Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Pengawal?


__ADS_3

Pembagian hadiah dari beberapa pihak sponsor telah selesai. Arya sekarang berada di sebuah ruangan yang terletak di salah satu markas militer bersama para petinggi, untuk membahas tugas yang akan diberikan kepadanya.


"Sebagai bagian dari Jenderal Bendera 7 Warna, kau tentu memerlukan markas sendiri untuk membentuk pasukanmu. Sekarang aku akan memberimu pilihan sebuah kota untuk kau pimpin dan jadikan markas."


Datu Mahendra menyodorkan beberapa dokumen berisi informasi mengenai beberapa kota yang ada di wilayah Kerajaan Brawijaya kepada Arya untuk di pilih.


Arya mengambil beberapa dokumen kemudian mulai mempelajarinya satu persatu. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah kota yang membuatnya tertarik.


"Saya memilih Kota Madya..." Arya berkata sambil menyerahkan dokumen mengenai Kota Madya diatas meja kerja Datu Mahendra.


Mendengar pilihan dari Arya tentang kota yang ingin dipimipin dan dijadikan markas pasukan Bendera Hitam, sontak membuat Datu Mahendra dan 6 Jenderal yang berada di rungan itu kaget.


"Apa kau yakin memilih Kota Madya untuk dipimipin? Masih ada 35 kota yang lebih baik dari kota itu, Arya." Tanya Datu Mahendra yang tidak habis pikir dengan pilihan Arya.


Kota Madya sendiri terkenal dengan julukan sebagai Kota Mati. Bukan karena kota itu tidak ditinggali, justru Kota Madya memiliki jumlah penduduk cukup besar.


Alsan mengapa Kota Madya dijuluki sebagai Kota Mati dikarenakan kota tersebut merupakan tempat pembuangan orang-orang cacat dalam artian memiliki kelainan pada basis kultivasi.


Kota Madya juga merupakan tempat pembuangan orang-orang yang dianggap tidak mampu dalam hal ekonomi dari berbagai kota.


Masyarakat dari kalangan menengah keatas tidak akan sudi menginjakan kaki mereka di Kota dengan tingkat kemiskinan tinggi dan terbelakang itu.


Bahkan Kota Madya dianggap sebagai kota yang sangat berbahaya karena lokasinya berdekatan dengan Hutan Iblis. Sudah ada banyak kejadian dimana Hewan Iblis dari hutan menyerang Kota Madya dan menimbulkan korban yang tidak sedikit.


Secara tidak langsung Kota Madya merupakan tempat untuk memusnahkan secara perlahan orang-orang yang di anggap tidak berguna oleh Kerajaan.

__ADS_1


Hanya ada sedikit prajurit yang berjaga disana. Tentunya para prajurit itu berjaga dalam artian mengawasi penduduk Kota Madya agar tidak keluar dari sana.


"Ya, Pak! Saya yakin dengan keputusan yang sudah saya ambil, dan ingin menancapkan Bendera Hitam disana!" Arya mengucapkan tanpa keraguan sedikitpun.


Beberapa Jenderal senior berusaha mengingatkan dan mencoba membuat Arya membuat keputusan lain. Karena Arya sekarang merupakan bagian dari Jenderal Bendera 7 Warna, para Jenderal yang lain tak ingin nama mereka kotor, hanya karena salah satu anggota mereka memimpin sebuah Kota kumuh di pelosok Kerajaan.


Tetapi keputusan Arya sudah bulat dan para petinggi militer hanya bisa menghela nafas menghadapi keinginan api dari anak muda itu.


"Baiklah... Kalau itu keputusanmu apa boleh buat." Datu Mahendra kemudian memberi dokumen kepada Arya yang sudah dia beri stempel Panglima Tertinggi.


Dengan senang hati Arya menerima dokumen tersebut dan menyimpannya kedalam cincin dimensi.


"Lalu, kapan kau ingin merekrut pasukan untuk mengisi tempat ke dalam Bendera Hitam?" Tanya Datu Mahendra yang sedikit penasaran dengan kriteria pasukan yang ingin dipilih oleh Arya.


Diam-diam tiga prajurit muda menguping pembicaraan para petinggi militer. Mereka tidak lain merupakan Raka, Angga, dan Satria yang merasa penasaran dengan pembicaraan yang sedang terjadi didalam.


Tetapi saat mendengar pembicaraan pembentukan pasukan Bendera Hitam. Raka, Angga, dan Satria menjadi semakin penasaran bahkan berharap bisa bergabung dengan pasukan Bendera Hitam dibawah kepemimpinan Arya.


Saat mendengar Datu Mahendra menyarankan Arya untuk merekrut mereka, Raka, Angga, Satria semakin bersemangat dan yakin mereka bisa bergabung.


Tetapi saat melihat Arya menggelengkan kepala dari celah pintu. Harapan Raka, Angga, dan Satria yang sudah setinggi awan langsung runtuh begitu saja.


"Maaf Pak, tetapi saya harus menolak usulan untuk memilih ketiga pria itu. Tempat itu akan sangat berbahaya untuk mereka, apalagi mengingat ketiganya merupakan Tuan Muda yang sangat penting untuk keluarga mereka."


Perkataan Arya seketika membuat Datu Mahendra memperhatikannya dengan seksama. Secara tidak langsung Arya sudah memberinya peringatan jika tidak kehilangan salah satu putranya lagi.

__ADS_1


Menempatkan Satria ke Kota Madya untuk saat ini bukanlah pilihan yang tepat menurut Datu Mahendra. Apalagi menempatkan dua Tuan Muda lain yang berasal dari keluarga cukup berpengaruh di Kerajaan. Akan sangat beresiko menempatkan mereka bertiga ditempat berbahaya itu.


Datu Mahendra kemudian menyerah untuk mengusulkan putranya dan dua Tuan Muda bergabung dengan Arya. Dia tidak ingin terjadi gesekan didalam internal Kerajaan, hanya karena dua Tuan Muda dari keluarga berpengaruh terluka bahkan tewas saat menjalankan tugas di Kota Madya.


"Lalu siapa yang akan kau pilih?" Tanya Datu Mahendra sambil memijat keningnya karena hampir saja membuat keputusan yang salah menempatkan Satria, Raka, dan Angga bergabung dengan Arya.


Arya tersenyum tipis dan sebuah permintaan aneh terlontar dari mulutnya. "Kalau diijinkan, saya ingin memilih beberapa tahanan yang ada didalam penjara bawah tanah."


"Apa kau yakin? Setiap tahanan yang ada disana basis kultivasi mereka sudah dihancurkan. Meski kau memilih beberapa dari mereka, tetap mereka tidak akan terlalu berguna." Datu Mahendra kemudian mengingatkan bahwa tidak ada satupun Tabib diseluruh daratan Nusantara yang bisa memperbaiki Meridian yang sudah hancur.


Arya hanya mengangguk dan terpaksa Datu Mahendra memberi ijin kepada pemuda itu untuk memilih beberapa tahanan.


Saat Arya sedang berbincang dengan Datu Mahendra dan para Jenderal yang lain, seseorang mengetuk pintu dan kemudian beberapa orang masuk kedalam.


Melihat siapa orang yang datang membuat Arya terkejut. Mereka tidak lain adalah Maharani, Arista, Anjani, Dierja, dan satu orang misterius yang mengenakan jubah.


"Bisa kita bicara sebentar, Panglima?" Tanya Anjani yang membuat 6 Jenderal mengerti dan memutuskan untuk pamit kembali bertugas.


Saat Arya ingin keluar tiba-tiba dia dihentikan oleh Anjani yang menyuruhnya untuk menetap karena ada hal penting yang akan dibahas.


"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Nyonya Anjani?" Tanya Datu Mahendra dengan sopan karena Anjani merupakan Istri dari mendiang Putra Mahkota.


Datu Mahendra dan Anjani kemudian mulai pembicaraan mereka mengenai tawanan perang dari Kerajaan Angasari yang tidak lain adalah Putri Amanda.


Anjani mulai memberitahu mengenai kondisi Putri Amanda yang semakin hari memburuk saat berada di Ibukota Kerajaan Brawijaya.

__ADS_1


Jika sampai Putri Amanda tewas saat menjadi tawanan perang, maka sudah dipastikan Kerajaan Angasari yang saat ini sedang menahan diri akan langsung menyerang Kerajaan Brawijaya.


"Aku mau pemuda itu mengawasi Putri Amanda di tempat selain Ibukota." Ucap Anjani sambil melirik kearah Arya yang dari tadi mencoba untuk tidak terlibat.


__ADS_2