Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Alia Hamil


__ADS_3

Tok.


Tok.


Brak.


Brak.


Baru juga Yuki ingin menghempaskan beban tubuhnya ke atas ranjang, suara ketukan berubah gedoran di balik pintu memberondong tidak sabaran. Sontak saja gangguan itu langsung menghentikan niat Yuki untuk mengistirahatkan tubuh lelah dengan hati yang kacau.


Berjalan gontai, Yuki membuka pintu dengan luka yang perlahan ditutupinya. Raut wajah Yuki datar, sekuat tenaga bersikap biasa saja. Keceriaan Yuki selalu bisa menipu mata orang lain.


Ceklek.


“Ken-..”


“Kita pulang!” Ucap Keven memotong kalimat di ujung lidah Yuki yang baru diucapkan sepenggal.


“Sekarang? Kenapa buru-buru? Ini udah malam loh..” Protes Yuki menolak ajakan layaknya perintah yang terucap gusar oleh Keven. Berdiri menyandar pada daun pintu, Yuki melipat tangan menanti apa lagi yang ingin Keven ucapkan. Namun tampaknya Keven malah terdiam dilanda kebimbangan, menyugar rambutnya dengan kasar sambil menghela nafas.


“Kemas barang-barang kamu sekarang! Aku mau urus check out kita.” Tukas Keven enggan dibantah. Intonasi suara memerintah terdengar sangat tegas.


“Tadi kamu bilang lusa kita pulang, kenapa sekarang jadi mendadak harus pulang? Karena telepon tadi? Karena Kak Alia?” Cerca Yuki geram. Seandainya bisa melakukan teleportasi, Yuki ingin mendatangi Alia dan melemparkan Alia ke dalam kawah gunung berapi. Perempuan labil bermuka banyak yang menurut Yuki sangat gemar mengemis perhatian Keven dan Saka yang terbutakan.


Kini Yuki benar-benar lelah. Bukan hanya tubuhnya yang mendadak lelah, namun beban di hati yang ditanggung membuat kepenatan yang diterimanya bertumpuk. Padahal tadinya selama menikmati jalan-jalan malam masih terasa kurang.


“Kamu bayarin aja kamar aku sampai lusa, lebih baik aku liburan sendiri. Udah tinggalin aja, aku masih mau di sini.” Lanjut Yuki berucap sambil mengibaskan tangan acuh. Berpura-pura abai pada keberadaan Keven, Yuki beringsut mundur hendak menutup pintu.


“Kamu pergi sama aku, pulang juga sama aku!” Ujar Keven meninggi sambil menahan pintu yang didorong paksa oleh Yuki. Jelas kekuatan Yuki kalah telak, ia bahkan sampai tersentak ke belakang, mundur tergopoh.

__ADS_1


Menerobos masuk, Keven melepas cengkeraman tangan Yuki pada knop pintu. Entah apa yang Keven pikirkan, namun ia tampak marah. Rahang laki-laki dewasa itu mengeras dengan gigi terkatup rapat. Keven jelas tidak suka saat Yuki membantah dan memberontak.


Sangat tidak mungkin pula Keven tega meninggalkan Yuki seorang diri di resort yang jauh dari rumah mereka. Tidak ada kenalan apa lagi sanak saudara yang bisa Keven percayai menjaga Yuki. Walaupun ia memiliki orang kepercayaan yang mengelola cabang restorannya di dalam resort itu, tapi mana mungkin Keven mencampur adukkan pekerjaan dengan kepentingan pribadinya.


“Tapi aku masih pengen di sini!!” Ucap Yuki kukuh, matanya menatap nyalang sepasang pupil mata Keven yang melebar.


Sungguh Yuki sakit hati. Baru saja ia tertawa, namun kini ingin menangis. Memang benar saat ada yang mengatakan jangan tertawa berlebihan, karena akhirnya pasti menangis. Dan benar saja hal itu terjadi pada Yuki, meski belum menangis karena masih dibalut ketegaran.


“Ambil barang-barang kamu sekarang!” Putus Keven mutlak. Meraih segala macam hal yang pastinya milik Yuki. Memasukkan asal ke dalam tas berukuran sedang yang diletakkan di atas kursi dalam ruangan kamar yang mulanya diperuntukan untuk Yuki beristirahat.


Sikap keras Keven selalu berhasil mengintimidasi Yuki agar menurut dan memilih diam, atau lebih tepatnya malas ribet. Terkecuali Ara, sahabat Yuki yang pernah dengan gagah beraninya memukuli Keven menggunakan sandal jepit Dimas. Tanpa senjata saja jika sudah bertanduk Ara bisa melumpuhkan lawannya secara brutal dan beringas.


Melaju membelah jalanan dengan satu atau dua pengendara berseliweran, Keven sesekali melirik Yuki yang terdiam. Pikirannya bercabang antara Alia yang tidak jelas seperti apa kondisinya dan Yuki yang kembali murung. Praktis tanpa diusut rencana menghibur Yuki gagal total.


Di satu sisi bisa saja Keven melanjutkan berlibur bersama Yuki, namun dirinya pasti tidak tenang memikirkan kondisi Alia. Sedangkan membiarkan Yuki menikmati liburan seorang diri juga bukan pilihan yang tepat. Maka dari itu lebih baik Keven membawa Yuki pulang meski harus dengan cara memaksa. Keven juga tidak ingin muncul kesalahpahaman baru yang berlarut antara dirinya dan Yuki.


Sedangkan Yuki yang memilih bungkam hanya memandangi kegelapan di luar jendela mobil. Pikirannya terganggu akan dua waffle yang tertinggal. Sungguh sangat disayangkan makanan itu terbuang begitu saja tanpa sempat Yuki cicipi. Setidaknya jika dibawa ia bisa meluapkan amarah lewat kunyahan brutal sambil membayangkan mengoyak dan menggerus Keven dengan giginya.


Deg!


Nyes..


Ucapan tanpa sebab Keven bagai belati yang menikam. Tersobek dan tercerai-berai, Yuki menahan pelupuk matanya yang berembun. Lehernya yang tercekik seolah nyaris putus terpenggal. Lidahnya kelu menjalarkan ngilu hingga ke ubun-ubun dan bagian terdalam dadanya. Aliran darah di jantung tampak enggan terpompa.


Tubuh yang menegang itu takut untuk menolehkan kepala menatap Keven. Segala pikiran buruk mengisi benak Yuki. Tidak mungkin karena Alia hamil Keven bisa sepanik itu, tidak mungkin.


“Tadi asisten rumahnya yang telepon. Dia mencoba bunuh diri.” Lanjut Keven berucap dengan nada penuh sesal.


Kini Yuki memberanikan diri menoleh, mengernyit heran atas tindakan Alia yang konyol. Kehamilan adalah sebuah berkah, bahkan banyak pasangan yang sudah menikah rela menghabiskan waktu dan menggelontorkan uang tidak terhingga agar berkah itu hadir.

__ADS_1


Kenapa harus mencoba bunuh diri disaat dirinya hamil dan ada Saka sebagai suami yang menemani? Begitulah batin Yuki bergejolak bertanya-tanya.


Sejenak pikiran buruk menghampiri benak Yuki. Tidak mungkin Alia hamil anak Keven. Yuki melotot ingin bertanya, namun ia tidak sanggup. Sungguh ia benar-benar ingin berteriak menolak segala kemungkinan jika memang benar itu adanya.


Yuki bahkan masih belum tau jika Saka dan Alia sudah berpisah. Tidak tau akan sehancur apa Yuki saat mengetahui kini Alia telah kembali sendiri. Bisa dibayangkan luka yang pernah Keven toreh ketika mengatakan tidak ingin bersama Alia hanya karena Alia sudah menikah akan menganga dan bernanah.


...----------------...


“Bik? Alia di mana?” Tanya Keven pada wanita paruh baya yang menyembul dari balik pintu.


Raut wajah sendu yang berhias berubah sumringah penuh kelegaan. “Syukurlah Den Keven datang. Non Alia di kamarnya, mungkin tidur. Tadi udah ada Dokter yang tangani.” Ucap wanita yang dipanggil ‘Bik’ oleh Keven itu.


“Gimana ceritanya Alia bisa coba bunuh diri, Bik?” Tanya Keven sambil terus melangkah masuk, beriringan dengan sosok Bibik itu.


Tersenyum getir, Yuki yang tadinya dipaksa ikut masuk tertinggal di depan ambang pintu. Tangan Keven yang tadinya menggenggam erat hingga meninggalkan bekas kemerahan langsung terlepas begitu saja. Ia bagai udara segar yang dipuja, namun tidak dijaga.


“Bibik juga gak tau Den. Kemarin Bibik baru tau kalau Non Alia hamil, terus dari kemarin sampai hampir seharian ini Non Alia marah-marah. Bibik kira karena Non Alia gak bisa hubungi Den Saka, soalnya Bibik selalu lihat Non Alia mondar-mandir marah sama ponselnya.” Tutur wanita itu dengan guratan kesedihan yang mendominasi.


“Tadinya Bibik mau antar makan malam Non Alia. Tapi waktu Bibik lihat kamar Non Alia yang gak terkunci, di dalam Non Alia udah gak sadar, tangannya udah berdarah-darah.” Imbuhnya dengan suara parau, bergetar takut terjadi sesuatu yang buruk pada Alia dan kandungan anak majikannya itu. Alia sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Sejak kecil dirinya yang merawat dan memberikan Alia kasih sayang, meski digaji, namun kedekatan itu tidak ternilai.


...****************...


*


*


*


Beneran hamil? Anak siapa? Saka, Keven atau pura-pura?😳

__ADS_1


Tunggu satu bab lagi, semoga berhasil double up😁


Terima kasih udah menanti kisah Yuki, semoga tetap suka ya🥰


__ADS_2