
Agenda foya-foya ala dompet tipis 2 orang mahasiswi yang gila-gilaan berhemat gagal total. Tidak ada es buah rumput laut yang diharap bisa menjadi penyegar dahaga, apa lagi batagor dan mpek-mpek dengan siraman cuko dan timun dicacah. Kedua gadis itu hanya bisa saling mengirimkan isyarat lewat tatapan mata yang terkadang bak adegan penyamaran detektif, atau bahkan penjahat kelas teri.
“Mama harap kamu bisa mempertimbangkan lagi keputusan kamu.”
“I-iya, Ma,” sahut Yuki gelagapan. Hampir saja dirinya salah fokus pada bibir berkomat-kamit Ara, berkata tanpa suara yang entah apa yang ingin disampaikan.
“Oh iya, teman kamu mana? Ajak ke sini Mama belikan makanan. Pesan buat dibungkus bawa pulang sekalian.”
“Iya, Ma … Ra, sini!” ucap Yuki menurut pada Mama Agni, detik berikutnya berlanjut memanggil Ara disertai lambaian tangan.
“Gabung makan sini, Dek. Maaf ya Tante pinjam sebentar menantu kesayangan Tante ini," ucap Mama Agni pada Ara sembari menepuk pelan bahu Yuki. Kasih sayang itu benar-benar nyata, pantas saja Yuki sampai dilema, bahkan katanya mampu bertahan selama ini berkat ketulusan sang mertua.
“Iya, Tante, gak apa-apa kok,” ucap Ara lembut, tersenyum kaku dengan kepala mengangguk singkat. Cukup canggung untuk masuk dalam lingkaran keseriusan yang masih sangat terasa di antara Mama Agni dan Yuki.
Tidak jauh berbeda dengan Ara, Yuki juga menampilkan senyum tipis, namun di bawah sorot mata yang kosong. Pupil matanya seakan berlubang, dirongrong oleh pikiran yang berkecamuk. Saking linglungnya Yuki, aroma soto babat dengan potongan besar tomat segar seakan gagal membuka segel indera penciumannya, padahal sudah diketuk atau malah didobrak kuat sedari tadi. Entah karena tertekan, tidak lapar atau memang hidangan itu kurang menggugah selera.
...----------------...
Menghabiskan waktu berhari-hari berjibaku dengan skripsi. Bekerja paruh waktu sebagai asisten dosen. Lalu menikmati sisa kesendirian di penghujung hari hanya untuk memejamkan mata, sekedar mengistirahatkan tubuh dan beban pikiran yang menumpuk. Siapa yang bisa menyangka jika Yuki sudah mengantongi izin sidang skripsi? Tidak ada, bahkan Yuki sendiri tidak percaya jika 2 hari yang lalu dirinya sudah mendistribusikan undangan sidang untuk para Dosen penguji dan pembimbing.
Kini dengan jantung berdebar Yuki menanti dengan gelisah hasil sidang skripsi, tentu bukan miliknya, melainkan Ara yang memiliki jadwal sidang 2 hari lebih cepat dari Yuki. Sedangkan Yuki masih diberi kesempatan untuk menghitung mundur sambil terus memperkaya pengetahuan terkait bidang penelitiannya. Sama seperti yang terjadi pada Dimas, laki-laki itu mendapat giliran pada minggu depan, tepatnya hari senin pukul 8 pagi.
“Gagal deh kita wisuda bareng,” celetuk Dimas.
"Kemana Cuit yang songong? Kok pesimis? Bisa-bisa ... Tenang aja. Kalau gak bisa masih ada semester depan."
"Sama aja kali gak bisa kalau gitu," sungut Dimas, bibirnya mencebik dengan mata mendelik sebal.
"Lagian pesimis banget. Udah bisa sampai sidang itu tinggal dikit lagi. Yakin aja. Kata pembimbing mu juga gak masalah kan buat dilanjutin?"
"Memang ... Pusing aku. Udah dari awal susah lagi mau bimbingan."
“Dosen terlalu sayang ya gitu, jadi diperlambat biar bisa ketemu lebih lama lagi.” Terkekeh Yuki melontarkan kalimat sarkas itu dengan santai. Ia kemudian menyandarkan punggung ke kursi panjang yang diduduki. Melipat lengan di bawah untaian kalung besar dari puluhan permen lollipop seribuan sambil memejamkan mata. Sedetik berikutnya Yuki menahan mulut yang ingin menguap dengan mengatup rapat bibirnya. Alhasil pipi Yuki menggelembung besar dengan lubang hidung membulat lebar. Ia tidak terlalu peduli jika ada yang menyaksikan.
__ADS_1
Gadis itu mengabaikan sejenak fakta sidang putusan cerai yang akan berlangsung sehari setelah sidang skripsinya. Dua momen bersejarah yang harus dihadapi dalam waktu berdekatan. Keduanya sama-sama akan merubah status Yuki, sebagai seorang calon wisudawati serta janda kembang, kecuali jika skripsinya gagal dan gugatan cerai itu dibatalkan.
Ceklek.
Suara knop pintu dibuka bersamaan derap ketukan sepatu pantofel menarik atensi Yuki. Secepat kilat Yuki berdiri, menyambut Ara yang berseri-seri. Wajah datar sahabat Yuki itu sirna, terganti binar aura positif dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas. Merekah bak bunga matahari yang baru mekar.
“Gimana-gimana?” tanya Yuki memberondong, telapak tangannya sudah menempel di lengan Ara yang terbungkus kemeja putih berbalut jas hitam. Diguncang perlahan dengan gemas sambil memasang raut penasaran yang menuntut.
“Udah senyum selebar parabola gitu gak perlu ditanya juga udah jelas, Kicot!” seloroh Dimas sambil merotasi matanya jengah. Menurut Dimas, Yuki terlalu lebay. Padahal sejujurnya Dimas sendiri juga tidak kalah kepo dari Yuki, tapi ia jelas lebih terlihat biasa saja.
Mendengus sebal mengabaikan ucapan Dimas, Yuki melepas untaian permen lollipop yang seperti kalung besar dari lehernya. “Selamat ya Ara udah berhasil sampai sini. Semoga aku cepat nyusul,” ucap Yuki sembari memindahkan kalung lollipop itu melingkari leher Ara.
“Gaya-gaya berharap semoga cepat nyusul, lusa kan kamu seminar, Ki!” ucap Dimas ketus.
“Merusak suasana banget sih, Dim! Ini tuh yang namanya basa-basi belaka.” Mendelik sebal, Yuki melirik Dimas sinis.
“Jadi gimana, Ra?” tanya Yuki lagi pada Ara. Binar mata Yuki tidak dapat berbohong bahwa dirinya ikut bahagia atas pencapaian sang sahabat.
“Berhasil,” jawab Ara singkat dengan nada puas, mengangkat map oren berisi berkas persetujuan dari para Dosen pembimbing dan penguji. Ia benar-benar merasakan kemenangan atas perjuangan yang sempat membuatnya ingin menyerah.
“Akhirnya perjuangan aku tinggal sebentar lagi,” ucap Ara masih dengan senyum sumringah.
Mengikuti Ara yang duduk di kursi panjang sambil memasukkan beberapa jilid proposal penelitian yang sudah dicoret sana-sini selama revisi, Yuki sejenak melebarkan daun telinganya. Berusaha menyaring suara-suara gaduh familiar yang tertangkap radar indera pendengaran, telinga Yuki benar-benar terlatih menangkap gosip teraktual.
“Apaan sih kok rame-rame?” tanya Yuki penasaran pada dirinya sendiri. Ia lantas celingukan sambil memicingkan mata, memindai segala penjuru untuk menemukan sumber bisik-bisik bersautan yang mengusik pendengaran.
“Astaga Ara!!” pekik Yuki tertahan, namun bukan suara Yuki yang membuat Ara geram, akan tetapi guncangan seenaknya di bahu hingga membuat kepala Ara seakan terombang-ambing tidak jelas di udara.
“Yuki udah! Pusing aku,” keluh Ara sambil mencengkeram pergelangan tangan Yuki.
Menghela nafas perlahan, Ara menatap bingung pada Yuki yang tersenyum penuh makna. Mengernyit heran, Ara bertanya sambil memiringkan kepala, “kenapa?”
“Liat itu!” Tunjuk Yuki dengan mengedikkan dagunya ke kanan, namun matanya tetap menatap lekat pada sepasang pupil mata Ara.
__ADS_1
“Apaan sih ….” Menggeleng jengah, Ara mengabaikan kode keras Yuki dan kembali fokus pada lembaran di pangkuannya. Otak Ara terlalu penuh dengan banyak hal yang sudah direncanakan kedepannya.
“Lama!” Tiba-tiba Dimas dengan tidak sabaran memegangi kepala Ara, memutar wajah gadis yang sontak terkejut guna menatap seseorang yang juga terbelalak kaget serta kesal atas perlakuan Dimas pada Ara.
“Mas Rava?” lirih Ara penuh tanya, ia segera menepis tangan Dimas dan beranjak dari duduknya. Seketika wajah muram yang memberi sorot mata dingin pada Dimas itu berubah cerah, namun tetap menyisakan aura permusuhan yang seakan sedang menguliti Dimas.
“Katanya gak bisa datang, kenapa datang?” tanya Ara yang masih belum juga sadar jika Rava sedang memberinya kejutan.
Sepasang kaki jenjang kedua manusia berlainan jenis itu bergerak perlahan mendekati kursi panjang, lantas juga semakin mendekat pada Dimas dan Yuki yang berdiri diam di tempat, memperhatikan interaksi manis yang tidak mengejutkan lagi.
Tersenyum tanpa menjawab, Rava menyodorkan buket bunga yang sudah sedari tadi ada dibawanya. “Selamat ya, Sayang ... Kamu berhasil.”
“Sayang nya Mas hebat banget sih ...,” ucap Rava lagi seraya mengulurkan sebelah tangannya yang kosong mengusap puncak kepala Ara. Sangat kentara kasih sayang dan cinta Rava untuk Ara hingga membuat beberapa pasang mata yang melihatnya iri, termasuk Yuki yang seketika ingin menangis membayangkan kisah cintanya yang miris.
“Jangan iri,” bisik Dimas tepat di samping daun telinga Yuki.
“Sotoy!” ketus Yuki.
“Matamu keliatan banget lagi halu romantis-romantisan tapi mendadak anjlok gak kesampaian," kekeh Dimas mengejek Yuki tanpa beban, ia bersikap santai seakan sama sekali tidak berdosa. Bahkan membohongi denyut perih yang selalu sukses dikuburnya.
...****************...
*
*
*
Ada yang suka alur detil, alur lambat, ada pula yang gerak cepat. Jadi kalau ternyata gak cocok sama tulisanku silakan di skip😄 Terima kasih banyak untuk semuanya yang pernah menikmati kisah Yuki😘
Untuk UP yang gak teratur dan semakin LDR antara up yang satu ke yang lain, aku cuma bisa minta maaf🙏 Karena memang gak bisa aku paksa selesaikan walau sebisa mungkin aku terus nyicil nulis di setiap kesempatan😁 (Banyak alasan kali lah aku ini😂)
Jujur aja menulis ini mulanya sarana aku self healing, makanya gak 'ngoyo' atau ngotot kejar target penulisan. Ada yang baca syukur, nggak ya buat koleksi sendiri aja😄 Aku hanya mencari ketenangan lewat halu yang disalurkan😅 (Iklan curhat sebentar)
__ADS_1
Ok sekian ...
Terima kasih semuanya yang masih bertahan mengikuti kisah Yuki😘