Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Suamiku Nakal


__ADS_3

Zigot yang berhasil melewati proses embrionik itu telah berubah menjadi fetus. Berkembang hingga mampu memberikan tendangan. Bukan lagi sebatas sel menyerupai kecebong yang dilepaskan dalam kenikmatan dan sukses berenang bebas bertemu sel telur yang dibuahi.


“Sa-Sayang ….” Tergagap Keven memanggil Yuki. Seketika terduduk mengamati permukaan perut yang disentuh. Sekilas tampak membulat rata seperti biasa, lalu tiba-tiba kembali menonjol kecil dalam sepersekian detik di sisi lain. Menghilang bahkan sebelum mata mengerjap takjub.


"Simba nendang, By." Serak suara Yuki menyambut pagi penuh kejutan. Tonjolan ajaib di permukaan perut yang menghadirkan ringisan ngilu sirna akan kenyataan bahwa sang buah hati tengah menyapa.


Sontak sepasang mata membulat Keven berkaca-kaca. Tangannya bergetar pada tendangan atau mungkin entahlah itu tinjuan ketiga yang akhirnya kembali mengenai telapak tangan.


Sekejap Keven tundukan kepala dalam balutan haru. Menciumi perut polos yang pagi ini diraba dengan sentuhan penuh kasih sayang. Tanpa hasrat menggebu yang larut dalam lenguhan indah seperti semalam.


Satu per satu lantunan syukur teruntai lewat bisikan parau penuh kebahagiaan. Tidak luput Keven tatap raut wajah sang istri yang kembali meringis namun juga tersenyum lebar.


Gegas dihujani seluruh wajah Yuki dengan ciuman basah, bahkan menetes sebuah lelehan bahagia dari pelupuk mata. Mendadak Keven berubah cengeng hingga membuat Yuki terkekeh geli meski tidak dipungkiri ia terharu.


Lewat pergerakan pertama sang buah hati, debaran gugup semakin mendera calon sepasang orang tua baru itu. Tiada hari luput dari coretan penantian. Sama-sama menghitung hari mendekati HPL yang tanpa terasa tersisa dua minggu lagi.


“Simba udah gak sabar mau main sama Papa ya? Perut Mama kecil ya, Nak?” ujar Yuki sambil mengusap perutnya. “Sabar ya anak baik."


"Sayang kenapa di sini? Hujannya deras. Dingin." Suara yang mengalun seiring derap langkah kaki mendekat itu segera menyergap Yuki. Membelit dalam pelukan mesra. Menempelkan punggung Yuki di dada bidang Keven.


"Suara hujannya enak buat meditasi, By. Jadi pengen main hujan."


"Meditasi kenapa jadi main hujan?"


"Kayaknya bawaan Simba bentar lagi lahir deh. Udah gak sabar pengen main lari-larian sama Papa." Usapan lembut pada perut bulat Yuki mendominasi kemesraan itu hingga celetukan asal membuat Keven melotot tidak suka. "Boleh ya By main hujan sebentar?"


"No." Geleng Keven tegas.


"Simba yang mau loh, By. Salah kamu ya kalau anak kita ileran."


"Simba lagi yang jadi tersangka."

__ADS_1


"Namanya juga baru ngidam, By. Wajarin aja lah kalau aneh-aneh," sungut Yuki dengan bibir mengerucut sebal. "Boleh ya?"


"Pengakuan dulu ngidam jengkol bohongan?"


Menyengir, wajah mendongak Yuki memelas pada Keven. "Hehe, maaf, By. Kangen jengkol."


"Iya." Hembusan kasar dibuang lewat hidung. Sesal itu sedikit tersisa. Mengganjal meski tidak lagi terisi kata seandainya. "Aku yang minta maaf. Makasih udah sempat ngambek. Maafin suami kamu yang kurang perhatian ya? "


"Apaan sih, By ... nggak gitu kok."


"Harusnya aku turuti kemauan kamu tanpa bilang gak ada yang suka jengkol di rumah. Padahal kamu juga bagian dari rumah ini, keluarga ini. Hal sederhana aja gak bisa aku wujudkan," sesal Keven dengan kekehan sendu.


"Saat itu aku marah. Aku cemburu."


"Salah aku juga kok, By. Gara-gara jengkol sampai diam-diam ketemu Dimas. Maaf udah gak jujur waktu itu. Tapi aku ketemu di toko kue tante Liz sekalian beliin kamu kue sus kering."


"Iya, makasih Sayang. Aku juga minta maaf udah diemin kamu waktu itu. Lagian bisa-bisanya kamu suka makanan seaneh jengkol."


"Minta maaf sih minta maaf. Tapi gak usah sebut jengkol makanan aneh!! Lidah kamu kali yang sok elit."


"Maaf, setiap orang memang punya cita rasa favorit lidahnya masing-masing. Bahkan kalau dipikir sampai sekarang kamu atau Dimas belum bisa saingin level cabe Ara. Padahal kalian bertiga udah temenan lama."


"Iya tau, tapi jangan bilang jengkol aneh. Sakit hati aku."


"Iya nggak aneh, unik aja baunya," ralat Keven dengan anggukan seraya membimbing Yuki masuk dari arah balkon.


"Hari ini Ara jadi main ke rumah? Lebih baik cancel acaranya, Sayang. Kasihan sahabatmu anaknya masih kecil."


"Emang batal kok, By. Tapi gara-gara Ara sekeluarga sama tante Liz harus pulang kampung. Adiknya tante Liz meninggal."


"Meninggal?"

__ADS_1


"Iya ... kamu ingat gak berita yang sempet viral itu, kecelakaan orang selingkuh?"


Pupil mata Yuki melebar. Berbinar penuh harap agar Keven mengingat video pendek tangkapan amatir yang sempat marak di sosial media. Meski jika diingat-ingat lagi sempat Keven tegur agar sang istri tidak perlu kepo pada berita yang tidak penting.


"Nah itu ternyata tantenya Ara. Gila banget. Kurang apa coba malah jadi simpenan. Cantik? Iya. Kaya? Warisan banyak. Kakeknya Ara dari pihak tante Liz itu tajir. Satu lagi, anak sulungnya itu udah gede, lebih tua dari aku, By. Yang kecil kayaknya playgroup deh. Gak tau bener atau nggak. Tapi beda bapak."


"Kamu tau banget, Yang."


"Ara yang cerita," tukas Yuki cepat.


"Ara yang cerita atau kamu yang kepo?" tanya Keven sembari memangku betis Yuki di atas pahanya. Memberikan pijatan kecil nan lembut pada kaki yang membengkak.


"Fifty-fifty lah, By. Di balik kekepoanku pasti ada Ara yang mau cerita. Walaupun agak maksa ... dikit."


Cengiran khas terulas dalam ekspresi Yuki yang menggemaskan. Semakin menyembulkan pipi yang kini bertambah ketebalannya. Menyipitkan mata yang seakan terhimpit.


"Tapi kasihan anak-anaknya. Gak kebayang gimana nasib yang kecil nanti. Gak viral aja bisa ada satu dua suara sumbang. Ini viral loh."


"Kalau gitu tugas kita di sini mendoakan. Semoga dia jadi anak kuat, tegar, berani dan tumbuh di lingkungan yang baik."


Yuki mengangguk. "Semoga kita berdua juga bisa temenin anak-anak kita sampai tua ya, By. Jadi sesepuh sampai Simba punya cucu sendiri. Sampai kita bicara pun harus pakai telepati."


"Bukannya sekarang kita juga sering bicara pakai telepati?" Seringai tipis terpatri di sudut kanan bibir Keven. Kedua alisnya mendadak dinaik turunkan serentak.


"Ah kamu By, beda ih kalau itu," balas Yuki manja. Tanpa basa-basi ia langsung paham arah pembicaraan Keven.


"Suamiku nakal," lanjut Yuki berucap.


"Cepet banget pahamnya kalau bahas ini."


"Kan aku udah gak polos lagi, By. Kalau sering kamu polosin baru iya. Apa lagi towernya ada pribadi, cepet dong. Tiap hari aku kesetrum sinyal," sahut Yuki tidak mau kalah.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih udah baca sampai sejauh ini🥰


__ADS_2