
Yuki cukup prihatin melihat kondisi Alia. Belum lagi sedari tadi Yuki tidak melihat keberadaan Saka. Memiliki jiwa empati yang tinggi membuat Yuki ikut bersedih pada Alia yang terbaring lemah tidak berdaya. Sejahat apapun Alia, kondisinya saat ini tidak membuat Yuki tertawa di atas penderitaan Alia.
Hari itu sudah menjelang pagi, baik Yuki maupun Keven selalu terjaga. Keven yang tidak mampu terlelap hanya fokus menjaga Alia. Sedangkan Yuki yang Keven suruh untuk segera beristirahat tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan Keven yang kesulitan seorang diri. Sungguh hubungan yang ironis.
“Bajingan!!” Umpat Keven dengan gigi bergemeletuk marah. Kepalanya berdenyut pusing memikirkan kondisi Alia yang lemah dan Saka yang tidak bisa dihubungi. Saka benar-benar menghilang dari jangkauan siapapun. Tidak seorang pun mengetahui di mana keberadaan Saka.
Dari malam sampai menjelang pagi Keven selalu memeriksa ponselnya, berharap ada secercah harapan informasi keberadaan Saka. Menghubungi kedua orang tua Alia yang berada di luar negeri juga sudah Keven lakukan. Tapi tidak tau kapan keduanya bisa segera pulang menemui Alia, anak mereka yang terlihat sedang terpuruk.
Sejak dulu Alia memang selalu ditinggalkan, sibuk dan sibuk, hanya itu yang terus menjadi alasan. Oleh karena itu sejak dulu pula Keven selalu menemani Alia.
“Euugh..!”
“Al?” Lirih Keven, berjalan menghampiri sisi ranjang tempat Alia terbaring. Tampak Alia mulai mengerjap perlahan, meringis pada pergelangan tangannya yang nyeri dan tentunya sakit.
Luka itu tidak dalam, hanya goresan memanjang. Kondisi Alia yang lemah juga bukan karena kehabisan darah, tapi kekurangan cairan tubuh karena semenjak mengetahui tentang kehamilannya Alia justru menyiksa diri tanpa makan dan minum.
“Kamu udah sadar, Al?” Tanya Keven pada Alia, memastikan kesadaran Alia sudah benar-benar kembali. Menarik kursi mendekat ke sisi ranjang, senyum kecil di sudut bibir Keven mengembang. Lega rasanya melihat Alia sudah sadarkan diri.
“Kev? Kev-ven? Hiks.. Kev.. Hiks, hiks.. Keven..” Isak pilu Alia lirih, tubuhnya terguncang hebat. Tidak ada Alia yang penuh percaya diri di mata Keven, hanya ada Alia dengan tampilan miris yang sangat kacau.
Dipikiran Keven, mungkin Alia bersedih dengan statusnya yang sudah menjadi janda namun baru mengetahui bahwa dirinya hamil. Belum lagi Saka yang tidak ada kabar. Sangat normal dan rasional jika mental Alia terguncang.
“Udah, Al.. Kenapa kamu jadi kayak gini?” Ucap Keven sama lirihnya. Ia usap lelehan air mata Alia yang jatuh membasahi pelipis.
“Sa-ka, Sa-ka udah pergi. Kamu jangan tinggalin aku, Kev. Kamu janji dulu akan selalu ada buat aku. Kamu lupa?” Ucap Alia tiba-tiba, suaranya parau dengan tangis tergugu.
“Aku gak akan tinggalin kamu, Al. Aku akan selalu ada buat kamu. Kamu bukan hanya teman untuk aku, tapi juga keluarga.” Tutur Keven lembut, suaranya nyaris tercekat. Rasa iba itu menyeruak menyesakkan.
“Nggak, Kev.. Bukan itu, bukan..” Tolak Alia dengan gelengan kepala dipaksakan. Jujur saja, sekujur tubuhnya sakit.
“Udah jangan nangis lagi, kamu baru bangun. Tenangkan diri kamu. Jangan bertindak bodoh lagi, Al.”
“Aku mau kamu selalu ada untuk aku, sama seperti dulu, tanpa perempuan itu!”
“Udah ya, jangan pikirin yang aneh-aneh lagi. Kamu mau minum?” Tawar Keven mengalihkan pembicaraan. Dirinya beranjak mengambil segelas air putih di atas nakas. Air putih yang tanpa Alia ketahui disediakan oleh sosok yang disebutnya ‘perempuan itu’.
__ADS_1
“Yuki. Tinggalkan dia demi aku, Kev. Kamu gak cinta sama dia!”
“Cinta atau tidak, aku tetap suami Yuki, Alia. Aku tetap bisa selalu ada untuk kamu, tapi kita sebatas teman, gak lebih.”
“Aku mau kamu kayak dulu, Kev. Aku gak suka kamu yang menjauh dari aku!” Menggeleng lemah, Alia memaksakan tubuhnya bangkit. Pusing seketika menerpa, namun Alia abaikan.
“Ceraikan dia dan kita menikah. Aku pasti lebih baik dari dia. Kamu juga cinta sama aku. Kamu gak cinta sama dia.” Ucap Alia dengan percaya diri, namun juga tampak memelas pada Keven.
“Please, Alia! Sejak kapan kamu berubah jadi kayak gini?” Meraup wajahnya sembari menghela nafas frustasi, Keven takut Yuki tiba-tiba muncul dan salah paham. Sudah cukup sulit ia memahami hati yang terombang-ambing.
“Aku? Kamu Keven yang berubah. Pasti semua ini karena perempuan itu kan? Untuk apa juga kamu masih mempertahankan dia? Aku udah cerai dari Saka. Gak ada lagi alasan kamu untuk pura-pura menikahi dia.” Ucap Alia lantang, kobaran amarah memenuhi sorot matanya yang berapi-api.
“Aku pikir gak ada lagi yang perlu kita obrolin, Al. Kamu harus istirahat lagi. Kamu masih lemah. Aku akan panggil Bibik supaya temani kamu.”
“Aku hamil, Keven..!!” Teriak Alia menghentikan langkah kaki menjauh Keven. Bukan terkejut, karena jelas Keven memang sudah tau tentang kehamilan Alia, hanya saja Keven masih menanti apa lagi yang ingin Alia ucapkan. “Kamu perduli kan sama aku? Demi janin di perut aku, jadilah Ayah untuk anak aku, Kev..”
“Ada Saka sebagai Ayahnya, Al.” Geram Keven, masih membelakangi Alia. Kini Keven tidak hanya marah karena Saka menghilang, namun kesal pada sikap Alia yang egois. “Aku akan bawa Saka pulang. Itu kewajiban kalian untuk membesarkan anak bersama-sama. Walaupun ikatan kalian gak bisa diperbaiki lagi, tapi aku yakin kalian bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak yang kamu kandung saat ini.”
Brugh.
“Alia!” Melangkah lebar setelah menyerukan nama Alia dengan panik, Keven membopong Alia kembali ke atas kasurnya.
“Jangan tinggalin aku, Kev. Saka, Saka udah pergi. Saka udah ninggalin aku. Aku cuma punya kamu. Dari dulu hanya kamu.” Ucap Alia sambil menangis tersedu-sedu.
“Iya, Al, udah. Tenangkan diri kamu, ada aku di sini.” Ucap Keven menenangkan Alia, namun sayangnya mencabik-cabik Yuki yang berdiri mematung dengan secangkir teh panas di tangannya.
Di depan matanya sebuah pemandangan tidak pantas sedang Yuki amati. Usapan lembut, rengkuhan hangat dan tutur kata menenangkan yang sempat sekilas Yuki rasakan kini semuanya telah kembali. Iya, kembali pada Alia yang selalu Keven sayangi. Yuki menguatkan hatinya, tersenyum masam dengan kekehan hampa.
“Yu-ki?” Gumam Keven lirih. Pupil matanya bergetar gusar. Entah mengapa ia merasa sangat bersalah atas apa yang dirinya lakukan pada Alia di depan mata Yuki.
“Ki, ini gak yang seperti kamu lihat.” Ucap Keven sambil mencoba melepas rengkuhannya, namun Alia justru menggelayutkan tangan ke leher Keven.
“Gak apa-apa. Kak Alia udah bangun ya? Oh iya, ini aku buatkan teh. Gak ada kopi susu, perut mu semalam kosong.” Ucap Yuki sangat santai. Hatinya boleh hancur berkeping-keping, tapi cukup dirinya saja yang tau.
“Lepas tangan kamu, Al!” Lirih Keven penuh penekanan, menepis tangan Alia hingga sang pemilik meringis kesakitan.
__ADS_1
“ALIA!!” Bentak Keven pada Alia yang tetap berusaha menempel pada Keven. Menghempaskan tubuh Alia dengan sedikit dorongan. Sontak hal itu mengejutkan Alia, begitu pula Yuki yang baru saja meletakkan secangkir teh untuk Keven ke atas nakas.
“Kamu bentak aku?” Tanya Alia sambil mengepalkan tangannya. Ketidaksukaannya pada Yuki bertambah besar. Bagi Alia, semua sikap kasar Keven padanya disebabkan oleh Yuki.
“Astaga.. Mas Keven bisa santai gak sih panggilnya? Kasihan itu Kak Alia yang baru kamuflase jadi tokek kaget.” Terkekeh Yuki melontarkan kalimat menyindir Alia dengan lancar.
‘Kurang ajar!!’ Batin Alia berteriak sambil melotot nyalang pada Yuki. Kalimat yang hampir saja Alia ucapkan untuk merendahkan Yuki terbungkam oleh sorot mata Keven yang menciutkan nyalinya.
“Aku tadi udah buat bubur, tinggal dihangatkan sewaktu-waktu Kak Alia bangun. Apa mau dimakan sekarang?” Tanya Yuki sambil menatap Keven dan Alia bergantian. Masih saja Yuki berbaik hati memerhatikan kondisi Alia.
“Gak perlu! Gak sudi aku makan makanan buatan kamu!” Ucap Alia ketus, melempar tatapan kebencian yang semakin membuat Keven berang.
“Ya udah, terserah. Malah bagus kalau gitu.” Balas Yuki masih dengan intonasi santai, tidak tersulut emosi sedikitpun. Benar-benar pandai Yuki menutupi sayatan yang terus-menerus menggores dirinya dari berbagai arah.
“Oh, iya, aku pulang duluan. Kak Alia udah bangun, jadi tugas ku cukup sampai di sini.” Imbuh Yuki sembari menolehkan kepalanya ke dalam kamar Alia. Kakinya sudah mantap membawa tubuh itu untuk segera pulang, tentu ke rumah mertuanya, tidak ada tempat lain yang bisa Yuki tuju saat ini.
“Yuki..!?” Panggilan Keven menggema. Terucap berulang kali disertai derap kaki membuntuti, namun semuanya Yuki abaikan.
‘Habis terang datanglah mendung, hujan deras, gluduk guntur. Kerennya kilat dan petir saling menyambar. Manisnya pemandangan ini..’ Menyunggingkan senyuman yang merekah, Yuki memandang langit pagi yang sangat cerah. Bahkan menariknya di mata Yuki langit pagi itu yang paling cerah dari pagi di hari-hari sebelumnya.
“Aku antar. Jangan pulang sendiri.” Ucap Keven sambil mencekal tangan Yuki. Menghalangi Yuki agar tidak pergi seorang diri.
Di pekarangan rumah Alia, Yuki tersenyum getir mendapati Keven menyusulnya. Kulit tangan mereka yang saling bersentuhan terasa hampa untuk Yuki, namun sarat kekhawatiran bagi Keven. Terdiam saling menatap, seketika aliran sengatan menusuk tiba-tiba membuat mata Yuki memanas.
...****************...
*
*
*
Up ini agak lebih panjang 300 kata dari chapter lainnya, kerasa gak sih?😄
Untuk yang menanti Yuki pergi, sabar ya.. Yuki akan pergi kok, tapi.. (Tungguin ya🤭)
__ADS_1
Terima kasih sudah selalu mendukung tulisan ku dan menanti kisah Yuki di sini, Aara di sana dan Lintang yang lebih slow updates 🥰