Legenda Dunia Kultivasi

Legenda Dunia Kultivasi
Daratan Es Abadi (Revisi Lokal)


__ADS_3

Di pagi hari Arya Wijaya merasa tubuhnya kedinginan seolah diterpa angin kencang. Saat Arya Wijaya mencoba meraih selimut dia tak dapat menggerakkan tubuhnya seakan-akan ada yang mencengkram.


Perlahan Arya Wijaya membuka mata dan seketika terkejut saat melihat samudera lepas tepat berada dibawahnya. Arya Wijaya menemukan seekor burung yang diselimuti api hitam terbang membawanya.


Arya Wijaya memberontak untuk melepaskan diri dari cengkraman burung api. Arya Wijaya kebingungan dimana ketiga pria itu sampai-sampai dirinya bisa dibawa pergi oleh seekor burung raksasa.


"Apa kamu baru bangun? Bukankah semalam aku sudah berpesan untuk bangun lebih awal? Jangan bergerak atau aku akan melempar mu kelaut."


Burung raksasa yang membawa Arya Wijaya tidak lain adalah Hyman Nirwasita dengan wujud Phoenix. Pagi-pagi buta Hyman Nirwasita sudah mencoba membangunkan Arya Wijaya tetapi tidak berhasil, akhirnya dia membawa anak itu secara paksa.


Menyadari bila burung Phoenix itu adalah Hyman Nirwasita, Arya Wijaya seketika berhenti memberontak agar tidak dilempar kelaut. Meski terdengar bercanda Arya Wijaya paham jika Hyman Nirwasita akan benar-benar melemparnya.


Saat Arya Wijaya menghela nafas panjang secara tiba-tiba Hyman Nirwasita menghempaskan tubuhnya ke langit. Arya Wijaya merasa panik dan berusaha menggapai apa saja yang bisa dia raih meski jelas tidak ada sebelum jatuh kelaut lepas.


Arga Mahesa kemudian terbang menukik dan membuat Arya Wijaya berada di atas punggungnya tepat di detik-detik sebelum anak itu tercebur kelaut lepas.


"Mengapa guru melakukannya kepadaku? Aku bisa saja mati diserang oleh kawanan ikan hiu dibawah sana."


Arya Wijaya masih terkejut sampai membuat nafasnya memburu. Dengan erat dia mencengkram bulu milik Hyman Nirwasita sambil menggerutu kesal.


"Tenanglah, Nak. Aku hanya bercanda saja." Hyman Nirwasita tertawa saat melihat raut wajah ketakutan setengah mati Arya Wijaya.


Candaan Hyman Nirwasita sama sekali tidak lucu bagi Arya Wijaya karena hampir saja membuatnya mati. Arya Wijaya kemudian melapisi tubuhnya menggunakan Qi untuk menghalau hembusan angin agar tidak terhempas jatuh.


Dengan membuat lapisan Qi disekitar tubuhnya, Arya Wijaya dapat dengan leluasa duduk di atas punggung Hyman Nirwasita tanpa berpegangan lagi. Bahkan dengan santainya dia tiduran dipunggung Hyman Nirwasita tanpa perlu merasa takut terjatuh.


Hyman Nirwasita yang melihat teknik milik Arya Wijaya tersenyum tipis dan berpikir Arga Mahesa telah mengajari anak itu tentang pengendalian Qi dengan baik.


Dengan satu kepakan sayap Hyman Nirwasita melesat secepat suara hingga menimbulkan ledakan udara sampai Arya Wijaya terkejut dibuatnya.


Udara mulai terasa semakin dingin saat Hyman Nirwasita dan Arya Wijaya memasuki wilayah baru.

__ADS_1


"Guru... Kita berada dimana sekarang?" Tanya Arya Wijaya ketika melihat daratan es di depan mereka.


Hyman Nirwasita menjelaskan kepada Arya Wijaya bahwa mereka telah berada di wilayah yang dikenal dengan Daratan Es Abadi. Saking dinginnya tempat itu bahkan bisa membuat tubuh manusia biasa bahkan Pendekar membeku seketika.


Tujuan Hyman Nirwasita membawa Arya Wijaya memang lah tempat itu, karena di sanalah dia akan mengajar Arya Wijaya selama dua tahun mendatang.


Saat Arya Wijaya menginjakkan kakinya dipermukaan penuh salju, tubuhnya menggigil kedinginan meski sudah dilapisi Qi sekalipun.


Penampakan bangkai seekor paus bungkuk yang membeku membuat nyali Arya Wijaya menjadi ciut. "Guru, sepertinya kita salah tempat."


"Kita tidak salah tempat, memang ini tempatnya. Sudah, jangan memasang wajah ketakutan seperti seorang pengecut, Arya."


"Ta... Tapi..."


"Berhenti mengeluh, sekarang tunjukkan sampai dimana pemahaman berpedangmu."


Hyman Nirwasita melemparkan sebuah pedang sungguhan kepada Arya Wijaya dan meminta anak itu untuk bertarung dengannya dibawah suhu normal.


Tangan Arya Wijaya bergetar saat memegang pedang. Arya Wijaya berpikir jika menggunakan teknik Pernapasan Naga untuk menghangatkan tubuh sekarang, yang ada justru tubuhnya bisa membeku seketika karena menyerap esensi dingin disana.


"Pegang gagang pedangmu dengan kuat atau kamu akan kehilangan dia.


"Kuatkan kuda-kudamu."


"Kamu bukan seorang penari, jangan melakukan gerakan yang tidak berguna."


Ditengah pertarungan Hyman Nirwasita mengomentari beberapa gerakan Arya Wijaya untuk memberikan sedikit pencerahan dan mengkoreksi permainan pedangnya lagi.


Hyman Nirwasita tidak hanya bertahan tetapi dia juga melakukan serangan balik dan tidak segan-segan melukai Arya Wijaya.


Arya Wijaya merasa lemas setelah kehilangan banyak darah dari luka di sekujur tubuhnya. Nafas Arya Wijaya mulai terasa berat dan pandangannya perlahan menjadi kabur.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Arya Wijaya akhirnya tidak sadarkan diri dalam posisi menjadikan pedangnya sebagai penyangga agar tubuhnya tidak ambruk.


Melihat Arya Wijaya yang tak sadarkan diri, Hyman Nirwasita kemudian membawa Arya Wijaya menuju sebuah Goa untuk mengobati lukanya.


Sementara itu Arya Wijaya kini kembali ke alam bawah sadarnya setelah dua tahun lalu. Arya Wijaya memegangi kepalanya yang sedikit pusing sambil memperhatikan keadaan disekitarnya.


"Menyebalkan, kenapa Guru Hyman benar-benar menyerangku tanpa belas kasih. Dia sama seperti Guru Arga. Sial..."


Arya Wijaya menggerutu kesal dan mengatakan beberapa kalimat sumpah serapah kepada dua guru gilanya. Arya Wijaya berpikir kenapa dia harus mendapatkan dua guru yang selalu membuatnya hampir kehilangan nyawa di setiap latihan.


Tiba-tiba Arya Wijaya mendengar suara seseorang tertawa. Arya Wijaya kemudian menemukan pria tua yang pernah dia temui dulu tengah duduk dibawah pohon.


Pria tua itu kemudian melambaikan tangannya menyuruh Arya Wijaya mendekat. Dengan kesal Arya Wijaya menghampiri pria tua itu dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa sampai-sampai kamu terlihat sangat kesal seperti itu, Arya Wijaya?"


Arya Wijaya hanya mendengus dan memalingkan wajahnya dengan kesal tanpa menjawab pertanyaan dari pria tua itu.


Melihat Arya Wijaya enggan menanggapinya, pria tua itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng kepala pelan lalu menatap danau didepannya.


"Mengapa dunia sangat menyebalkan. Aku hanya ingin hidup damai dan membuat keluarga kecil. Itu saja, apa susahnya."


Dengan kesal Arya Wijaya melemparkan sebuah batu tepat mengenai pelampung pancing milik orang tua disampingnya, sampai membuat ikan-ikan pergi.


Sebelah mata pria tua berkedut melihat kelakuan Arya Wijaya yang telah membuat ikan-ikan pergi padahal dia sudah menunggu cukup lama dengan sabar.


"Takdir seseorang memang tidak dapat diubah, Arya Wijaya. Rencana hidup yang sudah kamu susun sedemikian rupa terkadang tidak akan berjalan sesuai keinginanmu."


"Aku tau itu..." Arya Wijaya menjadi murung dan menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.


Pria tua menggelengkan kepala melihat Arya Wijaya menjadi murung. Dia hanya membiarkan Arya Wijaya dan memilih fokus memancing.

__ADS_1


Arya Wijaya kemudian menengok kearah pria tua disampingnya. "Sebenarnya kau ini siapa, kenapa mengetahui semua hal tentangku dan mengapa bisa ada disini."


"Aku hanya pria tua biasa yang sekedar mampir ke tempatmu untuk berkunjung saja."


__ADS_2