
Enam pria tiba-tiba muncul dihadapan para prajurit yang menjadi peserta dalam turnamen militer. Keenam pria yang memiliki aura dominan itu tak lain adalah Jenderal dari bendera enam warna.
Raut wajah serius ditambah aura membunuh yang keluar dari tubuh mereka, menunjukkan seberapa berpengalaman para Jenderal dalam pertempuran nyata.
Seluruh prajurit yang semula asik mengobrol langsung diam membisu dibawah tekanan para Jenderal. Bahkan tekanan keenam Jenderal tersebut juga membuat para penonton terdiam seketika.
"Apa kalian sudah puas berbicaranya?" Tanya seorang Jenderal dari Bendera Merah sambil memandangi para prajurit dalam-dalam.
"Siap.Sudah Pak!" Jawab seratus peserta kompak dan lantang, membuat para penonton yang mendengarnya langsung merinding.
Seratus prajurit yang terpilih untuk mengikuti turnamen militer bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah para prajurit terbaik dari yang terbaik. Tentu mereka semua memiliki kontribusi besar untuk keamanan Kerajaan disaat sekte-sekte justru saling menyerang hanya karena alasan kecil.
"Bagus... Aku akan memberitahu kepada kalian semua beberapa peraturan dalam turnamen ini, yang tentunya tidak bisa diikuti oleh sembarangan orang."
Mendengar perkataan dari salah satu Jenderal membuat semua peserta mulai merasa was-was, karena tak menutup kemungkinan taruhan mengikuti turnamen ini adalah nyawa.
Hanya ada beberapa prajurit saja yang tampak santai mendengar perkataan Jenderal. Arya merupakan salah satu dari mereka yang santai dan tidak menganggap serius.
"Tidak aturan dalam turnamen kali ini. Kalian bebas melakukan apa saja terhadap lawan kalian. Tetapi tidak boleh ada yang melakukan hal menjijikan. Kalian tau apa yang aku maksud bukan?"
"Siap.Paham Pak!" Balas seluruh peserta serentak tanpa keraguan sedikitpun.
Arti tidak ada aturan mengisyaratkan bahwa mereka bisa membunuh satu sama lain kecuali melakukan perbuatan tidak senonoh dan biadab kepada lawan mereka masing-masing.
Sebelum memberitahu babak penyisihan pertama. Jenderal dari Bendera Biru meminta kepada para peserta yang tidak ingin mengambil resiko, bisa mengundurkan diri sebelum terlambat.
Ada 20 prajurit yang langsung turun dari atas arena karena mereka berpikir tidak sanggup mengikuti turnamen militer. Tentu sorakan dari penonton terdengar menghina para peserta yang mengundurkan diri.
__ADS_1
Setelah 20 prajurit mengundurkan diri kini hanya tersisa 80 prajurit. Keenam Jenderal itu kemudian mulai berdiskusi untuk menentukan seleksi pertama kepada para prajurit yang tersisa.
Dalam diskusi singkat para Jenderal telah menyepakati untuk mengadakan lomba berburu Hewan Iblis. Bukan tanpa alasan para Jenderal memilih seleksi pertama untuk memburu Hewan Iblis.
Belakangan ini populasi Hewan Iblis meningkat tajam, dan banyak laporan tentang serangan Hewan Iblis kepada para penduduk diberbagai daerah.
Seorang Jenderal kemudian menyampaikan seleksi pertama kepada para peserta untuk memburu Hewan Iblis. Tentunya akan ada poin tersendiri saat para peserta berhasil memburu Hewan Iblis tingkat tinggi.
Para peserta kemudian diberi waktu selama 1 minggu untuk melakukan perburuan, dan lokasinya bebas asal mereka berhasil membunuh Hewan Iblis.
Tetapi ada satu tempat yang sama-sama para peserta pikirkan dimana mereka bisa menemukan Hewan Iblis dari tingkat rendah sampai tinggi. Tempat itu tidak lain adalah Hutan Terlarang
Beberapa peserta kemudian membentuk beberapa regu yang padahal tak diwajibkan. Tetapi Arya tampaknya tidak tertarik untuk bergabung dengan siapapun, karena berpikir mereka hanya akan menjadi bebannya saja.
"Mereka sama-sama tak bisa dipercaya..." Gumam Arya saat melihat beberapa peserta tersenyum kepada rekan mereka, padahal jelas senyuman mereka semua palsu.
Raka yang sedang berbincang dengan Bayu, Angga, dan Satria menyadari ada seseorang yang memperhatikannya. Tetapi saat Raka menengok dia melihat seorang prajurit asing yang sama sekali tak dia kenal.
Disisi lain Arya hanya tersenyum tipis sebelum menghilang diantara keramaian, membuat Raka terkejut sebab dia mengenali senyuman khas dari Kakaknya.
"Hei Raka, kau mau pergi kemana?!" Panggil Satria ketika melihat Raka pergi terburu-buru seolah menemukan sesuatu yang membuatnya sangat tertarik.
Raka tak menjawab panggilan dari Satria dan sibuk mencari keberadaan Arya. Tetapi sayangnya ketika seorang Jenderal mulai melepaskan para peserta untuk segera memulai seleksi pertama, membuat Raka kehilangan jejak dari Kakaknya.
"Kakak... Aku pasti akan menemukanmu." Raka mengepalkan tangannya kemudian bergabung kembali dengan regu nya.
Sementara itu Arya kini berjalan menuju gerbang kota sambil membawa sekarung makanan. Dibandingkan dengan para peserta lain yang kelihatan serius, Arya justru terlihat santai merasa seleksi pertama sangat mudah untuknya.
__ADS_1
Ketika Arya sedang jalan tiba-tiba seorang wanita bertudung hitam menarik pakaian. Reflek Arya berhenti kemudian berbalik ke belakang.
"I...Ini untukmu..." Ucap wanita bertudung sambil memberikan bunga yang terbuat dari es murni kepada Arya, kemudian langsung pergi.
Arya terheran-heran dengan apa yang baru saja terjadi. Seorang wanita asing bertudung tiba-tiba datang dan memberinya setangkai bunga es, tentu membuatnya merasa bingung.
"Apa yang baru saja terjadi. Kenapa dia memberikan bunga ini kepadaku?" Merasa bunga mawar yang terbuat dari es itu cukup menarik, Arya kemudian menyimpannya kedalam cincin dimensi. Kemudian melanjutkan perjalanannya.
Disisi lain Putri Amanda dari gang sempit tersenyum saat Arya menyimpan bunga mawar yang dia buat khusus untuknya.
Putri Amanda tampak menyayangkan sikapnya yang gugup tadi, padahal dia sebenarnya ingin berbicara dengan Arya lebih lama lagi.
Raut wajah Putri Amanda memerah dan nafasnya mulai terasa hangat. Detak jantungnya perlahan meningkat saat memandangi Arya secara diam-diam.
Putri Amanda yang tidak bisa melihat Arya lebih lama lagi memutuskan kembali ke Istana agar tidak dicari-cari karena sudah menyelinap keluar dari pagi sampai siang hari.
"Sepertinya aku masih harus menguatkan keyakinan ku, agar tak gugup lagi saat ingin berbicara dengannya." Putri Amanda tersenyum kecil dan mempercepat langkahnya.
Sementara itu Arya sebenarnya menyadari kehadiran Putri Amanda yang sebelumnya diam-diam memperhatikan dari jauh.
Arya masih belum mengenali sosok wanita cantik itu yang dulu pernah dia tolong. Wajar saja karena dia sama sekali tak bisa melihat wajah wanita cantik itu karena memakai tudung.
"Sebenarnya siapa dia? Aku rasa kami belum pernah bertemu." Arya masih dibuat bingung dengan wanita asing yang diam-diam memberikan bunga mawar es kepadanya.
Tak mau ambil pusing Arya langsung membuang jauh-jauh pemikiran tentang wanita tersebut, dan bergegas menuju pos penjagaan kota untuk mendapatkan surat ijin keluar-masuk dari Ibukota.
Setelah mendapatkan surat ijin Arya melesat melewati jalan yang berbeda dengan para peserta lain untuk menuju kawasan Hutan Terlarang.
__ADS_1