
"Maaf ...."
Langkah kaki Yuki terhenti. Tubuhnya mematung kaku. Sejenak hembusan nafasnya tersendat. Lidahnya kelu hingga tenggorokannya tercekat. Lagi-lagi Keven berhasil membuka kesedihan yang dipendam dalam-dalam.
Kenapa baru sekarang?
Pertanyaan itu selalu menghantui, terbayang dalam mimpi meski terus ditepis berulang kali. Keven yang gigih bukan membuat Yuki terkesan, ia justru muak dan lelah.
Di sini Yuki berdiri, menggenggam erat kantong kresek kecil yang ditentengnya. Menguasai kewarasan yang hampir saja terombang-ambing oleh kehadiran Keven. Tentu bukan untuk hal baik, ia bimbang pada keputusan untuk menyakiti atau tetap abai agar Keven berhenti mengejarnya.
"Lebih baik kita nggak perlu ketemu lagi."
Deg!
Keven terhenyak. Dada kirinya nyeri seakan jantung yang berdegup sempat berhenti berdetak. Ucapan Yuki yang datar tanpa membalikkan badan menohok hingga ke relung hati terdalam Keven yang menjerit menolak.
“Kenapa?” tanya Keven dengan suara parau.
Spontan kedua tangan Keven terkepal erat, bukan karena marah. Namun entah harus didefinisikan sebagai emosi apa. Semuanya terlalu rumit untuk Keven cerna, hanya gejolak hebat yang hampir meledakkan ubun-ubun.
“Kamu mau kita cerai … udah aku turuti.” Keven memberanikan diri maju satu langkah. “Tapi kenapa saat kita sepakat untuk berteman, kamu menjauh? Apa rasa cinta aku membebani kamu? Atau dari awal udah ada laki-laki lain di hati kamu?”
Membalikkan badan dengan senyum miring yang dipaksakan, Yuki yang tetap mempertahankan suara datarnya berkata, “kamu udah gila? Sadar nggak apa yang barusan kamu tanyain? Benar-benar gak pantas kamu mempertanyakan hal itu ke aku.”
Dengan susah payah Yuki menghembuskan nafas pelan, menatap lekat Keven yang entah kenapa terlihat memancarkan luka.
“Apa kamu masih mau sok gak tau? Mencintai aku itu hak kamu. Bahkan aku nggak yakin kamu beneran cinta sama aku. Bisa aja itu kayak kamu gak mau kehilangan mainan. Atau jangan-jangan ini semua cuma efek jangka pendek karena hubungan kamu dan Kak Alia lagi nggak baik-baik aja,” lanjut Yuki berucap.
“Sepicik itukah aku di mata kamu, Ki?"
"Iya."
Jawaban cepat tanpa pikir panjang yang terlontar dari bibir Yuki melesat bagai timah panas. Menembak tepat menembus otak Keven hingga menyisakan lubang penyesalan. Ia terpengkur membeku tanpa kata, tidak mampu meloloskan untaian permohonan yang terangkai indah di ujung lidah.
__ADS_1
Sebesar itukah dosanya hingga sulit Yuki maafkan, begitu pikir Keven.
“Bisa nggak kamu ngertiin aku, sekali aja? Tolong pergilah ... Jangan pernah muncul lagi di hadapan aku!”
Menggeleng kuat, Keven menggigit bagian dalam bibirnya sekilas. “Nggak! Kamu boleh minta aku menjaga jarak, tapi jangan pernah minta aku pergi,” ujar Keven cukup memelas.
“Apa kamu sanggup? Suatu hari nanti kita punya kehidupan masing-masing. Jalani hidup kamu sendiri, karena aku punya masa depan aku sendiri.”
“Karena laki-laki tadi?” tuduh Keven dengan sorot nanar.
“Bukan. Tapi pasti nanti aku punya kehidupan aku sendiri,” jawab Yuki seraya memalingkan wajahnya.
“Kita berdua saling mencintai, kenapa kamu membohongi diri kamu sendiri?!" ucap Keven meninggi penuh keputus-asaan. Kesabarannya terus tergerus seiring emosi meledak-ledak yang ditekannya.
“Untuk apa saling cinta kalau cuma bisa saling menyakiti?! Untuk apa kamu ingin memiliki aku kalau akhirnya aku gak bahagia?! Bukannya udah wajar kalau kita seharusnya saling menjauh pergi?” tanya Yuki gamang.
Sekali lagi perkataan Yuki membungkam Keven. Ia tertohok pada ungkapan tidak bahagia yang Yuki ucapkan.
Sungguh Keven menyesal. Sayangnya rasa menyesal pun tidak cukup mengobati luka hati Yuki. Segala perhatian yang diberikan juga tidak cukup untuk meredakan bekas-bekas luka yang menghitam.
“Kamu mau memperbaiki, kan? Jangan pernah temui aku lagi, itu cara kamu memperbaiki semuanya. Anggap kita udah benar-benar selesai. Bahkan kalau tanpa sengaja kita ketemu lagi, lebih baik kita jadi orang asing yang nggak pernah kenal sebelumnya!”
“Kenapa kita harus kayak gini? Aku gak mau kehilangan kamu. Pokoknya nggak! Udah cukup kita cerai ... Kembalilah sama aku, aku mohon ....”
“Kamu tetap sama. Selalu semaumu,” lirih Yuki putus asa. Menunduk menguatkan tekad, Yuki berjalan menghampiri Keven yang terkejut dengan seribu rasa, tentu ada bahagia yang terselip. Namun semua sirna kala bibir Yuki yang terkatup mulai berkata, “kamu tau … kita bukan pasangan yang cocok. Pergilah ke Kak Alia yang lebih pantas untuk kamu. Karena kita memang nggak seharusnya bersama.”
“Alia cuma sahabat aku. Bahkan kami sekarang nggak lebih dari dua orang asing. Kamu … hanya kamu yang aku cinta!” tegas Keven sambil menurunkan pandangan, menatap Yuki yang tingginya nyaris sebahunya.
“Kamu hanya merasa kehilangan aku sesaat. Sebentar lagi kamu juga bakal lupa,” sangkal Yuki. “Kamu harus ingat sesayang apa kamu ke Kak Alia.”
“Sampai kapan kamu mau mikir kayak gitu? Aku harus kayak gimana lagi supaya kamu percaya?" Keven menarik rambutnya frustasi. "Tolong jangan anggap aku mencintai Alia, Ki ….”
‘Nyatanya memang gitu,’ gumam Yuki dalam hati sambil mengulas senyum miring sekilas.
__ADS_1
“Aku nggak akan bertanya di mana kamu saat aku dulu terluka. Tapi tolong ingat sebesar apa rasa sayang kamu ke Kak Alia dan berhentilah menemui aku. Hubungan kita saat ini udah membuktikan seberapa nggak cocoknya kita,” ucap Yuki lugas.
Dapat Yuki lihat Keven memasang ekspresi kecewa. Laki-laki itu tertawa samar tanpa suara, hanya gerak bibir dan tubuh terguncang geli meski tidak ada yang lucu. Sejurus kemudian sorotnya berubah sendu walau tetap terasa menyorot tajam Yuki yang berdiri sok tegar.
Tanpa mengulur waktu Yuki kembali mendekat, tepat di sisi kiri Keven. Keduanya kini telah berdiri bersisian meski menghadap arah yang berbeda. Tapi percayalah, keduanya tidak sekuat yang terlihat.
“Aku udah maafin kamu, hanya jangan muncul di hadapan aku lagi.”
Lutut Keven seakan ingin membentur kasar perkarangan berpasir dengan sedikit berkerikil. Beruntung tungkainya yang melemas itu masih sanggup menopang bobot tubuh. Laki-laki tegap itu menangkup dan mengusap kasar wajahnya yang menunduk lesu.
Brak!
Tubuh Yuki luruh di balik daun pintu yang ditutup kasar. Sejenak hening mencekam kamar kos tanpa penerangan itu. Perlahan terisi isak tangis dan gumaman samar.
“Apa kamu pikir aku nggak terluka dengan perceraian kita?” lirih Yuki sambil menopang dahi di atas kedua lutut yang dipeluknya. Sekuat tenaga buliran kesedihan itu ditahan, namun akhirnya lolos juga. “Aku sakit. Benar-benar sakit sampai rasanya aku sulit bernafas ... KENAPA AKU PERNAH JATUH CINTA SAMA KAMU?!"
"Huu ... Huuwaaa ... Hiks, da-sar kut-tu kupret jahaaatt ... Ke-napa sesa-kit ini lihat kamu?? Das-saar bi-a-wak bun-tung, ka-dal a-ir fo-sil … Kenapa muncul lagi? A-a-ku mau move on …."
Yuki terus menggerutu, mengutuk dan mengumpati Keven, sejalan dengan derasnya air mata yang terus meleleh, serta ingus yang menyumbat sepasang lubang hidungnya. Sedangkan Keven terpaku di sisi luar, tidak berani mengetuk apa lagi mendobrak pintu kamar kos Yuki.
Keven memang mengejar Yuki. Langkahnya jelas bisa menerkam Yuki dengan mudah, namun punggung ringkih yang rapuh sukses membuat Keven mengurungkan niat meski ia ingin sekali mendekap erat. Keven hanya mampu memandang nanar sosok sang mantan istri menghilang di sebalik pintu.
Kini dengan telapak tangan kiri berusaha menghalau air mata, Keven dengarkan semua jeritan kepiluan Yuki berserta umpatan dan kutukan anehnya. Seandainya mereka masih bersama, memulai dan menjalani semuanya dengan baik-baik saja, Keven pasti terkekeh mendengar celotehan aneh nan ajaib Yuki.
...****************...
*
*
*
Maaf kita LDR lagi ... Tapi terima kasih udah setia menanti😘
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk semua dukungannya🥰