
Panas terik menyengat setiap lapisan kulit yang tidak tertutupi helaian kain. Menggelap dan memerah terbakar kulit yang tadinya mulus. Sebagian lagi membentuk jejak selayaknya sarung tangan yang tampak kusam serta kering.
“Asli temen-temen laknat …,” geram Yuki seraya mengusap lelehan keringat di dahi, pelipis hingga turun ke lehernya. Berjongkok terengah-engah mengatur nafas yang tidak bisa dikondisikan lagi. Pandangan yang mulai samar dengan mata menyipit menahan tusukan semu menyakitkan di ubun-ubun.
Sejurus kemudian Yuki kembali mengangkat sekardus air mineral kemasan gelas. Tertatih memburu langkah kecilnya agar segera sampai ke tenda peristirahatan khusus peserta KKN.
Seiring kakinya menapak segala umpatan Yuki lontarkan tanpa tau ditujukan kepada siapa. Jujur saja, bukan masalah beratnya beban sekardus air minum itu yang Yuki sesalkan, namun sikap teman-temannya yang sangat terlihat lepas tangan. Apa lagi ditambah dengan tubuhnya yang lelah kelewat remuk di bawah terik matahari siang itu rasanya ingin sekali ditukar tambah dengan suku cadang lainnya bila ada.
Brugh.
“Argh! Ssshh ….” Pekikan disertai desisan terucap lirih dari bibir Yuki yang meringis. Sembari memangku kardus ditangkupnya kedua tangan ke wajah. Sengaja Yuki menghempaskan bokongnya tanpa meletakkan kardus utuh itu terlebih dahulu. Namun tidak pernah Yuki sangka tulang duduknya akan membentur kasar tanah yang keras di balik terpal yang terbentang.
Kini bukan hanya punggungnya yang sakit saat dirinya membungkuk, tapi bokongnya juga ikut berdenyut saat dibawa duduk. Benar-benar kesialan beruntun, namun kali ini salahnya sendiri yang kurang pertimbangan.
“Loh kok di sini, Ki? Bukannya anak-anak udah pada kumpul buat makan ya?”
“Mata mu kumpul makan!” ucap Yuki sewot tanpa ingin menatap lawan bicaranya. Tubuhnya sudah berbaring terlentang, namun tetap dengan sekardus air mineral yang dipangku di atas pahanya.
“Hii … Serem banget yang sewot. Ini kenapa lagi pakai ditimpa beban? Mau latihan kebugaran?”
“Sumpah berisik banget mulut mu, Ron! Ambil cepetan kalau tau jadi beban!!”
“Iya-iya … Bawel banget, Ki.” Bergegas meletakkan kardus minuman itu di atas meja kayu, Aron berkacak pinggang sembari berkata, “kamu gak kelaparan, Ki? Anak-anak lainnya udah pada ngambil makanan dari panitia.”
“Gak kuat aku buat berdiri lagi. Kepala aku sakit banget. Mata berkunang-kunang. Badan udah kayak baling-baling bambu yang mutar-mutar gak jelas.” Mengibaskan tangannya, racauan lirih Yuki terdengar samar di pendengaran Aron.
Berjalan mendekat, Aron mengarahkan punggung tangannya menyentuh kening Yuki. Telapak tangan tebal dan kokoh itu seakan tersengat panas bara api. Pantas saja wajah Yuki memerah namun dengan bibir semakin memucat.
Berlari tergesa-gesa, Aron mendatangi posko kesehatan sebagai pusat pelayanan gratis yang sedang diselenggarakan serentak oleh pihak Provinsi, salah satunya di Kecamatan itu.
“Ayo, Dok … Teman saya kayaknya pingsan,” ucap Aron yang sudah terlanjur panik hingga melebih-lebihkan informasinya. Berlari tergesa bersama seorang Dokter tanpa snelli yang sudah menenteng sebuah tas medis.
“Ron, kenapa?” tanya Ismi saat Aron melewatinya begitu saja.
“Itu si Yuki pingsan …,” pekik Aron sambil menunjuk ke arah tenda peristirahatan mereka. Sedetik kemudian mulutnya terbuka berkomat-kamit tanpa suara, entah apa yang ingin disampaikan.
__ADS_1
Jelas saja hal itu membuat Ismi yang belum terkoneksi dengan informasi yang Aron sampaikan mengernyit heran, terpaku memutar otak menerjemahkan makna yang berusaha dirangkainya.
Membekap mulutnya yang menganga, Ismi terbelalak saat menyadari bahwa Aron sempat mengatakan Yuki pingsan. Sontak saja kaki rampingnya langsung menghentak kasar dalam langkah lebar mengejar Aron yang hampir menghilang ke dalam tenda bersama seorang Dokter.
Sedangkan di dalam tenda Yuki dibopong agar berbaring di tempat yang lebih layak. Tetap di atas terpal yang terbentang di atas tanah, namun dengan bantalan kepala dan sepatu yang sudah dilepaskan.
Sejenak Yuki dapat merasakan tubuhnya melayang dan merasakan sentuhan-sentuhan di beberapa area tubuhnya, namun mata yang sulit untuk sekedar terbuka membuat Yuki lebih memilih diam meresapi denyutan di kepala, punggung, bahu serta bokong yang belum lama itu terbentur.
“Dia demam karena cuaca terlalu panas … Sepertinya teman kamu ini juga telat makan. Badannya tambah lemas karena perutnya kosong.”
“Tapi gak parah kan, Dok?” tanya Ismi khawatir. Duduk agak berjarak dari Yuki yang terbaring. Alasannya agar memudahkan sang Dokter memeriksa Yuki serta tidak memblokade dan berebut pasokan oksigen yang berada di sekitar Yuki.
“Gak kok, ini masih normal … Udah disampaikan cairan infus yang saya minta?”
“Udah, Dok …,” jawab Ismi cepat, kepalanya tertoleh ke arah bagian tenda darurat yang tersingkap sebagai akses keluar-masuk. Tampak Aron yang terengah-engah sudah kembali setelah dimintai tolong untuk mengambil persediaan cairan infus beserta alat-alat penunjangnya. “Nah itu anaknya!”
Sayup-sayup percakapan itu dapat Yuki dengar, bahkan sangat jelas. Beberapa saat kemudian semerbak aroma menyengat alkohol terhidu penciuman Yuki. Tidak menunggu lama rasa dingin menyapu pergelangan tangan Yuki yang sempat diketuk pelan dengan dua jari secara bersamaan.
Sedetik setelahnya dapat Yuki rasakan sakit dan nyeri yang menusuk lapisan kulitnya yang tipis. Sontak sensasi itu berhasil memaksa Yuki membuka kelopak matanya yang terasa membatu. Mata yang mengintip segaris dapat melihat bayangan wajah Aron, Ismi dan seseorang yang membuat Yuki menebak dirinya sedang bermimpi.
Bayangkan saja kini Yuki berada di sebuah pulau yang terpisah dengan Kota B oleh luasnya lautan. Memerlukan waktu tempuh hampir 1 hari penuh alias 23 jam perjalanan kapal ro-ro, belum lagi harus berlanjut dengan perjalanan darat yang tidak kalah memakan waktu.
“Lanjutkan aja kegiatan kalian yang tertunda. Sementara teman kalian ini akan saya jaga, sekarang dia pasien saya.”
“Gak apa-apa, Dok … Tugas kami ham-,” ucap Ismi terputus oleh derap langkah memburu dan teriakan nyaring.
“Mi, Ron! Eh … Maaf …,” ucapnya canggung saat melihat sosok asing yang sempat berbaur di antara para Dokter yang menjadi relawan.
“Ismi, Aron, bantu beres-beres dulu yuk! Udah mau penutupan,” celetuk pemilik suara yang tadi sempat berteriak dan menyelonong begitu saja.
“Nah itu ada tugas lagi. Silakan dilanjutkan. Kebetulan saya belum bertugas saat ini. Biar saya yang memantau kondisi teman kalian.” Dion mengedikkan dagu sambil mengulas senyum ramah. Ekspresinya seolah mengatakan dirinya akan bertanggung jawab penuh pada kondisi Yuki saat ini.
Sepeninggal Ismi, Aron dan satu orang lainnya, kini di bawah tenda besar itu seorang laki-laki dewasa yang berprofesi sebagai Dokter itu mengemas perlengkapan medisnya. Dion dengan cekatan menyusun isi tas medisnya seperti semula. Tangannya juga meraih plastik-plastik bekas pembungkus satu set alat infus.
“Buka mulut dulu, Ki. Aku bantuin kamu minum obatnya baru setelah itu tidurlah,” ucapnya yang mendadak santai pada Yuki yang terbaring tidak berdaya.
__ADS_1
Menulikan pendengarannya, Yuki masih percaya bahwa dirinya sedang tertidur dan bermimpi.
‘Mentang-mentang ganteng jadi gentayangan mulu tampangnya.’ Kedua sudut bibir Yuki tertarik kecil, mengulas senyum tipis dari wajah damai bak seorang putri tidur.
Sedangkan Dion yang memperhatikan perubahan raut wajah Yuki hanya mampu berdecak sembari menghembuskan nafas pelan.
Perlu diketahui jika sebenarnya Dion bertugas di lokasi yang berbeda. Hanya saja dirinya memang sengaja berkunjung di tempat yang secara mengejutkan membuatnya bertemu dengan Yuki.
Padahal tujuan awal Dion untuk melihat bagaimana rekan-rekannya bekerja di lapangan. Tentu saja hal itu demi mempelajari dan mengantisipasi pola masyarakat di setiap daerah yang tentunya memiliki sedikit banyak perbedaan.
Seandainya saja Dion mengikuti jadwal awal keberangkatannya, maka bisa dipastikan pertemuannya dengan Yuki saat ini tidak akan pernah terjadi. Bagaimana tidak jika seharusnya Dion masih terombang-ambing di lautan namun berkat aksi nekadnya yang didukung oleh kekuatan ajaib berupa keberuntungan akhirnya Dion berhasil tiba 1 hari lebih cepat dari waktu yang sudah terjadwal.
Sebenarnya cukup menyulitkan karena pada akhirnya Dion tidak bisa membawa mobil pribadinya dan justru menyewa dari rental mobil di pusat Kota. Namun semua itu tampaknya sebanding dengan hasil yang Dion dapatkan. Kini dirinya sudah mengantongi poin-poin penting yang akan sangat membantu sesi pemeriksaan kesehatan gratisnya.
Sayangnya mengenai penuturan Ismi tentang seorang relawan yang belum hadir memiliki informasi yang sedikit meleset. Niat hati ingin menyombongkan diri karena melihat profil seorang Dokter muda ganteng dan single yang tidak lain adalah Dion, akan tetapi Ismi lupa melihat nama Kecamatan yang tertera pada pembatas berkas yang dibukanya. Beruntung ponsel Ismi habis baterai, jika tidak bisa dipastikan banyak hati para gadis yang patah karena terlalu berharap banyak akibat aksi pamer Ismi.
...----------------...
Di lain tempat, tepatnya pada sebuah ruang kerja yang tersembunyi di lantai 2 restoran yang baru beroperasi, terlihat seorang laki-laki tengah gelisah menanti puluhan pesannya dibalas atau mungkin sekedar dibaca.
Hampir setiap hari Keven mengirimi Yuki pesan singkat yang nyaris sangat tidak berguna. Rata-rata hanya mengingatkan jangan telat makan dan jaga kesehatan. Meski awalnya pesan itu terlihat tertunda, namun sejak kemarin puluhan pesannya sudah dalam laporan terkirim dan hanya menunggu dibaca saja. Oleh karena itu kini Keven uring-uringan bak ABG yang sedang berjuang PDKT.
...****************...
*
*
*
Akankah ada tikungan tajam?🤭
(Maaf yang nulis sebenernya suka spoiler🙏) Spoiler terbesar tentang Dion dan tikungannya ada di rumah Aara edisi nikahan ya😁 Tapi akhir yang manis, pahit, asin atau asamnya tetap terus pantau di sini😙
Terima kasih sudah menanti kisah Yuki dan selalu memberi dukungan untuk ku🥰😘
__ADS_1