
Seorang pria terlihat berjalan melewati trotoar sambil bersiul memainkan sebuah lagu menyiratkan bahwa suasana hatinya sedang sangat baik saat ini.
Pria tersebut tidak lain merupakan Fajar. Setelah mendengar bahwa kakaknya mengajukan proposal untuk pengadaan senjata kepada Putri Amanda, Fajar sudah tidak sabar mengganti golok lama miliknya dengan yang baru.
Fajar saat ini sedang berjalan menuju sebuah kedai untuk menghabiskan jam istirahatnya sebagai seorang prajurit. Beberapa kali Fajar terlihat menggoda wanita yang tak sengaja berpapasan dengannya.
"Ck!" Fajar berdecak dan tersenyum kearah beberapa wanita sambil menunjukkan lencana sebagai ketua disalah satu divisi militer dengan percaya diri, untuk menggoda mereka.
Untuk mendapatkan lencana sebagai kapten divisi. Tentunya Fajar sudah melewati berbagai tes berat dari Arjuna, Wira, dan Bagaskara. Dalam tes itu tidak ada namanya jalur dalam atau koneksi. Fajar benar-benar harus melewati semua tes dengan keringatnya sendiri, meski kakaknya adalah orang yang menjadi pengawasnya.
Dengan sebuah motivasi dan tekad untuk mengangkat namanya, Fajar berusaha sangat keras dan beruntung dia berhasil melewati semua tes meski harus terbaring selama satu minggu di klinik kesehatan.
Motivasi utama Fajar untuk mendapatkan pangkat kapten sebenarnya bukan mengangkat derajatnya.
Setelah bergaul dengan prajurit lain, Fajar selalu mendengar mereka selalu membahas tentang wanita. Perlahan Fajar yang biasanya hanya memikirkan latihan mulai berubah.
Bukan berarti Fajar melewatkan latihannya, tetapi dia hanya mengganti motivasi untuk menjadi lebih kuat agar para wanita mau meliriknya.
Tiga orang wanita yang melihat Fajar menggoda mereka, kemudian menundukkan kepala dan cepat-cepat menghindar dari Fajar.
Wanita mana yang tidak merasa tak nyaman ketika ada seorang pria tiba-tiba menggoda mereka. Meski Fajar cukup terkenal sebagai adik dari salah satu petinggi Kota Madya, sifatnya yang penuh percaya diri membuat para wanita akan langsung menjauhinya.
"Apa seperti ini rasanya menjadi pria tampan? Gadis-gadis itu sangat lucu saat sedang malu." Fajar tersenyum penuh percaya diri dan menganggap para wanita yang menjauh darinya hanya malu.
Ketika Fajar melanjutkan perjalanan menuju kedai makanan favoritnya. Fajar tidak sengaja melihat seorang gelandangan duduk dipinggir jalan.
__ADS_1
Jelas Fajar terkejut melihat ada seorang gelandangan di Kota Madya. Sebagai orang yang membantu Deswara memastikan setiap masyarakat dewasa memiliki pekerjaan, Fajar bisa memastikan sudah tidak ada lagi pengangguran di Kota Madya.
"Permisi Pak, apa kau butuh bantuan?" Fajar menghampiri pria yang mengenakan pakaian compang-camping dan kumal dipinggir jalan.
Mendengar suara nyaring khas dari seseorang yang dia kenal. Dengan lemah pria itu membuka mata dan terkejut saat melihat seorang pemuda berpakaian prajurit.
"Kepala batu, apa kau sudah melupakanku?" Arya mencengkram pundak Fajar sambil tersenyum penuh tekanan batin didalamnya.
Fajar mengerutkan alisnya saat mendengar gelandangan itu memanggilnya dengan sebutan kepala batu, dimana hanya ada satu orang saja yang memanggilnya seperti itu.
Ketika memeriksa lebih teliti wajah kumal gelandangan dihadapannya, Fajar terkejut bukan main mendapati pria yang sudah tiga bulan ini tidak ada kabar kini muncul sebagai seorang gelandangan.
"Arya apa itu kau? Kemana saja kau selama ini?" Ekspresi wajah Fajar yang semula bahagia langsung menjadi khawatir saat mendapati Arya terduduk lemas dipinggir jalan seperti seorang gelandangan.
Sama seperti para petinggi yang penasaran mengenai kabar Arya setelah mengasingkan diri selama tiga bulan. Fajar tidak begitu percaya dengan perkataan Putri Amanda yang mengatakan Arya sedang sibuk berkultivasi didalam kamar.
"Ya ini aku. Apa kau punya Pill untuk memulihkan Qi sekarang?" Tanya Arya yang dengan cepat Fajar langsung mengeluarkan satu kantung berisi Pill Pemulihan Qi tingkat 5, yang dia beli menggunakan sebagian besar gajinya sebagai seorang prajurit.
Arya kemudian mengkonsumsi sekaligus Pill Pemulihan Qi pemberian Fajar. Beberapa menit setelah menyerap khasiat Pill itu, Arya tersenyum kecut karena hanya sedikit sekali Qi miliknya yang pulih, padahal dirinya sudah mengkonsumsi 50 butir Pill sekaligus.
Tetapi Arya akhirnya bisa sedikit bernafas lega karena sekarang sudah bisa menggerakkan tubuhnya kembali. Hal ini jauh lebih baik dari pada hanya bisa terduduk lemas dan dikira gelandangan oleh banyak orang.
Mendapati Fajar terus menatap kearahnya, Arya sudah bisa menebak jika Fajar memiliki berbagai pertanyaan yang ingin diajukan kepadanya.
"Simpan pertanyaanmu untuk nanti. Bawa aku sekarang ketempat yang menjual makanan disekitar sini." Arya menghela nafas kemudian berdiri.
__ADS_1
Fajar mengangguk pelan tanpa bertanya lebih lanjut mengenai alasan Arya memintanya untuk membawa ketempat yang menjual makanan. Fajar dengan sigap kemudian memandu Arya menuju kedai makanan favoritnya.
Setibanya di kedai Fajar dan Arya menemukan tempat tersebut sudah ramai dengan para pengunjung. Suasana terlihat sangat berisik dengan obrolan masing-masing pengunjung kedai.
"Maaf tempatnya sangat ramai. Kalau mau tempat yang sedikit lebih tenang, aku bisa membawamu kesana." Fajar tertawa gugup sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Tidak perlu." Arya yang sudah sangat kelaparan tidak memperdulikan suasana ricuh didalam kedai tersebut. Dia kemudian masuk ke dalam dan mencari tempat duduk yang masih kosong.
Setelah menemukan tempat duduk Fajar kemudian memesan berbagai macam makanan dalam porsi besar dan juga banyak khusus untuk Arya.
Tak perlu waktu satu-persatu pesanan mereka mulai berdatangan. Arya tanpa ragu kemudian makan dengan rakus tanpa memperdulikan rasa ataupun tatapan heran dari beberapa orang kearahnya.
"Baru kali ini aku melihat seorang Jenderal kehilangan wibawanya." Celetuk Fajar pelan saat melihat Arya makan dengan cepat dan sangat rakus.
"Persetan dengan wibawa. Cepat pesan makanan lebih banyak, aku perlu energi untuk memulihkan tubuhku." Arya tidak perduli dengan perkataan Fajar dan hanya fokus mengisi perutnya yang kosong.
Melihat pria yang biasanya terlihat tenang dan penuh wibawa sekarang menjadi sedikit kasar karena lapar, Fajar menggelengkan kepala dan meminta kepada pelayan untuk membawakan makanan lebih banyak lagi.
Pelayan awalnya tampak ragu saat Fajar memesan lebih banyak makanan karena khawatir tidak akan habis. Tetapi setelah melihat tumpukan piring diatas meja makan Fajar dan Arya, pelayan itu kemudian segera menyiapkan pesanan Fajar.
Beberapa pengunjung kedai yang melihat Fajar membawa seorang gelandangan makan disana, tampak terkejut karena gelandangan itu makan sangat banyak sedangkan Fajar hanya sedikit.
Tidak ada satu orangpun yang berani mempertanyakan mengapa Fajar membawa seorang gelandangan rakus kedalam kedai.
Meski tidak berani bertanya secara langsung, beberapa pengunjung kedai mulai membicarakan tentang gelandangan itu, karena tidak tau diri memesan terlalu banyak seolah memeras Fajar.
__ADS_1
Fajar yang mendengar para pengunjung kedai mulai membicarakan Arya menjadi kesal, tetapi sebelum sempat bertindak Arya langsung mencegahnya dan meminta untuk mengabaikan saja.