Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Sebagai Sahabat


__ADS_3

"Galau?"


"Cih." Berdecih Yuki menanggapi pertanyaan Dimas yang menurutnya sarat akan ejekan.


"Maaf, aku gak bisa ngelindungi atau sekedar selalu ada buat kamu." Nada suara Dimas terdengar biasa saja, namun menyimpan rasa penuh sesal. Sorot matanya juga tampak sayu dan lesu. Namun pandangan itu tidak sanggup menatap langsung pada Yuki. Ia justru menatap asal dedaunan di pohon yang bergoyang pelan akibat terpaan angin.


"Kurang tidur atau kebanyakan pakai koyok?" celetuk Yuki dengan kekehan renyah. Sikunya menyenggol lengan Dimas yang kini mendelik sebal.


"Aku tebak pasti gara-gara kelamaan ngapel sama anak pengolahan, iya kan? Ngaku aja, udah jalan berdua belum? Apa mau aku kasih tips and trik menggaet cewek?" Yuki menaik-turunkan kedua alisnya serentak. Gadis itu tersenyum lebar memamerkan deretan gigi bagian atas.


"Dikasih perhatian malah bikin orang kesel. Nyesal kali aku baik-baikin," sungut Dimas sambil menoyor pelipis Yuki.


"Hahahaha ... Ya habisnya tiba-tiba sok baik. Merinding nih aku." Tunjuk Yuki pada lengannya dengan jajaran rambut-rambut halus yang tertidur. Yuki jelas berpura-pura dengan ucapan merinding itu.


"Udahlah sana!" Mendorong pelan bahu kiri Yuki, Dimas mengedikkan dagunya sambil berkata, "itu Bang Riko muncul, kejar sana!"


"Eh iya, Wit."


"Wit-wit apaan woi?!! Makin lama makin gak jelas!"


"Santai, Bro ... Jangan ngegas." Menepuk-nepuk pantatnya yang terlapis celana jeans, Yuki terus memandang lurus pada sosok laki-laki dengan kemeja biru bermotif batik gonggong. "Udahlah aku mau kejar Bang Riko. Bisa gawat kalau ada yang serobot hari nge-lab."


Sejurus kemudian Yuki langsung meraih tas yang tergeletak di kursi panjang. Melebarkan langkah mengejar laki-laki yang dipanggil 'Bang Riko', salah satu sosok pengurus laboratorium yang ingin digunakannya.


"Semangat, Ki!" teriak Dimas yang ditanggapi Yuki dengan acungan kedua ibu jari tanpa membalik badan. Gadis itu sudah berlari pontang-panting sampai melompati pagar bunga setinggi 30 sentimeter.


"Semoga kali ini kamu bahagia. Aku akan berusaha selalu ada buat kamu ... Cukup sebagai sahabat agar hubungan kita gak terpisah." Seulas senyum simpul terbit di bibir Dimas, menahan kedutan beraneka rasa. Ia tidak dapat membohongi getir di hati yang menohok.


'Seandainya hidup aku gak sesusah ini dan aku punya keberanian untuk jujur, apa kamu mau menerima aku lebih dari sekedar sahabat, Ki?' Tangan yang bertumpu di atas paha terkepal, meremas kuat hingga kuku jarinya terasa menekan telapak tangan.


Dimas menghembuskan nafas berat, meratapi perasaan yang telah lama disembunyikannya. Sangat rapat dan nyaris selalu berhasil dikendalikan dengan tameng rasa rendah diri.


Kehidupannya yang serba kekurangan membuat Dimas tidak berani mengharapkan apapun. Belum lagi harus mengetahui fakta jika Yuki mencintai laki-laki yang dianggap lebih dari segala yang dimilikinya. Sontak Dimas mundur, semakin menutup rapat perasaan yang tanpa diduga hadir untuk Yuki.


'Tapi nyatanya aku merasa gak pantas meski hanya untuk menyukai kamu.'


Beranjak dari duduknya, Dimas meraup kasar wajah yang mendadak terasa kaku. "Sadar Dimas! Hidup mu bukan cuma milik mu! Belajar, lulus dan kerja yang lebih giat! Nenek dan adik-adik mu perlu makanan yang lebih layak!"


Cinta itu datang tiba-tiba. Semakin disadari saat maskara dan eyeliner murah Yuki luntur. Tangis pilu namun terlihat lucu di perosotan sekolah TK mendebarkan jantung Dimas. Ada kesedihan, kemarahan, kekecewaan, iri dan tentunya cemburu. Sayangnya Dimas tidak memiliki keberanian untuk mengakui perasaannya. Ia hanya akan berjuang mengembalikan senyum dan tawa Yuki sebagai seorang sahabat.


Sedangkan laki-laki yang pernah mengisi hati Yuki saat ini fokus berkendara menuju suatu tempat di luar Kota. Ia tidak pergi seorang diri, namun dengan teman yang sebelumnya mengabari informasi tentang keberadaan Saka.

__ADS_1


Secepatnya Keven ingin menyeret Saka ke hadapan Alia. Menyelesaikan kesalahpahaman ketiganya agar tidak mengorbankan bayi dalam kandungan Alia yang tidak bersalah.


Melihat Dimas yang teramat dekat dengan Yuki semakin menyadarkan Keven pada posisi Saka dahulu. Kedekatannya dengan Alia yang dianggap biasa saja tentu menimbulkan kecemburuan Saka. Apa lagi dengan adanya kesalahpahaman yang menjauhkan mereka, tidak salah Saka marah hingga menuduh Keven pebinor. Meskipun Keven tetap merasa aneh terhadap tuduhan Saka yang hanya didasari oleh kedekatannya dengan Alia yang sebenarnya lebih lama terjalin.


"Saka udah pergi sehari yang lalu. Kita terlambat."


Rahang Keven mengeras dengan gigi dan kelopak mata terkatup rapat. Seketika kepalanya berdenyut menahan kemarahan. Ia hanya bisa menghembuskan nafas berat tertahan sembari membuka lebar matanya.


Rumah sewa sederhana dengan pelataran disemen di dalam gang selebar sebuah mobil adalah tempat tinggal Saka selama beberapa waktu ini. Namun kini rumah itu kosong. Sudah ditinggalkan dalam rentang waktu yang tidak seorangpun tau, termasuk tetangga yang Saka amanati untuk membantu menjaga rumahnya.


Keven hanya mampu terpengkur. Ia semakin bingung harus mencari Saka ke mana lagi. Tanpa Saka, Keven akan selalu dibayang-bayangi tanggung jawab terhadap Alia. Ia tidak bisa menutup mata pada kondisi Alia yang sangat membutuhkan dukungan. Dan kabar buruknya Keven jelas tau bahwa hal itu tidak akan pernah bisa membuat hubungannya dan Yuki membaik.


"Gue coba hubungi kenalan gue lagi. Moga dia bisa lacak keberadaan Saka saat ini."


"Tolongin gue ya, Gi. Gue sama sekali gak bisa menjangkau Saka," pinta Keven pada Yogi, laki-laki yang sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Santai aja. Gue juga pasti bantu nyari Saka. Kasihan juga kondisi Alia saat ini ... Gue gak nyangka kalau pernikahan Saka sama Alia akan berakhir secepat itu. Bahkan ...." Yogi menjeda kalimatnya, ia sedikit tidak enak hati untuk melanjutkan perkataan yang mungkin bisa membuat Keven tersinggung.


"Gue dengar dari gosip temen sekolah kita dulu retaknya hubungan mereka ada sangkut-pautnya sama elo. Tapi gak lama setelah Saka nikah, elo nikah juga, ya gue yakin kalau semua itu cuma gosip gak masuk akal. Lagi pula kalian udah sahabatan dari jaman sekolah," lanjut Yogi berucap. Sesekali laki-laki sebaya Keven itu menelisik perubahan raut wajah Keven.


Belum juga kalimat panjang Yogi mendapat tanggapan dari Keven yang jelas merasa tersindir, ponsel Yogi berbunyi nyaring. Sambungan telepon berisi informasi yang sangat Keven nantikan terlontar jelas. Memuat nama kota yang sangat keduanya kenali, Kota B. Kota tempat semua masalah bermula dan kota di mana tempat tinggal utama mereka semua berada.


"Lebih baik kita gerak sekarang ... Tolong lo minta temen lo itu buat cari tau lokasi pasti di mana Saka sekarang. Bilang sama dia kalau gue butuh banget dan mau pakai jasa dia," ucap Keven mantap seraya mengemudikan mobilnya di gang sempit agar ban tidak tergelincir masuk ke selokan.


Kriing ... Kring ... Kriing ...


Bunyi lonceng sepeda terdengar dari kejauhan. Jalanan yang sepi tanpa lalu lalang kendaraan bermotor sukses menggemakan suara beruntun yang khas di pendengaran Saka.


Membalikkan badan ke sumber suara, mata Saka dapat menangkap pemandangan seorang gadis berseragam SMA bersusah payah mengayuh sepeda. Keranjang berwarna merah yang mulai memudar itu penuh dengan berbagai isi, begitu pula dengan bagian belakang yang tampak berisi keranjang segiempat yang diikat kuat.


"Maaf, Om, lama ...," ucapnya dengan nafas tersengal sambil menurunkan standar tengah sepedanya. Mengamati keranjang besar yang diikat pada boncengan belakang sepeda agar tidak jatuh terguling karena sepedanya tidak seimbang.


"Kamu jualan?"


"Ini? Iya," jawabnya mengiyakan sembari berusaha melap telapak tangan berkeringat di rok hitam yang dikenakannya. "Om mau beli? Tapi yang camilan di belakang ini mau di setor ke warung-warung. Udah pesanan."


"Yang di keranjang depan ini apa?"


"Oh ini gorengan ... Om mau? Beli lah Om, murah kok. Ada pisang, tahu isi, mendoan, ubi jalar sama bakwan. Seribuan aja, murah, kan? Beli ya, Om?"


"Hmm... Bolehlah campur 10 ribu."

__ADS_1


"Bener, Om?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Iya ... Ini ambil dulu buku kamu," ucap Saka dengan anggukan singkat sambil menyodorkan kantong kresek berisi buku yang harus dikembalikannya.


"Hampir aja lupa ... Makasih, Om." Menepuk dahinya, gadis muda itu menerima kantong yang Saka sodorkan.


"Ini Nenek kamu juga yang bikin?" tanya Saka sesaat setelah sekantong kresek merah berisi gorengan yang dibelinya berpindah tangan.


"Bukan."


"Jadi kamu?"


"Bukan juga. Ini punya orang. Aku cuma bantu jualan aja, soalnya yang punya lagi hamil."


"Setiap hari kamu kayak gini?"


"Nggak, Om. Soalnya besok mau bantu nitipin kuenya di tempat jualan temennya Abang. Jadi gak keliling kayak hari ini lagi," jelasnya seraya menutup rapat wadah tempat berbagai gorengan itu diletakkan.


"Udah dulu ya, Om. Udah mepet waktunya buat nyetor. Makasih bukunya udah dikembalikan," lanjutnya berucap dengan ekspresi cemas yang terhias bersama senyuman ramah.


"Lain kali ganti dulu seragam kamu itu." Tunjuk Saka tepat pada dasi yang masih terpasang rapi dengan logo berciri khas sekolah menengah atas.


"Biasa ganti kok. Ini lagi buru-buru aja." Menyengir gadis itu berlalu dengan mendorong kuat kayuhan pertama sepedanya. Bahkan tubuh bongsor yang terlihat lebih besar dari umurnya itu sampai berdiri, bertumpu di atas pedal mengerahkan seluruh kekuatannya. "Udah ya, Om. Duluan ... Mari ...."


"Hati-hati, Nita ...."


Menggeleng kecil Saka terkekeh pada energi sosok gadis yang pernah tanpa sengaja terserempet mobilnya.


...****************...


*


*


*


Mohon maaf jika jadwal update aku gak teraturšŸ™ Sejujurnya tentu bukan mau ku yang kayak gini. Tapi mau gimana lagi kalau aku gak punya banyak waktu untuk ngetikšŸ˜…


Karena ini bukan novel yang udah jadi baru aku Up, kalau senggang pasti aku ngetik banyak-banyak. Kayak dulu awalnya aku selalu teratur update 2 bab per hari (tapi ya jam nya gak tentu sihšŸ˜‚).


Terima kasih yang masih mau setia mengikuti kisah Yuki ini🄰 Aku gak akan gantung cerita kok. Pasti TAMAT DI SINI dan semoga gak membosankan (khawatir juga jadi lebay dan bosenin😁).

__ADS_1


FYI, ini beberapa motif batik gonggong khas Kepulauan Riau. (Kepulauan Riau ya, bukan Riau)



__ADS_2