
‘Khayalan ku tentang mu hancur. Kamu tidak sebaik yang aku bayangkan. Harusnya aku sadar untuk tidak berharap banyak.’ Ucap Yuki dalam hati, memandang lampu-lampu jalanan yang masih menyala. Hanya segelintir orang yang berlalu lalang di waktu menjelang pagi ini.
Memejamkan matanya, sebulir air merembes dari mata lelah yang memanas. “I wish I could hurt you the way you hurt me. (Aku harap aku bisa menyakiti kamu selayaknya kamu menyakiti aku.)” Gumam Yuki lirih sambil memasang earphone, menyumbat kedua sisi lubang telinganya, mencoba mengistirahatkan beban yang nyatanya melarang dirinya memasuki alam mimpi.
Sebuah lagu berjudul Me and My Broken Heart dari Rixton terputar menemani perjalanan Yuki. Melemaskan punggung menikmati alunan melodi galau yang dikemas dalam musik bergenre pop sesekali Yuki menghembuskan nafas kasar. Tentu saja air matanya sudah luruh beberapa kali meski tanpa suara isakan yang menyertai.
All I need is a little love in my life
All I need is a little love in the dark
A little but I’m hoping it might kick start
Me and my broken heart
I need a little loving tonight
Hold me so I’m not falling apart
A little but I’m hoping it might kick start
Me and my broken heart
(Yang aku butuhkan hanyalah sedikit cinta dalam hidupku
Yang aku butuhkan hanyalah sedikit cinta dalam kegelapan
Sedikit saja tapi ku harap cinta itu bisa menyalakan
Aku dan hatiku yang hancur
Aku butuh sedikit kasih sayang malam ini
Dekaplah aku agar aku tak hancur berkeping-keping
Sedikit saja tapi ku harap cinta itu bisa menyalakan
Aku dan hatiku yang hancur)
__ADS_1
…
(Rixton – Me and My Broken Heart)
Ini adalah pemberhentian terakhir, Yuki tidak akan takut tertinggal bus, namun pikirannya tidak tenang bukan karena hal itu. Layaknya menaiki rollercoaster raksasa yang melaju naik-turun dan berputar, Yuki ingin menjerit mual pada kenangan yang semakin nyata.
‘Aku menyerah.’ Gumam Yuki sebelum akhirnya ia tersenyum manis pada ingatan perjalanan panjang perjuangannya merebut perhatian sang suami.
...----------------...
Flashback On.
Kembali pada beberapa bulan yang lalu.
“Bedak, aman. Lipstick, oke.” Ucap Yuki sambil memerhatikan wajahnya dari spion motor. Berlatih berulang kali untuk menampilkan senyuman terbaik. Kini dirinya sudah berdiri di lahan parkir sebuah restoran dengan cukup percaya diri.
“Duit? Cukup lah ya..” Ucap Yuki lagi sambil memeriksa isi tas selempang berwarna putih tulang, ada banyak lembaran merah yang ia masukan. Takut jika dirinya terlalu gengsi memesan menu paling murah.
Cling..
Terperanjat kaget, Yuki lupa jika terdapat lonceng di atas pintu dorong itu. Bunyi lonceng ini benar-benar mendebarkan Yuki yang sudah gugup terlebih dahulu. Padahal dirinya hanya perlu duduk memesan makanan dan makan dengan tenang, kemudian tentu saja pulang.
‘Eh?’ Mengernyit heran, Yuki merasa terkejut pada berbagai pilihan di buku menu. Bahkan pikiran yang dahulu mengatakan minum segelas air putih saja mungkin harus membuatnya menggadai kartu identitas nyatanya salah total.
‘Kok harganya mirip kayak di Kafe kekinian ya? Bener kan ya ini?’ Gumam Yuki dalam hati, matanya terus meneliti barisan nama makanan dan minuman dengan harga yang dirasa tidak sebanding dengan kesan elegan dan mewah dari bangunan gedung restoran. Bahkan menunya saja sebagian lebih cocok dijual di Kafe yang biasa menjadi tongkrongan favorit anak muda.
Menguasai keterkejutannya, Yuki akhirnya memesan seporsi fettuccine alfredo dan segelas mocktail blood ice blue. Menanti dalam gugup dengan jemari yang terus mengetuk pahanya, Yuki berharap kedua menu itu cocok disandingkan, pasta yang creamy dengan minuman bersoda dingin yang didominasi warna biru dengan rasa blueberry.
Huff..
Menghela nafas gusar, tampaknya penjelasan sebelumnya harus diralat. Kebenarannya kini Yuki berharap sosok yang sempat dijumpainya muncul dan menyembul dari mana saja. Mengenai makanan, Yuki yakin mulut dan perutnya akan menerima segalanya.
“Silakan dinikmati sembari menunggu pesanan yang akan kami siapkan.” Ucapan ramah seorang pramusaji membuat Yuki bingung, tepatnya bukan pada kalimat yang terucap, namun segelas air putih dan French fries dalam porsi kecil.
“Ini service dari restoran kami.” Imbuhnya lagi saat menangkap raut bingung penuh tanya di wajah Yuki, kemudian ia berlalu setelah meninggalkan senyuman ala bisnis pada Yuki.
Sedangkan Yuki saat ini semakin menertawai dirinya dan Dimas yang lebih memilih menggigil di luar saat hujan, tidak berani masuk ke dalam restoran yang berdiri megah. Takut isi dompet yang dikuasai lembaran hijau berteriak meronta tidak ingin berpindah rumah seluruh isinya ke dalam laci kasir.
__ADS_1
Mengunyah sepotong kentang goreng, Yuki bergidik geli pada sikap sok kalemnya. Sejenak ia membayangkan bila saat itu dirinya dan Dimas masuk dan memberanikan diri memesan makanan, pasti seporsi French fries ini bisa langsung disantap dalam sekali lahap oleh Dimas.
Mengedarkan pandangan ke segala arah dengan jantung yang sudah tidak berdebar gugup, senyuman Yuki seketika membeku. Seorang laki-laki yang membuat dirinya mantap membenarkan pernyataan cinta pada pandangan kedua, bukan pertama, itu hadir dengan serius dan mata terfokus pada ponselnya.
“Alia bulan depan jadi pulang?”
“Jadi dong.. Aku udah urus buat dia langsung handle dapur kita.”
“Laporan pengeluaran bulan ini udah kamu rekap, Ka?”
“Itu pasti udah, Kev. Agak menurun, sebanding sih sama resto kita yang bulan ini sepi.”
“Nanti kita atur waktu untuk rapat. Kumpulkan semua orang. Kita coba dengar usulan mereka, karena mereka lebih terbiasa dan berlama-lama di sini, bisa jadi ada ide mereka yang bisa kita pakai buat resto.” Ucap sosok yang tidak lain adalah Keven dengan panjang lebar pada lawan bicaranya, Saka.
“Padahal pemasaran kita udah oke. Harga juga standar lah, sesuai sama cita rasa. Bahkan cukup memuaskan. Jadi masalah utama kita ini sebenarnya apa?” Pertanyaan itu bukan terucap untuk dipertanyakan atau diberikan balasan berupa jawaban, namun lebih mirip pada sebuah argumen untuk diri sendiri.
‘Hei.. Bangunan mu ini loh yang bikin orang dompet pas-pasan takut mau mampir!’ Jerit Yuki dalam hati saat pembicaraan itu terus terdengar di telinganya. Melahap gemas pasta yang sudah sedari tadi terus diaduk-aduk demi bisa fokus menyimak pembicaraan orang dari meja yang tidak jauh darinya.
“Oh ya, lowongan kerja buat pramusaji udah kamu print out kan Kev?” Tanya Saka tiba-tiba, menyipitkan mata dengan pikiran yang sudah penuh pada dugaan-dugaan kecilnya.
“Lupa.” Jawab Keven singkat tanpa rasa bersalah.
“Ck!” Berdecak disertai tangan yang meraih beberapa helai kertas dari dalam sebuah kantong, Saka menyodorkan kertas-kertas itu ke hadapan Keven. “Udah aku tebak. Beruntung aku gerak cepat, nih.. Oke gak?”
...****************...
*
*
*
Kok ‘restoran kita’? 🤔
Hayoo.. Jadi punya Keven atau Saka sebenarnya restoran itu?😄
Note : Flashback ini cukup jauh, lebih dari 10 bab. Jika ada yang ingin melompat bacaan silakan😊
__ADS_1