Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Gelisah Galau Merana


__ADS_3

Tuk.


Tuk.


“Sstt..!!” Mendelik sebal Dimas pada suara berisik yang Yuki timbulkan. Memang hanya bunyi ketukkan ringan, namun sudah berulang kali dan terkadang disertai dengusan serta gerutuan tidak jelas.


“Berisik..!” Ucap Dimas lirih dengan kepala tertunduk, bisa gawat jika dirinya terlihat seolah mengobrol di jam kelas.


Lebih baik jika langsung didepak. Tapi percayalah yang bahaya adalah disuruh menjelaskan ulang materi yang sudah disampaikan. Menyangkut setengah saja di otaknya sudah harus bersyukur, jelas bisa kelabakan Dimas jika harus menjelaskan kembali semua materi itu.


Mengacungkan jari telunjuk ke depan bibirnya, Dimas mendelik saat Yuki ingin menyanggah ucapannya. “Sstt.. Diam!” Gumam Dimas yang hanya mampu terdengar oleh Yuki di sisi kiri, seseorang di sisi kanan dan satu orang lagi yang duduk di depan Dimas.


Mencebikkan bibirnya, Yuki menatap sekilas pada layar infocus dengan tidak bersemangat. Selain materi yang terkesan membosankan, ada sesuatu yang sudah Yuki tunggu sejak beberapa hari yang lalu.


Iya, pesan dari Saka. Sungguh rasanya ingin mendatangi restoran itu untuk bertanya status lamarannya diterima atau tidak. Semalaman kurang tidur hanya karena berdebar gugup, rupanya esoknya harus berlanjut dengan debaran gelisah yang hingga kini justru semakin membuncah.


Ini baru lamaran kerja ke restoran, belum lamaran cintanya yang diutarakan. Memikirkan hal itu sudah membuat Yuki ingin membenturkan kepalanya agar bisa terbelah dan mengisinya dengan bongkahan es batu. Panas otaknya seakan mendidih dan berasap.


Melirik ke sisi kirinya, tampak Ara sedang fokus dengan penjelasan yang jelas tidak ia mengerti. Kerutan di dahinya semakin dalam dengan bibir bawah yang tiba-tiba digigit gemas. Tunggu saja sebentar lagi, pasti ada yang mengacungkan tangan dan akan memulai sesi tanya jawab yang bisa menggemparkan.


Tentu saja menggemparkan seisi kelas yang mulai gugup bila ditunjuk tiba-tiba untuk mencoba menjawab pertanyaan Ara. Memang dasar Ara yang tidak peka dan perhatian pada sekitarnya, ia pasti tidak sadar sudah banyak pasang mata yang menatapnya tidak suka.


“Pak..” Nah kan benar.


Suara Ara menginterupsi penjelasan seorang Dosen yang justru tersenyum senang mendapati keaktifan mahasiswanya. Pasti sejak tadi Bapak Dosen itu cukup bosan berbicara seorang diri tanpa ada yang menanggapi ocehannya.


Sedangkan Yuki sudah menggunakan matanya untuk berkeliling memindai. Mengulum senyuman menahan tawa gelinya, rupanya Dimas ikut menenggelamkan wajah berpura-pura fokus mencatat materi yang tertera di layar infocus.


“Cuiit takut..” Bisik Yuki mengejek Dimas yang kembali mendelik sebal.


Ternyata tindakan Ara cukup mengalihkan kegundahan Yuki. Meski jelas tidak dilakukan dengan sengaja.

__ADS_1


...----------------...


Saat ini sudah menunjukan pukul setengah tiga menjelang sore dan baru saja jam perkuliahan siang mereka selesai, tentunya diakhiri dengan perdebatan ringan seputar tanya jawab dari pertanyaan Ara yang cukup menyita waktu.


“Yuukkiii.. Pinjam catatan.” Ucap Ara sambil menengadahkan tangannya di hadapan Yuki, tersenyum lucu dengan mata mengerjap sok imut.


Inilah kebiasaan Ara, jangan kira Ara ingin menyalin catatan Yuki. Salah besar. Ara yang malas mencatat akan melakukan jurus menggandakan catatan Yuki lewat fotokopi, bermodal 300 rupiah dalam setiap helai lembaran kertas.


“Mana nyatat bocah ini, Ra.” Celetuk Dimas sambil mendudukkan dirinya pada kursi panjang berbahan stainless, ada empat dudukan dalam satu rangkaian kursi bercat hitam itu.


Mengernyit heran, tampak Ara menatap lekat Yuki yang sibuk memandangi ponselnya yang masih setia tidak menampilkan apapun selain layar hitam. Menghembuskan nafas panjang dalam kebingungan, Ara melipat tangannya, melirik pada Dimas yang memejamkan mata dengan kepala mendongak. “Tumben, kenapa?”


“Gegana dia tuh.” Jawab Dimas cukup lirih yang masih memejamkan mata.


“Gegana apaan?” Tanya Ara.


“Gelisah galau merana, masa gituan aja gak tau.” Jawab Dimas lagi, kali ini ia sudah membuka matanya dan menatap remeh Ara yang masih terus berdiri di hadapan Yuki.


“Aaarrgghh..” Teriak Yuki tiba-tiba sambil mengacak rambutnya.


Terperanjat kaget Ara dan Dimas langsung spontan menjauhkan badan ke arah samping secara berlawanan. Ara dengan tangan kirinya yang digunakan menopang badan, sedangkan Dimas dengan tangan kanannya bertumpu pada pegangan kursi.


“Yuki!!” Geram Ara sambil mendengus kesal dan memukul pelan lengan Yuki.


“Kenapa sih Ki? Kalau kebelet sana buruan pergi, jangan diam-diam bau di sini.” Ujar Dimas ketus, kesal dan nyolot.


“Berisik deh, Dim! Bikin tambah pusing!” Balas Yuki berujar sengit pada Dimas sambil menyipitkan mata, menatap sinis hingga seakan ingin mengiris.


“Udah dia yang dari tadi berisik, sekarang nyalahin orang lain.” Ucap Dimas tidak terima, menyenggol lengan Yuki sambil mengangkat dagu menuntut sebuah penjelasan dari perkataan yang akan diucapkan. “Ada apa? Kelilit hutang kredit tas? Dikejar-kejar dept collector?”


Memutar bola matanya malas, Yuki melirik jengah pada Dimas disertai hidung dan dahi yang mengerut. “Ya kali tas 30 ribu ngutang.”

__ADS_1


“Siapa tau iseng.” Jawab Dimas acuh sambil mengangkat bahunya sekilas.


“Gak usah ngaco deh.” Ujar Yuki dalam intonasi rendah, giginya terkatup rapat seakan gemas ingin mengunyah Dimas hidup-hidup. Berbeda dengan Ara yang hanya mampu menggelengkan kepalanya.


“Mungkin aja kan kamu lelah sama hidup yang gitu-gitu aja. Cari sensasi dan mau jadi terkenal lewat hutang tas, bukan sosialita, tapi sok sial.” Imbuh Dimas sembari menggoyangkan badannya seolah ada irama musik yang mengiringi.


“Sadar Dimas! Jangan kebanyakan berandai-andai gak jelas.” Tutur Yuki ketus, merebahkan punggungnya kasar pada sandaran kursi hingga menimbulkan bunyi berdencit.


“Hish! Belum dikasih kabar juga.” Gumam Yuki tiba-tiba dengan raut wajah sedih dengan bibir mencebik. Menarik nafas panjang yang seakan menahan isakan tangis, Yuki sudah seperti ratu drama.


“Apaan?” Tanya Ara dengan penasaran. Mengintip sekilas pada layar ponsel Yuki yang hanya menampilkan wajah tersenyum Yuki dan tampilan jam digital.


“Belum ada notif deal dari tas yang aku pesan.” Kilah Yuki berbohong, membalikkan posisi ponselnya dalam keadaan layar menempel di paha berlapis celana bahan kain berwarna coklat susu. Bukan apa-apa, hanya saja Yuki belum siap mengutarakan niat mengejar ksatria tampan yang mampu menyemaikan rumput-rumput liar yang hampir layu di hidupnya.


“Kan bener, gak jauh-jauh deh itu dari ngutang tas lagi.” Seloroh Dimas mencibir Yuki.


“Aku gak pernah ngutang ya!!” Pekik Yuki tidak terima sambil menendang sisi luar kaki kiri Dimas yang terlindung sepatu bertali.


“Iya-iya, nyicil aja.” Ucap Dimas sekenanya yang ingin Ara bungkam. Seakan mencari sumber penyakit Dimas tidak ingin mengalah melawan perdebatannya dengan Yuki.


“Aku bayar kontan ya.” Ucap Yuki membela dirinya, beranjak dari duduk dan berkacak pinggang di hadapan Dimas. Sekali lagi Yuki menendang ujung kaki Dimas yang terlapisi sepatu, ia juga kembali mengeluarkan suara, namun kali ini dengan intonasi yang lirih. “Kalau pakai voucher diskon baru bener.”


...****************...


*


*


*


Cuma mau bilang, kilas balik ini akan cukup panjang~~

__ADS_1


__ADS_2