Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kegusaran Keven


__ADS_3

Ceklek.


Melangkah masuk ke dalam kamar yang temaram, Keven menapakkan kakinya perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang mampu mengusik Yuki. Tubuh yang meringkuk di atas ranjang hanya Keven pandangi. Dadanya seketika berdesir ngilu mengingat perkataan Saka.


Entah apa motif yang Yuki pikirkan sehingga diam-diam merekam pembicaraan Alia dan Keven. Sejauh ini Keven masih belum ingin mencari tau apa yang sebenarnya Yuki rencanakan. Pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana Yuki merekam pembicaraan yang berakhir di tangan Saka benar-benar Keven pendam.


Keven sempat ingin meluapkan amarah karena sikap Yuki yang terlalu lancang. Bukan karena pembicaraannya dengan Alia diketahui Saka, namun tindakan Yuki yang selayaknya stalker sejak dulu benar-benar mengganggu privasi Keven. Akan tetapi saat Keven mendengar tawa Yuki yang baru kembali mengisi ruang keluarga seketika luntur emosinya yang membludak.


Mengalah pada ego dan justru mencuri pandang memerhatikan dari jauh Yuki bersama Mama Agni. Ruang keluarga itu riuh dengan kehebohan Mama Agni menceritakan salah menaruh belanjaannya di keranjang orang lain saat beberapa waktu lalu berbelanja. Seulas senyum simpul yang akhir-akhir ini ikut menghilang dari bibir Keven kembali muncul ke permukaan.


Keven sadar karena rekaman yang tidak tau maksud dan tujuan apa Yuki ambil akhirnya dirinya dan Saka bisa mulai menyelesaikan segala kesalahpahaman secara perlahan. Menguak tabir kepribadian Alia yang tidak stabil. Namun di samping itu dirinya memang pantas disebut pengecut. Saking pengecutnya, entah karena kesal atau malu pada Yuki, Keven lebih memilih menghindar.


Hubungan keduanya merenggang, baik Yuki maupun Keven tidak ada yang berusaha mendekat. Yuki terlihat acuh meski terus melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Keven juga jarang pulang ke rumah dan lebih memilih bertahan di ruang kerja restoran semenjak pertemuan terakhir antara dirinya dan Saka. Sibuk, hanya itu alasan Keven.


Tentu Yuki tau dan sadar pada semua perubahan sikap Keven, namun hanya diam dan mengamati sampai sejauh apa Keven ingin bertahan. Mati rasa, mungkin itu yang perlahan menggerogoti Yuki.


Rumah tangga yang katanya milik mereka, namun untuk menyebut kata ‘kita’ saja lidah Yuki kelu. Bukan tidak sanggup, tapi lebih pada layakkah jika Yuki menyatukan dirinya dan Keven dalam sebuah kata dengan makna mendalam yang terkesan sepele.


Kita yang diagungkan antara dua insan yang bersatu nyatanya belum bisa sekedar terisi oleh kehadiran dirinya dan Keven. Bahkan Yuki yakin hingga saat ini tidak ada sedikitpun tentang Yuki yang Keven ketahui. Pastinya selain keluarga berantakan yang belum lama terungkap.


Menyatukan jari-jemari menenangkan diri dan mengurai ketidaknyamanan, Keven duduk di tepi ranjang berseberangan dengan posisi Yuki menenggelamkan diri di balik selimut. Gusar dan resah yang sulit untuk Keven urai terus-menerus menghantui.


Selain itu tidak pernah Keven sangka masalahnya dengan Saka hanya salah paham dan semua itu tidak lain ulah Alia. Entah apa tujuan Alia sebenarnya, kepala Keven pusing hanya untuk memikirkan hal itu.


“Aku harus gimana sama kamu sekarang?” Gumam Keven lirih, matanya menatap lekat punggung Yuki yang tertutupi selimut.


Sekarang Keven menyadari bahwa Yuki selalu memperlakukannya dengan cara berbeda. Penuh perhatian dan kasih sayang, hanya Keven saja yang terlalu tutup mata enggan menggubris segala tingkah polah Yuki yang dianggapnya mengganggu dan hanya sengaja menarik perhatiannya.

__ADS_1


Kini kedua manusia itu bagai orang asing yang terpenjara dalam bilik yang sama. Terikat dalam ikatan suci yang sejak awal sudah diuntai dengan noda kebencian, ketidakrelaan dan paksaan sepihak.


Aneh tapi nyata, yang mencintai justru terpaksa terikat dalam pernikahan berupa status semata. Sedangkan yang selalu menolak memanfaatkan ketulusan cinta dan mengikat paksa dengan rasa yang seolah paling tersakiti. Kini mereka bukan saling mengikhlaskan, namun mencoba terbiasa seolah hanya terkurung bersama.


Haruskah kini dirinya melepas Yuki? Namun bagaimana jika semua ini berbalik menyerangnya karena Saka juga baru berpisah dengan Alia? Sanggupkah ia membiarkan Yuki pergi dengan jiwa yang semakin terpuruk karenanya? Begitu terus Keven berputar-putar pada tiga pertanyaan yang membuatnya mual.


...----------------...


“Kamu besok masih libur?” Tanya Keven saat Yuki sibuk mengaduk secangkir kopi susu panas.


“Iya.” Angguk Yuki menjawab dengan terus terfokus pada cangkir di hadapannya.


“Ikut aku.”Ujar Keven gugup yang memasang raut wajah datar seperti biasanya. Hanya dua kata tanpa makna, namun Keven malah berdebar tidak karuan, mungkin ia perlu segera bertemu Dokter spesialis jantung.


Gerakan tangan Yuki berhenti, menolehkan kepalanya dengan dahi yang mengerut dalam dan alis nyaris tertaut. “Pergi ke mana?” Ucap Yuki bertanya pada Keven.


“Survei lokasi untuk restoran aku.” Jawab Keven sembari melangkahkan kakinya menjauh dari Yuki. Mendudukkan dirinya di kursi meja makan dengan layar ponsel yang digulir asal.


“Daerahnya dekat dengan pantai, kamu pasti paham.” Memberi tatapan tidak ingin dibantah, Keven berucap cepat dengan tatapan lekat pada Yuki yang sudah mendekat membawa kopi susu andalan buatannya untuk Keven.


Tak.


“Terserah deh.” Ucap Yuki sambil meletakkan cangkir kopi susu itu di meja depan Keven.


“Awas, panas! Pakai ini!” Ucap Yuki lagi saat Keven hendak menyeruput langsung. Mengacungkan sendok kecil yang sebelumnya digunakan untuk mengaduk.


“Kamu gak makan?” Tanya Keven saat hanya sepiring nasi untuk dirinya yang Yuki hidangkan. Sedangkan Yuki memilih duduk di kursi berseberangan setelah menyajikan sarapan untuk Keven sambil menelungkup kan wajahnya.

__ADS_1


“Gak. Nanti aja kalau mau.” Jawab Yuki dengan kepala menunduk dan menempel di atas lengan yang terlipat. Yuki sedang tidak berselera makan dan dirinya hanya perlu menemani Keven sarapan.


Telur ceplok dan tumis bayam, hanya dua menu yang Yuki masak selain nasi tentunya. Di rumah besar itu hanya ada Yuki dan Keven. Sejak kemarin Mama Agni dan Papa Leigh pergi ke rumah sanak saudara dari pihak Papa Leigh untuk ikut merayakan kelahiran anak dari sepupu Keven.


Hanya Keven mungkin yang tidak hadir karena mengatakan pekerjaannya tidak dapat ditinggalkan. Dan Yuki tentu saja memilih tetap tinggal dengan alasan menemani sang suami. Akan sangat canggung jika dirinya ditanya kapan menyusul punya momongan tanpa Keven yang mendampingi, meski mau ada atau tidaknya Keven sudah dapat dipastikan Yuki yang akan tetap menerima kalimat nyinyir layaknya petuah.


Siapa bilang perempuan selalu benar? Bagi Yuki tetap saja ada masanya perempuan selalu salah jika berhubungan dengan hal sensitif seperti ini. Apalagi dari yang Yuki dengar salah satu kerabat Keven ada yang baru saja mengumumkan perihal kehamilan, padahal pernikahan Yuki dan Keven lebih dulu dilangsungkan.


“Aku berangkat dulu. Kamu hati-hati. Jangan sembarangan buka pintu.” Ucapan Keven yang layaknya perintah terdengar lembut di telinga Yuki. Cukup mengejutkan hingga Yuki terbengong dengan kerjapan kilat seakan buru-buru mencerna situasi seperti apa yang sedang dihadapinya.


“Kalau kamu mau pergi, kabari aku dulu. Aktifkan terus ponsel mu.” Ucap Keven lagi, berdiri menyerong menghentikan langkahnya di ambang pintu yang terhubung dengan teras luar.


Mengangguk malas tanpa menjawab, Yuki menghembuskan kasar nafasnya. Mengedarkan pandangan ke segala arah, menghindar dari tatapan mata Keven. Tidak dapat dipungkiri sorot mata Keven selalu tajam dan membuat Yuki tidak nyaman bila membalas tatapannya.


“Jawab Yuki! Kamu dengar kan?” Ucap Keven yang mendadak ketus. Ia tidak suka jika lawan bicaranya bersikap acuh saat dirinya benar-benar serius dengan ucapan dan kekhawatirannya.


“Iya-iya, dengar kok.” Ucap Yuki dengan bibir cemberut dan mata mendelik. Masih pagi tapi Keven sudah marah. Menyesal Yuki percaya pada pendengarannya yang sedang konslet karena bisa menangkap suara Keven yang melembut. Sungguh sangat tidak mungkin.


...****************...


*


*


*


Sedalam apa makna 'KITA' untuk yang sudah punya pasangan?😄

__ADS_1


Buat yang belum punya pasangan ayo kita berpelukan dengan bantal😂


Terima kasih udah suka sama kisah Yuki🥰


__ADS_2