
Berbumbu 21+ tipis-tipis ... Dedek gemes harap menyingkir. Jomblo tolong sadar diri. Cukup aku aja yang mengiri sama Keven & Yuki ♨️
...****************...
“By, maaf ya kalau aku terlalu bergantung sama kamu.” Tangan Yuki melingkar di pinggang Keven. Tubuhnya pun menempel di sisi kiri Keven yang merangkul bahu Yuki.
Baik Keven maupun Yuki baru saja berkeliling area restoran usai mengecek sebagian dapur yang dirombak bergaya semi outdoor. Sengaja menonjolkan kesan minimalis rumah makan keluarga namun tidak meninggalkan nuansa ala warung tenda. Tujuannya tentu mempertahankan citra murah, terjangkau dan ramah di kantong pembeli yang bermula lewat visualisasi restoran itu sendiri.
“Justru aku senang. Kalau bisa aku mau jadi satu-satunya tempat kamu bergantung, bersandar dan berkeluh kesah. Aku sayang kamu. Sangat-sangat mencintai kamu.”
“Thank you My Baby yang udah upgrade jadi My Hubby,” ucap Yuki tulus sambil berjinjit mengecup pipi Keven. Sontak mata Keven membulat. Ia membatu ditemani debaran maha dahsyat. Gelayar berdesir melengkungkan bibir yang tersenyum sumringah.
Kini keduanya saling beradu pandang. Tertawa kecil penuh kasih sayang. Sama-sama menyalurkan getaran cinta menggelora. Namun dalam sekejap bibir manyun Yuki memutus segalanya.
“Tapi sekarang aku kayak anak burung yang sayapnya patah. Gak bisa terbang tinggi. Gak bisa berbuat apa-apa. Nggak bisa bantu kamu. Aku benar-benar nyusahin, By. Apa aku coba lamar kerja di luar aja ya?”
Menghela nafas pelan, Keven lantas berkata, “sekarang aku tanya, apa yang kemarin kamu lakuin di rumah saat aku pergi?”
“Aku gak ngapa-ngapain. Cuma nyapu dikit. Siram bunga dikit. Bantu Mama masak juga dikit. Kamu kan udah bayar orang buat bersih-bersih rumah, jadinya gak banyak yang bisa aku kerjain."
Sejenak Yuki mendengus sebal pada dirinya sendiri. Sudahlah pengangguran, malah kini menambah beban di hidup Keven serta kedua mertuanya.
"Aku ikut bantu kerja gak boleh. Mau ikut kamu jualan juga gak boleh. Jadi cuma rebahan, guling-guling di kamar, ngelamun gak jelas sampai malam juga ketiduran waktu nungguin kamu pulang. Makanya pagi-pagi tadi sengaja nyapu keliling halaman rumah, biar ada gunanya," imbuh Yuki lagi bernada protes.
“Kamu ingat pesanku sebelum pergi?”
“Hm … ingat. Tungguin kamu di rumah, kalau mau pergi juga harus nunggu kamu.”
“Terus?”
“Temenin Mama nonton kayak dulu, kan? Kenapa sih, By?”
“Kamu masih belum sadar?” Keven tersenyum simpul. “Kamu udah terbang sangat-sangat tinggi, bahkan melebihi ekspektasi mu sendiri. Lagi pula semua bukan tentang seberapa tinggi kepakan sayapmu, tapi seberapa besar usaha kamu. Sayapmu patah, tapi kamu tetap sehebat ini.”
__ADS_1
Ada rasa bangga, takjub dan lega yang terselip dalam kalimat Keven. Laki-laki itu merasa sangat beruntung bisa memiliki Yuki di sisinya. Bersyukur pada takdir yang kembali menyatukan dirinya dan Yuki dalam ikatan suci yang sepenuh jiwa raga akan Keven jaga.
“Aku gak minta kamu nyapu, masak dan segala macamnya. Cukup tunggu aku di rumah. Kamu boleh lakukan apa pun yang kamu mau asal kamu happy, bukan sesuatu yang malah jadi beban dan tekanan. Istri yang baik harus bisa ini, itu … nggak harus. Permintaanku satu, kamu bahagia di sampingku, bukan tertekan dengan segala hal yang katanya kewajiban seorang istri.”
"Dih, kok so sweet banget sih? Bikin baper aja Suamiku ini. Mana sekarang pinter banget ngomong panjang kali lebar. Belajar dari siapa?"
"Kamu."
"Hahaha, alasanmu, By. Bukan mau modus, kan?"
“Sesekali modus juga gak masalah.” Sebuah kecupan melesat cepat di dahi Yuki. Berbalas dengan cubitan kecil di pinggang Keven yang spontan meringis dan mengaduh.
“Kalau yang barusan bukan modus kali. Tapi memanfaatkan kesempatan dalam peluang yang terbuka lebar. Sikap kamu yang nyerempet tipis-tipis gini bikin aku baper maksimal tau,” celoteh Yuki terkesan sewot. Meskipun begitu pipinya merona semerah paprika. Tersipu pada tindakan spontan Keven yang sukses melelehkan hati Yuki dalam genangan sirup gula yang kelewat manis.
“Syukurlah kalau aku bisa bikin baper istri terbaik sedunia ini. I love you, Sayang, Istriku yang paling cantik dari lahir,” puji Keven tulus. Tidak perlu pula dijelaskan seberapa besar kobaran cinta yang membara di sepasang pupil mata. Seluruh gestur tubuh Keven sudah cukup bercerita.
“Makasih Cintaku yang udah hafal banget istrinya cantik dari lahir. Terusin aja manis-manisnya sampai aku gumoh terlalu baper. Ternyata kamu beneran jelmaan jamur kuping kering ya. Kalau udah kena air bisa meleyot, berubah tekstur dari alot garing jadi kenyal-kenyal. Aku suka."
“Jadi lebih suka aku yang kayak jamur kuping atau mie ayam?”
"Iya ...."
"Buruan, By. Hampir puncak jam makan siang nih, pasti rame banget."
'Tetap aja kalah sama makanan.' Geleng Keven gemas.
...----------------...
Beberapa hari kemudian ...
Malam itu Keven pulang seperti biasa. Ia akan membersihkan diri seadanya lalu mendekati Yuki. Mengecup mesra dahi perempuan yang terlelap meringkuk di balik selimut. Selanjutnya baru benar-benar beranjak membersihkan diri untuk bersiap tidur.
Namun sesaat usai sepasang kaki keluar dari kamar mandi dan handuk kecil tersampir di bahu, bola mata Keven seakan melompat keluar. Perempuan yang semula bergelung selimut itu tersenyum nakal, mengerling genit sambil menggigit tipis bibir bawahnya dengan sensual.
__ADS_1
Jangan tanya apa yang Yuki pakai. Sulit untuk disebutkan apa lagi didefinisikan. Yang pasti paha mulus tereskpos hampir menampakkan pangkalnya dan belahan dada mencuat itu sukses membekukan Keven.
Tanpa a-i-u-e-o, Keven melempar asal handuk kecil yang sempat dicengkeram. Menyeringai lebar dengan nafas memburu liar. Matanya jelas dipenuhi embun gairah meski tanpa sentuhan, tanpa banyak godaan.
“Aakh, By!?”
Secepat kilas Keven membopong Yuki. Mau tidak mau perempuan yang siap melepas kegadisannya malam itu membungkam mulut menahan jeritan. Tersenyum lebar dengan tawa yang diredam.
Keduanya berputar beberapa kali, atau lebih tepatnya Keven dengan Yuki yang dibopong. Berakhir hening saling mengeratkan rengkuhan dan menatap lamat.
Perlahan jarak sebatas jari itu terkikis. Deru nafas keduanya saling menyapa kulit wajah masing-masing. Setiap sepersekian detiknya terasa semakin nyata.
Tidak diragukan pula aroma mint dari mulut Keven tercium kuat. Lambat laun berubah semanis gulali, seharum strawberry dan selembut permen gummy.
Tanpa perlu banyak kata persetujuan, keduanya saling menyesap lembut. Seakan sudah sangat ahli meski pagutan itu masih sangat kaku.
Lelah Keven berjualan sampai hampir tengah malam seketika sirna. Semua berganti bagai kehangatan memanas yang menjalar di sumbu petasan. Meletupkan ledakan kecil menuju dentuman besar menyilaukan namun menawan hati.
Sepasang amatir yang berlomba memuaskan dan dipuaskan itu menempel tanpa sekat. Berlindung di bawah selimut seakan malu-malu pada tubuh polos yang saling bergesekan.
“Boleh?” bisik Keven serak. Nafasnya menyapu tengkuk Yuki. Meremangkan bulu kuduk dengan sensasi campur aduk.
Sedang anggukan kecil Yuki seolah bagai persetujuan bahwa Keven bebas menebar jala. Menjerat kenikmatan meski untuk pertama kali sukses melemaskan lutut keduanya.
Perkenalan asing itu baru sebatas di permukaan. Sedikit menyelam dan belum sampai pada tarikan serta hempasan yang menghujani peluh di tubuh.
Tapi percayalah gelombang panas yang terpacu melebihi kecepatan efek global warming. Ajaibnya sejalan dengan erangan dan lenguhan menggema di kamar yang menjadi saksi bisu perjalan pernikahan yang dahulu sempat kandas.
...****************...
Gol? Gol lah masa nggak. Udah ya, bab ini berat ... seberat lemak perutku yang berkembang biak 🙂
Terima kasih buat semua yang memantau dengan jejak maupun dalam diam, semoga bisa bertemu sampai ending & di novel selanjutnya 🥰
__ADS_1
Tenang ... hilal tamat belum kelihatan 😁