki ingin mengorek pendengarannya. Mencopot gendang telinga yang sepertinya tersumpal kotoran. Tidak mungkin ungkapan yang terdengar samar itu benar. Akan tetapi memang itu kenyataannya, Yuki tau itu.


Sejenak dihirupnya udara dingin yang menyekat tenggorokan. “Ralat … Bakal calon mantan istri. Tolong garis bawahi kata-kata itu!” ucap Yuki lugas. Getar suaranya bukan hanya menyiratkan kesedihan miliknya seorang, namun sukses menjadi peluru yang menghujam jantung Keven.


Hening. Keven memilih diam. Kalimat Yuki benar-benar menyakitkan. Seakan selalu berhasil menampar keterlambatan berselimut penyesalan Keven.


Kini keduanya sama-sama bungkam. Bergelut dengan pikiran kusut yang sulit untuk diluruskan. Menolehkan kepala saling membelakangi. Keven menatap kosong lidah buaya yang menghiasi taman rumah sakit. Sedangkan Yuki menatap lamat sosok rupawan yang sekilas tampak main mata dari kedipan lambat kelopak matanya.


“Apa segitu besar keinginan kamu untuk bercerai?” ujar Keven tiba-tiba, memecah keheningan secara mengejutkan. Laki-laki itu berdiri di depan Yuki, berusaha mengurai kegelisahan serta memupuk keberanian, tanpa tau wanitanya baru saja digoda laki-laki lain.


“I-iya,” jawab Yuki singkat, sedikit terbata seraya memutus pandangannya dari sosok familiar yang jauh di sana. Hampir saja Yuki teralihkan pada senyuman penuh makna laki-laki tampan yang tidak sengaja bersirobok pandang.


“Aku … Aku mencintai kamu, Ki. Aku serius. Aku ingin membina lagi rumah tangga kita dari awal. Membuat kisah kita yang baru dengan tulus. Bukannya kamu juga mencintai aku?”


Mendelik kesal, Yuki mendengus malas. “Memang … Tapi dulu.”


“Semudah itu kamu ….”


“Mudah?” Membeo Yuki pada gumaman Keven. Menyela kalimat yang belum terselesaikan dengan berapi-api. Yuki seakan sudah mengetahui kelanjutan ucapan Keven yang membuatnya terpancing emosi.

__ADS_1


Sejurus kemudian Yuki berdiri. Berkacak pinggang menghadapi Keven dengan rahang mengeras. Wajahnya yang merah padam siap memuntahkan lahar panas.


“Apa mudah bagi kamu mencintai aku? Jawab! Mudah?! Mudah banget ya? Saking mudahnya sampai aku menyerah dulu baru kamu bilang kalimat cinta memuakkan itu! Hebat! Jangan-jangan semua ini omong kosong. Pantas kamu ngerti banget mudahnya aku yang bucin berubah jadi benci akut!” sarkas Yuki sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi terkatup rapat yang bergemeretak. Udara panas dari lubang hidung Yuki keluar memburu, seolah saling berlomba membebaskan diri.


‘Arg! Salah lagi!’ umpat Keven dalam hati.


Spontan Keven mendekat. Mengangkat tangan untuk merengkuh Yuki. Berharap amukan gadis itu mereda lewat sentuhan kesungguhan yang dipendamnya. Tentu usaha Keven berujung penolakan. Tepisan kasar itu mendarat, bahkan sebelum ujung jari Keven berhasil menyentuh bahu Yuki.


Keven tertohok, bukan hanya dari panas yang menjalar singkat di pergelangan tangan, namun raga yang ingin diraihnya justru menjauh mundur.


“Jangan mendekat!” peringat Yuki pada Keven. Lengannya terjulur lurus dengan telapak tangan terbuka, memblokir langkah Keven yang mendekatinya.


“Maaf. Aku nggak bermaksud meremehkan perasaan kamu. Aku salah lagi. Maaf … Maafin aku yang sulit mengungkapkan isi hati ini dengan benar. Pikiran aku benar-benar kacau.” Kedua telapak tangan Keven meraup kasar wajahnya. Menampung hembusan keras udara yang dibuang dari mulut.


“Karena kebetulan kita ketemu, ada yang perlu aku sampaikan.” Mendongak lurus pada Keven, mata Yuki beradu pandang dengan pupil mata Keven yang membesar penasaran, namun juga khawatir. “Aku nggak ingin terkesan rakus dan tamak, jadi aku mohon hentikan transferan uang bulanan. Berhenti juga nitipin uang jajan ke Pak Satpam. Aku bukan anak kamu!”


“Gak bisa. Kamu tanggung jawab aku. Kamu istri aku. Itu semua hak kamu,” tolak Keven cepat. Ia juga menggeleng kuat sebagai bentuk penolakannya.


“Kalau kamu keberatan aku nitipin uang, kembalilah tinggal sama aku. Jangan merasa terbebani dengan uang itu. Bahkan rasanya apa yang aku kasih masih kurang,” lanjut Keven dengan intonasi melemah penuh sesal.


Keisengan Yuki yang menyinggung investasi masa depan pada Ara yang layaknya makelar tanah membuat gadis itu justru dijejali berbagai macam harga tanah dari segala penjuru Kota B. Benar-benar pengalaman berharga yang memusingkan.


"Walaupun aku mata duitan, tapi aku tau diri. Dan jujur aja aku memang butuh uang kamu. Jadi yang udah terkirim sebelum gugatan cerai nggak akan aku kembalikan. Jangan lupa aku masih punya orang tua yang sampai saat ini tetap rajin kasih kiriman uang. Cukup memalukan mengakui semua ini. Tapi intinya stop semua uang dari kamu, karena setelah ini aku nggak mau merasa berhutang dan terpaksa berhubungan lagi sama kamu demi mengembalikan uang-uang itu," lanjut Yuki berucap.


“Kamu nggak perlu merasa berhutang. Itu hak kamu. Bahkan semua yang aku kasih nggak sebanding dengan sakit hati kamu, bukan?”


“Ah, itu … Ternyata selama ini kamu menghargai aku lewat uang ya? Berarti anggap aja semua yang udah berlalu serta sakit hati ini cukup sebagai tanggung jawab aku! Dampak kerja keras yang aku lakukan karena nggak bisa mengatur pola dan porsi kerja aku sendiri.” Amarah yang tadinya mereda kembali memanas. Bahkan nyaris meledakkan ubun-ubun Yuki yang tidak kuat menahan gelombang hantaman emosi negatif.


“Ki, bukan gitu maksud aku,” sanggah Keven.


“Tenang aja, aku paham. Sangat pahan. Tapi apapun yang kamu ucapkan saat ini akan menjadi salah bagi aku. Jadi lebih baik kita stop sampai di sini!”


Yuki berlalu pergi begitu saja dari hadapan Keven. Secepat kilat berlari menuju lahan parkiran. Tidak peduli pada teriakan mengganggu yang terus memberondongnya. Samar-samar Yuki juga mendengar teguran kuat dari orang-orang yang dilewatinya. Namun Yuki terus mengayunkan langkah. Memperpendek jarak dari seseorang yang kebetulan membuka pintu mobil.

__ADS_1


Brak.


Dentuman keras pintu mobil yang tertutup mengejutkan sang pemilik yang melotot tajam. Terperanjat pada kejadian kilat yang tidak disangka-sangka. Namun sejenak langsung berubah menjadi kernyitan halus penuh tanya.


“Pak Dokter yang berbudi luhur, baik hati dan pastinya ganteng. Aku memang penyusup nggak tau diri, tapi tolong jangan banyak tanya. Tampung aku sebentar aja ya, please?” pinta Yuki sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Memohon belas kasih pada sosok laki-laki yang baru saja mendudukkan diri di kursi kemudi.


“Kacanya nggak transparan, kan?” tanya Yuki dengan tidak tau malu seraya memerosotkan tubuhnya. Bersembunyi dari sang suami yang celingukan gusar mencari dirinya.


“Kamu habis nyuri?” ejeknya pada Yuki sambil memperhatikan Keven yang larut dalam kegilaan menendang dan meninju udara.


“Nggak ya! Seenaknya aja nuduh!" bantah Yuki sengit. Suara berbisik dari bibir yang bergerak tipis menggelitik geli Dion yang melipat tangan santai, menikmati pertunjukan di depan mata dan enggan beranjak pergi.


“Nyuri hati orang maksudnya. Itu yang di depan pasti lagi nyariin kamu. Kayaknya belum cukup ngobrolnya di taman tadi,” ucap Dion sambil mengedikan dagu. “Perlu aku bantu sembunyi atau aku kasih tau dia kalau kamu di sini? Kamu kan sembarangan masuk mobil aku."


Dug.


Terkekeh Dion mendapati dahi mulus Yuki terantuk dashboard mobil. “Itulah salah satu contoh kalau gak bener duduknya,” ucap Dion sekenanya, tapi tidak bisa Yuki bantah karena memang fakta sebenarnya.


"Jangan tegang. Aku akan pura-pura gak tau dan anggap kamu gak ada di situ. Jadi mau ke mana? Nggak mungkin ikut aku. Kalau mau nunggu orang itu pergi baru kamu keluar dari mobil ini, bisa aku pastikan pinggang kamu bengkok duluan dan susah tidur nanti malam. Kayaknya jalan terbaik memang kamu harus keluar sekarang."


'Sumpah ini orang sebenarnya nyeselin. Jangan tertipu sama tampangnya Yuki! Ganteng itu nggak menjamin. Pokoknya tampang bukan segalanya. Buktinya Dimas yang imut juga lemes mulutnya. Eh ... Kok mendadak ingat Dimas sih?' Membatin Yuki yang masih betah dalam posisi yang sangat tidak nyaman itu.


"Oiyaa ... Dimas aku tinggal!!" pekik Yuki tiba-tiba sambil menepuk kasar dahi yang sempat membentur pelan dashboard mobil. Beruntung suara Yuki teredam di dalam badan besi. Cukup tersamarkan dari indera pendengaran Keven yang masih berputar-putar bahkan merunduk mengintip kolong-kolong mobil demi mencari Yuki.


Sedangkan Dimas yang dari tadi kelabakan mencari Yuki sudah berjanji akan menjitak kepala Yuki jika berhasil ditemukan. Pasalnya sudah berkali-kali Dimas menghubungi ponsel Yuki yang ternyata masih dalam mode silent sejak persidangan.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah menanti UP UP UP 😍


__ADS_2