
Di dapur, Arya sempat merasa kebingungan bagaimana caranya dia memasak jika api biru ditangannya sama sekali tidak terasa panas malahan rasanya dingin ketika disentuh.
"Sekarang bagaimana caranya menggunakan api ini untuk masak?" Arya menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil melihat kearah tungku pembakaran.
Seolah mengerti ucapan Arya barusan, api biru itu kemudian melayang dari telapak tangan Arya sebelum hinggap di tungku. Nyala api biru itu lalu mulai membesar dan suhunya berubah menjadi panas, cukup untuk memanaskan sebuah kuali.
Arya tersenyum cerah melihat betapa menakjubkannya api biru itu seolah memiliki kecerdasan sendiri hingga memahami ucapannya.
"Kalau ada api seperti ini di tempat lamaku, pasti tidak perlu repot-repot membeli gas. " Ucap Arya kemudian mulai memasak daging yang diberikan oleh Arga Mahesa.
****
Sementara itu di ruang makan, Baduga Maharaja, Hyman Nirwasita, dan Arga Mahesa menunggu masakan Arya jadi sambil membahas mengenai anak itu sendiri.
Mereka bertiga kembali membahas calon yang akan menerima ilmu masing-masing. Tetapi nampaknya hanya Baduga Maharaja saja yang telah memilih calon penerusnya, sedangkan Hyman Nirwasita dan Arga Mahesa belum memiliki calon yang mereka anggap pantas.
Meskipun Hyman Nirwasita dan Arga Mahesa memiliki beberapa orang murid tidak seperti Baduga Maharaja, namun mereka masih takut jika salah memilih penerus.
"Jadi... Bagaimana dengan kalian, apa kalian berdua sudah menunjuk calon penerus kalian masing-masing? Ingat bahwa waktu kita sudah tidak lama lagi."
Sambil meminum teh nya, Baduga Maharaja melirik kearah Hyman Nirwasita dan Arga Mahesa disaat mereka masih kebingungan dalam menentukan pewarisnya.
Hyman Nirwasita menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala. "Meski aku sudah melirik calon penerus, tetapi aku masih belum yakin dengan pilihanku sendiri."
__ADS_1
Baduga Maharaja mengangguk pelan memahami pemikiran Hyman Nirwasita. Memang benar mereka bertiga tidak boleh sembarangan memilih orang untuk mendapat warisan mereka, karena hal itu pasti akan berdampak kepada dunia ini.
"Lalu bagaimana dengan mu Arga? Jangan bilang kamu sudah memilih seorang penerus dengan hanya menggunakan undian."
Arga Mahesa berdecih kesal saat Baduga Maharaja menyinggung kalau dia akan memilih penerus menggunakan undian. Meski di antara mereka Arga Mahesa adalah orang yang suka berjudi tetapi dia tidak akan memilih penerus secara asal-asalan.
"Meski aku pembuat onar dan suka berjudi jangan berpikir kalau aku juga bodoh. Beberapa tahun ini aku sudah mencari orang yang pantas tetapi belum juga menemukannya."
Merasa sakit kepala karena bingung menentukan pilihan, Arga Mahesa memilih untuk menunjuk seorang pewaris yang sama dengan Baduga Maharaja, yaitu Arya.
Saat mendengar keputusan dari Arga Mahesa tampaknya Hyman Nirwasita juga sependapat dengan pria itu dan memilih Arya juga, karena berpikir jika pilihan Baduga Maharaja pasti tidak pernah salah apalagi saat tadi melihat bakat dari anak itu secara langsung.
Baduga Maharaja mengerutkan dahinya saat Hyman Nirwasita dan Arga Mahesa malah menunjuk murid satu-satunya menjadi pewaris mereka juga. Jelas dia menolak ide gila mereka karena akan membebani tubuh kecil Arya jika menjadi wadah untuk kekuatan mereka bertiga.
Tetapi Hyman Nirwasita dan Arga Mahesa terus bersikukuh karena di antara mereka Baduga Maharaja yang paling pintar hingga menganggapnya pasti memiliki solusi agar tubuh Arya mampu menjadi wadah kekuatan mereka bertiga.
Untuk pelatihan pertama Baduga Maharaja menunjuk Arga Mahesa. Di antara mereka Arga Mahesa memiliki tubuh dan kemampuan fisik lebih besar. Baduga Maharaja berharap Arga Mahesa bisa membentuk tubuh Arya meski tidak sekuat dirinya mengingat keterbatasan waktu.
Arga Mahesa juga mendapat bagian untuk mengajarkan Arya tentang esensi Qi, sebab Arga Mahesa memiliki kapasitas Qi lebih besar di antara mereka bertiga
Pelatihan kedua Baduga Maharaja menunjuk Hyman Nirwasita untuk mengajarkan Arya tentang api dan teknik serangan dasar. Hal ini karena Hyman Nirwasita memiliki teknik serangan paling mematikan, serta mempunyai Api Surgawi di atas mereka.
Untuk Baduga Maharaja sendiri akan menjadi pelatih terakhir bagi Arya. Dia akan mengajarkan berbagai keahlian sekaligus seperti Alkemis, Sastra, Formasi, serta Strategi Perang.
__ADS_1
Baduga Maharaja juga akan menyeimbangkan kekuatan Arya nantinya, sebab ketika kekuatan milik Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita bertemu didalam tubuh Arya akan menimbulkan tabrakan energi.
Arga Mahesa merupakan jelmaan seekor Naga sementara Hyman Nirwasita adalah Phoenix dimana kedua makhluk itu tidak pernah akur. Wajar saja hal itu terjadi, bangsa Phoenix selalu memakan bangsa Naga yang masih kecil untuk meningkatkan kualitas tubuh dan api mereka.
Disisi lain Baduga Maharaja merupakan jelmaan seekor Kura-kura dengan elemen positif dan negatif. Di antara ketiga makhluk Kuno itu Baduga Maharaja merupakan penyeimbang dan memiliki teknik untuk melumpuhkan Arga Mahesa serta Hyman Nirwasita, jika kedua makhluk Kuno tersebut bertikai.
Mendengar pembagian latihan dari Baduga Maharaja, Arga Mahesa dan Hyman Nirwasita tanpa berdebat langsung setuju karena mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing.
Sekarang bukan waktunya untuk dua makhluk Kuno itu berdebat lagi karena sesuatu kejadian besar di masa lalu akan kembali terulang. Dan kejadian itu di namakan Zaman Kekacauan.
Perbincangan ketiga makhluk Kuno itu terhenti ketika Arya datang sambil membawakan berbagai macam makanan yang dibuat menggunakan daging Hewan Iblis.
Begitu Arya meletakkan hidangannya diatas meja, Arga Mahesa langsung menyambar beberapa makanan hingga membuat Baduga Maharaja dan Arga Mahesa juga melakukan hal sama agar tidak kehabisan.
Melihat ketiga pria itu memakan masakannya dengan rakus membuat sudut bibir Arya berkedut. Untungnya dia sudah menyisihkan satu porsi makanan untuk dirinya sendiri, jika tidak maka pagi itu mungkin dia tak akan sarapan.
Arya duduk sedikit lebih jauh dari ketiga pria dewasa itu agar makanannya tidak direbut juga oleh mereka.
Sebenarnya Arya cukup heran saat mengolah daging pemberian Arga Mahesa. Awalnya dia mengira itu hanyalah daging sapi biasa, tetapi saat mencium bau amis yang tajam serta kesulitan dalam memotong membuatnya sedikit curiga.
Hanya dalam waktu singkat beberapa hidangan diatas meja makan sudah habis. Baduga Maharaja, Hyman Nirwasita, dan Arga Mahesa terlihat sangat puas dengan masakan buatan Arya.
Tetapi saat melihat makanan yang sedang dimakan oleh Arya sekarang berbeda dari yang mereka makan tadi, membuat ketiga pria itu tampak ingin merebutnya.
__ADS_1
Menyadari tatapan mata dari ketiga pria itu, Arya kemudian memakan makanannya dalam sekali suapan besar hingga membuat raut wajah mereka kecewa.
Arya tak perduli apa yang sedang ketiga pria itu pikirkan tentangnya, asal perutnya bisa tetap terisi.