
Kediaman Keluarga Buana. Disalah satu kamar terlihat beberapa orang dewasa sedang memandangi seorang pemuda yang terbaring diatas kasur. Mata pemuda itu sayup terbuka dan menatap keatas dengan tatapan kosong.
Pemuda itu tidak lain merupakan Tuan Muda Keluarga Buana, yaitu Bayu Buana yang saat ini masih hidup meski tidak memiliki kesadaran lagi.
Siapapun yang melihat kondisinya saat ini pasti akan berpikir Bayu lebih cocok disebut boneka daging dari pada seorang manusia.
"Bagaimana kondisi putraku, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?" Jaka bertanya kepada seorang Tabib yang dia datangkan untuk memeriksa keadaan putranya.
Raut wajah Jaka Buana tampak cemas menunggu jawaban dari sang Tabib. Bagaimanapun Bayu merupakan anak semata wayangnya. Jaka tidak ingin membuat kesehatan istrinya menurun mengkhawatirkan kondisi putra mereka.
Tabib menghela nafas sambil menggelengkan kepala pelan setelah memeriksa kondisi Bayu. "Maaf Tuan Jaka, saya tidak bisa menyimpulkan kondisi yang terjadi kepada Tuan Muda."
"Apa maksudmu tidak bisa menyimpulkan kondisi putraku?!" Mendengar ucapan Tabib membuat emosi Jaka tersulut. Menurutnya bagaimana bisa seorang Tabib kelas tinggi tidak dapat mengetahui kondisi putranya saat ini.
Jaka menarik kerah baju Tabib itu dengan kesal. Bagaimanapun dia sudah mengeluarkan biaya cukup besar untuk mendatangkan Tabib tersebut. Akan sangat sia-sia jika Tabib itu tidak bisa menyembuhkan putranya.
"T...Tenang Tuan Jaka. Tuan Muda sebenarnya sangat sehat, tetapi saya sendiri merasa bingung kenapa Tuan Muda terlihat linglung dan tidak bisa diajak berkomunikasi."
Dengan terbata-bata dan ketakutan, Tabib itu berusaha menenangkan Jaka yang sudah sangat kesal. Tentu dia takut jika perkataannya bisa membuat Jaka marah dan membunuhnya.
Benar saja, Jaka yang merasa Tabib itu tidak berguna langsung menarik pedangnya dan menusuk leher Tabib itu sampai tewas bersimbah darah.
Jaka lalu menyuruh penjaga itu membawa mayat Tabib keluar, kemudian mengalihkan pandangannya kearah istrinya yang saat ini sedang menangis disamping tempat tidur Bayu, sambil berusaha membuat putranya agar bisa sadar.
"Tenangkan dirimu, Yunita..." Ucap Jaka dengan lembut sambil mengusap punggung istrinya untuk menenangkan nya.
Yunita langsung menepis tangan Jaka dan mencengkram kerah baju suaminya. "Tenang katamu!? Putraku sekarang terlihat seperti boneka! Ini semua salahmu karena membiarkannya mengikuti Kompetisi gila itu!"
__ADS_1
Ekspresi Yunita terlihat sangat marah kepada Jaka. Dia menyalahkan suaminya karena telah membuat putra kesayangannya kehilangan kesadarannya.
Jaka menelan salivanya dengan kasar melihat Yunita begitu marah kepadanya. Sebenarnya Jaka tidak takut dengan Yunita, tetapi dia takut dengan orang tua istrinya itu.
Ayah Yunita sendiri merupakan tetua di keluarga Kusuma dan memiliki pengaruh. Alasan Jaka menikahi Yunita hanya karena dia ingin menaikan status keluarganya di Kerajaan. Jika tidak, mana mungkin dia mau menikahi wanita yang parasnya lebih rendah dari seorang pelayan.
"Aku tidak mau tau, kau harus membuat kondisi putraku seperti sebelumnya dan temukan orang yang sudah membuat putraku menjadi seperti ini...!"
Emosi Yunita tidak mampu terbendung lagi. Dia sangat ingin bertemu dengan orang yang sudah membuat putra kesayangannya, dan membuatnya menderita.
Tidak ingin semua kesenangan yang selama ini dia nikmati hilang begitu saja, Jaka mengangguk patuh dan menuruti permintaan istrinya.
Jaka kemudian keluar dari kamar meninggalkan istri dan putranya. Seorang kepala penjaga kediaman Buana lalu dia panggil dan perintahkan untuk mencari seorang pemuda hidup atau mati.
****
Fajar terlihat berada di kursi depan bertugas menjadi kusir sementara Arya, Putri Amanda, Arjuna, Wira, dan Bagaskara berada di kursi penumpang.
Kondisi Arjuna, Wira, serta Bagaskara terlihat masih sama seperti sebelumnya. Hanya rantai yang mengikat kaki, tangan, dan leher mereka saja yang sudah terlepas.
Ketiga pria itu terlihat sangat begitu lemah karena lapar dan haus, terlihat dari bibir mereka yang pecah-pecah. Arjuna, Wira, dan Bagaskara kini hanya bisa tidur dengan bersandar satu sama lain untuk menghemat tenaga mereka.
Arya sendiri kini duduk berhadapan dengan ketiga mantan Jenderal Bendera Warna. Belum ada tindakan yang dia lakukan saat ini dan menunggu sampai mereka cukup jauh dari Ibukota, sebelum dia memulihkan kondisi ketiga pria itu.
Disisi lain Putri Amanda berusaha keras untuk tidak muntah. Bukan karena dia mabuk perjalanan, melainkan bau ketiga tahanan itu sangat menyengat apalagi mereka berada tepat dihadapannya.
Jika bukan karena dia mengikuti pria yang sudah menolongnya, Putri Amanda akan langsung meminta turun dari kertas kuda dan memilih untuk pergi.
__ADS_1
Tetapi untuk menjaga citranya dihadapan Arya, Putri Amanda berusaha sangat keras menahan siksaan aroma tidak sedap dari ketiga tahanan itu.
"Berapa lama mereka tidak mandi. Tubuh mereka benar-benar bau dengan kotoran manusia. Sampai kapan aku harus menahanya?!"
Putri Amanda ingin menangis saat ini. Bagaimanapun dia sedikit mengetahui kebijakan yang ada di penjara Ibukota. Seluruh tahanan akan menghabiskan sisa hidup mereka didalam jeruji besi.
Mereka bahkan diperlakukan layaknya seekor hewan didalam kandang. Artinya mereka tidak diijinkan keluar dan melakukan segala aktivitas mulai dari makan sampai buang kotoran didalam tahanan.
Arya yang duduk di samping Putri Amanda menyadari wanita itu tidak tahan dengan aroma menyengat dari ketiga tahanan yang dia bebaskan.
"Kamu bisa gunakan ini...." Ucap Arya sambil memberikan sapu tangan miliknya kepada Putri Amanda.
Dengan malu-malu Putri Amanda menerima sapu tangan milik Arya dan mengangguk sebagai tanda terimakasih kepadanya.
Putri Amanda kemudian menghirup sapu tangan milik Arya yang memiliki aroma khas tubuh pira itu. Aroma dari sapu tangan milik Arya membuat Putri Amanda merasa kecanduan, sampai membuat aroma menyengat dari ketiga tahanan dihadapannya seolah terabaikan.
"Aku tarik pikiran burukku tentang ketiga tahanan itu." Putri Amanda benar-benar sangat senang dan pikirannya mulai melayang karena candu akan aroma sapu tangan milik Arya.
Entah mengapa tiba-tiba Arya merasa merinding di bagian leher. Dia kemudian mengusap leher bagian belakangnya dengan perasaan aneh.
Arya masih belum mengetahui wanita yang berada disampingnya saat ini sedang menikmati aroma sapu tangan yang dia berikan kepadanya.
Ditengah keheningan tiba-tiba sebuah serangan menerjang rombongan mereka. Belasan anak panah melesat dan mengenai kereta kuda yang dikendarai oleh Fajar.
Fajar terkejut saat melihat rombongan berkuda mengejar. Karena panik Fajar mempercepat laju kereta kuda untuk menghindari pengejaran.
Tetapi sayangnya roda kereta kuda rusak dan patah, membuat Fajar secara terpaksa harus menghentikan kereta kuda untuk menghindari kerusakan yang lebih parah lagi.
__ADS_1
Rombongan pasukan berkuda kini sudah berhasil menyusul dan mengelilingi kereta kuda mereka untuk menangkap seorang target.