Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Sandiwara Untuk Propaganda


__ADS_3

Pengunjung rumah makan yang tengah menghabiskan waktu istirahat setelah bekerja setengah hari dikejutkan oleh kedatangan rombongan pasukan Bendera Hitam secara tiba-tiba disana.


"Siapa yang bertanggung jawab ditempat ini?!" Seru Arjuna dengan suara lantang yang membuat semua pengunjung tempat makan itu terkejut.


Suasana tempat makan yang semula hidup dan santai langsung berubah mencekam, setelah Arjuna sosok komandan militer yang terkenal ramah oleh semua orang di Kota Madya kini menunjukkan sisi lainnya.


Tidak ada seorangpun pengunjung yang mengeluarkan suara. Mereka diam membisu dan meletakkan alat makan, untuk menyimak apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Bukan hanya para pengunjung saja yang terkejut setelah Arjuna berseru lantang sambil memasang ekspresi tegas. Pasukan Bendera Hitam yang ikut serta dalam rombongan itu juga sama terkejutnya.


Seorang pria berusia sekitar 50-an turun dari lantai dua setelah seorang mendatanginya, dan melaporkan kejadian dimana komandan pasukan Bendera Hitam sedang mencarinya.


"Selamat datang, Tuan Arjuna. Saya orang yang bertanggung jawab di rumah makan ini. Kalau boleh tau, ada perlu apa sampai Anda repot-repot datang kemari untuk mencari saya?"


Manajer rumah makan berusaha menyapa Arjuna dan rombongan meski tubuhnya sekarang bergetar, setelah melihat lebih dari 15 prajurit bersenjata lengkap datang ke tempatnya.


Hanya dengan melihat ekspresi Arjuna serta persenjataan lengkap yang dibawanya, manajer rumah makan langsung tau bahwa rombongan pasukan Bendera Hitam itu datang bukan untuk menghabiskan waktu santai mereka disana.


Arjuna memperhatikan manajer rumah makan dari atas sampai bawah, sebelum bertanya terlebih dulu kepada Indera yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan informasi mengenai setiap anggota pemberontak.


"Indera, apa benar pria tua ini memiliki hubungan dengan mereka?" Arjuna berbisik kepada Indera yang berada tepat disampingnya, sambil memperhatikan gerak-gerik manajer rumah makan.


Manajer tampak waspada saat Arjuna terus memberinya tatapan curiga. Dia khawatir jika hubungannya dengan para anggota pemberontak diketahui oleh pihak militer.


Melihat seorang pria tua yang tampak berusia 50-an tahun. Indera kemudian mengangguk. "Benar... Tidak salah lagi dia juga memiliki hubungan dengan mereka. Pria tua itu menyediakan tempat untuk para anggota pemberontak."

__ADS_1


Setelah mendapat konfirmasi dari ketua intelejen, Arjuna langsung memerintahkan pasukannya untuk menangkap manajer rumah makan yang tampak terkejut.


"Tunggu... Lepaskan aku... Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kalian menangkap ku?!" Manajer berusaha memberontak saat akan ditangkap.


Ketika manajer hendak melawan, beberapa prajurit langsung memasang borgol dan pengekang leher sampai membuatnya tidak bisa menggunakan energi spiritualnya.


"Diamlah Pak Tua!" Fajar yang ikut dalam rombongan merasa kesal saat manajer terus berteriak dan berusaha melawan saat akan ditahan.


Dibentak oleh seseorang yang lebih muda darinya tentu membuat manajer tidak terima. Melihat pandangan semua orang tertuju kearahnya, manajer langsung memiliki pemikiran untuk menjadikan penangkapan atas dirinya sebagai propaganda.


"Kalian semua yang ada disini coba lihat perbuatan orang-orang dari Ibukota ini... Lihatlah, dengan kekuasaan yang diberikan oleh sangat Raja. Mereka bisa seenaknya memperlakukan orang yang mereka tidak suka."


"Saudara-saudara mereka sekarang mungkin bisa menahan diriku tanpa alasan dan membuat martabat keluargaku menjadi hancur. Tetapi bagaimana jadinya jika ini semua terjadi kepada kalian semua? Kepada keluarga kalian! Orang-orang dari Kota Madya yang terbuang ini?"


Kejadian ini sontak membuat semua orang terkejut. Melihat penangkapan dan sandiwara manajer itu, orang-orang langsung terpecah menjadi dua kubu. Ada yang membela manajer, dan sebagian memilih untuk membela Arjuna serta pasukan Bendera Hitam setelah merasakan langsung perubahan positif di Kota Madya.


Geram melihat sandiwara yang dilakukan manajer rumah makan, Fajar langsung menendang wajah pria itu sampai membuat kepalanya terbenam kedalam lantai kayu.


"Dasar pria tua gila!" Fajar berdecak kesal merasa jijik melihat tingkah laku manajer yang masih saja mencoba menghasut banyak orang untuk menolak pemerintahan Arya.


Suasana yang semua kembali ramai kini menjadi senyap dalam sekejap setelah Fajar membuat manajer tutup mulut secara paksa menggunakan kekerasan.


Arjuna, Indera, Deswara, dan pasukan Bendera Hitam yang ikut dalam penangkapan menutup mata, saat Fajar melupakan emosinya terhadap manajer rumah makan.


Untuk memperjelas maksud kedatangan mereka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dari pihak masyarakat. Arjuna kemudian meminta kepada Deswara untuk membacakan dekrit perintah penangkapan atas para terduga pemberontak.

__ADS_1


"Untuk mencegah adanya anggota pemberontak yang melarikan diri. Saya minta kepada semua orang yang ada untuk diam ditempat. Terimakasih..." Deswara menggulung dekrit perintah ditangannya setelah selesai membacakan kepada semua orang.


Mendengar dekrit yang dibacakan oleh Deswara jelas membuat semua orang terkejut. Ada dari mereka yang percaya dan tidak. Tetapi agar tidak dituduh sebagai bagian dari anggota pemberontak, semua pengunjung memilih untuk diam ditempat mereka masing-masing.


Seorang pria diam-diam memperhatikan situasi disekitarnya. Merasa tidak ada yang memperhatikan dirinya, pria itu kemudian diam-diam membungkuk dan berjalan ingin menuju sebuah ruangan tersembunyi yang ada di bangunan rumah makan.


Melihat gerak-gerik mencurigakan dari seorang pria, Arjuna yang sudah berada dalam mode siaga langsung menarik busurnya dan memanah pria itu tepat dibangian kaki.


"Arghh!" Pria itu menjerit kesakitan dan terjatuh usai sebuah anak panah menancap dibagian kaki kirinya sampai menembus kearea tumit.


Beberapa prajurit kemudian segera mengamankan pria itu dan membawanya ke hadapan Arjuna yang memegang sebuah busur khusus ditangannya.


"Sepertinya kau mengetahui sesuatu, benar bukan?" Arjuna menarik rambut pria itu kebelakang agar mereka melakukan kontak mata secara langsung.


Pria itu sama sekali tidak gentar berada dibawah tekanan Arjuna. Dia justru meludah tepat diwajah Arjuna dan tertawa memilih untuk bungkam.


Arjuna menyeka noda diwajahnya sambil tertawa tidak percaya, bahwa pria itu melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan ketika sedang di interogasi.


"Baik aku akan menganggap ini sebagai jawabanmu." Arjuna menatap mata pria mencurigakan dihadapannya yang sedang menertawakannya.


Tidak ingin ada kejadian berdarah ditempat itu dan membuat selera makan pengunjung hilang. Arjuna memilih untuk tidak mengadili pria itu ditempat dan meminta kepada beberapa prajurit untuk menahanya, lagipula dia sudah menyiapkan hadiah khusus untuk pria itu ditengah Kota.


Benar, hadiah khusus yang dimaksud adalah hukuman mati untuk setiap anggota pemberontak. Adapun tempat itu sekarang tengah dipersiapkan oleh Wira, Bagaskara, Rajendra, dan beberapa pasukan di pusat Kota Madya untuk diperlihatkan kepada semua orang.


Arjuna tersenyum kecil dan menepuk bahu pria itu seolah mengasihaninya. Dia kemudian meminta pasukannya untuk segera melakukan penggeledahan ke setiap sudut bangunan rumah makan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2