Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Undangan Terbuka Untuk Pemberontak


__ADS_3

Tiba-tiba Arya tertawa kecil begitu mendengar rencana pemberontakan yang dituturkan oleh Indera. Berbeda dengan rekan-rekannya yang tegang, Arya justru terlihat tidak terlalu memikirkan hal itu.


Melihat Arya tertawa tanpa beban membuat semua orang menyipitkan mata kearahnya. Saat ini ada sekelompok orang yang ingin memberontak, bagaimana pria itu masih bisa tertawa. Padahal nyawanya saat ini sedang terancam.


"Hei, ini bukan lelucon semata. Nyawamu sedang dalam bahaya kau tau?" Deswara mengerutkan alis merasa Arya terkena gangguan mental akibat mendengar ada sekelompok orang ingin memberontak.


Arya menggelengkan kepala meraih secarik kertas berisi laporan perkembangan Kota Madya selama tiga bulan terakhir. "Jangan khawatir mereka tidak bisa membunuhku. Apa kau lupa saat pertamakali datang kalian sudah memberikan teh beracun kepadaku. Lihat, aku masih baik-baik saja setelahnya."


Mendengar ucapan Arya membuat baik Deswara, Rajendra, dan Indera merasa malu. Bagaimana mereka bisa lupa tentang kejadian minum teh tiga lalu. Mereka sendiri tidak menyangka bagaimana Arya bisa mengetahui ada racun pada minumannya, dan masih terlihat sehat sampai saat ini.


"Kalian!" Tiba-tiba Putri Amanda menggebrak meja menatap Deswara, Rajendra, dan Indera dengan penuh amarah. Dia masih belum mengetahui tentang kejadian teh beracun, sampai Arya kembali menyinggungnya.


Niat membunuh seketika keluar dari tubuh Putri Amanda besertai aura dingin. Asap tipis samar-samar menyebar disekitar tubuh Putri Amanda, dan permukaan meja perlahan membeku disekita telapak tangannya.


Tekanan Pendekar Ranah Bumi seketika membuat Deswara, Rajendra, dan Indera merasakan sesak nafas. Tubuh mereka bertiga terasa berat seperti ada beberapa ekor gajah diatas mereka.


Keringat mulai bercucuran dari kening tiga pria itu. Mereka tidak menyangka sebelumnya jika Putri Amanda akan memberikan respon semacam ini saat mendengar perkataan Arya barusan.


Tidak hanya ketiga pria itu saja yang berkeringat dingin saat melihat amarah Putri Amanda meledak. Arjuna, Fajar, Wira, dan Bagaskara juga merasakan hal sama dengan mereka meski tidak menjadi targetnya.


"Duduk..." Suara Arya terdengar pelan namun membuat amarah Putri Amanda menjadi goyah seketika. Tetapi wanita cantik itu masih tetap berdiri dan menatap kearah tiga pria dihadapannya dengan kesal.


Arya yang sebelumnya fokus membaca laporan ditangannya, kemudian mengalihkan pandangan kearah Putri Amanda yang masih tidak bergeming disebelahnya.

__ADS_1


Saat kontak mata bertemu, mata abu-abu Putri Amanda secara langsung melihat mata merah milik Arya yang terlihat tenang. Tanpa membantah, Putri Amanda lalu duduk kembali tidak ingin membuat Arya mengulangi perkataan dan membencinya karena tidak menurut.


Meskipun sudah duduk kembali dan menekan kembali niat membunuhnya. Putri Amanda masih memberikan ancaman untuk ketiga pria itu seolah berkata 'Tunggu setelah ini selesai aku akan memberi kalian pelajaran'.


Menyadari ketakutan diwajah Deswara, Rajendra, dan Indera. Arya kemudian melirik kearah Putri Amanda mendapati cantik tersebut masih memberikan ancaman kepada ketiga pria itu.


"Amanda..." Arya memanggil nama wanita cantik di sampingnya tanpa menyebutkan gelar Putri yang disandang oleh Putri Amanda.


Mendengar namanya dipanggil secara langsung oleh Arya. Tubuh Putri Amanda langsung tersentak dan matanya sedikit melebar. Bukan marah karena Arya tidak menunjukkan rasa hormat kepadanya, Putri Amanda justru tampak senang merasa jarak di antara mereka semakin dekat.


Paham dengan apa yang Arya maksud. Putri Amanda melepaskan ancaman untuk ketiga pria itu dan menundukkan kepala menyembunyikan wajah cantiknya yang sedikit memerah.


Disisi lain Arya menghela diam-diam menghela nafas lega saat Putri Amanda menarik kembali niat membunuhnya. Dia pikir wanita cantik itu akan marah saat dirinya menyebutkan nama secara langsung. Arya bahkan tidak menyangka Putri Amanda akan benar-benar mendengarkan permintaannya.


Ketiganya lalu mengangkat wajah mendapati Arya sama sekali tidak menunjukkan rasa dendam kepada mereka, dan justru menunjukkan senyuman kecil diwajahnya.


Sementara itu Fajar dan Bagaskara yang kebetulan saat kejadian teh beracun tidak berada ditempat. Mereka berdua tampak jauh lebih tenang tidak seperti Putri Amanda yang meluap-luap.


Bagaimanapun Fajar dan Bagaskara sudah mengetahui kejadian itu dari Arjuna serta Wira yang melihat langsung Arya meminum teh beracun dalam jumlah cukup banyak.


Arjuna dan Wira sengaja tidak memberitahu kepada Putri Amanda untuk menghindari masalah semakin panjang. Benar saja hari ini saat Arya menyinggung kejadian itu, amarah Putri Amanda langsung meledak.


Hal ini membuat semua orang yakin jika Putri Amanda benar-benar menaruh rasa kepada pria yang notabenenya adalah musuh Kerajaannya sendiri.

__ADS_1


Tetapi melihat sikap Putri Amanda yang patuh kepada Arya. Semua orang sedikit menyadari jika Putri Amanda sama sekali tidak perduli Arya merupakan musuhnya.


Keyakinan mereka diperkuat saat mengingat Putri Amanda tidak mau pulang menuju Kerajaan Angasari meski sudah dijemput oleh petinggi militernya.


Semua orang akhirnya secara langsung bisa melihat bahwa cinta benar-benar sudah membutakan segalanya. Ketika seseorang mengalami hal ini, mereka tidak perduli jika orang yang suka musuh atau bukan asal bisa tetap bersama.


"Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu. Sekarang aku ingin mengetahui alasan utama sekelompok orang itu yang ingin memberontak. Tentu bukan hanya karena mereka membenci orang luar, bukan?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Arya langsung membuat situasi tegang menjadi lebih tenang seperti sebelumnya. Hal ini membuat semua orang merasa lebih baik, dan berpikir pemikiran Arya jauh lebih tenang dari pada diktator Putri Amanda.


"Yang aku tau dari bawahanku. Setelah melihat bagaimana pembangunan dan ekonomi Kota meningkat secara masif. Kelompok itu berpikir mereka bisa melakukan hal serupa, dan ingin mengambil alih kekuasaan."


Sebagai pimpinan intelijen Kota. Indera memberanikan diri untuk memberikan penjelasan singkat kepada Arya dan memberikan laporannya kepada pria itu, meski baru saja mendapat ancaman dari Putri Amanda.


Benar saja lagi-lagi Putri Amanda memberi tatapan membunuh kearah Indera. Tetapi segera menghilang saat Arya melirik wanita cantik itu lagi. Semua orang akhirnya menyadari jika hanya Arya yang bisa menjinakan diktator kejam itu.


Baik Deswara, Rajendra, dan Indera sebenarnya pada awalnya ingin mengatasi rencana pemberontakan ini sendiri. Mereka khawatir jika sampai Putri Amanda mengetahui hal ini, kehidupan masyarakat yang semula sudah cukup membaik akan masuk kedalam situasi berdarah.


Setelah membaca laporan yang diberikan oleh Indera. Arya menganggu paham dan membuat sebuah pernyataan yang cukup mencengangkan.


"Undang beberapa orang dari mereka untuk menemuiku besok. Katakan saja kepada mereka, aku membutuhkan beberapa pengawal pribadi."


Kerutan terlihat jelas diwajah semua orang setelah mendengar perkataan Arya. Mereka merasa bingung dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pria itu sampai membuat keputusan sangat beresiko.

__ADS_1


"Jangan lupa undang beberapa masyarakat. Aku memerlukan saksi mata untuk besok." Arya tersenyum penuh arti membuat semua orang lagi-lagi hanya bisa menatapnya dengan heran.


__ADS_2