
"Jadi bisnis apa yang ingin kita bahas, Jenderal?" Arjuna bertanya sambil membuat senyuman tipis menyinggung identitas Arya sebagai Jenderal, setelah melihat beberapa prajurit yang mereka temui memanggil Arya dengan sebutan Jenderal.
Mengerti apa yang dimaksud oleh Arjuna. Arya tertawa lirih sebelum ekspresi berubah kembali menjadi tenang. Untuk menjalin hubungan dengan orang lain, tentu Arya sadar intimidasi bukan cara yang tepat.
"Sepertinya kalian mendengar percakapan kami sebelumnya, benar? Kalau begitu biar aku luruskan semuanya agar kalian semua mengerti."
Arya mengeluarkan tanda pengenal berwarna hitam dari cincin dimensi, bertuliskan Jenderal yang diukir dan ditulis menggunakan tinta emas cair.
Beberapa penjelasan mulai Arya sampaikan mengenai dirinya yang diangkat menjadi bagian dari Jenderal Bendera 7 Warna, setelah memenangkan Kompetisi Militer yang diadakan oleh Panglima Tertinggi.
Tidak lupa Arya memperkenalkan dirinya kepada ketiga mantan Jenderal itu, dan mengungkapkan bahwa dirinya berasal dari desa yang ada di pelosok Kerajaan.
Mendengar penjelasan Arya mengenai Kompetisi Militer tentu Arjuna, Wira, maupun Bagaskara percaya. Tetapi saat Arya memperkenalkan diri dan mengatakan dari mana dirinya berasal, ketiga pria itu tentu saja tida percaya.
Bergabung dan mengikuti bahkan sampai memenangkan Kompetisi Militer dengan lancar tanpa hambatan bahkan luka, siapa yang akan percaya kalau Arya hanya prajurit biasa dan lahir di pelosok Kerajaan.
Arjuna, Wira, dan Bagaskara lebih percaya kalau Arya merupakan seorang pendekar yang baru keluar dari meditasi selama 100 tahun.
Pengalaman bertarung ditambah memiliki api aneh yang mirip dengan Api Surgawi, sudah membuat ketiga pria itu yakin bahwa Arya seorang pendekar.
"Anak seorang petani dari pelosok Kerajaan dan bercita-cita menjadi seorang prajurit? Hanya anak kecil dan orang bodoh saja yang akan mempercayai ceritamu."
Wira berkata sambil tersenyum tipis dan memberikan tatapan menyelidik kepada Arya. Sebagai mantan seorang Jenderal dan pernah berguru disalah satu sekte aliran putih terbesar, Wira sudah mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan seorang pendekar.
Merasa tidak bisa menyembunyikan identitas asli dari ketiga mantan Jenderal dihadapannya. Arya kemudian melepas formasi yang sudah menekan aura dan merubah sedikit bentuk tubuh dan wajahnya.
Setelah Arya melepaskan formasi yang dia gunakan. Aura dari pendekar Ranah Bumi langsung keluar dari tubuhnya dan menyebar menciptakan gelombang kejut disekitarnya.
__ADS_1
Arjuna, Wira, dan Bagaskara yang merasakan aura milik Arya langsung tertekan sampai kesulitan bernafas karena sekarang mereka sama sekali tidak memiliki fondasi Kultivasi.
Menyadari ketiga pria itu yang kesulitan bernafas, Arya langsung menekan aura miliknya tanpa menggunakan formasi lagi yang membuat ketiga pria itu bisa kembali bernafas lega.
"Hah... Hah... Hah... Benar apa yang sudah aku pikirkan tentangmu. Kau merupakan bagian dari orang-orang yang terjun menjadi seorang pendekar." Wira sedikit kesulitan berbicara dan mengatur nafasnya yang masih terasa berat, setelah merasakan aura milik Arya.
Ranah Bumi yang dicapai oleh Arya tidak membuat mereka bertiga terkejut lagi karena sudah bisa sedikit menebak dari awal kalau pemuda itu bukan prajurit biasa.
Lagipula Arjuna, Wira, dan Bagaskara dulunya saat masih menjadi seorang Jenderal berada di Ranah Bumi sama seperti Arya, sebelum basic Kultivasi mereka dihancurkan oleh pengadilan tinggi Kerajaan.
Arya mengangkat kedua tangannya seperti penjahat yang tertangkap basah. "Baik aku sudah jujur kepada kalian. Sekarang apa kita bisa memulai bisnisnya?"
"Bisnis apa yang kau maksud? Kami bertiga sekarang hanya orang cacat. Tidak ada keuntungan yang akan kau dapatkan, jika berbisnis dengan kami." Kali ini Bagaskara menyampaikan pikirannya setelah cukup lama diam.
Tiba-tiba Arya tersenyum tipis penuh arti setelah mendengarkan perkataan Bagaskara. Melihat senyum di wajah Arya, ketiga pria itu tiba-tiba merasa merinding dan memiliki firasat buruk.
"Arya, apa kau tidak mendengar dan melihat kalau kami bertiga tidak lagi bisa berkultivasi? Dantian kami sudah hancur dan tidak ada seorangpun yang bisa memperbaikinya."
Arjuna sedikit heran dengan isi kepala Arya. Menurutnya Arya merupakan orang aneh karena meminta orang cacat sepertinya masuk kedalam divisi militernya.
"Kalian tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku bisa sedikit membantu dan memberi kalian kesempatan untuk bisa berkultivasi lagi. Tentu setelah kalian setuju untuk bergabung denganku." Arya menimpali perkataan Arjuna dengan santai seolah masalah sebesar itu bisa dengan mudah dia atasi.
Mendengar perkataan Arya yang sangat diluar akal sehat. Arjuna, Wira, serta Bagaskara mulai ragu dengan kesehatan mental pemuda itu.
Arjuna, Wira, dan Bagaskara tiba-tiba menghela nafas secara bersamaan kemudian merenung, berpikir hidup mereka benar-benar sudah tamat. Mereka juga mulai mengingat saat-saat ketika keluarga mereka dieksekusi dihalaman Istana.
Tentu ada rasa kebencian yang tersirat dimata mereka. Bukan benci dan berniat melakukan pemberontakan kepada Kerajaan, mereka hanya membenci sebagian tikus yang berhasil masuk dan memiliki kekuasaan didalam Istana.
__ADS_1
"Apa kalian tidak percaya dengan perkataanku?" Arya bertanya saat melihat mata ketiga pria itu yang sekilas meragukan ucapannya.
Arjuna mengangkat wajahnya menatap Arya dengan tatapan pasrah. "Tentu kami meragukan perkataanmu. Meskipun kau berhasil menyembuhkan kondisi kami, apa kau tidak takut kalau kami bertiga berhianat dan melakukan pemberontakan?"
"Kalian tidak perlu meragukan kemampuanku. Aku bisa membantu kalian. Untuk apa kalian akan berhianat dan melakukan pemberontakan, aku sudah bisa mencegahnya dengan mudah." Arya mengangkat pundaknya dan tersenyum. Bagaimanapun dia sudah mendengar cerita mereka saat berada di Kota Bambu.
Melihat harapan dan ketidakraguan Arya kepada mereka. Arjuna, Wira, dan Bagaskara sedikit tersentuh kemudian menatap satu sama lain.
"Baik, kali ini kami bertiga akan mempercayaimu." Arjuna menyampaikan pendapatnya dan mewakili kedua temannya.
Arya tersenyum kecil dan menganggu puas saat ketiga pria itu sedikit mempercayainya. Arya kemudian mengeluarkan 3 butir Pill berwarna emas dari dalam cincin dimensi, dan meminta mereka memakannya.
Awalnya Arjuna, Wira, serta Bagaskara sedikit ragu karena tidak ingin menyia-nyiakan Pill yang terlihat sangat mahal sia-sia, karena mereka tidak bisa menyerap khasiatnya.
Tetapi setelah Arya mengulangi perkataannya untuk memakan Pill itu, ketiga pria tersebut mau tidak mau menurut dan mempercayakan semuanya kepada Arya.
Setelah Arjuna, Wira, dan Bagaskara mengkonsumsi Pill itu. Arya kemudian meminta mereka bermeditasi seperti biasa layaknya sedang menyerap khasiat sumber daya.
Pertama Arya meletakkan kedua telapak tangannya dipunggung Wira dan Bagaskara untuk membantu mereka menyerap Pill yang sudah dia persiapkan untuk mereka sebulan terakhir.
Energi Qi murni kemudian Arya suntikan kedalam tubuh Wira dan Bagaskara. Perlahan Dantian mereka yang hancur mulai menyatu kembali membentuk sebuah bola kecil.
Merasakan sensasi hangat didalam tubuh mereka yang sudah lama hilang. Wira serta Bagaskara merasa sangat senang dan tidak menyangka Dantian mereka berhasil direkonstruksi ulang oleh Arya.
Saat mereka ingin membuka mata untuk berterimakasih. Arya langsung memberi mereka peringatan untuk tetap berada didalam meditasi dan menyuruh menyerap sisa khasiat Pill yang sebelumnya dia berikan.
Wira dan Bagaskara kemudian mengikuti perkataan Arya lalu mulai membentuk fondasi Kultivasi mereka yang sudah hancur 15 tahun lalu.
__ADS_1
Setelah membantu Wira dan Bagaskara, Arya kemudian membantu Arjuna dan melakukan hal yang sama seperti kedua pria itu sebelumnya.