
Bugh.
“Lo!! Jauhi Yuki!”
“Anda gak percaya diri?” Dion memicingkan mata sambil menyeringai. Digerakkan engsel bahu yang seolah bergeser akibat disentak Keven. Tentu dengan kekehan kecil yang tidak ketinggalan bagai mengejek kemarahan Keven.
“Jangan terlalu gegabah. Gelas yang licin bisa terjatuh kapan aja. Jangan buru-buru ingin menggenggamnya,” lanjut Dion sembari menepuk pelan bahu Keven. Selangkah sebelum berlalu pergi, ia kembali berkata, “biarkan Yuki menentukan pilihan hatinya tanpa tekanan.”
“Brengsek!” umpat Keven sambil mengeratkan kepalan di sisi kanan kiri tubuhnya.
Sedangkan Dion malah melambaikan tangan tanpa membalikkan badan. Laki-laki itu tampak santai. Benar-benar pasrah pada kisah yang akan terjadi ke depannya. Lagi pula ia sendiri sudah bisa menebak apa jawaban Yuki. Bukan putus asa, Dion hanya tidak ingin terlalu melambungkan harapan. Seperti perkataannya, gelas yang licin mudah terjatuh kapan saja.
“Dion-Dion …,” gumam Dion sembari menggeleng pelan dan menghembuskan nafas kasar. Ia kemudian mempercepat ayunan tungkai untuk menuju sebuah ruangan di Puskesmas yang sudah beberapa waktu lalu digunakan.
Tinggal sebentar lagi waktu Dion habis sebelum kesepakatan pembangunan Rumah Sakit Daerah terwujud. Ia harus kembali ke Kota B untuk melanjutkan pekerjaan utama yang sempat digantikan oleh Dokter lain.
Berbeda dengan Yuki yang ragu-ragu untuk keluar dari toilet. Ia yang tadinya berkeinginan buang air kecil malah betah bertapa di dalam toilet minimalis. Bermain air menggunakan gayung yang berubah bak perahu terombang-ambing oleh gelombang. Benar-benar tidak berfaedah, karena sejatinya ia sendiri bingung harus melakukan apa setelah keluar dari toilet itu.
Tidak dipungkiri Yuki sulit bersikap biasa saja pada kehadiran Keven. Lagi-lagi ia sadar bahwa pendiriannya selemah pensil goyang, meliuk ke sembarang arah dan terkadang tidak terkendali.
Tok.
Tok.
Tok.
“Iya!!” Terperanjat, Yuki buru-buru berteriak menyahuti ketukan pintu yang menggema.
Ceklek.
Bagai dejavu, sekali lagi Yuki mendapati punggung familiar yang tidak perlu diterka siapa pemiliknya. Gegas ia menarik dua helai tisu di atas salah satu meja. Mengelap tangan yang basah sambil berjalan menuju tempat sampah dengan santai. Mengindahkan sosok yang terang-terangan membuntuti.
“Aku tadi udah ke tempat kamu,” celetuk Keven tiba-tiba sambil menenteng tas selempang Yuki. Mengekori gadis yang beberapa kali memutari meja. Tidak menyadari jika gadis di depannya itu sedang kelimpungan meneliti setiap sudut meja dan kursi.
Yuki yang terburu-buru ke toilet tanpa membawa tas jelas kini super gelisah. Pasalnya seluruh uang yang dimiliki beserta ponsel dari Dion yang dianggap masih kredit itu berada dalam tas selempang miliknya.
“Kamu cari ini?” Lagi-lagi Keven menyeletuk.
“Dari tadi kenapa nggak ngomong?!” geram Yuki sambil merampas tas miliknya. Diperiksa satu per satu, tentu isinya masih lengkap.
Sejenak mata Yuki juga mengedar, mencari keberadaan Dion yang menghilang. Ia berjalan keluar menuju teras kecil di depan kantin. Benar, Dion telah pergi. Tanpa Yuki ketahui jika laki-laki itu telah berpamitan lewat pesan singkat yang dikirim beberapa saat sebelum Yuki keluar toilet.
“Kamu mau apa?” tanya Yuki sembari mengangkat wajah, menatap Keven yang tampak tersenyum aneh.
“Miris kamu sama isi tas aku? Atau sama tasnya? Iya, emang murahan. Ini aku beli di pasar 20 ribuan," ucap Yuki lagi sambil cemberut. Kalimat merendah Yuki justru cukup menohok Keven yang sejatinya tidak sedang disindir.
Menetralkan raut wajahnya yang sekilas muram, Keven mengernyit heran pada keberadaan ponsel di tas Yuki. “Kamu beli ponsel baru?”
__ADS_1
“Bukan,” jawab Yuki singkat tanpa penjelasan. Namun entah mengapa memunculkan satu sosok yang berseliweran menyebalkan di benak Keven.
‘Dia,’ batin Keven dengan rahang mengeras. Ia cemburu sekaligus marah kala menyakini tebakan yang belum tentu kebenarannya. Entah mengapa Keven menjadi super peka pada sinyal-sinyal yang selalu berhasil membuatnya gundah gulana.
“Kembalikan barangku. Sampai kapan mau kamu rampas?” celetuk Yuki sambil menengadahkan tangan kanan. Nada suaranya mendayu, merengek dengan binar mata memelas. “Kamu udah lihat kan uangku gak sampai 100 ribuan? Cepetan kasih! Aku mau narik uang dari rekeningku. Bisa gila aku kalau kehabisan uang.”
Menghela nafas, Keven menggenggam tangan Yuki. Ditarik lembut agar gadis itu mengikuti langkah kecilnya. Namun bukan Yuki jika tidak memberontak. Gadis itu menepis kasar genggaman Keven dan menoleh ke belakang. Syukurlah beberapa orang di sana tidak ada yang tertangkap sedang menyaksikan aksi spontanitas Keven.
“Gak usah pegang-pegang aku!” tegas Yuki dengan suara rendah. Mata yang melotot itu tampak memancarkan kekesalan yang sengaja dipertunjukkan.
“Maaf … tapi kamu harus ikut aku. Aku akan kembalikan semua barang kamu. Aku juga punya sesuatu buat kamu.”
“Ya udah, jalan sana duluan. Gak usah pegang-pegang aku lagi," ucap Yuki sambil mengedikan dagu.
“Iya.”
Mengalah, Keven berjalan cepat di depan Yuki. Membuka pintu belakang mobil, mengambil kantong berisi segala sesuatu yang jauh-jauh dibawa dari Kota B. Bergegas Keven memutari mobil, membuka pintu untuk Yuki. Mempersilakan perempuan itu untuk duduk di kursi samping kemudi.
“Ini apa?” tanya Yuki saat keduanya sudah duduk di dalam mobil Keven dengan pintu tetap terbuka. Bukan karena takut menjadi bahan gunjingan, namun udara panas yang menguap di dalam mobil benar-benar menyesakkan.
“Ini spagethi … buatanku,” ragu-ragu Keven menjawab sambil menyengir dan mengusap tengkuk dengan canggung. Mendadak ia ragu untuk meminta Yuki mencicipi. Kepercayaan dirinya menciut seiring keraguan bahwa kreasi resep dadakan sang kepala koki berhasil direka ulang olehnya.
‘Pasti buat aku,’ tebak Yuki kepedean di dalam hati. Dilihat sekilas saja sudah sangat jelas Keven sedang malu-malu.
'Astaga ... itu telinga atau udang rebus? Merah banget,' batin Yuki lagi saat mendapati telinga Keven yang bersemu merah.
“Aku sengaja masak dan mau kamu cobain ini. Bukan karena kamu rakus, apalagi gampangan. Jangan coba-coba merendahkan diri kamu. Apapun yang aku lakuin karena aku mau."
Mengangguk, Yuki kembali menatap lurus ke depan. “Kita udah cerai berapa lama sih? belum lama, kan? Aneh ya aku lebih sering lihat kamu setelah kita cerai.”
Lidah Keven mendadak kelu. Ekspresinya berubah datar dipenuhi rasa bersalah. Perlahan dada Keven sesak, ia kesulitan memasok oksigen. Ditatap nanar Yuki yang masih bisa tersenyum lebar memandang lurus dedaunan yang bergoyang.
Nyatanya senyum Yuki tidak berarti apa-apa. Tawanya hampa. Ia hanya berusaha tegar. Sekuat tenaga berdiri di atas kegalauan hidup yang terasa bagai seorang diri.
“Ini dompet kamu.” Keven menyodorkan dompet milik Yuki. Berusaha mengalihkan topik pembahasan yang membumbung tinggi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya terhadap Yuki.
“Kamu bongkar dompet aku?” tanya Yuki sambil menyipitkan mata.
Mengangguk, Keven tersenyum tanpa dosa. “Iya.”
Tentu saja Keven harus membongkar isi dompet Yuki. Pasalnya dompet itu basah akibat tenggelam bersama barang curian lainnya di dalam tas si pencopet.
“Lancang!” ketus Yuki seraya menarik keluar foto Keven. Terpampang di bagian dompet yang transparan, padahal tadinya tersembunyi bersama fotokopian kartu identitas yang selalu diselipkan di dalam dompet.
“Thank you,” bisik Keven.
“Gak jelas,” ucap Yuki sewot. Matanya mendelik dengan bibir menyunggingkan cebikan. Dari pada sebal, Yuki lebih merasa malu karena ketahuan masih menyimpan foto Keven. Bahkan foto itu hasil jepretan tanpa izin.
__ADS_1
"Terus ponsel aku gak mau kasih sekalian?" todong Yuki sambil memicingkan mata.
"Kamu pakai ini aja."
"Apa ini?" tanya Yuki sambil menerima uluran kotak yang Keven sodorkan.
"Ini baru? Buat apa? Hish, buang-buang uang aja. Aku udah punya cicilan ponsel. Ambil aja ini lagi. Aku cuma butuh ponsel lamaku sendiri." Suara Yuki melengking tidak suka. Kotak berisi ponsel baru itu dikembalikan paksa pada Keven.
"Ganti yang kamu pakai sekarang."
"Kenapa?"
"Aku gak suka kamu pakai barang pemberian dia."
"Gak jelas banget sih kamu." Menggeleng, Yuki memutar bola matanya malas.
"Aku gak suka kamu dekat sama Dokter sok kegantengan itu!" sungut Keven.
"Mas Dion yang kamu maksud? Kamu tau ponselku dari dia? Wah ... pinter ya kamu, sekarang udah bisa jadi peramal. Tapi asal kamu tau, dia emang ganteng kali."
"Kamu ...."
"Kenapa lagi? Gak boleh aku bilang dia ganteng? Kamu cemburu?" tanya Yuki sekenanya.
"Iya, aku cemburu. Jadi jangan lagi kamu dekat-dekat sama dia!"
"Ya kalau kamu cemburu jangan libatkan aku. Jangan larang aku ini-itu sesuka hati kamu. Kita bukan siapa-siapa dan gak ada urusan apa-apa lagi. Kecuali itu ... balikin ponselku yang masih kamu sita!"
"Sampai kapanpun juga kamu tetap punya aku!!" tukas Keven serius.
"Udah gila ya kamu?! Aku punya diri aku sendiri! Bukan punya kamu!" ucap Yuki lantang sambil menunjuk tegas pada dirinya dan Keven secara bergantian.
"Iya, aku tau. Tapi aku nggak mau kamu dengan laki-laki itu."
"Argh!! Gak tau deh, masa bodoh! Bisa botak kepalaku gara-gara kamu." Yuki mengacak rambutnya yang terikat. Meremas kasar rambut yang menyelip di antara sela-sela jari.
Mengurai cengkeraman di rambut Yuki, Keven memegangi kedua tangan gadis itu. Menahan agar Yuki tidak membangun sarang burung di kepalanya. Keven bahkan tidak bergeming meski sudah dipelototi oleh Yuki.
"Kamu marah jadi tambah cantik," ucap Keven dengan tatapan penuh cinta.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih udah menanti kisah Yuki😘