
“Aku pulang sama ojek. Mas Dion duluan aja.”
“Kamu udah dititipin ke aku. Jadi harus aku antar sampai rumah.”
“Aku tadi cuma gak mau sendirian jadi nyamuk kalau ikut Ara, makanya aku iyain aja omongan Pak Rava. Kalau tadi Mas Dion juga ikut mobil Pak Rava, ya aku iyain ikut mereka. Lebih baik berdua dari pada sendirian jadi nyamuk. Jadi Mas Dion duluan aja. Seingat aku juga Pak Rava bilang Mas Dion harus ke rumah sakit lagi, kan? Udah duluan aja.”
“Gak bisa. Perlu bukti yang harus aku kirim ke Bang Rava kalau udah antarin kamu sampai rumah.”
"Gampanglah, nanti aku selfie."
Menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring, Dion menggeleng pelan. "Kamu pikir Bang Rava gampang dibodohi? Dia itu gila detil. Apa lagi tadi udah janji sama Ara kalau aku bakal antar kamu sampai rumah tanpa tergores sedikitpun."
“Tapi ….”
Perkataan Yuki terjeda oleh keriwehan seorang gadis remaja dan laki-laki dewasa yang sibuk meredakan tangis bayi. Sukses hal itu mengalihkan perhatian dan membuat Yuki melongo, sedangkan Dion hanya mampu menyimpan tanya lewat sorot mata penasaran tanpa sepatah kata pun terucap.
Pasalnya kedua manusia yang terpaut usia jauh itu tampak kompak meski dilanda kerepotan dari tangis histeris bayi mungil yang memberontak. Pergerakan kecil nan menggemaskan di balik buaian gendongan jelas menegaskan bahwa ada kebebasan yang diidamkan.
"Susunya Angga mana?"
"Udah habis, Nit. Dari tadi udah diminum."
"Argh, Om ini kebiasaan. Nanti kalau Angga kembung lagi gimana?" gerutu Nita kesal sambil tetap menimang bayi mungil bernama Angga itu.
"Ya maaf, dia rewel banget kalau nggak ada kamu. Padahal biasa sama pengasuhnya gak terlalu rewel juga."
“Kan udah aku bilang titipin aja ke tempat Bunda Ai, jadi tiap hari bisa aku tengokin.” Masih sambil menimang, Nita kembali menggerutu pada Saka. “Pantinya Bunda Ai itu udah kayak rumah kedua buat aku sama anak-anak di sana. Lagian Bunda pasti seneng banget kalau Angga dititipin. Di sana anak-anaknya udah pada besar, pasti banyak yang jagain Angga. Mbak babysitter nya Angga juga bisa ikut, Om.”
“Mau tinggal di mana kalau pengasuhnya ikut?” tanya Saka frustasi. Kantung matanya yang tebal dan menghitam sudah cukup jelas menandakan waktu tidurnya berkurang banyak. Tentu saja penyebab utamanya Si Kecil yang rewel.
Di lain sisi, pupil mata Yuki dan Dion bergerak seirama, serentak dengan argumen berbalas Nita dan Saka. Padahal Yuki sudah mencoba mengabaikan sejenak kehadiran Saka bersama bayi yang menangis kuat.
Grep.
Baru saja kaki Yuki maju selangkah, belum sempat menegur Nita, ia sudah dikejutkan oleh sentuhan lembut di lengannya. Telapak tangan lebar dengan jari-jemari kokoh yang dikira milik Dion ternyata dari sosok lain yang beberapa hari belakangan tidak pernah ditemuinya lagi.
Sepersekian detik terlena dalam keterkejutan, Yuki sontak mengelak. Mengerjap cepat menghapus bayangan sosok yang dikiranya khayalan. Sayangnya aroma khas parfum yang sangat dikenali mendobrak kesadaran Yuki, semuanya bukan khayalan semata.
“Mas Keven?” ucap Yuki ragu sambil menahan nafas. Jantungnya berdebar cukup kuat tanpa Yuki mengerti atas alasan apa lagi kali ini.
Jika kemunculan Saka yang mengejutkan sudah mendapat jawaban, maka tidak ada penjelasan lain bagi Yuki bisa bertemu dengan Keven di depan butik khusus busana pengantin ini. Tanpa perlu diperintah berbagai praduga sudah berseliweran di kepala Yuki.
“Ada urusan apa kamu ke sini sama dia?” tanya Keven, menekan kata ‘dia’ sambil menatap sengit Dion. Pikiran Keven kacau, dadanya bergemuruh gelisah, tentu semua karena kehadiran laki-laki lain di sisi Yuki yang dianggapnya sebagai saingan. Apa lagi baru saja keduanya keluar dari butik khusus yang tidak pernah mau Keven bayangkan apa yang keduanya telah lakukan di dalam.
Sejurus kemudian Keven memutar bola matanya malas pada balasan senyuman ramah yang Dion berikan. Jelas Keven semakin tidak suka pada laki-laki yang baru 2 kali ditemuinya itu.
“Bukan apa-apa. Ayo, Nit, kita pulang,” ucap Yuki cepat tanpa memberikan jawaban yang pasti.
Gadis itu mendekat pada Nita yang sudah berhasil menenangkan Angga. Mencoba mengabaikan Keven meski pernah bertekad perpisahan hanya mengubah status suami-istri menjadi teman biasa, karena nyatanya sulit untuk bersikap biasa saja terhadap Keven kala perceraian itu telah terjadi.
__ADS_1
“Kamu kenal pengasuh itu?” celetuk Keven, ia masih berusaha memancing obrolan dengan Yuki. Mencoba memperlambat waktu agar bisa lebih lama bersama Yuki.
Membolakan matanya, Yuki menoleh pada Keven dengan kernyitan di dahi. “Pengasuh? Maksudnya babysitter?” Angguk Keven membenarkan.
Sontak Yuki semakin mendekat, berdiri di antara Saka dan Nita, menyorot tajam remaja yang masih menunduk kikuk dan Saka yang ingin menyela tapi dibungkam cepat oleh gerakan tangan Yuki.
“Abang mu tau kamu kerja sama om-om?” ucap Yuki spontan dengan lantang dan kelopak mata terbuka lebar. Mengejutkan beberapa pasang telinga yang mendengarkan. Apa lagi Saka yang sebenarnya ingin protes kala dikatai 'om-om'.
“Om-om apaan sih, Kak?” kata Nita gelagapan. Ia seakan bertanya, padahal sudah mengerti maksud dari perkataan Yuki.
“Kamu pikir Kakak nggak kenal sama Mas Saka?! Dia itu om-om buat kamu!” ketus Yuki sambil menoyor pelipis Nita. Mata yang melotot itu seketika membuat nyali Nita menciut. Beruntung ada Angga yang mengalihkan sedikit kegugupan Nita.
Jujur Yuki tidak masalah jika Nita bekerja sebagai babysitter selama mampu mengatur waktu. Ia juga paham yang paling berhak mengatur Nita hanya Dimas, namun jika harus dengan Saka, maka Yuki sangat keberatan. Pasalnya Saka adalah laki-laki dewasa yang hidup sendirian meski kini sudah berdua dengan sang anak, terlepas dari statusnya yang juga seorang duda.
“Kak Yuki janji ya jangan bilang Abang?” pinta Nita dengan binar mata memelas. Bibirnya melengkung turun seolah memamerkan ketidakberdayaan.
“Jaminan?” ucap Yuki sembari menengadahkan telapak tangan kanannya.
“Ish, Kakak ini!! Please, jangan bilang Abang. Lagian aku nggak kerja kok, cuma bantu rawat Angga kalau ada waktu luang.”
“Kata lo dia pengasuh, gimana sih, Ka?” bisik Keven pada Saka yang masih Yuki dengar.
“Ikut Kakak pulang atau sekarang juga Kakak bilang ke Dimas kamu ada main sama om-om?!” ancam Yuki dengan suara rendah, raut wajahnya terlihat sangat garang. Membolakan mata Nita yang menyangkal kuat.
"Jangan gitu juga ngomongnya, Ki!" tegur Saka.
"Ingat umur, Mas. Mas Saka itu emang om-om buat Nita. Pikiran aku udah jelek banget nih! Awas aja kalau Mas Saka punya niat gak baik! Aku gak akan tinggal diam." Yuki menekan setiap kalimatnya, bahkan mempraktekkan gaya meremas parutan kelapa yang diakhiri atraksi pukul mochi.
“Bawa ke Kos Kakak dulu. Jelasin semuanya ke Kakak hari ini juga!” tegas Yuki pada Nita sebelum menghadapi Saka sambil bertanya, “jadi Kak Alia udah lahiran?”
“Udah,” jawab Saka dan Keven serentak.
“Malam di hari kamu sidang skripsi, Alia melahirkan,” ucap Keven lagi melanjutkan perkataannya. Menyerobot tanya yang sebenarnya ditujukan untuk Saka.
“Jadi ini …,” ucap Yuki menggantung. Tangannya menunjuk ragu pada bayi yang sudah tertidur dalam gendongan Nita.
“Anak aku,” ucap Saka cepat, menyauti kalimat terjeda Yuki sambil menyikut Keven yang kini sudah melotot tajam.
"Oke, aku paham sekarang." Angguk Yuki cepat. Detik berikutnya ia berkata sambil meminta izin pada Saka, "Nita harus ikut aku pulang. Jadi aku mohon Mas Saka izinin anak Mas Saka kami bawa. Dari pada dia nangis lagi, lebih baik untuk sementara sama kami."
"Oke. Kirimin aku alamat tempat tinggal kamu yang sekarang. Nanti aku datang sama pengasuhnya Angga."
"Nanti aku kirim. Sekarang lebih baik kami pergi dulu."
“Biar aku antar kamu,” tawar Keven tanpa bisa menyembunyikan senyum sumringah. Laki-laki itu bahkan sudah mengeluarkan kunci mobilnya.
“Nggak perlu, Mas. Tadi aku udah minta Mas Dion antarin pulang,” kilah Yuki menolak tawaran Keven. Reflek memudarkan senyuman Keven yang kini kembali menyadari masih ada laki-laki lain bersama Yuki.
“Kamu jadi ngojek sama aku?” celetuk Dion dari arah belakang yang sengaja menyindir Yuki. Pasalnya sejak awal Yuki sudah menolak untuk Dion antarkan pulang. Namun apa yang Yuki ucapkan barusan seolah keduanya sudah memiliki kesepakatan sedari awal.
__ADS_1
Meraba tengkuknya, Yuki menjawab kikuk, “i-iya, ja-di.”
"Udah, ayo ..." lanjut Yuki berucap sembari merangkul bahu Nita. Berjalan pelan beberapa langkah menghampiri Dion yang sejak tadi menjaga jarak.
Tanpa kata pula sebelah tangan Yuki yang terbebas merangkul lengan Dion. Berpikir ingin secepatnya berlalu ke mobil dan menghilang dari pelataran butik yang saat ini mulai ditutup kembali.
Pemandangan yang sejatinya tidak mesra itu sukses membuat kepala Keven ingin meledak, mata terbelalak dengan pupil melebar. Praktis rahang Keven mengeras seiring umpatan lirih terbebas dari bibir yang kini terkatup rapat. Bahkan gemeretak gigi geraham Keven yang saling bergesekan seakan bisa Saka dengarkan dengan jelas.
Sedangkan di dalam mobil yang saat ini tengah melaju, Dion sesekali melirik Yuki sambil mengulum senyuman menahan kekehan.
“Pacar kamu?” tanya Dion sebagai jawaban atas sorot bingung dan kernyitan halus yang menghiasi dahi Yuki.
“Dia bukan pacar aku.”
Mengangguk singkat, Dion kembali bertanya, “gebetan, ya? Kelihatan banget cemburu.”
“Dia mantan suami aku.”
“Oh …." Angguk Dion lagi, namun detik berikutnya ia melotot tidak percaya. "What?! Serius?”
“Hm … Iya, baru cerai. Aku ini jamu alias janda muda. Bukannya dulu aku pernah bilang kalau udah nikah?”
“Ah, iya. Bener, udah pernah. Tapi aku kira candaan.”
“Cih, candaan apaan kalau Mas Dion tanggapi serius?”
“Nggak juga deh.”
“Mas Dion kan waktu itu juga bilang udah punya tambatan hati sendiri.”
“Aku bilang gitu?” Memiringkan kepalanya, Dion masih fokus menatap lurus jalanan yang dipadati kendaraan bermotor.
“Aku ini peka ya …,” jawab Yuki sembari mengibaskan rambutnya. Jelas Yuki tau siapa yang Dion maksud sebagai tambatan hati itu.
"Yang nggak pernah peka itu ya orang yang kita sukai, benar, kan?" balas Dion sambil menyugar rambutnya.
"Bener," jawab Yuki singkat.
Lain obrolan yang Yuki dan Dion lakukan, Nita hanya diam menyimak. Berbeda pula dengan mobil yang mengekor di belakang. Hawa panas dan aura negatif benar-benar terasa membakar sosok Keven yang belingsatan kalang kabut memikirkan segala kemungkinan yang ada.
Bahkan tidak berkurang sedikitpun kala melihat Dion sudah berlalu pergi setelah mengantar Yuki. Pasalnya adegan selfie keduanya yang dibumbui tawa masih terekam jelas. Padahal tawa itu hadir karena foto yang terburu-buru berakhir blur, menghasilkan visual yang terlihat aneh tepat di wajah Yuki saja.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti kisah Yuki🥰