
Dierja Aditama yang secara diam-diam menyaksikan pertarungan Arya Wijaya melawan seluruh pembunuh bayaran dihalaman rumah tak bisa menahan rasa kagumnya.
Perlu keberanian untuk berhadapan dengan seluruh pembunuh bayaran itu bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Tetapi melihat seorang anak kecil bisa melawan para pembunuh bayaran itu sendirian, membuat Dierja Aditama tak bisa berkata-kata lagi.
Saat sedang memperhatikan Arya Wijaya dari kejauhan, Dierja Aditama merasakan kehadiran seseorang dibelakangnya. Arya Wijaya kemudian menemukan Asri Ningsih dan Raka Aditama yang sepertinya juga menyaksikan pertarungan Arya Wijaya dari awal.
Raut wajah Asri Ningsih menjadi pucat dan dia merasa mual setelah melihat mayat para pembunuh bayaran itu.
Sedangkan Raka Aditama justru terlihat antusias dan kagum sama seperti Dierja Aditama ayahnya. Tidak ada rasa takut dimata Raka Aditama. Menurut Raka Aditama apa yang dilakukan oleh Arya Wijaya sangatlah keren.
Arya Wijaya yang menyadari kehadiran Dierja Aditama dan keluarga kecilnya, kemudian berjalan menghampiri mereka.
"Maaf sudah membuat kekacauan dikediaman kalian. Aku akan mengganti rugi dinding bangunan yang rusak disana."
Mendengar permintaan maaf Arya Wijaya apalagi sampai mau mengganti rugi sebuah bangunan yang rusak. Dierja Aditama segera menolak dan balik meminta maaf serta berterimakasih kepada Arya Wijaya karena sudah mau menolong keluarganya.
"Justru saya yang harusnya meminta maaf dan berterimakasih kepada Tuan. Saya akan memberi balasan yang setimpal."
Arya Wijaya berusaha menolak niat Dierja Aditama, tetapi pria itu sangat memaksa. Alhasil Arya Wijaya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas niat Dierja Aditama yang menjanjikan hadiah besar untuknya.
Raka Aditama tiba-tiba menggenggam tangan Arya Wijaya dan menatapnya dengan mata berbinar. Hal itu jelas membuat Dierja Aditama dan Asri Ningsih menjadi khawatir, karena takut Arya Wijaya tidak suka dengan tingkah putra mereka.
"Kau sangat hebat Arya bisa mengalahkan para pembunuh bayaran itu. Seandainya saja aku bisa sepertimu." Puji Raka Aditama sambil menatap Arya Wijaya dengan penuh harap.
Paham dengan maksud Raka Aditama yang minta diajarkan olehnya, Arya Wijaya hanya bisa tertawa pelan. "Dari cara bicaramu, sepertinya kau ingin aku mengajarimu bukan, Raka?"
__ADS_1
Raka Aditama tertawa gugup menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menahan rasa malu karena ternyata Arya Wijaya sangat peka sampai bisa memahami niatnya.
"Tuan Arya. Saya minta maaf, anak saya mengatakan hal yang tidak menyenangkan bahkan sampai mengharapkan sesuatu kepada anda." Asri Ningsih segera menarik Raka Aditama dan merasa panik karena putranya itu mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Arya Wijaya.
Arya Wijaya mencoba menenangkan kekhawatiran Asri Ningsih dan Dierja Aditama. "Tidak masalah Nyonya. Lagipula sepertinya Raka sangat bersemangat. Mungkin saya akan mengajarkan beberapa teknik kepadanya."
Raka Aditama seketika menjadi sangat senang dan meminta Arya Wijaya berjanji untuk mengajarkan beberapa teknik kepadanya.
Bahkan tanpa ragu Raka Aditama mulai memanggil Arya Wijaya dengan panggilan Kakak, yang membuat Dierja Aditama dan Asri Ningsihmerasa cukup dibuat pusing dengan sikap putra mereka itu.
Jujur Dierja Aditama dan Asri Ningsih baru pertama kali melihat Raka Aditama seantusias itu. Raka Aditama biasanya selalu bersikap tenang dan sangat jarang mau bergaul dengan anak seumurannya. Bahkan Raka Aditama lebih suka menyendiri dan belajar di perpustakaan, mengingat dia memiliki tubuh yang sangat lemah dan sulit jika ingin berkultivasi.
Arya Wijaya menyanggupi permintaan Raka Aditama meski masih bingung mengapa anak itu memanggilnya Kakak. Dia tidak mempermasalahkan kalau dipanggil Kakak mengingat usianya lebih tua beberapa bulan dari Raka Aditama.
Sebelum pergi ke kamarnya, Arya Wijaya meminta kepada Dierja Aditama dan keluarganya, untuk tidak menceritakan kejadian yang mereka lihat kepada orang lain, dan menyimpan sebagai rahasia kecil mereka.
Tak lama kemudian para prajurit Kerajaan Brawijaya mulai mendatangi kediaman Dierja Aditama setelah menerima laporan. Sebagai pemilik kediaman itu Dierja Aditama diintrogasi oleh seorang Komandan pasukan mengenai kejadian yang terjadi disana.
Dierja Aditama kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tentang rencana pembunuh atas dirinya. Tetapi Dierja Aditama menyelipkan sedikit bumbu kebohongan untuk menjaga nama Arya Wijaya.
Keesokan harinya berita mengenai penyerangan dikediaman Dierja Aditama yang gagal, oleh para pembunuh bayaran dari Rumah Mawar Hitam dengan cepat menyebar ke seluruh orang di Kota Wirabhumi.
Berita tersebut seketika membuat nama dan reputasi Rumah Mawar Hitam langsung menjadi buruk, karena anggota mereka gagal padahal sudah mengirim tiga anggota Topeng Giok Hijau mereka.
Pagi harinya kediaman Dierja Aditama sudah ramai dengan para pekerja yang melakukan renovasi dan perbaikan pada bangunan yang terbakar dan hancur.
__ADS_1
Untuk para Pengawal dan Pelayanannya yang tewas maupun mengalami luka entah ringan atau parah, Dierja Aditama memberikan kompensasi besar untuk keluarga mereka masing-masing.
Arya Wijaya dan Dierja Aditama sekarang terlihat sedang menaiki kereta kuda untuk pergi melakukan pekerjaan mereka di Asosiasi Perak.
Setibanya di bangunan Asosiasi Perak. Dierja Aditama langsung disambut oleh banyak orang, sedangkan Arya Wijaya sedikit kesulitan saat harus menerobos kerumunan orang itu dan meninggalkan Dierja Aditama untuk menemui Nyonya Maharani Kanigara.
Arya Wijaya mengetuk pintu ruangan Nyonya Maharani Kanigara sebelum masuk kedalam. Saat itu dia menemukan Nyonya Maharani Kanigara yang sedang sarapan pagi.
"Aku dengar semalam kediaman milik Dierja diserang oleh sekelompok pembunuh bayaran dari Rumah Mawar Hitam. Apa kau baik-baik saja?"
Nyonya Maharani Kanigara bertanya dengan tenang tanpa melihat kearah Arya Wijaya dan fokus memakan sarapan paginya.
"Terimakasih sudah bertanya. Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja tanpa luka sedikitpun." Arya Wijaya tertawa lirih sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tiba-tiba Nyonya Maharani Kanigara meletakkan sumpitnya dengan keras sampai membuat Arya Wijaya dan seorang pelayan menjadi kaget.
Nyonya Maharani Kanigara kemudian menatap mata Arya Wijaya dengan tajam sebelum mengalihkan pandangannya kearah tangan anak itu.
Jelas Nyonya Maharani Kanigara dapat melihat perban yang membalut telapak tangan Arya Wijaya basah dan terdapat bercak darah yang masih segar.
Nyonya Maharani Kanigara tau betul apa kejadian semalam dikediaman milik Dierja Aditama disaat Arya Wijaya melawan para pembunuh bayaran dari Rumah Mawar Hitam. Melalui laba-laba kecil miliknya.
Jujur Nyonya Maharani Kanigara semalam kaget saat Arya Wijaya menatap laba-laba yang pengelihatannya terhubung langsung dengannya. Tetapi Nyonya Maharani Kanigara tidak berpikir lebih jauh karena merasa itu hanya kebetulan saja.
Nyonya Maharani Kanigara kemudian meminta Arya Wijaya mendekat dan berjabat tangan dengannya. Saat itu Nyonya Maharani Kanigara langsung menggenggam erat tangan Arya Wijaya sampai membuat anak itu merintih kesakitan.
__ADS_1
"Kalau kau tidak terluka dan baik-baik saja, lalu mengapa kau merintih kesakitan?" Tanya Nyonya Maharani Kanigara dengan dingin.