
"Ada dengan wanita itu, kenapa dia selalu menguntitku saat aku lengah sedikit saja?" Arya merasa heran dengan sikap Nyonya Maharani yang menurutnya aneh, karena menggunakan sebuah teknik untuk mengintai dirinya.
Arya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Nyonya Maharani atau para wanita yang selalu mencuri perhatian kepadanya. Dia merasa kalau mereka sangat aneh dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Saat Arya berjalan menyusuri area Kota Bambu. Tak sedikit wanita yang melihat kearahnya. Arya yang berpikir mereka ingin merampok uangnya, kemudian memberi tatapan dingin kepada para wanita yang melihat kearahnya.
Tetapi bukannya merasa takut para wanita itu tiba-tiba berteriak histeris. Arya yang tak ingin dituduh melakukan tindakan aneh kepada para wanita itu kemudian mempercepat langkahnya, tetapi para wanita itu justru mengejarnya.
"Mereka pasti sudah sudah gila ingin merampok uangku disaat langit masih cerah. Dan apa-apaan dengan masyarakat disini, kenapa mereka hanya melihat. Apa ini sudah biasa terjadi saat ada pendatang baru di kota ini?"
Arya menggelengkan kepala merasa kebiasaan masyarakat Kota Bambu sangat aneh, karena membiarkan perampokan. Yang paling anehnya para pelakunya adalah para wanita.
Melihat para wanita yang semakin banyak mengejarnya, Arya menggunakan teknik meringankan tubuh dan menghilang dari hadapan semua orang.
Pada akhirnya Arya dari para wanita aneh yang mengejar dirinya. Pria itu kelihatan salah paham dengan maksud para wanita yang sebenarnya hanya ingin berkenalan. Wajar saja Arya salah paham, sebab para wanita itu mengejar sambil berteriak histeris seolah menuduh dirinya sebagai seorang pencuri.
Saat hari menjelang malam. Arya memutuskan untuk bermalam di penginapan dan memesan sebuah kamar. Ketika sampai dikamar Arya tak lupa memasang formasi untuk meredam suara dari penghuni kamar disebelahnya.
Arya merebahkan tubuhnya dikasur yang sudah lama dia tidak pernah rasakan. Selama sebelas tahun terakhir dirinya hanya menggunakan tumpukan jerami untuk tidur didalam gua yang dingin. Bisa merasakan sensasi nyaman dari kasur lagi membuat Arya cukup dibuat puas.
Sebuah buku kemudian Arya ambil dari dalam cincin dimensi. Buku itu sendiri merupakan buku yang tak sengaja dia bawa dari toko saat dulu membelikan senjata untuk Raka.
Entah sudah berapa kali Arya membaca buku berisi kisah perjalanan seorang pria dalam mencari kebahagiaan sejati tersebut. Tetapi Arya sama sekali tidak bosan walau sudah menghafal setiap kata yang tertulis dibuku catatan itu.
"Kisah semua orang-orang sepertinya terasa menyenangkan. Apa aku bisa merasakan kesenangan yang biasa dilakukan banyak orang?"
__ADS_1
Arya tertawa pelan menyadari kehidupannya yang sudah didoktrin sejak dia lahir. Belum pernah sekalipun Arya merasa benar-benar senang, kehidupan terasa hambar seperti warna abu-abu.
Keesokan harinya Arya kembali berjalan menyusuri area Kota Bambu. Melihat berita tentang perekrutan prajurit, Arya yang merasa tertarik kemudian mengambil poster tersebut dan menuju tempat dimana perekrutan prajurit dilaksanakan.
Setibanya ditempat perekrutan prajurit baru. Arya melihat sudah banyak orang yang mendaftar maupun melakukan tes di lapangan terbuka.
Arya kemudian menghampiri pos pendaftaran dan meletakkan poster perekrutan prajurit di atas meja administrasi. "Aku ingin mendaftarkan diri menjadi seorang prajurit."
Seorang petugas administrasi dengan malas melirik kearah Arya selama beberapa saat. "Memangnya untuk apa kau datang kesini kalau bukan mendaftar menjadi seorang prajurit?" Petugas itu menyinggung perkataan Arya sebelumnya, kemudian memberikan formulir pendaftaran.
Arya tak begitu memperdulikan sikap petugas itu kepadanya. Dia lalu mulai mengisi formulir pendaftaran dan membayar sejumlah uang sebagai biaya administrasi.
Setelah mengurus formulir pendaftaran, Arya kemudian diberi arahan untuk melakukan tes seperti para peserta lain yang ada dilapangan.
Arya tentu dapat dengan mudah lolos seleksi menjadi prajurit baru. Dia tentu merekayasa semua nilai tes menjadi rata-rata agar tak begitu mencolok. Hal itu sengaja Arya lakukan untuk menghindari tugas berat.
Setelah dinyatakan lolos Arya kemudian diberikan perlengkapan sebagai prajurit, mulai dari pakaian sampai rompi besi dan helm besi, yang sebenarnya Arya sendiri tak membutuhkannya.
Arya kini memiliki 40 sisik Naga yang membuat senjata tingkat Legenda sekalipun tak bisa menembus kulitnya. Tetapi Arya tetap menerima semua perlengkapan prajurit yang diberikan dan memakainya, meski dia merasa sedikit tak nyaman.
"Langkah pertama berjalan dengan lancar. Selanjutnya hanya perlu berkontribusi dan menaikan karir untuk mendapat tanggapan baik dari masyarakat."
Bukan tanpa alasan Arya lebih memilih berkarir di dunia militer ketimbang menjadi seorang murid dari sebuah sekte. Dengan menjadi seorang prajurit tak menutup kemungkinan dimasa depan akan mudah baginya merekrut orang kedalam pasukannya, dan kelak saat merebut tahta kerajaan dia sudah mendapat banyak dukungan dari pihak militer maupun masyarakat.
Jika Arya menjadi murid suatu sekte pergerakan akan sangat terbatas dan rencana mendapatkan dukungan dari orang-orang, menjadi sangat sulit meski dia memiliki kekuatan sekalipun.
__ADS_1
Sebagai seorang prajurit baru Arya dimasukkan kedalam regu untuk berpatroli dan menjaga ketertiban di Kota Bambu. Tugas yang sangat sederhana seperti itu bukanlah hal sulit untuk Arya.
Tetapi untuk menghindari perhatian dari para wanita di Kota Bambu yang menurutnya sangat aneh, Arya menekan aura Phoenix dan aura dominan Naga, supaya terkesan seperti prajurit biasa pada umumnya.
****
Di Ibukota Wirabhumi atau lebih tepatnya bangunan Asosiasi Perak. Sikap Nyonya Maharani cukup berubah dan selalu tersenyum sendiri tidak jelas padahal tak ada yang membuat lelucon kepadanya.
Hal ini tentu membuat pelayan pribadinya dan tangan kanannya yaitu Dierja merasa kalau pemimpin mereka sedikit memiliki kelainan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dierja kepada pelayan pribadi Nyonya Maharani dengan nada bicara lirih agar tak mengganggu fantasi pemimpin mereka tersebut.
Sejak datang tadi pagi, Dierja beberapa kali mendapati Nyonya Maharani saat di ajak berdiskusi menjadi tidak nyambung, dan sering tersenyum bahkan tertawa kecil tanpa alasan.
Hal itu membuat Dierja merasa khawatir kepada sosok pemimpin sekaligus ibu angkatnya. Dia takut mental Nyonya Maharani sekarang terganggu karena terus mengurung diri didalam ruangannya.
Pelayan pribadi Nyonya Maharani yang ditanya oleh Dierja menggelengkan kepala, sebab tidak tau apa yang sedang terjadi kepada majikannya.
"Nyonya, jadi bagaimana dengan pasokan makanan yang diminta oleh pihak Kerajaan Brawijaya untuk militer mereka. Kita menerima tawaran mereka atau tidak?" Dierja bertanya dengan ragu-ragu.
Nyonya Maharani seketika keluar dari zona fantasinya dan terlihat tak begitu memperhatikan saat berdiskusi bersama Dierja. "Eh? Y...Ya lakukan saja. Kau bisa mengurusnya Dierja, aku sedang sibuk sekarang."
Setelah menyerahkan semua urusan kepada Dierja, Nyonya Maharani langsung masuk kedalam kamarnya meninggalkan Dierja bersama pelayan pribadinya diruangan tersebut.
"Memangnya Nyonya sibuk melakukan apa?" Dierja merasa heran sebab Nyonya Maharani selalu memiliki waktu luang bahkan hari-harinya hanya dihabiskan untuk bersantai.
__ADS_1