Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Bertemu Naga Perak (Revisi Lokal)


__ADS_3

Kesadaran Arya Wijaya sudah berpindah ke tempat lain. Meninggalkan raganya yang masih duduk dalam posisi Lotus di dalam kamar.


Arya Wijaya menemukan dirinya kini berada di sebuah tempat gelap dan terdapat genangan air. Arya Wijaya mencoba untuk menggunakan Api Surgawi untuk membuat penerangan, tetapi dia tidak bisa melakukannya ditempat tersebut.


Beberapa titik Api tiba-tiba muncul dihadapan Arya Wijaya. Titik-titik Api kemudian menerangi sebuah kurungan besar yang mengurung seekor makhluk yang pernah membuat kekacauan di Dunia Kultivasi.


Karena penasaran dengan kurungan besar di hadapannya, Arya Wijaya berjalan mendekat sambil tetap menjaga kewaspadaan nya.


Merasakan kehadiran Arya Wijaya, sosok yang dikurung didalam kurungan raksasa terbangun dan membuka kedua matanya.


Sosok itu tidak lain adalah Naga Perak, kesadaran lama yang dimiliki oleh Arya Wijaya. Melihat Arya Wijaya datang, Naga Perak kemudian menggeram dan berjalan menghampiri jeruji.


Terlihat leher, ekor, mulut, dan keempat kaki Naga Perak semuanya dililit oleh rantai. Ukuran Naga Perak yang lebih besar dari sebuah gunung membuat Arya Wijaya hanya seperti titik debu dihadapannya.


Melihat sosok Naga Perak membuat Arya Wijaya tanpa sadar berjalan mundur untuk menjaga jarak, karena tidak tau apa yang akan terjadi jika dia terlalu dekat.


"Siapa kau sebenarnya. Mengapa satu tahun lalu masuk kedalam tubuhku dan membuat wujud ku menjadi sepertimu?" Dengan raut wajah curiga Arya Wijaya memberanikan diri untuk bertanya.


Naga Perak mendengus kesal melihat jiwa miliknya tampaknya sudah dibersihkan oleh sosok Kakek tua yang merupakan penciptanya sendiri.


"Aku adalah kau dan kau adalah aku. Sepertinya memang benar dia sudah menghapus semua ingatanmu..." Balas Naga Perak melalui telepati kepada Arya Wijaya.


Mendengar jawaban dari Naga Perak langsung didalam kepalanya sempat membuat Arya Wijaya terkejut, ditambah pernyataan mengejutkan dari sosok reptil raksasa tersebut.


Arya Wijaya tak percaya begitu saja dengan pernyataan dari Naga Perak, karena perkataan makhluk itu terkesan sangat ambigu. Jelas dia tak mengenal sosok reptil itu dan belum pernah bertemu dengannya.


"Berhenti mengatakan omong kosong. Bagaimana mungkin aku merupakan sosok kadal bersayap empat sepertimu?!" Elak Arya Wijaya yang tak mau disamakan dengan seekor kadal terbang.


Naga Perak merasa tak terima makhluk Agung sepertinya disamakan dengan seekor kadal. Dia menggeram kesal dan hendak menyerang Arya Wijaya, tetapi pergerakannya telah dikunci oleh rantai-rantai.

__ADS_1


Tubuh Naga Perak langsung ambruk sampai menimbulkan dentuman cukup kuat setelah kakinya tersandung rantai yang mengekangnya.


"Kau hanya jiwa sialan. Seharusnya kau melepaskan ku dan membiarkan ku untuk menyerap mu!" Ujar Naga Perak dengan sangat kesal sambil memberontak.


Dari perkataan yang diucapkan oleh Naga Perak. Arya Wijaya langsung bisa menyadari kalau makhluk itulah yang selalu berusaha mengambil alih kesadarannya.


Arya Wijaya masih belum bisa percaya dan ingin menanyakan beberapa hal kepada sosok Naga Perak yang mengaku adalah dirinya itu.


Tetapi belum sempat Arya Wijaya ingin mengutarakan pertanyaannya, tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk punggungnya, sampai membuat kesadaran Arya Wijaya langsung kembali ke tubuhnya yang ada dikamar.


Melihat Arya Wijaya yang sudah lama dia tunggu pergi menghilang dari tempat itu membuat Naga Perak semakin marah.


Amarah Naga Perak bertambah besar saat melihat sosok Kakek tua yang merupakan penciptanya sudah berada di depan jeruji besinya.


"Lepaskan aku! Aku tak mau dikurung lebih lama setelah ribuan tahun!" Berontak Naga Perak mencoba melepaskan rantai yang mengekang tubuhnya.


Melihat sosok Naga Perak yang merupakan mahakarya terbesarnya mengamuk, Kakek tua hanya bisa menghela nafas dan pergi meninggalkan tempat itu.


****


Arya Wijaya membuka mata dan memuntahkan seteguk darah kotor dari dalam mulutnya. Dia dapat merasakan dadanya terasa seperti diremas sampai membuatnya sedikit sesak.


Nafas Arya Wijaya mulai memburu bahkan keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Arya Wijaya menemukan Dantian miliknya sudah kembali seperti kristal bening saat memeriksa dadanya.


Meski masih merasakan rasa sesak, Arya Wijaya cukup dibuat lega karena Dantian miliknya sudah kembali normal.


Tetapi Arya Wijaya saat ini tak boleh bersantai dulu. Dia masih harus mengatasi pondasi kultivasinya yang baru saja naik 2 lapisan. Selangkah lagi sampai dia bisa meninggalkan Ranah Penguasaan Qi menjadi Penyempurnaan Roh lapisan 1.


****

__ADS_1


Disisi lain Lu Dierja Aditama kini berada didepan pintu ruangan milik Nyonya Maharani Kanigara. Raut wajah Dierja Aditama terlihat gugup bahkan dia sampai berkeringat dingin.


Alasan Dierja Aditama ragu untuk masuk kedalam, karena dia datang ke Asosiasi Perak tanpa membawa Arya Wijaya bersamanya, sesuai permintaan Nyonya Maharani Kanigara.


Tadi malam saat pelelangan berakhir, sebelum Dierja Aditama dan Asri Ningsih pulang. Nyonya Maharani Kanigara meminta kepada Dierja Aditama untuk membawa Arya Wijaya, karena dia ingin bertemu.


Permintaan Nyonya Maharani Kanigara tidak lain ingin membahas penjualan krim semalam kepada Arya Wijaya, sekaligus dia ingin meminta maaf karena telah berbuat salah kepada anak itu.


Dierja Aditama menghela nafas panjang sebelum memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan Nyonya Maharani Kanigara. Dia sudah menghadapi konsekuensi karena tak bisa menjalankan tugas dari atasannya tersebut.


Saat Dierja Aditama masuk kedalam. Pria itu bisa melihat Nyonya Maharani Kanigara sedang sarapan pagi didampingi oleh seorang pelayan.


"Mana anak itu, mengapa dia tak ada bersamamu, Dierja?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara saat tak melihat kehadiran Arya Wijaya bersama Dierja Aditama.


Dierja Aditama langsung bersujud dan mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nyonya Maharani Kanigara, tentang Arya Wijaya yang tak mau diganggu selama beberapa hari.


Sumpit ditangan Nyonya Maharani Kanigara seketika patah. Dia kemudian menatap kesal Dierja Aditama yang bersujud kearahnya, sebab tak bisa membawa Arya Wijaya kehadapan nya.


Meja makan tiba-tiba terbang dan menghantam dinding yang ada didekat Dierja Aditama sampai membuat semua makanan berserakan.


Nyonya Maharani Kanigara dengan kesal kemudian pergi memasuki pintu kamarnya, tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Dierja Aditama yang sedang bergetar ketakutan.


Begitu masuk kedalam kamar, keangkuhan Nyonya Maharani Kanigara langsung menghilang. Raut wajahnya menjadi sedih dan bersalah.


Nyonya Maharani Kanigara awalnya ingin menjelaskan semuanya dan meminta maaf kepada Arya Wijaya atas kejadian semalam. Tetapi melihat Arya Wijaya tak datang hari ini, membuat Nyonya Maharani Kanigara berpikir anak itu tak mau bertemu dengannya lagi.


Untuk memastikan kegelisahan yang dia rasakan. Nyonya Maharani Kanigara lalu menggunakan teknik pengelihatan khusus milik bangsa siluman laba-laba.


Seketika Nyonya Maharani Kanigara bisa melihat Arya Wijaya yang sedang berkultivasi di dalam melalui seekor laba-laba kecil yang hinggap disudut kamar milik Arya Wijaya.

__ADS_1


Melihat Arya Wijaya yang sedang berkultivasi entah mengapa membuat Nyonya Maharani Kanigara merasa lega. Karena Arya Wijaya tak bisa datang hari ini, maka Nyonya Maharani Kanigara memutuskan diam-diam mengamati Arya Wijaya.


Bahkan Nyonya Maharani Kanigara memilih menghabiskan waktunya didalam kamar hanya untuk memperhatikan Arya Wijaya, sambil senyum-senyum sendiri.


__ADS_2