Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Penyangkalan


__ADS_3

Dengungan celotehan Nita diiringi tangis. Satu per satu untaian kata terlontar bersamaan nafas tersengal, tidak terdengar begitu jelas. Terpaksa Saka merangkai setiap kata yang terucap hingga tubuhnya tersentak kenyataan bahwa Irma telah tiada.


Irma kalah dalam perjuangannya di atas meja dingin. Kini wanita hamil besar yang baru Saka ketahui sebagai mantan pekerja malam itu telah pergi pada keabadian yang sesungguhnya.


Berdiri Saka menghampiri seorang perawat yang keluar dari ruang operasi membawa bayi merah yang kini harus menghadapi dunia seorang diri. Dekapan hangat pertamanya bukan dari sosok yang selama ini berjuang atas dirinya.


Wanita yang tidak lain adalah ibu kandung bayi itu terbujur kaku. Tubuhnya memang belum mendingin, tapi percayalah jika sebentar lagi raga tidak bernyawa di balik ruang operasi itu akan menyatu dengan tanah. Kini, tinggal janji yang Saka lontarkan tanpa pikir panjang yang bisa merubah sedikit duka si kecil di masa depan.


Mendorong paksa tungkai lemas yang masih belum mampu menopang bobot tubuh, spontan Nita ikut berdiri. Berlari kecil terseok mengekori Saka yang terlebih dahulu bergegas mengikuti perawat yang membawa bayi Irma ke ruang penanganan intensif.


Keduanya seakan menulikan pendengaran. Mengabaikan seruan salah seorang Dokter yang menangani Irma. Memilih memburu tangis kencang bayi yang terdengar memilukan. Sayangnya, baik Saka maupun Nita hanya bisa memandang segala tindakan cepat yang diberikan pada bayi Irma dari balik dinding kaca.


Menghembuskan nafas berat, kewarasan Saka telah kembali seperti sedia kala. Mau tidak mau meskipun Irma orang asing, Saka tetap terpukul atas kabar kematian yang mengejutkan. “Duduk dulu di sana, Nit,” pinta Saka lembut, merangkul dan menarik mundur bahu Nita perlahan. Namun nihil. Tindakan Saka gagal. Nita bergeming dengan tangis yang terbungkam bibir bergetar. Remaja itu masih sangat syok. Tidak mampu dan tidak mau mengakui kenyataan pahit atas kepergian Irma.


Entah sadar atau tidak Saka menepuk-nepuk pelan punggung Nita. Tentu bukan bermaksud apa-apa selain menegaskan bahwa keduanya harus sama-sama kuat.


“A-ku mau bi-lang A-bang du-lu ....” Terbata Nita berkata sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya. Sesekali disedot ingus yang terasa menyumbat saluran pertama pernafasannya.


Gadis remaja itu menyingkir. Menjauhkan tangan Saka yang masih menempel di punggungnya. Berlalu menuju undakan lantai rumah sakit dan duduk di tepian. Dengan lihai jari-jemarinya menggulir layar ponsel, menghubungi sosok yang tidak lain adalah Dimas.


Sedetik.


Dua detik.


Lima detik kemudian, Nita masih menunggu sambungan panggilannya disambut di seberang sana.


[Halo?]


Tangis Nita kembali pecah pada sapaan pertama Dimas. Gadis itu kembali meraung lirih, mengadu atas apa yang telah terjadi hingga berakhir kesulitan bernafas. Tak ayal Saka kembali menenangkan remaja yang sudah dianggapnya seperti seorang adik itu. Usapan sayang dan tepukan lembut di lengan Nita menjadi salah satu cara Saka menenangkan tangis yang bukannya mereda, hanya terbungkam saja.


Sejenak dengan permisi Saka meminta izin mengambil alih pembicaraan Nita dengan Dimas. Ia meminta Dimas segera mengabari ketua RT setempat agar bisa disegerakan mengurus pemakaman Irma. Tidak lupa Saka meminta Dimas memberikan nomor ponsel miliknya pada ketua RT sebagai pihak yang membantu mengurus segala hal dari rumah sakit.


Pemandangan yang dibalut kesedihan sekilas justru tampak manis meski nyatanya memilukan, semua itu tidak lepas dari sorot tajam Keven yang terpaku kebingungan. Otaknya berusaha mencerna segala praduga, namun gagal karena terlalu banyak kejutan yang dihadapinya hari itu.


“Saka …,” tegur Keven di belakang Saka yang masih mengusap lengan Nita. Dengan ragu-ragu Keven menatap lamat Saka dan Nita bergantian. Terlihat jelas kernyitan halus menghiasi dahi Keven.


Tidak tau kenapa udara seakan menghilang bagi Keven. Dua orang di depan Keven itu tampak mesra. Walaupun Keven jelas tau tidak mungkin Saka memiliki hubungan aneh seperti yang terlintas di otaknya. Pasalnya sangat kentara jika perempuan di samping Saka itu seorang remaja, anak di bawah umur.


Tapi sikap Saka yang menolak Alia, mengacuhkan jeritan frustasi wanita yang pernah sangat dicintai dan justru panik pada gadis yang kelopak matanya nyaris terkatup bengkak benar-benar membuat Keven tidak bisa melenyapkan begitu saja pikiran gila itu.

__ADS_1


“Bukan karena dia. Gue dan Alia selesai atas kemauan kami. Dia adik gue, bukan seperti yang ada di otak lo!” Seolah mengerti arti tatapan Keven, Saka mendengus kesal mengakhiri kalimat ketus yang dilontarkannya.


Namun bukannya mengerti, Keven malah semakin bingung. Ia mengerutkan dahi, berusaha mengingat semua sepupu yang Saka miliki. Sayangnya semua saudara Saka yang Keven ketahui tidak ada satupun yang seumuran gadis di depannya itu.


...----------------...


Tak.


Semangkuk bakso terhidang di hadapan Ara. Uap panas mengepul dari kuah beraroma khas kaldu sapi dan bumbu yang teracik sempurna, khususnya bawang.


“Cuit ke mana, Ki?” tanya Ara yang tadinya pergi ke toilet yang terletak di warung bakso langganan mereka. Dekat dengan kampus dengan harga yang sangat terjangkau.


“Keluar. Ada telepon dari Nita,” jawab Yuki lemah. Tenaganya seolah sudah terkuras habis untuk menghadapi Keven serta mendorong mobil milik Om Yudith yang mendadak mogok, kehabisan bahan bakar.


Entah harus disyukuri atau disesali, namun berkat mobil mogok itu Yuki bisa melepaskan gaungan kemarahan pada Keven saat mengeluarkan tenaga ekstra kala mendorong mobil. Bahkan Yuki tidak peduli menjadi tontonan pengendara lain dan membuat malu Ara serta Dimas yang sejujurnya ingin menyumpal mulut Yuki dengan kaos kaki.


Satu hal lagi yang cukup disyukuri ketiga anak muda itu adalah Mama Maria yang berpisah dari mereka di pengadilan karena bertemu teman lama. Tentu kepergian Mama Maria juga atas permintaan Yuki yang ingin menghabiskan waktu dengan Dimas dan Ara. Meski sebenarnya hanya alasan semata karena Yuki belum sanggup berlama-lama dengan Mamanya.


“Oh ….” Mengangguk singkat Ara menanggapi jawaban Yuki, matanya mengarah pada semangkuk mie ayam yang sedari tadi terus-menerus Yuki aduk. “Nggak enak nanti kalau diaduk terus gitu.”


“Tiba-tiba gak selera.” Meletakkan garpu yang sedari tadi digunakannya, Yuki meraih segelas es jeruk peras yang juga tidak mengiurkan. Diseruput air yang melimpah hingga nyaris tumpah. Diaduk pelan agar larutan gula yang mengendap menyatu dengan lelehan es batu di permukaan gelas.


“Aku itu termasuk orang yang nggak peka ….”


“Dengarin aku dulu, Ki!” geram Ara dengan intonasi rendah.


“Iya-iya,” ucap Yuki sambil mengangguk pelan seraya menopang pipi kanannya dengan wajah yang menghadap Ara.


“Aku ini termasuk orang yang nggak peka. Butuh kalimat to the point yang jelas, tegas dan pasti. Nggak semua orang ngerti kode atau paham setiap arti tatapan dan tindakan orang lain. Sedangkan kamu itu tipe yang pekaan. Tapi kali ini aku sangsi kamu peka atau nggak sama suami kamu itu.”


“Maksud kamu bilang gitu apa, Ra?”


“Menurut aku, kami ini sebelas tiga belas. Aku ini yang benar-benar susah peka kalau gak serius nyimak. Kalau dia antara nggak peka dan sebenarnya peka tapi menolak peka. Logikanya berkelit hingga akhirnya apa yang kata hati ucapkan selalu disangkal. Seperti kita menulis angka 3. Kita berada di titik yang udah pasti, tapi seolah nggak percaya dan malah berbelok. Saat bertemu ujung titik yang serupa kita kembali berkelok, karena apa? Penyangkalan. Ya mungkin seperti itu perumpamaan nya,” jelas Ara pada Yuki. Berceloteh panjang lebar sambil menuang saos cabe dan kecap manis.


“Kok tumben banyak omong sih, Ra? Nggak nyangka banget aku. Biasa bijak juga ngomongnya irit banget. Sumpah, harusnya aku rekam,” seloroh Yuki yang terkekeh menertawai Ara.


“Cih ... Gak usah mengalihkan pembicaraan! Gak usah ikut-ikutan berkelit!” Menoyor pelipis Yuki, Ara berdecih sebal. “Aku cuma kasih pendapat aja. Bukan untuk mencegah atau membela suami kamu. Mau kamu pisah atau nggak, semua itu urusan sama hati dan keputusan kamu. Aku ngomong kayak gini supaya kamu bisa mengakhiri kebencian yang lagi kamu perbesar. Demi ketenangan diri kamu sendiri.”


Menghela nafas pendek, Ara membuang pandangannya pada semangkuk bakso miliknya yang masih utuh. ‘Aku pernah dalam posisi benar-benar membenci. Bahkan dendam sampai menghancurkan kehidupan orang lain. Tapi bukannya bahagia, aku justru semakin tersiksa dalam belenggu kebencian itu.’ Kenang Ara sembari mengunyah malas bakso yang tidak menggugah seleranya.

__ADS_1


Kuah yang mulanya beraroma kaldu sapi dan bawang yang menggoyang lidah itu berubah menjadi lautan kecap di mata Ara. Terlalu banyak kecap yang dituang karena terfokus pada rangkaian kalimat yang disampaikan pada Yuki hingga hampir 7 sendok sambal cabe rawit ditambahkan tidak menyamarkan rasa manis kecap itu. Padahal jika Yuki yang disuruh menjilat sedikit saja kuah bakso milik Ara pasti langsung menjerit kepedasan.


“Habis ini aku langsung pulang ya. Ada orang belakang rumah yang meninggal. Nggak punya keluarga. Nita juga lagi di rumah sakit tadi ngantarin gitu katanya. Habis urusan sama Pak RT kayaknya aku mau nyusul Nita dulu,” ujar Dimas yang sudah duduk di kursinya lagi.


Sejenak disugarnya rambut yang sudah berantakan itu, berusaha menelaah situasi yang sedang dihadapi adiknya, Nita. Dimas benar-benar terkejut saat mendengar suara laki-laki dewasa yang memperkenalkan diri sebagai Saka.


Pertemuan singkat dengan Saka yang sudah terlampau lama itu tidak membuat Dimas melupakan tutur kata dan suara khas Saka. Dalam diam Dimas menduga Saka yang baru saja berbincang dengannya lewat sambungan telepon dan Saka yang dikenalnya adalah orang yang sama.


“Mau aku antar sekalian gak? Nanti pulangnya Nita biar ikut aku, kamu yang bawa motor Nita, Dim,” ucap Ara menawari bantuan sekaligus saran pada Dimas.


“Mending pulang istirahat sana, Ra. Aku takut itu mobil Om Yudith mogok lagi kalau di bawa ke mana-mana.”


“I-iya juga sih ….” Menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, Ara mengangguk setuju pada perkataan Dimas. “Oke lah … Jadi habis ini langsung antar Yuki terus kita pisah di sana, pulang masing-masing.”


...----------------...


Drap.


Drap.


Drap.


Gema langkah kaki tidak beraturan yang membentur lantai keramik lorong rumah sakit menarik perhatian Keven. Tapi percayalah bukan gema itu yang kini mengusiknya, melainkan perempuan yang berlari bersama sosok pemuda yang memercik kecemburuan di hati Keven.


“Yuki …,” lirih Keven, lensa matanya menyorot setiap gerak-gerik Yuki yang belum menyadari keberadaan Keven.


Mempercepat langkahnya, Keven menarik Yuki yang hendak mengikuti Dimas yang sudah cukup jauh dari jangkauan keduanya.


“Heeehh!!” Lengkingan Yuki melemah. Terperanjat pada sosok yang sudah menggenggam paksa tangannya. Menarik kuat hingga raga yang ingin beranjak itu seolah terpental dan kembali pada titik semula. “Mas Keven?!”


...****************...


*


*


*


Bayangkan jadi Yuki saat itu, kira-kira apa yang akan dilakukan?🤔

__ADS_1


Kalau aku kok pengen langsung banting Keven ya😂


Terima kasih sudah setia menanti kisah Yuki😘


__ADS_2