Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Cinta Tai Ayam


__ADS_3

“Udah lo hitung?” tanya Keven sambil mengernyit. Sejenak dilepas sarung tangan yang membungkus salah satu tangannya. Ragu-ragu Keven raih lembaran merah, biru dan hijau yang Saka sodorkan. Namun tanpa basa-basi dihitung setiap lembaran itu di hadapan Saka.


“Kebanyakan,” celetuk Keven dengan tangan terulur, mengembalikan kelebihan uang yang sengaja Saka berikan.


“Udah, ambil aja,” tolak Saka. Ia menjauh mundur dua langkah sambil menyembunyikan tangan dengan bersedekap.


“Gue cuma butuh sesuai bayaran. Gak perlu lo lebihin.” Keven merotasi bola matanya malas seraya mendesah kasar.


“Nggak gue lebihin. Kerjaan lo emang lebih banyak. Itu hak lo,” ujar Saka menyangkal perkataan Keven. Berusaha mengantisipasi jikalau Keven tersinggung oleh pemberiannya.


Benar saja, Keven memang sedikit tidak enak hati. Namun bukan tersinggung seperti dugaan Saka, melainkan malu karena belum bisa melunasi pinjaman uang pada Saka. Padahal ia sudah banting tulang siang malam.


Spontan tiba-tiba Keven menarik kuat tangan Saka hingga sahabatnya itu terhuyung ke samping. Keven kembalikan beberapa lembar uang yang dirasa bukan miliknya secara memaksa. “Buat Angga. Bukan elo!” ucap Keven penuh penekanan. Lantas berlalu sambil mengibas-ngibaskan sarung tangan yang tadi dipakai. Membuang partikel-partikel tanah yang menempel agar berhamburan dan gugur dari serat kain.


“Ck … keras kepala,” decak Saka dengan cibiran sengaja dilantangkan. Rasanya percuma memaksa Keven menerima pemberiannya.


Lantas Saka kejar Keven yang sudah berjalan mendahului. Melebarkan ayunan tungkai agar segera menyamakan langkah dengan Keven yang tengah menggeleng jengah.


“Thanks, Kev. Berkat lo gue bisa dapat lubang besar,” tutur Saka tulus setelah berhasil berjalan di sisi Keven.


“Hm.” Angguk Keven mengiyakan. “Tugas gue udah selesai. Thanks udah kasih gue kerjaan. Setelah ini lo bisa ngurus sendiri. Pinter juga lo sampai punya ide buka lahan kebun.”


“Ya gitu deh,” balas Saka sambil menggaruk tengkuknya, gatal bekas gigitan agas. “Nggak nyangka juga bakal berhasil. Tapi berkat lo, gue tambah hoki.”


Diam tidak merespon. Keven fokus membasuh tangan dan kakinya yang kotor dengan air kran di samping pondok penjaga kebun. “Habis ini gue langsung cabut. Toko rame.”


“Tumben semangat banget ke toko, lagi happy?”


“Biasa aja.” Mengangkat bahu acuh, Keven mengibaskan tangannya yang basah.

__ADS_1


“Gue kenal lo kali, Kev. Muka datar lo itu sekarang lagi berseri-seri. Nggak mungkin cuma gara-gara toko rame, pasti ada bau-bau Yuki. Tapi dia lagi nggak di sini, kan?” Sisi kanan alis Saka menukik naik. Ia menatap selidik pada aura bahagia Keven yang berubah muram.


“Iya, 11 hari,” ucap Keven mendadak sendu. Bahu kokohnya seketika turun setebal kertas HVS 80 gsm alias 95 mikrometer. Sangat tipis. Tapi ajaibnya sangat kentara di mata jeli Saka.


“Kenapa lo jadi galau? Perasaan tadi happy banget. Jangan-jangan lo punya simpanan di toko. Parah lo, Kev. Nanti lo nangis-nangis lagi ditinggal Yuki," goda Saka sambil memasang ekspresi sok serius dan ucapan menuduh.


Bugh!


Berhasil. Satu tonjokan ringan namun tetap saja sakit itu mendarat di lengan Saka. Sukses membuat Saka mengaduh. Sontak Saka usap berkali-kali satu bagian di lengannya yang berdenyut beberapa saat itu.


“Ngaco!” ketus Keven sembari menatap sinis Saka yang menyengir tanpa dosa.


“Hahaha, santai, Bro,” gelak Saka sembari menepuk pelan bahu kokoh Keven yang mendelik kesal.


...----------------...


“Sini cium dulu. Cium-cium, cium,” celoteh Yuki sambil mencium gemas pipi gembul bayi yang terkikik di gendongannya. Hati-hati Yuki peluk lembut dan erat agar tidak terjatuh. “Gantengnya anak orang, gemesin banget sih. Loh ketawa? Kamu tau ya kalau dipuji ganteng sama cewek cantik? Astaga, jadi pengen punya sendiri.”


Mendongak sekilas, Yuki lantas melengkungkan bibirnya ke bawah. Dalam sekejap ia malah mengadu pada bayi yang berusaha memegangi wajahnya. “Kak Nita tega ya, Sayang? Anak ganteng gemesin gini masa disamain kayak adonan bakso, harusnya kan klepon. Kenyal-kenyal gemesin. Pasti bakal manis banget kalau digigit.”


“Kak Yuki ada-ada aja.” Geleng Nita dengan kekehan geli pada tingkah perempuan yang lebih tua lima tahun darinya itu.


“Kakak nggak jadi ke toko Om Keven? Bukannya kemarin bilang mau ke sana dulu sebelum datang ke sini, ya?” tanya Nita lagi sambil menarik mundur sebuah kursi.


Sekilas Nita mengedarkan pandangan pada kondisi gerai yang sepi. Hanya ada seorang wanita dewasa yang duduk tidak jauh dari mereka. Namun bukan pengunjung, tapi baby sitter yang Saka pekerjakan untuk merawat dan mengantar Angga menemui Nita. Pasalnya bayi penurut itu bisa mendadak demam jika tidak sering bertemu Nita.


“Nggak. Malas,” jawab Yuki ketus. Sejenak matanya berkilat geram. Entah apa yang merasuki Yuki.


“Nit, boleh kali ya Angga buat Kakak? Kayaknya lucu punya boneka hidup gini,” ucap Yuki mendadak riang, sengaja mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Kakak daftar dulu jadi istri Om Saka,” ujar Nita dengan entengnya.


“Ngapain?” Mengernyit, Yuki mendudukkan diri di salah satu kursi, tepat di sebelah Nita. Kaki dan tangannya pegal menggendong bayi montok yang sedari tadi sibuk menarik rambutnya.


“Angga anak Om Saka, jadi satu paket.”


“Owh, paham, Kakak harus nikah sama Mas Saka dulu ... Angga mau punya Mama Yuki? Iya, mau Mama,” ucap Yuki diakhiri intonasi imut tiruan suara anak kecil.


Brak.


Berjengit terperanjat, Yuki dan Nita sama-sama menoleh pada sumber gebrakan yang tiba-tiba menggema. Sontak wajah keduanya menegang kaget. Senyum ceria luntur dalam sekejap.


“Bikin kaget aja. Pelan-pelan dong!” sungut Yuki tidak senang, bahkan reflek memicing kesal pada Keven yang mengeraskan rahang. Laki-laki itu terlihat mendaratkan kepalan tinju di atas meja kayu paling luar gerai aneka camilan dan oleh-oleh milik Dimas. Tentu sudah tertebak di mana lokasinya, jelas di jajaran gerai area food court swalayan besar milik Rava, suami Ara.


“Kak, Angga sama aku aja,” cicit Nita kikuk dalam suasana yang mendadak mencekam. Sorot mata tajam Keven benar-benar menakutkan.


“Masih pengen gendong.” Menggeleng, Yuki mempertahankan Angga dengan lengan kiri yang diposisikan menyangga kepala dan telapak tangan kanan menempel posesif di punggung bayi mungil montok itu.


“Om Keven serem. Bawa pergi, Kak. Takut yang mau beli kabur,” bisik Nita tepat di telinga kiri Yuki. Sesekali remaja itu melirik canggung ke arah Keven. Ini adalah pertemuan kesekian kali, tapi Nita tetap tidak terbiasa dengan sorot tajam Keven.


Mengalah, Yuki merelakan Angga dari gendongannya. Gadis itu pun berdiri lalu mengecup Angga yang tampak tenang dan manja dalam dekapan Nita. Sejurus kemudian sambil merengut ia dekati Keven.


“Ikut Aku.” Tanpa basa-basi Keven menarik lembut pergelangan tangan Yuki. Perlahan turun menautkan jemari. Ia terkesan membawa paksa gadis yang berjalan gontai di belakangnya.


Jauh dari gerai milik Dimas, lalu keluar dari area food court dan masuk ke lorong swalayan menuju parkiran. Tiba-tiba Keven membalikkan badan, berjalan mundur pelan-pelan. Ia tetap bersikap posesif dengan enggan melepas genggaman. “Bibirmu mau dikaretin?”


Mencebik, Yuki angkat tangannya yang digenggam Keven. Diarahkan punggung tangan kekar Keven dekat mulut, bergaya seakan hendak menggigit. Namun hanya sebatas gaya-gayaan semata, tidak sampai hati Yuki gigit. Pasalnya ia sedang berada di puncak kekesalan. Takut pula daging Keven justru terkoyak oleh gigi tajamnya.


“Gigit,” perintah Keven santai. Tidak ada keraguan sedikit pun jika Yuki mendadak berubah menjadi singa bar-bar.

__ADS_1


Namun bagi Yuki, terlihat sekali Keven kesal. Meski begitu justru Yuki yang tampak lebih terbakar emosi. Semua karena kejadian beberapa jam lalu kala Yuki bersemangat datang ke gerai milik Keven.


'Argh, ngeselin!! Cinta-cinta tai ayam! Dasar munaroh!! Tebar pesona juga sama cewek lain,' gerutu Yuki dalam hati.


__ADS_2