
Kereta kuda rombongan Arya tiba di depan sebuah bangunan paling mencolok di Kota Madya. Berbeda dengan bangunan pada umumnya di kota tersebut, bangunan tempat kediaman penanggung jawab Kota Madya jauh lebih besar dan kokoh.
Beberapa orang langsung menyambut kedatangan rombongan Arya didepan kediaman. Mereka tidak lain merupakan penanggung jawab Kota Madya.
"Selamat datang di Kota Madya, Jenderal. Perkenalkan saya Deswara. Penanggung jawab Kota Madya saat ini." Seorang pria akhir 50-an menyambut kedatangan rombongan Arya.
Deswara memiliki senyum ramah diwajahnya saat menyambut sosok Jenderal muda yang datang ke Kota Madya. Meski menyambut dengan ramah, tetapi ada aura kebencian yang sangat mendalam saat dia melihat seorang petinggi militer Kerajaan datang ke kotanya.
Arya tentu bisa merasakan aura kebencian yang terpancar dari tubuh Deswara.Tetapi Arya memilih untuk bersikap seolah tidak merasakannya, dan menanggapi pria itu dengan ramah.
"Selamat siang, Tuan Deswara. Perkenalkan saya Arya. Sepertinya ada kejadian yang baru-baru ini terjadi disini. Apa aku salah?" Arya menjabat tangan Deswara sambil tersenyum penuh arti.
Secara tidak langsung Arya menyinggung kerusakan pada beberapa bangunan Kota yang dianggap penting. Arya juga menyadari ada kerusakan baru di kediaman penanggung jawab Kota.
Melihat semua kerusakan yang terjadi dan mendengar bahwa Deswara sebelumnya memperkenalkan diri sebagai penanggung jawab Kota Madya saat ini. Arya langsung bisa menebak kalau sudah terjadi pemberontakan baru-baru ini, oleh masyarakat kepada pihak militer yang bertanggung jawab untuk Kota Madya.
Deswara yang langsung bisa menangkap perkataan Arya kemudian mengubah sedikit mimik wajahnya. "Mengesankan, anda ternyata langsung bisa menyadari apa yang baru-baru ini terjadi di Kota Madya. Kalau begitu mari lanjutkan pembicaraan kita di dalam, Jenderal."
Arya menganggu pelan kemudian mengikuti Deswara dari belakang. Arjuna, Fajar, Wira, Bagaskara, dan Putri Amanda yang belum menyadari peristiwa besar di Kota Madya, mereka tampak kebingungan saat melihat Arya yang langsung bisa akrab dengan penanggung jawab Kota Madya.
"Jangan menyentuh baik makanan maupun minuman yang dihidangkan nantinya." Arya melirik kearah rekan-rekannya dengan tegas sebelum masuk ke dalam.
Arjuna, Fajar, Wira, Bagaskara, dan Putri Amanda mengangguk. Mereka tentu bisa menangkap maksud peringatan yang diberikan oleh Arya kepada mereka.
Saat ini mereka berada di dalam sebuah Kota yang sering terjadi konflik. Tetap berhati-hati dan bersikap waspada harus mereka lakukan untuk menghindari hal terburuk yang akan terjadi.
Deswara kemudian membawa Arya beserta rombongan menuju aula di kediamannya. Pria itu lalu meminta kepada seseorang untuk mempersiapkan jamuan ringan.
__ADS_1
"Mari, silahkan duduk. Anggap saja rumah sendiri." Ucap Deswara sambil tersenyum ramah kepada rombongan Arya dan menyembunyikan kebenciannya.
Arya, Arjuna, Fajar, Wira, Bagaskara, serta Putri Amanda kemudian duduk berhadapan dengan Deswara serta beberapa orang lainnya yang ada disebrang meja.
Suasana terasa sedikit canggung ketika pihak militer Kerajaan berhadapan dengan petinggi dari pihak pemberontak pembebasan masyarakat Kota Madya.
Kedua belah pihak duduk di satu meja panjang yang berada di dalam suatu ruangan khusus, untuk membahas beberapa hal yang berkaitan dengan pemerintahan Kota Madya.
"Baik, apa kita bisa mulai saja rapat dadakan ini?" Arya menggenggam kedua tangannya menjadi satu dan meletakkannya di atas meja.
Raut wajah Arya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut saat dikelilingi oleh orang-orang yang membenci kedatangannya dan juga rombongannya.
Alih-alih memperlihatkan wajah ketakutan, Arya justru terlihat santai dan memancarkan aura kharismatik layaknya seorang Jenderal sungguhan.
Deswara beserta orang-orang kepercayaannya dan juga beberapa penjaga yang ada di dalam ruangan itu merasa heran, saat melihat Arya masih bisa bersikap santai padahal mereka secara langsung berusaha mengintimidasinya dengan jumlah.
Aura kharismatik yang terpancar dari Arya sangat berbeda dengan Jenderal pada umumnya. Baik pihak Deswara maupun rombongan Arya sendiri, merasa Aura yang dikeluarkan oleh Arya sama persis bahkan sedikit lebih tinggi dari milik para Raja.
"Baik, Jenderal. Kalau begitu saya selaku perwakilan masyarakat akan memberitahu apa yang baru-baru ini terjadi di Kota Madya." Deswara yang sudah tersadar dari lamunannya, lalu menjawab pertanyaan Arya.
Deswara kemudian mulai menceritakan semua hal dari permasalahan yang terjadi di Kota Madya kepada Arya berpikir inilah saatnya yang tepat untuk bercerita kepada seorang petinggi militer secara langsung.
Sewaktu masih berada dibawah kendali beberapa prajurit Kerajaan yang bertugas untuk Kota Madya. Bukan kabar bahagia seperti bayangan yang mereka terima.
Awalnya masyarakat Kota Madya berpikir para prajurit itu akan menjaga mereka dari serangan hewan buas. Tetapi bukannya menjaga, para prajurit itu justru bertindak semena-mena kepada para penduduk Kota Madya.
Berbagai kebijakan yang membuat ekonomi dan kondisi masyarakat mulai diterapkan oleh para prajurit. Contohnya seperti meminta upeti cukup besar setiap bulannya, yang membuat kehidupan masyarakat seolah tercekik.
__ADS_1
Para prajurit itu bahkan secara terang-terangan melakukan berbagai tindak kejahatan yang sangat keji, seperti halnya menjual masyarakat Kota Madya untuk dijadikan budak kepada para pedagang maupun bangsawan kaya dan berpengaruh.
Merasakan penderitaan ini selama bertahun-tahun membuat masyarakat Kota Madya hilang kesabaran. Hingga akhirnya muncul sebuah organisasi Pembebasan, yang menuntut kejahatan serta kebijakan para prajurit Kerajaan di Kota Madya.
Beberapa protes sudah mereka layangkan kepada para prajurit, tetapi semua prajurit tidak menggubris dan mulai melakukan eksekusi langsung kepada orang-orang yang tergabung dalam organisasi Pembebasan.
Hingga sebuah pemberontakan besar-besaran terjadi seminggu lalu. Organisasi Pembebasan yang didukung oleh seluruh masyarakat Kota Madya kemudian berhasil menekan dan menahan para prajurit, Angga Kusuma, yang sudah bertindak semena-mena selama beberapa tahun ini.
"Masih ada beberapa kejahatan lain yang mereka lakukan kepada kami. Tetapi aku tak akan menceritakannya, karena menyinggung para wanita yang menjadi korban." Ucap Deswara saat menyelesaikan ceritanya.
Mendengar cerita yang disampaikan oleh Deswara sontak membuat rombongan Arya terkejut. Sebagai mantan Jenderal. Arjuna, Wira, dan Bagaskara tidak pernah mengetahui hal ini.
Wajar saja para mantan Jenderal itu tidak mengetahuinya, beberapa informasi tentang kondisi Kota Madya pasti sudah dimanipulasi oleh segelintir orang yang berkepentingan.
Fajar merasa iba kepada masyarakat Kota Madya setelah mendengar cerita dari Deswara. Sementara Putri Amanda yang semula tidak perduli dengan kejadian di Kerajaan Brawijaya, langsung kesal dan tidak menyangka Kerajaan terkuat di Benua Nusantara ternyata akan sangat menjijikkan.
"Apa kau bisa menjamin cerita yang kau sampaikan tidak ada unsur kebohongan didalamnya?" Arya bertanya dengan nada menyelidiki. Dia menyangga kedua dagunya sambil menatap Deswara penuh kecurigaan.
Bukannya Arya tidak mempercayai cerita yang disampaikan oleh Deswara. Tetapi dia belum melihat bukti, yang membuatnya sedikit curiga.
"Saya bisa membuktikan kebenaran cerita itu. Jenderal bisa tanyakan langsung kepada para prajurit yang sudah kami tahanan." Balas Deswara tanpa menunjukkan sedikitpun keraguan di setiap perkataannya.
Saat Arya ingin menjawab. Tiba-tiba Putri Amanda menyela pembicaraan. "Biar aku saja yang menemui mereka." Ucap Putri Amanda yang sejenak membuat Deswara merasa heran dengan identitas wanita yang mengenakan jubah bertudung itu.
Tetapi melihat Arya mengangguk. Deswara akhirnya meminta salah satu rekannya untuk membawa Putri Amanda menuju penjara bawah tanah.
Putri Amanda tidak sendirian pergi melainkan ditemani oleh Fajar yang merasa penasaran, dan Bagaskara selaku mantan Jenderal yang ingin menguak kebenaran.
__ADS_1