Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Lebih Rendah Dari Binatang


__ADS_3

Deru suara tapak kaki kuda menembus kesunyian dalam hutan. Terlihat dua orang pria dewasa berusia 40 dan 50 tahunan mengendarai kuda dengan kecepatan sedang.


Mereka tidak lain merupakan utusan dari Kota Madya. Hari ini merupakan hari ke tujuh mereka paska meninggalkan Kota Madya setelah mendapat perintah Arya untuk mendatangi Asosiasi Perak untuk meminta bantuan.


"Deswara, apa kau yakin mereka akan membantu kita? Yang aku ketahui Asosiasi Perak hanya akan menjual produk mereka untuk orang-orang kaya dan memiliki pengaruh saja."


Indera memiliki keraguan diwajahnya. Baik dia maupun Deswara sebenarnya sudah mengetahui sikap para pekerja yang bekerja di Asosiasi Perak.


Jauh sebelum Arya meminta mereka mendatangi Asosiasi Perak Pusat. Indera dan Deswara pernah beberapa kali mengunjungi cabang Asosiasi Perak untuk meminta bantuan serupa, yaitu sumber pangan.


Kala itu atau lebih tepatnya 5 tahun yang lalu, Kota Madya dilanda krisis pangan setelah badai selama 3 bulan menghantam daerah tersebut.


Berbeda dengan Kota-kota lain yang memiliki formasi perlindungan. Kota Madya sama sekali tidak memilikinya. Akibatnya Kota Madya mengalami kerusakan cukup parah dan ladang yang merupakan sumber pangan utama juga rusak, mengakibatkan para petani mengalami gagal panen.


Sudah beberapa kali masyarakat Kota Madya meminta bantuan kepada pihak Istana dan Kota lain. Tetapi mereka semua sama sekali tidak menanggapi permintaan dari masyarakat Kota Madya.


Akibatnya lebih dari 10.000 penduduk Kota Madya tewas setelah dilanda krisis pangan yang berkepanjangan. Hal inilah salah satu faktor yang membuat masyarakat Kota Madya membenci pihak Istana dan Kota lain.


"Kita tidak memiliki pilihan selain ini, Indera. Tidak mungkin kita membiarkan kejadian 4 tahun lalu terulang kembali. Sekarang kita hanya bisa berharap pihak Asosiasi Perak bagian pusat dapat membantu persoalan ini."


Deswara mencoba meyakinkan Indera supaya tidak berkecil hati. Dia tentu saja mengerti sumber keraguan temannya itu ketika harus mengunjungi Asosiasi Perak.


Menurut Deswara wajar saja jika Indera memiliki keraguan saat ini terhadap pihak Asosiasi Perak. Dulu ketika mereka bersama beberapa orang lain dari Kota Madya meminta bantuan kepada cabang Asosiasi Perak. Mereka justru langsung diusir, bahkan diperlakukan tidak manusiawi.


Dihadapan orang-orang dari Kota lain. Masyarakat Kota Madya dipandang sebelah mata dan memiliki kedudukan lebih rendah dari binatang sekalipun, karena mereka adalah terburuk dari yang terburuk.

__ADS_1


Mendengar perkataan dari Deswara senyuman kecut seketika terukir di wajah Indera. Sekarang tidak ada jalan mundur dan mereka berdua kini menanggung beban hidup dari 2 juta penduduk Kota Madya.


Beberapa waktu kemudian Deswara dan Indera bisa melihat Ibukota Wirabhumi setelah keluar dari jalur hutan. Keduanya menghirup nafas dalam-dalam dan menguatkan mental, kemudian melangkah maju menuju gerbang utama.


Deswara dan Indera turun dari kuda mereka saat memasuki antrian pemeriksaan. Tatapan sinis langsung mereka terima dari orang-orang yang sudah berada disana.


Mereka memandang rendah Deswara dan Indera saat melihat penampilan kedua pria itu yang seperti berasal dari pedesaan terpencil di pelosok negeri.


Tentu orang-orang yang sedang mengantri bukan berasal dari golongan bawah. Mereka semua merupakan saudagar kaya dan memiliki pengaruh didalam Kerajaan, bahkan tak sedikit dari mereka yang merupakan Pendekar dan murid dari Sekte bela diri terkenal.


Deswara dan Indera hanya bisa menundukkan kepala menyadari bahwa mereka tak sebanding dengan orang-orang itu. Keduanya lalu sedikit menjaga jarak dari mereka agar tidak mendapat masalah.


Ketika hari sudah menjelang petang antrian panjang sudah berkurang. Sekarang merupakan giliran Deswara dan Indera untuk melakukan pemeriksaan sebelum bisa masuk kedalam Ibukota Wirabhumi.


Beberapa prajurit lain juga sama meminta Deswara dan Indera untuk pergi atau lebih tepatnya mengusir mereka secara terang-terangan.


Prajurit disana mengatakan harus segera menutup gerbang utama karena sebentar lagi langit akan berubah menjadi gelap. Mereka mengatakan kepada Deswara dan Indera jika sudah ada aturan untuk melarang pendatang masuk saat hari menjelang malam.


Mendengar hal itu jelas membuat Deswara dan Indera merasa kecewa. Mereka sudah lama mengantri dari pagi hari, bahkan dipaksa mundur saat beberapa orang memotong antrian mereka.


"Maaf tuan-tuan, tetapi kami tidak mungkin berkemah diluar lagi. Ada hal penting yang harus kami lakukan di Ibukota." Deswara memohon kepada seorang prajurit agar membiarkan dirinya dan Indera masuk kedalam.


Untuk mencegah kejadian 4 tahun lalu, Deswara mengabaikan harga dirinya dan memohon sambil bertekuk lutut dihadapan prajurit yang terus menghalanginya masuk kedalam Ibukota.


Prajurit itu berdecak kesal saat Deswara menyentuh kakinya. Dengan kesal dia kemudian menendang Deswara sampai membuat pria itu tersungkur.

__ADS_1


Deswara memuntahkan seteguk darah segar setelah dadanya ditendang keras oleh prajurit itu. Dia kemudian memegangi dadanya yang terasa sangat sakit sambil menundukkan kepala.


Indera yang melihat Deswara terluka langsung menolongnya. Dia kemudian memapah untuk membantu pria itu berdiri. Tentu Indera merasa kesal dan ingin memberi pelajaran kepada prajurit yang memiliki Ranah Kultivasi beberapa lapisan di bawahnya.


Tetapi niat Indera tentu saja langsung dicegah oleh Deswara yang memintanya untuk menahan diri, karena sadar masalah akan bertambah rumit jika berurusan dengan pihak keamanan Ibukota.


Prajurit itu memalingkan pandangannya kearah dua ekor kuda milik Deswara dan Indera. Melihat kuda-kuda tampak sehat dan terawat, dia kemudian memiliki pikiran untuk memilikinya.


"Baik aku akan membiarkan kalian berdua masuk. Tetapi tentu saja kalian berdua harus memberiku tip." Prajurit itu tersenyum licik sambil memberi isyarat bahwa dia menginginkan kuda milik Deswara dan Indera.


Tidak memiliki pilihan lain karena hari sudah mulai gelap. Deswara dan Indera pada akhirnya menyerahkan kuda kesayangan mereka kepada prajurit itu agar dibiarkan masuk ke Ibukota.


Begitu masuk kedalam Ibukota mereka lagi-lagi mendapat tatapan tidak menyenangkan dari semua orang. Deswara dan Indera hanya bisa berdecak kesal didalam hati, merasa penduduk Ibukota terlalu angkuh.


Deswara dan Indera kemudian mencari penginapan untuk menginap selama semalam. Tetapi dalam mencari penginapan mereka berdua sangat kesulitan, sebab beberapa penginapan yang mereka kunjungi selalu menolak.


Pada akhirnya mereka menemukan sebuah penginapan kecil di sudut Ibukota yang kondisinya jauh dari kata layak. Begitu masuk ke dalam Deswara dan Indera langsung disambut oleh beberapa pemabuk akut yang sedang bersantai di lantai pertama.


Deswara dan Indera langsung saja menuju meja resepsionis untuk menghindari masalah dengan para pemabuk itu, lalu memesan sebuah kamar.


"Harga permalam 5 keping emas dan untuk dua orang 10 keping emas." Ucap seorang pria jakung dengan malas saat melihat Deswara dan Indera.


Mendengar harga menginap semalam yang terbilang sangat mahal, tentu saja Deswara dan Indera menyadari jika mereka berdua sedang ditipu.


Tetapi Deswara dan Indera lagi-lagi tidak memiliki pilihan. Mereka kemudian membayar biaya menginap dengan semua uang perjalanan yang sudah diberikan oleh Arya.

__ADS_1


__ADS_2