
Dua buah cakram api milik Raka terus mengejar Angga. Hal ini jelas membuat Angga dibuat cukup kesulitan saat ingin membidik Raka menggunakan busurnya.
Posisi Angga perlahan semakin terdesak disaat Raka mulai memperkecil jarak diantara mereka, setelah Raka berhasil membuat perhatian Angga hanya terfokus untuk menghindari cakram miliknya.
Angga dibuat terkejut saat Raka sudah berhasil mencapai posisinya. Angga berdecak kesal sebelum sebuah pukulan yang dilayangkan Raka membuatnya terpelanting kebelakang.
Hampir saja Angga keluar dari arena yang bisa membuatnya di diskualifikasi, beruntung dia masih bisa menyeimbangkan tubuh didetik terakhir.
Melihat Angga masih bisa bertahan, Raka tak membiarkan Angga menarik nafas dan langsung mengarahkan kedua cakram Api kearah pria tersebut.
Angga mengeratkan gigi menyadari jika Raka tak ingin memberi jeda dalam pertarungan mereka. Bom asap akhirnya Angga gunakan untuk menyembunyikan keberadaannya dari Raka.
Satu arena kini sudah tertutup asap tebal yang membuat para penonton tidak bisa melihat jalannya pertarungan antara Raka dan Angga. Hanya semburan api dan suara dentuman saja yang bisa mereka saksikan.
Didalam kabut asap Raka memasang kewaspadaan tinggi. Tiba-tiba suara lesatan anak panah dari arah belakang terdengar. Dengan sigap Raka menghindar dan balik melemparkan cakram kearah datangnya anak panah.
Sayangnya Raka tak berhasil mengenai Angga. Justru dia harus dibuat kerepotan saat ada banyak anak panah melesat dari berbagai arah.
Beberapa anak panah masih bisa Raka tangkis dan hindari, tapi tak sedikit anak panah yang berhasil menyayat hingga membuat tubuhnya penuh dengan luka.
"Cukup sudah..." Kesal pandangannya dibutakan oleh Angga. Raka memukul tanah sampai membuat gelombang api yang menjalar ke seluruh arena dan menghilangkan kabut asap.
Angga yang melihat gelombang api beruntung masih bisa melompat menghindarinya. Tetapi dia sempat terkena sambaran api hingga membuatnya mengalami luka bakar ringan.
Melihat Angga yang masih melayang di udara Raka langsung mengarahkan kedua cakram api kearah pria itu sebelum mendarat ke tanah.
Angga kali ini tak tinggal diam saja. Dua anak panah langsung dia siapkan untuk menghalau cakram milik Raka. Begitu anak panah bertemu cakram api, langsung terjadi ledakan di udara yang cukup besar.
__ADS_1
Gelombang kejut dadi ledakan itu seketika membuat Angga terhempas dan mendarat dengan pijakan tidak sempurna. Akibatnya Angga harus menahan rasa sakit di kakinya.
"Lebih baik kau segera menyerah, Angga. Gerakanmu tak mungkin bisa selincah seperti sebelumnya!" Ucap Raka sambil tersenyum menantang menyadari kaki Angga mengalami cidera.
Mendengar perkataan Raka, jelas membuat Angga berdecak kesal menyadari bahwa dia sudah masuk kedalam permainan Raka.
"Menyerah katamu? Bermimpilah!" Usai mengatakan hal tersebut, Angga menarik busurnya dan melapisi anak panah menggunakan Qi agar lebih kuat serta dapat membelah jalur lintasan di udara.
Begitu Angga melepaskan tembakan, gelombang kejut seketika membuat pijakan di sekitar Angga hancur. Bahkan angin kencang yang dihasilkan sampai bisa dirasakan oleh semua penonton di tribun.
Melihat anak panah milik Angga melesat cepat kearahnya, Raka berdecak dan menyilangkan kedua cakram untuk menahan serangan Angga.
Dentuman kerasa disertai gelombang angin kencang muncul disaat anak panah milik Angga bertemu dengan cakram milik Raka.
Raka berusaha menahan tekanan yang diberikan oleh anak panah milik Angga sampai membuat pijakannya retak. Tetapi karena tekanan yang terlalu besar, membuat tubuh Raka perlahan terseret kebelakang.
Beruntungnya arah anak panah bisa sedikit dibelokkan membuat Raka bisa menghindari serangan Angga. Tetapi anak panah itu masih melesat cepat sampai akhirnya menghancurkan pembatas tribun penonton.
Para penonton yang berada disekitar kerusakan, mereka langsung berusaha mencari tempat aman agar tidak terkena serangan yang salah sasaran. Beruntung anak panah milik Angga tadi tak memakan korban, tetapi tetap saja masih ada beberapa penonton yang terluka karenanya.
"Hei, apa kau benar-benar ingin membunuhku dengan serangan itu?!" Melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh anak panah milik Angga, Raka merasa cukup beruntung karena dapat merubah jalur lintasan anak panah sebelumnya.
Kalau sampai Raka tak bisa menghindar, mungkin sekarang sebagian tubuhnya sudah terkoyak akibat serangan Angga.
"Ingat, tidak aturan tertulis yang mengatakan kalau setiap peserta dilarang membunuh. Jadi jangan salahkan aku jika kau terbunuh, salahkan saja dirimu sendiri yang lemah."
Angga tersenyum kecil mencoba memancing emosi Raka. Angga sengaja melakukannya agar konsentrasi Raka menjadi pecah, dan membuat serangan pria itu menjadi tidak terorganisir, yang dapat membuatnya dengan mudah mengalahkan Raka.
__ADS_1
Mendengar perkataan Angga seolah membuat Raka tak percaya kalau temannya sendiri ingin membunuhnya dalam kompetisi itu.
"Baiklah kalau itu mau. Aku akan mulai serius dari sekarang!" Ucap Raka sambil mengacungkan cakram miliknya kearah Angga.
Merasa tidak mempunyai pilihan lain jika ingin menang. Raka akhirnya menggunakan sebuah teknik yang pernah diberikan oleh Arya dulu.
"Racun Api..." Cakram milik Raka seketika diselimuti api merah kehitaman. Teknik ini cukup berbahaya karena jika terkena sedikit sambaran api, maka akan terjadi peradangan kulit yang akan terasa sangat panah dalam jangka waktu sangat lama.
****
Dibangku tunggu Arya yang melihat Raka mulai menggunakan sebuah teknik berbahaya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Hanya melawan temannya sendiri, dia sampai-sampai menggunakan teknik berbahaya." Arya yang mengetahui efek lain dari teknik racun api berpikir Raka tak seharusnya memakai teknik itu kepada temannya sendiri.
Tetapi mengingat dalam kompetisi ini teman akan dianggap musuh yang bisa mengancam nyawa, Arya memilih untuk tidak ikut campur menghentikan niat Raka.
Selain membuat peradangan kulit, efek lain dari teknik racun api bisa membuat daging korbannya mengelupas dari tulang. Jadi sudah dipastikan teknik racun api itu bukan cukup berbahaya, melainkan sangat berbahaya.
Meski belum pernah memakai atau bahkan melihat efek sebenarnya dari teknik racun api, tampaknya Raka mengira kalau teknik itu hanya akan melumpuhkan lawan, seperti layaknya racun pelumpuh saraf biasa.
Sementara itu Satria yang duduk tak jauh dari Arya dapat mendengar ucapan pria itu barusan. Jika Arya saja sampai mengatakan teknik racun api sangat berbahaya, tentu Satria akan mempercayainya.
Tetapi sama seperti Arya, Satria juga memikirkan hal sama, yaitu mereka tak boleh ikut campur atau menghentikan pertandingan yang dianggap suci oleh pihak militer.
Sebenarnya Satria mengikuti kompetisi berbahaya itu karena tak sengaja mendengar rapat ayahnya, yaitu Panglima Besar dan keenam Jenderal saat berada di kediaman keluarga Mahesa.
Dalam rapat tersebut Panglima Besar ingin menambah satu regu atau pasukan Bendera ketujuh. Oleh sebab itu diadakanlah kompetisi militer untuk menentukan siapa yang layak menjadi Jenderal baru yang akan memimpin pasukan Bendera Hitam.
__ADS_1