
Tuan Besar Keluarga Buana turun ke arena mencemaskan keadaan putranya yang terlihat linglung setelah dicekik oleh seorang peserta.
"Bayu, apa kau baik-baik saja. Lihatlah kearah ayah, Bayu..." Ucap Jaka dengan cemas sambil menepuk-nepuk wajah Bayu mencoba menyadarkan anaknya.
Tetapi Bayu tak memberikan respon sama sekali dan hanya diam memperhatikan sekelilingnya dengan bingung. Tanpa ada jiwa, tubuh Bayu kini bagaikan boneka tanpa arah.
Jaka berdecak kesal lalu mencengkram kerah baju milik Arya. "Kurang ajar, apa yang sudah kau lakukan terhadap putraku, hah?!" Ucap Jaka dengan emosi yang sudah meluap.
Bukannya takut Arya justru tersenyum sinis membuat Jaka terkejut. Kesal melihat Arya yang hanya diam saja, Jaka kemudian hendak memukul Arya, tetapi segera dicegah oleh Arya dengan mudah.
"Tuan harusnya tak perlu marah kepadaku. Aku bahkan tak melukai putra Anda. Bahkan dia masih terlihat baik-baik saja." Arya masih menahan diri menghadapi pria paruh baya dihadapannya yang mau memukulnya.
Yang dikatakan oleh Arya memanglah benar. Bayu sama sekali tidak mendapat luka sedikitpun, tetapi dia hanya kehilangan jiwanya saja.
"Baik-baik saja katamu? Apa kau tidak lihat akibat ulah mu, anakku jadi linglung seperti itu. Cepat kembalikan kesadaran anakku seperti sebelumnya!" Bentak Jaka sambil menggoyangkan tubuh Arya.
Muak menghadapi sikap pria paruh baya yang memiliki aroma parfum wanita. Arya kemudian menyingkirkan tangan kotor pria paruh baya yang suka bermain dengan wanita tersebut.
"Kau harusnya berterimakasih karena aku tak membunuh putramu itu. Maaf saja, tapi aku tak bisa mengembalikanmu seperti semula."
Arya merapikan kembali pakaian usai ditarik-tarik oleh Jaka. Meski pria itu meminta agar anaknya dikembalikan seperti semula, Arya tak bisa melakukannya karena jiwa Bayu sekarang tengah berhadapan dengan Naga Perak.
Jaka yang tidak terima karena anaknya dibuat seperti orang bodoh langsung menyerang Arya, tetapi dia segera dihentikan oleh beberapa petugas karena telah melanggar aturan ikut campur dalam kompetisi yang dianggap suci oleh pihak militer.
"Awas saja kau. Aku akan membuat perhitungan denganmu!" Ucap Jaka yang dibawa paksa keluar arena oleh para petugas.
Arya menggelengkan kepala lalu turun dari arena dan duduk kembali dibangku peserta sambil menunggu giliran bertarungnya lagi.
Raka dan Satria menelan saliva mereka. Setelah melihat pertarungan tadi, mereka menjadi waspada jika mendapat giliran bertarung dengan Arya. Keduanya tentu tak ingin dibuat seperti orang bodoh layaknya Bayu oleh pria itu.
Angga sendiri justru merasa malu dan mencengkram wajahnya saat melihat bawahan ayahnya, bertindak bodoh dengan ikut campur dalam kompetisi hanya karena Bayu saja.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan pak tua itu. Kalau begini pasti akan sulit menjalin kerjasama dengan pria itu." Bukannya mencemaskan kondisi temannya, Angga justru lebih memikirkan bisnis keluarganya.
Menurut Angga, Bayu sendiri tak ada jauh bedanya dengan pion yang bisa dia buang jika sudah tidak diperlukan, jadi tak ada sedikitpun kebencian dimatanya terhadap Arya.
Ada alasan khusus mengapa Angga ingin menjalin hubungan dengan Arya. Selain meningkatkan keuntungan bisnis Keluarga Mahendra, Angga juga ingin menguatkan pengaruhnya didalam keluarga, agar kelak bisa menggantikan posisi ayahnya sebagai Tuan Besar.
Angga tentu tak menginginkan paman dan orang-orang disisi pamannya, mengambil alih bisnis keluarga menggantikan ayahnya. Angga sadar betul pamannya hanya akan membawa kehancuran jika dibiarkan menjadi Tuan Besar yang baru.
Sebenarnya ada alasan khusus mengapa Angga ingin menjadi Tuan Besar Keluarga Kusuma. Dia hanya ingin memperbaiki hubungan Keluarganya dengan Keluarga Pratama yang sudah memburuk selama beberapa generasi.
Bisa dibilang tujuan Angga ingin memperbaiki hubungan Keluarga Kusuma dan Keluarga Pratama, karena sebenarnya dia menyukai putri dari Tuan Besar Keluarga Pratama sejak dulu.
Setelah masalah kecil yang diperbuat oleh Tuan Besar Keluarga Buana. Wasit kemudian segera melanjutkan kembali pertandingan yang sempat tertunda.
Raka dan Angga kemudian dipanggil untuk bertarung satu sama lain. Keduanya lalu naik keatas arena dan bersiap dengan senjata masing-masing.
Begitu wasit memulai pertandingan Angga langsung menjaga jarak mengamankan posisi. Sebagai seorang pemanah bukan hal baik tentunya bertarung dari jarak dekat, apalagi lawannya ada Raka yang sangat dia cara bertarungnya.
Senjata milik Raka yang merupakan cakram jelas bukan masalah jika Angga menjaga jarak. Selain dapat bertarung dalam jarak dekat, Raka tentunya bisa melakukan serangan jarak jauh.
Angga tersenyum kecil menantang Raka. "Kau yang seharusnya waspada kalau tak ingin aku membuat lubang di dadamu..." Balas Angga yang membuat Raka sedikit kesal.
****
Sementara itu di alam bawah sadar Arya. Bayu merasa bingung melihat dia sekarang berada di sebuah tempat yang sangat gelap dan hanya terdengar suara tetesan air.
"Apakah ini salah satu teknikmu? Kau sepertinya tak mengetahui kalau aku memiliki formasi untuk melepaskan teknik ilusi!"
Bayu yang berpikir sedang berada didalam teknik ilusi milik Arya, marasa begitu percaya bisa lepas dari teknik murahan pria tersebut.
Pria itu masih belum sadar bahwa jiwanya sudah dibawa oleh Arya ke alam bawah sadarnya untuk menemui teman kecilnya yang sudah kelaparan.
__ADS_1
Bayu kemudian membuat formasi tangan untuk melepaskan diri dari teknik ilusi milik Arya. Tetapi dia tidak berhasil dan masih terperangkap ditempat gelap tersebut.
Naga Perak yang memperhatikan Bayu dari tadi menikmati kebodohan yang ditunjukkan oleh anak manusia itu kepadanya.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Naga Perak melihat Bayu mulai frustasi karena tekniknya tak bisa bekerja ditempat tersebut.
Mendengar suara seseorang menggema di kegelapan. Bayu mencoba untuk mencarinya dan berpikir itu adalah Arya yang mengubah suara agar bisa menakut-nakutinya.
"Hahaha... Menurutmu dengan mengubah suara bisa membuatku takut kepadamu, hah?!" Bayu tersenyum penuh percaya diri merasa dirinya terlalu pintar untuk dikelabui.
Naga Perak merasa heran dengan pikiran anak manusia itu yang mengatakan suaranya hanya dibuat-buat padahal memang asli.
Beberapa nyala api berwarna putih kemudian muncul membuat Bayu terkejut saat melihat kurungan besar yang didalamnya terdapat seekor Naga Perak raksasa.
Tubuh Bayu mulai bergetar hebat menyadari dirinya hanya bagaikan kerikil kecil dihadapan makhluk yang memiliki ukuran lebih besar dari sebuah gunung.
Naga Perak kemudian mendekatkan wajahnya ke jeruji yang merupakan pembatas antara dirinya dengan Bayu.
"Apa kau bilang tadi suaraku hanya dibuat-buat? Bagaimana jika kau mendengarkan sekali lagi?" Tanya Naga Perak yang membuat Bayu menggelengkan kepala.
Naga Perak kemudian mengaum keras sampai membuat tempat itu bergetar hebat. Bahkan jeruji yang mengurung dirinya mulai mengalami keretakan.
Bayu langsung terkulai lemas mendengar auman yang bisa didengar oleh setiap makhluk hidup jika Naga Perak berada diluar alam bawah sadar Arya.
Melihat Bayu yang terkulai lemas sambil menatapnya dengan ketakutan. Naga Perak yang merasa bosan kemudian menghisap jiwa Bayu dan memakannya.
Naga Perak kemudian kembali tidur. Melihat jeruji yang retak hanya karena auman Naga Perak, menunjukkan bahwa dia sebenarnya bisa keluar dari sana jika mau. Tetapi Naga Perak lebih memilih untuk menetap menunggu sampai Arya siap menerimanya.
****
Sementara itu setelah Naga Perak memakan jiwa Bayu. Arya kini dapat melihat semua ingatan milik Bayu. Dia hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat kejahatan yang sudah dilakukan oleh Bayu dan Keluarga Buana.
__ADS_1
Arya bahkan merasa jijik saat melihat ingatan Bayu dan Keluarga Buana yang melakukan penjualan budak dimana hal itu sangat dilarang oleh Kerajaan. Baru melihat sebagian ingatan Bayu sudah membuat Arya merasa najis lalu menyudahinya.
"Sepertinya dia harus melakukan penyelidikan terhadap keluarga bawahannya..." Ucap Arya sambil memperhatikan Angga yang sedang bertarung sengit melawan Raka.