
Pagi harinya rombongan Arya melanjutkan perjalanan menuju Kota Madya. Suasana ketika menempuh perjalanan kali ini tidak secanggung kemarin.
Semua orang mulai mengobrol membahas berbagai hal. Tetapi Putri Amanda masih enggan untuk berbicara dengan mereka, dan lebih memilih memperhatikan. Lagipula Putri Amanda juga tidak tertarik dengan obrolan para pria di kelompok tersebut.
Perjalanan mereka kembali menemui halangan. Beberapa orang berpakaian layaknya seorang pembunuh bayaran muncul dan menghadang kereta kuda.
Sebagai kusir, Fajar menghentikan kereta kuda saat melihat sejumlah orang tiba-tiba muncul dari pepohonan dan mengacungkan senjata kearahnya.
Fajar mengerutkan alisnya. Karena bingung harus berbuat apa, Fajar kemudian menepuk-nepuk Arya yang duduk dibelakangnya. "Hei, coba kalian lihat sebentar ke depan."
Mendengar perkataan Fajar seketika membuat semua orang melihat kedepan dan menemukan sekelompok orang yang sedang menghadang jalan mereka.
"Ck! Siapa lagi orang-orang ini?" Wira berdecak kesal melihat sekelompok orang memberhentikan kereta kuda mereka layaknya para bandit yang ingin menjarah.
Semua orang di dalam kereta kuda tampaknya tidak ingin meladeni orang-orang itu, begitupun dengan Arya. Tetapi sebagai pemimpin didalam rombongan, Arya terpaksa turun dari kereta kuda untuk menemui pemimpin orang-orang yang menghentikan perjalanannya.
"Ada perlu apa kalian menghentikan kereta kuda milik kami?" Arya bertanya dengan nada datar sambil memperhatikan satu-persatu orang-orang yang berada dihadapannya.
Ada 10 orang yang mencegat keret kuda rombongan Arya. Masing-masing dari memegang senjata dan siap untuk bertarung kapan saja jika diberikan perintah.
"Putri Amanda berada didalam rombongan mu, bukan? Kalau kau ingin melanjutkan perjalanan dengan selamat, serahkan Putri Amanda kepada kami."
Seorang pria dari kelompok itu maju dan menyampaikan keperluannya kepada Arya. Dimana mereka semua menginginkan Putri Amanda untuk ikut bersama dengan mereka.
Mendengar perkataan dari perwakilan kelompok itu, Arya tersenyum kecil dan menatap pria tersebut seolah menantangnya. "Menyerahkan Putri Amanda kepada kalian? Memangnya kalian siapa berani mengancamku?"
__ADS_1
"Lancang! Berani-beraninya manusia rendahan sepertimu mempertanyakan permintaanku!" Merasa terhina oleh sikap yang ditunjukkan Arya kepadanya, pemimpin kelompok itu ingin menarik pedangnya, tetapi tidak jadi setelah mendengar suara seseorang yang memintanya untuk berhenti.
"Cukup sampai disitu!" Putri Amanda turun dari kereta kuda dan menghampiri orang-orang yang mencarinya, sambil memasang raut wajah kesal.
Menemukan sosok Putri Amanda yang mereka cari, kelompok itu tiba-tiba bertekuk lutut kemudian memberi hormat seolah Putri Amanda merupakan atasan mereka.
Putri Amanda mengabaikan sambutan dari orang-orang itu. Dia kemudian meminta kepada Arya untuk kembali kedalam kereta kuda, sementara dirinya ingin berbicara dengan kelompok yang mencarinya.
Awalnya Arya menolak permintaan Putri Amanda. Bagaimanapun keselamatan wanita itu merupakan tanggung jawabnya. Jika membiarkan Putri Amanda sendiri bersama sekelompok orang asing, Arya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi.
Tetapi Putri Amanda meyakinkan Arya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena dirinya mengenal kelompok itu. Pada akhirnya Arya mengangguk pasrah dan kembali kedalam kereta kuda.
Setelah Arya pergi, raut wajah Putri Amanda yang sempat terlihat lembut penuh perhatian seketika mendadak hilang. Ekspresi dingin bercampur rasa kesal terlihat jelas diwajah Putri Amanda saat ini, setelah pemimpin kelompok itu menghina Arya.
Disisi lain Arya yang sudah kembali ke kereta kuda memperhatikan interaksi Putri Amanda bersama sekelompok orang misterius yang menghadang mereka.
Hanya dalam kurun waktu 10 menit Putri Amanda berhasil membuat kelompok itu pergi setelah melakukan pembicaraan singkat yang diwarnai sedikit perdebatan ringan.
Putri Amanda kemudian kembali dan masuk kedalam kereta kuda. Baru saja duduk, Putri Amanda langsung mendapat tatapan dari semua kepadanya.
"Siapa mereka tadi. Bukannya kau mengenalnya?" Arya bertanya penasaran dan tidak memperlakukan Putri Amanda lagi secara formal.
Setelah perbincangan semalam, Putri Amanda secara langsung kepada Arya untuk memperlakukannya seperti orang biasa dan tidak bersikap formal kepadanya.
Arya tentu hanya bisa menurut. Jika sampai dirinya membuat Putri Amanda merasa tidak nyaman, jabatan yang sudah dia miliki sekarang akan langsung terancam.
__ADS_1
"Mereka pasukan khusus dari Kerajaan Angasari yang selama ini menjaga dan mengawasiku. Kedatangan mereka tadi, ingin membawaku pulang. Tapi aku menolak dan meminta mereka kembali untuk menyampaikan pesanku kepada orang tuaku."
Putri Amanda menyampaikan maksud kedatangan kelompok itu kepada Arya tanpa sedikitpun menutupinya. Bagaimanapun juga Arya merupakan orang yang saat ini bisa dia percaya.
"Lalu kenapa kau tidak ingin pulang? Bukannya selama ini kau merindukan keluargamu?" Arya merasa heran dengan pemikiran Putri Amanda. Jika Putri Amanda memiliki banyak pengawal, seharusnya wanita itu sejak lama bisa saja kembali menuju Kerajaan Angasari.
Putri Amanda terkekeh kemudian tersenyum kearah Arya. "Siapa bilang aku ingin pulang. Mudah saja untukku kembali, tapi aku masih ingin tetap berada disini. Lagipula masih ada hal yang aku dapatkan di Kerajaan ini."
Usai mengutarakan pikirannya. Putri Amanda memperhatikan Arya sambil memberikan tatapan mata dan senyuman penuh makna.
Arya yang mendengar jawaban dari Putri Amanda cukup dibuat heran. Rasa curiga sempat dirasakan oleh Arya kepada niat Putri Amanda tetap menetap di Kerajaan Brawijaya, padahal wanita itu bisa saja pulang dengan mudah.
Tetapi Arya langsung menepis prasangka buruknya kepada Putri Amanda. Instingnya mengatakan wanita itu tidak akan berbuat macam-macam kepada Kerajaan Brawijaya, dan Arya tentu mempercayai instingnya.
Meski percaya kalau Putri Amanda tidak akan melakukan spionase. Arya masih bertanya-tanya mengenai tujuan Putri Amanda yang masih menetap di Kerajaan Brawijaya.
Arjuna, Wira, dan Bagaskara yang melihat Arya terlihat bingung dengan maksud perkataan Putri Amanda mulai merasa sedikit geram.
Sebagai orang dewasa yang pernah menjalin hubungan sampai menikah. Arjuna, Wira, dan Bagaskara langsung bisa menangkap maksud perkataan Putri Amanda yang sebenarnya mengincar Arya itu sendiri.
Ingin rasanya mereka bertiga memukul Arya agar pemuda itu sadar. Mau dilihat dari manapun, Putri Amanda terlihat jelas sedang mengalami musim semi kepada pemuda itu.
Tetapi baik Arjuna, Wira, maupun Bagaskara tidak berani memberitahu Arya apa yang sebenarnya dimaksud oleh Putri Amanda. Mereka terlalu khawatir jika memberitahu Arya nasib ketiganya akan berakhir menjadi patung es.
Ketiga pria itu lebih memilih diam dan mengamati perkembangan hubungan diantara dua sejoli itu, yang sepertinya akan sangat menarik untuk diikuti.
__ADS_1
Untuk Fajar sendiri dia tidak terlalu perduli dengan apa yang baru saja terjadi. Fajar hanya ingin cepat sampai ke Kota Madya untuk melakukan latihan fisik dan menambah pengalaman bertarungnya dengan hewan buas di Hutan Darah.