
Hening.
Ketegangan di antara Keven dan Dimas diabaikan. Lebih penting mendistribusikan skripsi dibandingkan meladeni kedua laki-laki yang sudah bergulat lewat sorot mata menghunus tajam.
“Jadi pergi nggak?” celetuk Yuki nyaring. Gadis itu sudah selesai mengenakan helm. Duduk manis siap menaikkan standar motor. Bahkan ibu jarinya tinggal menekan tombol stater motor.
Puk.
Puk.
Menepuk bahu Yuki pelan, Dimas menyahuti pertanyaan Yuki, “ayo.” Singkat dan padat dengan tetap mengunci tatapan sengit pada Keven. Tatapan yang tanpa diduga menjalarkan sengatan maut yang saling berlawanan.
“Hish! Tanganmu!” Mengedikkan bahu, Yuki menyentak tangan Dimas yang bertengger di bahunya.
“Kan ojek,” jawab Dimas sok acuh. Ia hanya ingin menegaskan pada Keven bahwa posisinya lebih tinggi di kehidupan Yuki. Terbukti dengan mudahnya ia bisa merangkul dan memegang Yuki tanpa permisi. Tentu saja bukan bermaksud kurang ajar, apa lagi mencari keuntungan dalam kesempatan yang ada.
“Ma-ta-mu!” eja Yuki dengan suara lirih penuh penekanan. Bibirnya memang tersenyum, namun matanya seakan siap menerkam Dimas hidup-hidup.
Menjulurkan lidahnya, Dimas menanggapi ujaran yang sejatinya umpatan dengan cengiran santai. Sedetik setelahnya ia segera duduk di jok belakang motor Yuki sebagai penumpang. Tidak ada kata jaim meski dirinya laki-laki, toh baik Ara, Yuki maupun Dimas memang terbiasa bergantian membonceng jika salah satu di antara ketiganya kelelahan.
Beralih menoleh pada Keven, Yuki bagai terdampar di gurun pasir. Seakan ada panas membakar hingga ke organ dalam tubuhnya. Menghadirkan kekeringan tanpa mampu sekedar Yuki basahi dengan air liur. Ia layaknya bertemu orang asing dengan aura familiar. Sulit dideskripsikan bagaimana keterkejutan atas hadirnya Keven.
"Duluan ya, Mas …,” ucap Yuki canggung. Entah harus bagaimana sikapnya saat berhadapan dengan Keven. Seperti yang terjadi saat ini, Yuki bingung dan kikuk harus bertemu lagi dengan sang mantan suami. Padahal perpisahan legal mereka belum lama terjadi.
Tapi satu yang pasti, tidak ada yang perlu keduanya bahas lagi. Urusan mereka usai seiring terputusnya ikatan suci yang membelenggu. Walaupun Yuki yakin jika sosok di depannya tidak ada keperluan lain di kampus selain untuk menemui dirinya.
Berbeda dengan Keven yang jelas belum menganggap kisahnya dengan Yuki usai. Pengintaian itu tetap berlanjut meski sempat menunjukkan diri di depan Yuki. Ia kini melaju cepat mengejar motor Yuki yang berjarak 2 mobil di depannya.
Sesekali Keven meremas setir kemudi, lalu beberapa saat kemudian nyaring suara klakson akan terdengar memekakkan telinga. Antara mencoba bersabar memfokuskan target dan terbakar api cemburu karena pemandangan yang terpampang nyata. Sumpah rasanya Keven ingin meledak kala melihat beberapa kali Dimas mencondongkan badan, berbincang tiada habisnya dengan Yuki di atas motor.
Belum padam gejolak cemburu yang membara, Keven kembali dibuat kehabisan akal saat mendapati jalanan sempit yang tidak bisa dilalui mobilnya. Gegas ia menepi di jalan utama, keluar dari mobil sambil menyugar kasar rambutnya.
"****!!" umpat Keven sambil meninju udara asal.
Sejenak kembali ia mengumpat di dalam hati. Menghempaskan punggungnya di badan mobil. Mendesah kasar dengan kesal dan merutuki segala penyesalannya, namun seketika ia memicingkan mata pada sosok yang dirasa sempat berkumpul bersama Yuki.
Seorang gadis dan 2 orang pemuda tengah berlari pontang-panting. Berteriak histeris di susul oleh Yuki dan Dimas, serta sepasang hewan berbulu putih simbol kesetiaan yang mengepakkan sayap lebar. Bersuara nyaring, memburu ganas pada objek yang dianggap sebagai ancaman.
Bagai kilat Keven yang mematung dilewati begitu saja oleh 2 orang pemuda teman Yuki. Pikirannya seolah membeku untuk memproses situasi yang sedang terjadi.
"LARI!!" teriak Yuki kuat sambil mengibaskan tangan sembarangan. Kontras Keven berlari mendekat pada Yuki. Meraih tangan gadis yang melotot lebar pada aksi nekad Keven.
“Aaaaaaa!!”
Tin … Tin …
Gubrak!
__ADS_1
Brak!
Jeritan, bunyi klakson dan benturan beruntun berlalu sangat cepat. Kini gadis yang berteriak histeris itu sudah terkapar dengan kesadaran yang mengambang. Suaranya tercekat oleh penampakan kulit betisnya yang berdarah, terpampang jelas akibat kain celana yang terkoyak.
Sepersekian detik kemudian ia kembali menjerit kesakitan pada kakinya yang terkilir, pinggang yang sakit karena terpental sampai akhirnya jeritan itu menghilang seiring tubuh lemas terkulai.
Sontak kepanikan semakin terasa. Bahkan jauh lebih panik dari sekedar menghadapi 2 angsa yang mulai bergerak mundur. Terusir oleh ketiga pemuda yang tidak lagi takut. Tentu bermodal kerikil yang dilemparkan dan ranting yang entah diperoleh dari mana.
...----------------...
"Minum?" ucap Keven seraya menyodorkan minuman dingin ke hadapan Yuki. Sebelah tangannya menenteng kantong kresek berisi camilan yang mungkin Yuki inginkan.
Mendongak, Yuki tersenyum tipis sambil berkata, "thanks, Mas."
Mengangguk singkat Keven mendudukkan dirinya di samping Yuki.
"Ngemil?"
"Nggak deh, nanti aja ... Kalau kamu mau pulang duluan aja. Temen-temenku sebentar lagi juga sampai.”
"Aku temani kamu sampai mereka datang," tolak Keven tanpa sahutan Yuki. Keduanya hanya diam meski saling mencuri pandang.
Berdiri secara tiba-tiba, Yuki seakan merentangkan tangannya. “Jarimu kenapa?”
“Retak,” jawabnya dengan bibir mencebik cemberut.
“Terus kaki?” tanya Yuki dengan dahi mengerut khawatir. Tangannya sudah merangkul tanpa menyentuh, berusaha melindungi tanpa menambah rasa sakit di anggota tubuh perempuan berkemeja navy itu.
“Aman kok, udah dibantu urus sama Dimas. Motornya gores dikit aja, tapi katanya gak kenapa-napa. Mereka juga udah gerak nyusul ke sini.”
“Aku kok tadi tolol, ya? Padahal jari aku retak, tapi malah kaki yang kayaknya sakit banget.” Terkekeh perempuan itu. Terlalu histeris melihat darah di betisnya sampai tidak merasakan sakit sebenarnya dari tulang jari kelingking yang retak.
“Pulang?” celetuk Keven. Ia berdiri di samping Yuki dengan sorot mata lekat, sedetikpun tidak lepas menatap sosok perempuan yang sempat disia-siakannya itu.
“Nunggu temen. Sekarang kamu kalau mau pulang duluan aja. Makasih udah bantuin,” jawab Yuki setengah mengusir. Ia mengulas senyum tipis dengan kikuk.
“Biar aku antar. Kamu kabari mereka gak usah nyusul ke sini. Teman kamu ini pasti susah bawa tas besar kalau pakai motor.” Kukuh Keven tidak ingin pergi begitu saja.
Menghela nafas perlahan, Yuki cukup membenarkan perkataan Keven. Pasalnya dapat Yuki lihat sosok temannya itu sesekali memijat bagian bahu sambil mengernyit kesakitan.
“Aku coba telepon Dimas dulu, ya …,” ujar Yuki, tentu bukan pada Keven. Namun sukses membuat Keven kesal.
Sejenak perhatian Yuki terpusat pada ponselnya. Berkutat serius menghubungi Dimas yang nyatanya tengah memarkirkan motor di parkiran puskesmas.
Di lain sisi Keven tengah mengulum senyumannya, cukup puas karena berhasil memperlama waktu bersama Yuki. Jantungnya berdebar kuat, terpacu semangat yang disertai kegugupan hebat. Ia sekuat tenaga kembali memutar otak, berusaha mencari alasan demi alasan agar harinya selalu dipenuhi oleh Yuki.
Brug.
__ADS_1
Srak!
Dua bahu bidang saling berbenturan. Menyentak kuat hingga menjatuhkan barang bawaan yang cukup ringan.
“Sorry,” ucap Keven singkat sambil merendahkan tubuh tingginya, berjongkok membantu seseorang menyatukan beberapa lembaran kertas yang tercecer.
“Thanks ….” Ucapan itu menggantung dari bibir laki-laki yang mengernyitkan dahi. "Loh, Yuki? Kamu ngapain?"
"Eh, Mas Dion? Mas Dion sendiri ngapain?" balas Yuki dengan intonasi serupa. Ponsel yang sedari tadi dipandangi kini terabaikan dalam genggaman.
"Kerja."
"Aaa ... Iya, ya, kerja. Aku lupa kalau Dokter." Mengangguk pelan, Yuki menyadari kebodohan pertanyaannya. Padahal niat hati ingin membalikkan pertanyaan Dion.
"Jadi kamu ngapain? Ada yang sakit?" tanya Dion lagi, sedetik ia melirik pada gadis di sisi kiri Yuki.
"Nah itu tau masih nanya."
"Ck!" berdecak pelan Dion mengacak rambut Yuki. "Kan bisa kamu kasih tau siapa yang sakit. Lihat kamu kayak gini ... Gak mungkin kamu pasiennya."
"Khem!" dehem Keven kuat. Wajahnya merah padam dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal.
Jika ditanya ingin langsung berbaku hantam, jelas Keven ingin. Sayangnya ketidaksukaan Yuki atas tindakannya yang menarik paksa dari Dimas belum lama itu membekas jelas.
"Siapa?" tanya Keven pada Yuki. Sebisa mungkin menahan gejolak panas di dada. Berusaha bersikap biasa saja meski ia frustasi ingin mematahkan tangan yang seenaknya menyentuh wanitanya.
"Oh iya, kenalin ini Dokter Dion. Adik dari pacarnya sahabat aku, Ara," ucap Yuki pada Keven dan gadis yang seketika segar bugar, berbinar terpesona pada Dion yang menawan. Sedangkan Keven tentu saja langsung mengulurkan tangan dengan tatapan sengit dan senyum penuh makna.
"Keven."
"Dion," ucap Dion sambil tersenyum miring, membalas tatapan sengit Keven dengan santai. Akan tetapi tidak sesantai jabatan tangan yang saling meremas kuat.
"Mas Dion kok ada di Puskesmas? Bukannya nggak kerja di sini?"
Gema suara Yuki menyadarkan kedua laki-laki yang diam-diam beradu kekuatan. Spontan mengurai jabatan tangan yang cukup lama dari perkenalan singkat.
"Kalaupun gak kerja di sini, bukan berarti harus terus bertapa di satu rumah sakit nungguin pasien datang, kan?" jawab Dion lembut, sengaja mengobarkan percikan api di mata Keven. Mencoba mengamati dengan seksama situasi yang harus dihadapi.
Sekilas Dion melirik Keven yang berusaha menghalangi pandangannya dari Yuki. Mengalihkan pembicaraan hingga Dion seakan diacuhkan.
Sungguh Dion tergelitik geli pada kobaran yang semakin menjadi-jadi. Beruntung ia sudah terbiasa menghadapi panah kecemburuan yang seolah siap melenyapkannya. Bahkan jika diingat lagi Dion pernah menghadapi kecemburuan yang lebih parah dari Keven.
...****************...
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah membaca😘