Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Aku Kaya


__ADS_3

Empat orang pria tengah berbincang santai membahas seputar kota yang akan mereka datangi. Keempatnya saling mengutarakan pikiran dan pendapat mereka masing-masing tetapi dengan tujuan yang sama, yaitu merubah aturan dan kebijakan di kota tersebut.


"Mengelola kota yang dari segala aspek tertinggal ditambah jumlah penduduk yang cukup banyak, menurutku cukup susah untuk melakukannya." Arjuna berkata dengan raut wajah serius.


Mendengar pendapat dari Arjuna yang menyinggung permasalahan cukup komplek di Kota Madya. Arya, Wira, dan Bagaskara mengangguk paham.


"Ya itu benar. Apalagi masyarakat disana berasal dari orang-orang buangan. Pastinya ada banyak kejahatan dan tindakan anarkis di kota itu. Ini cukup merepotkan." Giliran Wira kali ini yang mengutarakan pendapatnya dan langsung dicatat oleh Arya.


Apa yang dikatakan oleh Wira memang ada benarnya. Masyarakat di Kota Madya pasti sudah tau bahwa mereka hanya orang buangan, yang sengaja di tumbalkan untuk binatang buas yang ada di Hutan Darah.


Oleh sebab itu pastinya muncul pikiran kalau ingin bertahan hidup, mereka saling menindas satu sama lain dan menumbalkan pihak yang lemah untuk para binatang buas.


Ada banyak kekacauan pastinya yang menjadi pekerjaan cukup berat untuk Arya, Arjuna, Wira, dan Bagaskara jika ingin melakukan perubahan.


"Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan juga tidak sedikit. Masih ada banyak infrastruktur yang dibangun dan diperbaiki. Ditambah untuk mensejahterakan masyarakat, dana yang dibutuhkan akan membengkak."


"Kerajaan pastinya tidak akan memberi bantuan keuangan atau makanan sebesar itu. Terkadang uang memang sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah."


Bagaskara merasa kasihan kepada masyarakat di Kota Madya. Selain dibuang oleh Kerajaan, mereka juga harus bisa bertahan dari serangan binatang buas dan masalah kelaparan.


Mendengar perkataan Bagaskara yang menyangkut masalah dana, tiba-tiba Arya tersenyum yang membuat Arjuna, Wira, dan Bagaskara merasa heran kepadanya.


"Tenang saja, aku kaya." Dengan santai seolah tidak punya beban Arya mengatakan hal itu. Perkataan Arya langsung membuat sudut bibir Arjuna, Wira, maupun Bagaskara berkedut.


Sebagai orang yang terlahir dari golongan bawah, mereka sudah terbiasa hidup dibawah garis kemiskinan. Mendengar perkataan Arya, tentu mereka tak begitu percaya.

__ADS_1


Menyadari keraguan dimata ketiga pria itu, Arya kemudian mengeluarkan koin dan batangan emas dalam jumlah besar didekat mereka, yang membentuk gunung kecil.


Arjuna, Wira, dan Bagaskara membelalakan mata seolah tidak percaya. Untuk melihat semua harta itu asli atau palsu, mereka kemudian menguji kualitasnya.


"Ini... Bagaimana kau mendapatkan harta sebanyak ini?" Wira terkejut karena menemukan semua harta itu asli dan bukan hanya sekedar barang palsu.


Arya terkekeh kemudian menyimpan kembali semua harta yang menggunung itu. "Guruku sangat kaya dan mewariskan semuanya kepadaku. Yang aku tunjukkan tadi kepada kalian, hanya sebagian kecil dari harta yang aku miliki."


Ketiga pria itu tidak bisa berkata-kata lagi. Melihat pemuda yang sangat berbakat dan kaya, mereka yakin guru dari pemuda itu pasti merupakan Pendekar Legendaris.


"Kalau boleh tau, siapa gurumu itu Arya?" Arjuna bertanya dengan nada penasaran dan ingin mengetahui sosok yang sudah menjadi guru pemuda berbakat seperti Arya.


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Arjuna. Arya tersenyum kecil sambil memperhatikan api unggun. "Biar waktu yang menjawab rasa penasaran kalian. Jika aku menjelaskan sekarang, kalian pasti tidak akan percaya."


Melihat Arya yang tidak ingin menjelaskan sosok gurunya. Arjuna, Wira, dan Bagaskara tidak menanyakan lebih jauh lagi. Mereka menyadari raut wajah Arya terlihat masam ketika membahas gurunya, pasti sudah terjadi hal buruk pikir mereka.


Saat kembali mereka berdua terkejut melihat ada empat pria asing berada di perkemahan. Baik Putri Amanda maupun Fajar yang masih setengah sadar tidak menemukan kehadiran Arya, Arjuna, Wira, dan Bagaskara disana.


"Siapa kalian?!" Putri Amanda menjadi waspada dan mengacungkan pedang es ditangannya kearah empat pria asing yang berada di perkemahan.


Melihat Putri Amanda dan Fajar yang tidak mengenali mereka. Keempat pria itu menertawakan keduanya, berpikir Putri Amanda dan Fajar cukup lucu.


Tiba-tiba Putri Amanda mengayunkan pedangnya dan membuat area yang berada didepan keempat pria itu langsung membeku. "Jangan main-main denganku. Katakan, siapa kalian?!"


Arya, Arjuna, Wira, Bagaskara memandang satu sama lain. Memangnya ada yang berubah pada mereka sampai membuat Putri Amanda dan Fajar tidak mengenali mereka, pikir keempat pria itu.

__ADS_1


Mereka berempat tidak menyadari penampilan mereka berubah sangat drastis dari yang awalnya biasa-biasa saja. Merasa kesalahpahaman diantara mereka akan membesar, Arya kemudian menghampiri Putri Amanda dan Fajar.


"Berhenti jangan mendekat!" Ucap Putri Amanda tegas dengan niat membunuh kuat saat melihat seorang pemuda tampan menghampirinya.


Meski pemuda itu merupakan pria tertampan yang pernah dia lihat, tetapi Putri Amanda tidak akan berpaling begitu saja dari pria yang sudah banyak menolongnya.


Melihat pemuda itu tidak mengindahkan peringatannya dan terus berjalan menghampirinya. Putri Amanda mengeratkan gigi dan menebas pemuda itu.


"Cukup hentikan." Arya berhasil menangkap pedang es milik Putri Amanda tanpa kesulitan dan mendapatkan luka ditangannya.


Putri Amanda membelalakan mata saat pemuda itu baik-baik saja saat menerima serangannya. Hanya satu orang yang tidak bisa terpengaruh oleh kekuatannya, dan Putri Amanda langsung menyadari bahwa pemuda dihadapannya merupakan Arya.


"Maafkan aku karena tidak bisa mengenalimu." Putri Amanda melepas pedangnya dan menundukkan kepala karena malu melihat penampilan Arya saat ini.


Arya menggelengkan kepala kemudian menjelaskan apa yang sudah terjadi disana. Tentu Arya juga menjelaskan kalau dia melepaskan formasi yang merubah penampilan aslinya, agar Putri Amanda mengerti.


Melihat kondisi Fajar yang penuh luka dan diseret oleh Putri Amanda. Arya kemudian meminta kepada wanita itu untuk melepaskannya, yang langsung dilakukan oleh wanita cantik tersebut.


Fajar kemudian dibantu oleh Arjuna menuju perapian sambil menceramahi adiknya itu. Fajar sendiri bukannya terlihat kesakitan dan kesal karena diceramahi oleh Arjuna, tetapi dia tersenyum bahagia karena mendapati kondisi kakaknya sudah membaik.


Arya, Arjuna, Wira, dan Bagaskara kemudian menyampaikan hasil diskusi mereka kepada Putri Amanda serta Fajar. Tetapi Fajar yang dasarnya hanya perduli dengan otot tidak terlalu mengerti dan hanya mengangguk saja.


Putri Amanda sendiri hanya mengangguk pelan dan tidak mengomentari hasil diskusi. Lagipula dia tidak terlalu perduli dengan kondisi yang terjadi di Kerajaan Brawijaya, dan hanya memikirkan pria yang duduk di sampingnya.


Ketika hari sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk istirahat didekat perapian yang menyala.

__ADS_1


Pada awalnya Arya sudah meminta kepada Putri Amanda untuk istirahat didalam kereta kuda agar tidak kedinginan terkena angin malam.


Tetapi Putri Amanda menolak dan memilih tidur disamping Arya. Malam itu Arya bisa mendengar Putri Amanda beberapa kali batuk ringan, dan Arya berinisiatif memberikan kain tebal kepada wanita itu.


__ADS_2