Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bukan Aku


__ADS_3

"Buat kamu." Tiba-tiba tangan Dion terulur di depan wajah Yuki, menyodorkan sebuah kantong kresek merah cukup transparan.


"Apa ini?"


"Makanan."


"Buat aku?"


"Bukan, buat yang punya warung," jawab Dion asal.


"Serius? Makasih ...," ucap Yuki senang. Tidak ada kata jaim dengan sesuatu yang berbau gratisan.


"Kenapa kamu yang makasih? Kan buat yang punya warung," kekeh Dion sambil mengenakan kacamata hitamnya.


"Buat aku ya ... Udah di aku gak boleh ambil lagi loh," kata Yuki riang. Bagaimana tidak senang jika ada sekitar 3 macam lauk dalam satu kantong kresek yang Dion berikan, ditambah seplastik capcay yang tadinya ingin dicoba, tapi piring penuh menggunung tidak merestui niatnya.


Ternyata tanpa Yuki sadari tingkah galaunya di depan hidangan capcay mencuri perhatian Dion yang berada di ujung seberang meja menu prasmanan. Sedangkan 3 lauk lainnya sengaja Dion pilih setelah sinyal telinga berkekuatan super menangkap ratapan lirih Yuki pada kenikmatan yang harus ditekan jiwa hematnya itu.


"Capcay nya lumayan enak di sini," ucap Dion sambil melangkah keluar dari rumah makan itu, bersisian dengan Yuki.


"Sayang aja pakai udang," lanjut Dion berucap dengan intonasi suara rendah yang masih dapat Yuki dengarkan.


"Mas Dion gak suka udang ya?"


"Ha? Oh bukan, suka kok," ucap Dion kikuk, menyamarkan kesadarannya yang sejenak mengambang hingga akhirnya tersentak.


"Kirain gak suka udang sampai bilang sayang ada udang." Yuki mengangguk penuh makna, sepersekian detik kemudian ia memicingkan mata dengan senyum lebar menyeramkan. "Pasti ingat someone yang alergi udang, kan? Jujur aja, aku peka kok."


"Hm ... Iya," ucap Dion mengakui disertai anggukan pasrah.


"Oh iya, kamu tau gak kalau Bang Rava cetak undangan juga buat kita?" ucap Dion lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan meski sejatinya keduanya cukup berpisah begitu saja tanpa bahasan baru.


"Serius? Mas Dion kan adiknya." Mengernyitkan dahi, Yuki menatap lamat sepasang bola mata Dion. Jelas hanya sekejap, karena ternyata ia tetap sama dengan perempuan lain yang lemah pada keindahan rupa Dion.


"Ya makanya itu, ajaib kan Bang Rava?"


"Aku gak ada dikasih tuh. Mas Dion aja kali yang dianggap tetangga. Atau jangan-jangan malah udah dicoret dari kartu keluarga. Hayooloooh ... Hahahaha ...." Yuki tergelak tawa kencang di pelataran rumah makan yang tidak terlalu besar, bahkan sedang penuh sesak dengan kendaraan pelanggan yang terparkir.


"Kamu tanya aja ke Ara. Pasti udah disimpan sama dia undangan buat kamu," ucap Dion percaya diri.


"Pastinya gak, aku kan VIP, gak perlu undangan lagi."


Memang begitu ucapan Yuki, tapi diam-diam dirinya mengirim pesan singkat pada Ara, bertanya tentang kebenaran undangan yang Dion sebutkan.


Dan di sinilah Yuki malam ini bersama Dimas yang baru saja menurunkan standar motor. Keduanya berkendara malam-malam demi menemui Ara, tentu buntut dari pesan singkat yang Yuki kirimkan.


Tepat seperti perkataan Dion, undangan atas nama Yuki dan Dimas telah tercetak nyata. Gagal Yuki menyombongkan diri pada Dion sebagai tamu VIP tanpa kertas undangan. Meski pada akhirnya baik Yuki maupun Dimas dan Nita nantinya akan tetap diperkenalkan sebagai pihak keluarga mempelai wanita.

__ADS_1


"Wah ... Gak nyangka habis ini cuma aku yang jomblo," ucap Dimas sambil mengamati undangan yang sudah berpindah ke tangannya. Sedangkan Yuki hanya mampu tersenyum kecut dengan helaan nafas tipis yang menyesakkan. Ia bahagia, namun juga sedih karena di angannya berharap bisa sebahagia Ara.


'Pernah gagal bukan berarti akan gagal selamanya. Tenang Yuki ... Janda semakin di depan. Apa lagi yang segelan seribu satu adanya. Siapa coba Si Paling Beruntung bisa dapatin grand prize secantik aku?' Membatin Yuki menyemangati dirinya sendiri.


Pletak.


"Senyum-senyum gak jelas. Pergi setan!" seru Dimas dengan bahu bergidik yang dibuat-buat. Pemuda itu bahkan tidak merasa berdosa sama sekali telah menyentil dahi Yuki yang kini sudah siap mengajak Dimas berduel.


"Cuit setan!" geram Yuki dengan rahang mengeras dan lubang hidung membesar sambil mendaratkan pukulan asal ke lengan Dimas.


Sontak suasana di ruang tengah rumah Ara malam itu semakin riuh bercampur ricuh dengan gelak tawa serta adu mulut Dimas dan Yuki. Ada Tante Lauritz dan Jona, adik pertama Ara, sebagai tim sorak Yuki. Om Yudith yang mendadak menjadi provokator seketika berada di pihak Dimas. Sedangkan Ara sang calon pengantin yang seminggu lagi menikah hanya menikmati keseruan di depan mata. Berbeda dengan Si Bungsu Pendiam Rian yang tetap diam menikmati camilan sambil menonton televisi. Mengindahkan keramaian yang sebenarnya menyamarkan suara dari acara televisi yang diputar.


...----------------...


"HWAAAAA!!!" Berteriak sekencang-kencangnya, Yuki merentangkan tangan, membiarkan seluruh raganya ditampar angin malam.


"Pegangan begok! Kalau gelinding bukan salah aku!" umpat Dimas sok kesal, padahal ia khawatir Yuki terguling dari boncengan dan menggelinding di jalanan.


Ciitt ...


Bugh.


Tubuh bagian depan Yuki terhempas ke punggung Dimas, disusul dahi yang membentur helm yang Dimas kenakan dengan kasar. Maklum saja, Yuki sengaja melepas helm yang ia pakai demi rambut terkibas hembusan angin disepanjang jalan. Bukannya sengaja mengabaikan keselamatan, Yuki hanya berharap panas otaknya segera mendingin oleh terpaan angin.


"Pelan-pelan, Cuit!!" ucap Yuki kesal.


"Udah diam," ucap Dimas lagi sambil menahan pergerakan tangan Yuki yang melonggar.


"Lepas-lepas, modus banget sih," ketus Yuki memberontak.


"Woi diam! Oleng motornya," protes Dimas serius. Pasalnya motor yang dikendarai mendadak meliuk seiring sentakan kasar Yuki.


"Ya makanya bawa motor pakai dua tangan!" balas Yuki sengit.


"Makanya gak usah banyak tingkah kalau gak mau dipegangin gini! Pengen aku ikat terus seret di ban aja."


"Ya, ya-ya, ya ...," sahut Yuki remeh dengan bibir mencebik sebal. Namun sepanjang jalan ia tetap memeluk Dimas dengan nyaman. Berbeda dengan Dimas yang jelas berdebar tidak karuan.


"Enak?" celetuk Dimas sambil menolehkan wajahnya saat Yuki tidak kunjung melepas pelukan, padahal deru motor sudah menghilang dari pendengaran.


"Iuh, nggak ya," balas Yuki sewot, sejurus kemudian ia mendorong kasar punggung Dimas sebelum turun dari motor. "Aku ngantuk ya tadi, makanya gak sadar udah sampai."


"Bohong banget. Padahal keenakan meluk cowok paling imut sedunia ini."


"Dih, jijik loh, Dim. Sadar udah tua!"


"Gak guna dong peribahasa tua-tua keladi kalau aku sadar," ujar Dimas santai.

__ADS_1


"Amit-amit, sumpah ... Eh, ngapain deket-deket?" Kedua telapak tangan Yuki terbuka, mencoba menahan dada Dimas yang perlahan memangkas jarak.


"Mantan suami mu masih setia nunggu di ujung jalan. Kayaknya bener-bener cuma aku yang bakal jomblo sendirian," bisik Dimas tepat di telinga Yuki sambil melirik dari sudut ekor matanya sosok Keven yang menyorot marah dari kejauhan.


Sedangkan Keven yang tadinya tidak berniat sama sekali keluar dari persembunyian sudah berdiri mematung mendapati Yuki berboncengan sambil memeluk laki-laki lain. Pemandangan yang sekuat tenaga disangkalnya itu bukan ilusi, semua nyata seperti dekapan intim yang saat ini disaksikannya.



Tes.


"Apa bukan aku tempatmu pulang lagi?" lirih Keven serak. Diraupnya dalam-dalam udara guna memasok paru-paru yang terhempit nyeri menyesakkan.


Keven mengepalkan tangan, menyalurkan denyutan nyeri dan ngilu yang menjalar dalam nadi yang terbakar. Pedih di mata yang reflek meneteskan buliran kepiluan itu tidak sebanding dengan hati Keven yang tercabik jeritan penyesalan.


Memutar langkahnya, Keven berbalik dengan lesu. Tangisnya tidak berbunyi, hanya lelehan menggelikan yang tumpah ruah membasahi pipi.


Jika boleh Keven ingin berlari, menghempas Dimas yang mendekap Yuki. Namun nyali Keven menciut saat bayangan mata sendu penuh kesakitan Yuki dalam pernikahan mereka berkelebat. Keven takut Yuki semakin membenci hadirnya.


Bagi Keven kini, cukup melihat Yuki dari jauh tersenyum ceria daripada ia berusaha merengkuh Yuki yang tersiksa batinnya. Namun merelakan Yuki untuk laki-laki lain tidak pernah Keven bayangkan sejak pertama kali menyetujui perpisahan yang Yuki pinta.


...****************...


*


*


*


Loh double up? 😳 Mumpung cicilan nulisnya lebih hari ini jadi di up semua aja🤭


(Akhirnya bisa double up setelah sekian lama🤧)


Semoga suka😘


By the way, dukung tim siapa nih?


Yuon



Yuven



Yumas


__ADS_1


Terima kasih udah menikmati & mendukung tulisanku😘


__ADS_2