Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kejutan


__ADS_3

“Kak, aku izin sebentar ya?” bisik Nita pada Yuki. Gadis itu segan meminta izin pada Ara. Tentu saja karena makhluk kasat mata yang selalu menempel dan sibuk memainkan rambut Ara.


“Mau ke mana?” balas Yuki tidak kalah lirihnya, seirama suara berbisik Nita.


“Toilet.”


“Toilet?” membeo Yuki mengerutkan dahi. Sekilas pandangan Yuki mengedar, menelisik setiap sudut ruangan segi empat yang memiliki sekat tirai besar di pertengahan sebagai pembatas bilik ganti.


“Iya, toilet.” Angguk Nita ragu sembari menyerongkan badannya.


“Terus ngapain kamu mau ke arah sana? Toilet di dalam, tuh sana,” ucap Yuki dengan telunjuk mengacung pada pintu bertuliskan ‘TOILET’ di sudut bagian dalam butik yang Nita punggungi.


Menoleh sekilas, Nita menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Spontan menggigit sudut kiri bibir bawahnya dengan kepala menunduk seakan menghindari pandangan Yuki. Detik berikutnya Nita kembali berkata, “aku ke toilet luar aja, Kak. Kayaknya jepit rambut aku ketinggalan di sana.”


“Ada-ada aja kamu. Ya udah buruan. Nanti Kakak cariin gaun senada Kakak seukuran kamu. Untung aja Ara ada yang mau dibahas dulu masalah gaun nikahnya. Oya, jangan lupa ingatin Abang mu luangin waktu. Nanti nggak enak sama Ara kalau urusan baju kita gak selesai-selesai,” cerocos Yuki sambil membolak-balik katalog butik yang menampilkan koleksi utama dalam paket busana pengantin yang ditawarkan. Ia diam-diam mendengus kesal pada keindahan gaun yang berhasil membawanya bernostalgia.


Jelas situasi berbeda tengah Nita rasakan. Ia spontan bersorak girang dalam hati. Menahan tarikan di sudut bibir agar tidak tersenyum lebar. Gadis itu perlahan memutar langkah, berjalan cepat dan menghilang begitu saja dalam satu kerjapan.


Sedangkan laki-laki dewasa yang apesnya masih juga jomblo bahkan kalah cepat menyambar gebetan sudah siap berganti pakaian dengan jas pilihannya. Ia pandangi pantulan dirinya di cermin besar dengan hembusan nafas kasar. Seulas senyum kecut perlahan melebar. Getir di dada sebisa mungkin diabaikan. Berpura-pura tidak tercubit meski hatinya sudah memar menyamarkan perasaan terlarang pada sang calon kakak ipar.


“Gimana?”


“Hm?” respon Yuki dengan kepala dimiringkan. Mata gadis berlabel janda itu membulat bingung menatap Dion yang berputar kecil bak patung mini di kotak musik.


“Bagus?” tanya Dion sambil merapikan kerah kemeja yang tidak berantakan sama sekali.


“Serius nanya?”


Merotasi matanya, Dion memalingkan wajahnya. “Ck … Bagus nggak Mbak?” tanya Dion lagi, tentu bukan pada Yuki, melainkan pegawai butik yang sebelumnya membawakan jas yang kini Dion kenakan.


“Mbak? Hellooo?” Tangan Dion melambai, berusaha memancing kedipan dari wanita muda yang terdiam memandang Dion terang-terangan. Jelas pertahanan wanita itu kalah atas pancaran pesona Dion.


“Hah? Eh, iya, ganteng banget.” Spontan jawaban itu terlontar.


Terkekeh Dion tidak menyembunyikan tawa kecilnya. Ia justru menyugar rambut ke belakang dengan senyum puas yang mengembang. “Saya tau kok saya ganteng. Tapi jas nya pas kan saya pakai?” kata Dion dengan ekspresi tengil.


“I-iya, bagus kok,” jawabnya terbata dengan canggung dan malu yang bercampur aduk.

__ADS_1


“Menurut Mas Dion sendiri gimana?” sela Yuki tiba-tiba seraya meletakkan katalog yang dipegangnya. Ia melangkah mendekat pada Dion, meneliti setiap lekuk jahitan jas yang tampak mahal.


“Pertama yang penting kita pakainya nyaman. Lagian kalau nggak cocok yang ini bisa pilih yang lain. Stok warna hitam banyak … Iya kan, Mbak?” Yuki menoleh sekilas pada pegawai wanita yang reflek mengangguk ramah.


“Nah, Ra … Gimana menurut kamu? Cocok kan Mas Dion pakai ini?” celetuk Yuki lagi saat mendapati Rava dan Ara menampakkan diri.


“Gimana, Mas?” sambung Ara bertanya pada Rava. Sontak hal itu membuat Yuki mengulum senyum menahan tawa cekikikan. Pasalnya sangat kentara sahabatnya sedang berusaha tidak memuji laki-laki lain di depan sang calon suami.


“Bagus,” jawab Rava singkat sambil meneliti penampilan sang adik.


"Udah? Gitu aja?" tanya Dion dengan mata membola yang langsung dibalas anggukan singkat oleh Rava.


“Nita ke mana, Ki?” Mengalihkan pembicaraan, Ara melontarkan tanya yang menyelip atas ketiadaan Nita.


“Lah belum masuk juga dia?” ucap Yuki sambil menepuk dahi dan celingukan, sedetik kemudian ia kembali berkata, “tadi dia keluar. Aku panggil dulu ya sebentar.”


“Biar aku aja,” cegah Ara.


"Aku aja," ucap Yuki kukuh. Namun belum sempat Yuki keluar, dua orang pegawai butik sudah masuk sambil mendorong rak gantung berisi beberapa gaun sewarna bersamaan dengan Nita yang mengekori.


Praktis, baik Ara maupun Yuki langsung mengalihkan perhatiannya pada Nita. Melambaikan tangan serta memanggil nama Nita agar adik sahabatnya itu segera mendekat.


Berbeda dengan Yuki dan Nita, keduanya sibuk menyelami keasyikan yang kadang membingungkan, memercik kebimbangan pada keindahan gaun mana yang harus mereka pilih. Sedangkan Ara hanya bertindak sebagai penonton. Gadis itu membebaskan Yuki dan Nita memilih, namun tetap menegaskan batas budget yang bisa dijangkau.


"Sejak kapan kamu kenal Yuki?" celetuk Rava seraya membaca berkas yang dikirim Sekretarisnya.


"Udah cukup lama. Ara pernah datang ke klinik sama Yuki. Mereka cari tau tentang Nindy. Waktu itu aku juga nggak nyangka bakal ketemu lagi."


"Lagi?" Sejenak Rava menoleh sebelum kembali menatap layar ponsel yang menyala.


"Iya, waktu dia KKN ternyata satu daerah sama kegiatan bakti sosial rumah sakit yang aku ikuti," jawab Dion sambil mengangguk.


“Oh, gitu ... Tolong nanti kamu antar teman-teman Ara pulang, bisa kan?”


“Aman, tenang aja. Kalau cuma antar mereka, Abang bisa serahin tugas itu ke aku.”


"Kamu nggak sibuk?" tanya Rava lagi pada Dion. Ia melirik sekilas pada Adiknya yang reflek merotasi bola mata malas.

__ADS_1


"Kan Abang sendiri yang bilang aku sibuk, padahal urusan aku hari ini udah selesai di rumah sakit. Habis ini aku mau pulang, berendam air hangat."


"Kamu berisik, banyak omong."


"Abang cemburuan parah," gumam Dion jengah. Beberapa saat kemudian Dion kembali berkata dengan sesuka hati. Ia bahkan bersedekap tanpa beban dan masih sempat menyengir santai.


"Kontrol Bang ... Jangan sampai Ara terkekang sama sifat cemburuan Abang. Dia juga masih gampang panik. Pokoknya awas aja kalau Abang sampai bikin Ara tertekan. Aku bakal jadi orang diurutan pertama yang akan bawa Ara pergi jauh dari Abang."


"Yakin?!" tanya Rava sinis dengan sorot mata tajam dan seringai lebar. Kalimat ancaman Dion terdengar seakan hanya candaan, namun bisa Rava lihat keseriusannya.


"Takuuut ...," ucap Dion seraya mengusap lengannya yang seolah merinding, berpura-pura bergidik ngeri. Nyatanya Dion sibuk menata kepingan kelopak bunga gula yang patah sebelum sempat bermekaran. Ternyata sulit mengendalikan emosinya sendiri. Semua tidak semudah trik yang biasa Dion jabarkan kepada setiap pasiennya.


Sejenak keheningan melanda. Tidak ada obrolan lagi hingga para gadis-gadis muda itu datang menghampiri. Saling berbincang singkat sebelum berpisah di depan teras butik. Tentu Ara dan Rava pergi bersama menyelesaikan urusan mereka yang katanya masih menggunung.


"Kak ...."


Ooeeek ....


Panggilan Nita pada Yuki terjeda oleh suara tangis bayi yang seketika menggema. Derap langkah kaki memburu terhenti di depan Yuki yang melotot kaget dan Dion yang mengernyit bingung. Pemandangan di depan mata benar-benar bagai kejutan hebat yang sulit Yuki cerna.


...****************...


*


*


*


Apa di sini ada yang lihat spoiler di hari senin dan ngira selasa bakal UP? Kalau ada, sama aku juga ... Sayangnya nggak sempat UP. Bahkan baru sempat aku lanjutin hari ini juga😅


Rencana bertapa seharian pas liburan batal. Sekitar jam 7 pagi di tanggal 1 tiba-tiba ada telepon masuk dari Adikku yang pertama, tadinya jam 6 pagi dia udah chat pamitan berangkat dari kos ke tempat magangnya.


Di sini aku benar-benar lihat sekuat apa feeling orang tua, soalnya Mama gelisah kepikiran Adikku terus dan ternyata benar, telepon itu bawa berita gak enak. Adikku kecelakaan.


Jadi maaf, mood ku lagi jelek banget🙏 Apa lagi kemarin-kemarin yang harus bolak-balik keluar Kota dengan pikiran yang udah kalang kabut, khawatir dan panik. Jaraknya memang nggak jauh banget, tapi tetap tergolong jauh, sekitar 60-70 km. Dan sepanjang jalan itu daya halu ku ambyar, malah nggak kepikiran buat menghalu sama sekali. Seandainya bisa ngajuin cuti atau WFH, mungkin aku bisa lebih baik lagi dipembagian waktu.


By the way, Adikku gak luka parah banget walau sempat gak bisa jalan sehari habis kecelakaan. Bahkan besok dia minta diantar pagi buta dari rumah ke tempat kerja. Iya, kemarin dia dijemput pulang sekalian dibawa berobat ke RS yang lebih besar.

__ADS_1


Cuap-cuapnya ternyata udah banyak banget ya🤭 Mohon doanya aja semoga si Abang cepat pulih dan terima kasih selalu mendukung aku🥰


__ADS_2