Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Ibukota Wirabhumi (Revisi Lokal)


__ADS_3

Perjalanan Arya Wijaya bersama dengan rombongan Dierja Aditama yang memakan waktu selama 2 hari berakhir ketika mereka memasuki benteng Ibukota Kahuripan.


Selama 5 hari perjalanan Arya Wijaya sama sekali tidak perlu turun tangan saat bertemu kelompok-kelompok bandit disepanjang jalan, karena Kepala Pengawal dan anak buahnya dapat mengatasi mereka.


Meski begitu kehadiran Arya Wijaya di rombongan Dierja Aditama nyatanya dapat membuat beberapa pembunuh bayaran Rumah Mawar Hitam yang lain, tak berani mendekat dan terus memantau dari kejauhan.


Arya Wijaya tentu menyadari kehadiran mereka selama perjalanan ke Ibukota Wirabhumi, tetapi dia membiarkan para pembunuh bayaran itu karena mereka tak melakukan gerakan dan hanya memantau selama 5 hari.


Setibanya didepan bangunan Asosiasi Perak. Pada awalnya Arya Wijaya ingin pamit dan menolak untuk dibayar karena selama perjalanan dia tidak melakukan apapun. Tetapi Dierja Aditama bersikeras untuk tetap membayar Arya Wijaya sesuai kesepakatan mereka diawal.


Seorang pelayan yang bekerja di Asosiasi Perak kemudian datang sambil membawa sebuah kotak dan diberikan kepada Dierja Aditama.


Dierja Aditama kemudian memberikan kotak tersebut kepada Arya Wijaya yang berisi lembaran uang kertas emas dan beberapa keping koin dengan lubang berbentuk persegi ditengahnya. Arya Wijaya langsung mengerti kalau uang kertas emas itu sepertinya merupakan pengganti untuk Tael emas.


Arya Wijaya kemudian menyimpan kotak berisi uang kedalam cincin dimensi. Sebelum pergi Arya Wijaya memberikan sebuah krim kepada Dierja Aditama sebagai tanda terimakasih.


"Tuan Arya... Krim apa ini?" Dierja Aditama bertanya dengan penasaran saat diberi sebuah wadah berisi krim oleh Arya Wijaya.


"Oh, itu krim kecantikan yang aku buat saat merasa bosan dulu. Tuan bisa memberikannya kepada istri anda agar bisa terlihat lebih muda dan cantik." Arya Wijaya menjawab dengan santai sambil tertawa kecil.


Hubungan Arya Wijaya dan Dierja Aditama terbilang cukup baik setelah melakukan perjalanan selama 5 hari bersama-sama. Dierja Aditama bahkan menjadikan Arya Wijaya sebagai tempat keluh kesah saat membahas istrinya yang galak.


Dierja Aditama menangkup kedua tangannya dan berterimakasih atas krim pemberiannya. Dengan adanya krim kecantikan itu, Dierja Aditama berpikir kalau dia tidak akan kena marah lagi oleh istrinya karena pulang terlambat.


Arya Wijaya kemudian pamit dan memutuskan berkeliling mencari hiburan di Ibukota.

__ADS_1


Sedangkan Dierja Aditama kemudian masuk kedalam Asosiasi Perak yang terlihat ramai oleh orang-orang kaya yang ingin membelanjakan uang mereka.


Dengan tergesa-gesa Dierja Aditama berjalan menaiki tangga untuk menemui Nyonya Maharani Kanigara pemilik Asosiasi Perak.


Dierja Aditama tidak langsung masuk begitu saja kedalam ruangan Nyonya Maharani Kanigara dan mengetuk pintu terlebih dulu. "Dierja sudah kembali Nyonya..." Ucap Dierja Aditama dengan sopan.


Didalam ruangan terlihat seorang wanita sedang menikmati waktu luang dengan menikmati teh yang dibuat oleh seorang pelayan.


Mata indah berwarna cokelat, rambut hitam panjang, bibir semerah buah ceri, kulit mulus, dan tubuh indah cukup membuatnya menjadi simbol kecantikan.


Wanita itu adalah Nyonya Maharani Kanigara. Saat mendengar ketukan pintu dan suara anak buahnya Dierja Aditama, dia kemudian meminta pelayan untuk membukakan pintu.


Dierja Aditama kemudian masuk dan duduk di depan tirai yang menjadi pembatas. "Dierja datang untuk menghadap anda, Nyonya..."


"Ya..." Nyonya Maharani Kanigara menjadi pelan dan terdengar suaranya cukup merdu untuk menggoda hasrat para pria yang mendengarnya.


Setelah pembahasan utama selesai, Dierja Aditama kemudian mengeluarkan tanda pengenal milik pembunuh bayaran dari Rumah Mawar Hitam, dan menceritakan kejadian saat dirinya diserang oleh kelompok mereka saat akan kembali ke ibukota Wirabhumi.


Mendengar cerita dari Dierja Aditama seketika membuat Nyonya Maharani Kanigara mengerutkan alisnya. Sebuah cangkir kemudian terlempar dari balik tirai dan hampir mengenai Dierja Aditama.


"Para bedebah itu, sepertinya aku perlu membuat perhitungan kepada mereka karena sudah berani melanggar kesepakatan yang sudah dibuat."


Nyonya Maharani Kanigara terlihat kesal dan mengepalkan tangannya. Sudah banyak kasus sebenarnya dimana para anak buahnya mendapat serangan dari kelompok Rumah Mawar Hitam. Nyonya Maharani Kanigara sadar kelompok Rumah Mawar Hitam menginginkan sumber daya secara gratis dengan menyerang rombongan dagangnya.


Dierja Aditama segera menenangkan Nyonya Maharani Kanigara yang terlihat kesal dan menyarankan untuk tidak bertindak gegabah saat ini. Berurusan dengan pembunuh yang bergerak licin seperti mereka akan sangat sulit meskipun Asosiasi Perak memiliki kekuatan yang lebih besar.

__ADS_1


Nyonya Maharani Kanigara mendengarkan saran dari Dierja Aditama tetapi dia tidak akan tinggal diam dan berencana memotong sedikit demi sedikit kuota pembelian untuk Rumah Mawar Hitam di Asosiasi Perak miliknya.


"Jadi dimana Tuan Arya yang kau ceritakan sudah membantumu saat diserang tikus-tikus dari Rumah Mawar Hitam itu?"


"Tuan Arya sudah pergi, Nyonya. Dia berkata ingin bersenang-senang di Kota Wirabhumi sebelumnya kepadaku."


Nyonya Maharani Kanigara mengangguk pelan dan menanyakan apa ada barang yang diberikan oleh Arya Wijaya kepada Dierja Aditama atau tidak.


Dierja Aditama kemudian mengeluarkan krim kecantikan pemberian Arya Wijaya dan akan dia berikan kepada istrinya saat kembali ke rumah.


Nyonya Maharani Kanigara kemudian meminta pelayan untuk mengambilkan krim kecantikan itu dari Dierja Aditama untuk dia lihat.


Saat menghirup aroma krim kecantikan itu Nyonya Maharani Kanigara merasa tenang dan memutuskan untuk mencobanya. Nyonya Maharani Kanigara terkejut saat melihat efek krim itu yang langsung bekerja. Dari cermin dia melihat wajahnya menjadi lebih cerah dan kencang, bahkan tidak ada efek samping setelah penggunaan krim itu.


Sebuah peluang bisnis baru langsung terlintas dipikiran Nyonya Maharani Kanigara, dia kemudian meminta Dierja Aditama untuk mencari Ying Zihan dan ingin bertemu dengannya.


Dierja Aditama hanya bisa mengiyakan permintaan Nyonya Maharani Kanigara. Raut wajah Dierja Aditama menjadi lesu melihat krim itu disimpan oleh Nyonya Maharani Kanigara dan tak akan pernah dikembalikan, yang membuatnya harus bersiap menghadapi amarah istrinya nanti dirumah.


Disisi lain Arya Wijaya sekarang sedang bermain judi batu bersama para orang dewasa didekat pasar. Arya Wijaya tak bisa menahan tawanya saat melihat raut wajah putus asa dari orang-orang yang selalu salah membeli batu, sedangkan dia dengan mudah dapat menang.


Menemukan Giok didalam batu merupakan hal mudah bagi Arya Wijaya yang sudah dilatih teknik oleh Baduga Maharaja untuk menilai suatu barang.


Dari judi batu Arya Wijaya sudah meraup untung sampai 100 ribu lembar emas. Untuk orang biasa uang sebanyak itu bisa membuat mereka hidup enak selama 3 generasi tanpa perlu bekerja.


Setiap Arya Wijaya memilih batu orang-orang akan langsung berebut karena menganggap pilihan Arya Wijaya tidak pernah salah.

__ADS_1


Menyadari niat orang-orang itu Arya Wijaya hanya tersenyum tipis dan menipu mereka sedangkan penjual tentu merasa diuntungkan, karena banyak penjudi batu yang merapat ke lapak dagangannya.


__ADS_2