Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Jomblo Ketikung


__ADS_3

Brak.


Pinggiran meja kayu itu membentur kasar pada kaki-kaki kursi. Dihempas kencang oleh Dimas yang siap meledakkan lahar mendidih lewat ubun-ubun.


"Cih!" decih Yuki sambil memeluk kedua lututnya. Beruntung kaki gesit Yuki sudah diangkat naik ke atas kursi. Jika tidak, ucapkan selamat pada kaki geprek yang pasti terjepit di antara meja dan kursi.


"Adik aku ini masih bocah, Bang. Dia masih labil," geram Dimas keras, jelas ia sedang marah.


"Maaf, Dim. Bukan maksud Abang manfaatin Adik kamu. Tapi memang Angga lebih dekat ke Nita. Jadi kalau mereka lama gak ketemu, Angga pasti rewel. Dulu dia sempat demam tinggi gara-gara aku terlalu sibuk, gak sempat bawa Angga ketemu Nita."


"Aku ini Abangnya. Saudara Nita yang paling tua. Mau gimanapun harusnya Bang Saka izin ke aku, minimal kasih tau aku!! Nita tanggung jawab aku, Bang!"


"Aku salah, aku akui itu. Maaf," sesal Saka dengan kepala menunduk lesu sambil menautkan jari-jemari.


"Bang ...," panggil Nita memelas pada Dimas.


"Diam! Cukup dengarin apa yang kami bahas!" ketus Dimas.


"Sabar!" bisik Yuki penuh penekanan. Ia melotot tajam seraya mendaratkan cubitan gemas di sisi luar paha Dimas, spontan ditanggapi mata mendelik si empunya paha.


Belum sempat pembicaraan itu berlanjut, suara tangis Angga yang terdengar semakin kencang berhasil mengusik keempatnya. Praktis Nita melompat, berjalan cepat keluar teras rumah dimana Angga diasuh sang babysitter. Ajaibnya dalam sekejap tangis yang sedari tadi menggema langsung mereda bersamaan dengan Nita yang melangkah masuk sambil menimang Angga.


"Kayak gini ... Udah 2 babysitter yang aku pekerjakan, tapi Angga tetap gampang rewel selain sama Nita. Apa lagi dia terlahir kurang sempurna, pendengarannya bermasalah. Jadi terlalu sensitif kalau dirawat orang lain," celetuk Saka mencoba menjelaskan perlahan permasalahan utama yang harus dirinya hadapi dalam merawat Angga.


"Maksudnya?" tanya Dimas masih tidak paham.


"Angga tuli," jawab Saka. Reflek Dimas mengalihkan pandangannya pada bayi yang mengerjap lucu dalam gendongan sang adik. Bayi yang terlihat baik-baik saja itu rupanya tidak sempurna, namun ia tetaplah anugerah istimewa yang paling berharga.


Tidak berbeda dengan Dimas, Yuki juga terbelalak kaget pada fakta yang baru saja diketahuinya. Sontak Yuki mendekat pada Nita, mengusap pelan dengan iba pipi gembul bayi yang terus memperhatikan Nita berceloteh tanpa suara.


"Dim, berhenti berdebat. Kita perlu solusi," kata Yuki serius, mencetak keheningan mencekat.


"Ada tamu ya? Loh kok belum dibuatin teh?" Suara wanita paruh baya yang tiba-tiba menggema membekukan sendi-sendi manusia di sepetak ruang tamu kecil, terkecuali Si Mungil yang menggemaskan, Angga.


Sontak Saka berdiri, mengambil sikap sopan dengan senyum ramah yang canggung. Ia spontan menyambut tetua rumah yang rupanya baru pulang arisan. Sedangkan Yuki, Nita dan Dimas sibuk bermain mata, mengkode satu sama lain agar saling mengunci bibir rapat-rapat.

__ADS_1


...----------------...


Beralih pada keseharian yang baru beberapa minggu setelah pertemuan tidak terlalu mendebarkan dibandingkan khayalannya, Yuki dengan perut keroncongan sudah melangkah lebar menyeberangi jalanan yang akhirnya lenggang. Tergesa Yuki berlari sambil membayangkan gurih dan nikmatnya cumi hitam yang menggoyang lidah.


Glek.


Benar saja, air liur sudah membanjiri rongga mulut Yuki. Sebagian ditelan sebagai pengobat perut lapar yang tidak sabaran.


Sejenak ditolehkan wajahnya pada deratan wadah stainless yang tertutup rapat. Beberapa bahkan terlihat isinya menggoda mata yang kelaparan karena sengaja dibuka oleh para pembeli yang sedang berburu makan siang.


“Nyam, nyam-nyam, enak nih,” gumam Yuki pelan. Ia berdiri tidak tenang saat mengantri untuk membasuh tangan di wastafel rumah makan prasmanan.


Sudah sejak kemarin Yuki menandai akan makan siang di warung seberang jalan tempatnya bekerja. Semua karena sepotong cumi hitam yang dicicipi dari seorang teman kerja. Kebetulan rekannya itu membeli seporsi cumi hitam seharga 5 ribuan sebagai lawan bekal nasi yang dibawa akibat tidak sempat memasak lauk lagi.


Beberapa saat kemudian Yuki sudah duduk manis memandangi sepiring nasi putih dengan sambal goreng tahu, oseng kangkung dan cumi hitam sebagai lauk pelengkap.


"Khem! Jomblo ya?"


"Iya," sahut Yuki singkat tanpa sadar, detik berikutnya ia mendongak dengan dahi mengerut sebal.


"Halah ... Ternyata jomblo ketikung," sindir Yuki pedas dengan bola mata berputar melebihi rotasi bumi.


"Padahal gak makan sambal, kenapa ada bau-bau semburan cabe?"


"Hilih, bicit," cibir Yuki pelan sembari menyusun tumpukan nasi, tahu, kangkung dan cumi dalam satu suapan besar. Dalam sekejap tangannya sudah meraup gundukan tinggi itu ke dalam mulut.


'Surga dunia ... Ini sih bisa bikin kantong kering. Enak banget,' batin Yuki meronta, meresapi nikmat dan perasaan was-was atas dompet yang kemungkinan hanya akan tersisa debu-debu halus di akhir bulan.


"Segitu enaknya ya? Hati-hati nanti kepala kamu lepas," ucap Dion menggoda Yuki yang bergoyang riang bak boneka pajangan di dashboard mobil.


Mencebik sekilas dan kembali melahap makanannya, Yuki sesekali melirik Dion. Tidak terindahkan adegan bak aksi telepati sempat terjadi di antara keduanya. Kode alis yang dinaikkan, mata menyipit hingga mengedikkan dagu.


"Kok bisa makan di sini? Kapan pulangnya?" ucap Yuki memecah keheningan mereka dalam keriuhan suasana rumah makan.


"Pulang kemarin," jawab Dion.

__ADS_1


"Terus kenapa bisa makan di sini? Rumah sakit kan jauh."


"Cuma 100 meter dari sini, jauh?" ucap Dion yang diakhiri pertanyaan singkat.


"Masa sih?" Mengernyit Yuki sembari memasukan satu suapan terakhir kepala cumi ke dalam mulutnya. Gadis itu masih mencoba menggambarkan alur perjalanan hingga sampai ke rumah sakit yang dimaksud dalam benaknya.


"Jadi Dokter bisa santai juga ya kerjanya," celetuk Yuki sambil menikmati sisa-sisa kunyahannya.


"Menurut kamu keliatannya santai atau nggak?" Dion mengaduk es sirup jeruk di gelasnya, mengulas senyum tipis sambil menatap akrab Yuki yang menggerakkan bibir layaknya gelombang di pantai.


"Kalau Dokter yang di depanku ini kayak pengacara banget. Sebentar ada di sana, sebentar ada di situ, sebentar lagi pasti pergi dari sini. Kayak gak punya kerjaan ada di mana-mana tapi gak jelas ngapain aja."


"Sekarang kamu lihat aku lagi apa?"


"Udah tau lagi ngapain, kenapa nanya orang lain?"


"Jawab aja."


"Ya lagi minum, baru selesai makan. Udah kan?" sahut Yuki ketus.


"Jadi udah tau kan kerjaan aku sekarang?"


Memutar bola matanya malas, Yuki bergumam pelan, "hish, gak jelas."


"Cepat habisin minuman kamu. Kamu yang duluan makan, tapi aku yang udah selesai dari tadi."


"Mulut Mas Dion selebar jurang, pantes aja bisa dikeruk masuk banyak-banyak."


Mengabaikan cibiran Yuki, Dion menggeser mundur kursinya, berdiri dan berlalu tanpa kata. Tentu tidak terlalu Yuki pedulikan, ia hanya fokus meresapi sesak di lambung yang sibuk mencerna asupan makan siangnya sambil menyeruput es teh manis yang tersisa. Sejenak pandangan Yuki mengedar, mencari waktu aman untuk melempar bongkahan kecil es batu ke dalam mulut. Kurang puas rasanya jika tidak mengunyah bongkahan-bongkahan kecil es batu yang terus mencair itu.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih yang udah setia ngikutin kisah Yuki🥰 Terima kasih juga udah ninggalin jejak like dan komen, bahkan kasih gift, vote, rate 5 dan yang dengan ikhlas kasih aku tips yang bikin saldo recehan aku bertambah😍


__ADS_2